
*Selamat Membaca*
"Rin.. apa kau yakin siap menjadi pendampingku?"
"Apa kau melihat keraguan di wajahku? Apa kau melihat keraguan dari sikapku?"
Alvian menggeleng, ia menatap lekat wajah wanita cantik yang kini ada di hadapannya dan Airin pun duduk tepat di depan Alvian yang duduk di kursi roda.
"Al, aku mau menikah denganmu dengan semua rasa tulus yang ku punya, tidak ada keraguan untuk menjadi pendamping hidupmu, dan semua ini karena, kamu dulu selalu ada di sampingku, saat aku butuh dukungan. Kini aku akan melakukan hal yang sama, mendampingimu saat kau butuh dorongan dan penyemangat." Airin meyakinkan pria muda yang saat ini ia cintai.
Alvian tersenyum, ia mempercayai apa yang Airin sampaikan padanya, sorot mata gadis itu menunjukan ketulusan, yang membuatnya tak ragu untuk melangkah menuju jenjang pernikahan.
"Aku kemar dulu,"
"Aku antar ya,"
Airin mendorong kursi roda milik Alvian lalu menghantarkan pria itu ke dalam kamar.
"Selamat malam, tidur yang nyenyak dan mimpi indah!" bisik Airin pelan di telinga calon suaminya. Ia pun segera keluar setelah memastikan Alvian tertidur pulas.
Tak pernah terpikirkan sebelumnya, semua ini akan terjadi begitu saja. Ya, seusai Alvian menyatakan niat baiknya, sebentar lagi Airin pun akan segera menikah dengan pria yang bisa membantunya untuk membalaskan rasa kesal, yang Airin punya terhadap keluarga besarnya.
***
Siang menyapa, banyak persiapan yang kini di lakukan. Tania memilih untuk libur bekerja demi mengurusi persiapan pernikahan antara anaknya dan Airin.
"Al, kau jaga kesehatan, jangan banyak pikiran!" titah sang mama.
"Iya Al, aku antarkan ke kamar, ya!" ujar Airin pula.
"Hemm..."
Alvian menahan kursi rodanya, ia tak mau jika Airin akan membawanya masuk kedalam kamar, sebab tak di pungkiri anak muda itu merasa bosan selalu berada di dalam sana.
"Kenapa, mama, selalu memperlakukanku, seperti bayi?"
"Maksudmu?"
"Iya, bayi. Apa kalau bukan bayi? Semua hal yang ku butuhkan, mama yang atur, semua hal yang aku inginkan, tapi mama selalu melarang, rasanya aku benar-benar lelah, hidup bagikan di dalam penjara," omel Alvian panjang lebar.
"Al," seketika mata Tania memerah.
"Kenapa, mama tidak pernah mengajakku keluar, kenapa mama tak pernah mau mengajaku, kemana pun mama pergi, seperti dulu?"
"Bukan, mama tidak mau, Al,"
"Lalu apa? Oh... aku tau, mama malukan membawa aku keluar, memperkenalkan dengan teman-teman mama, karena aku cacat, iya kan, mah??!"
Plaaaak!
Tania mendaratkan tamparan tepat di wajah anaknya, bahkan perlakuanya itu seketika membuat tangan sang mama gemetar.
"Tante,"
Airin menarik kursi roda yang Alvian duduki, untuk menjauh dari keberadaan Tania.
"Biarkan, Rin! Suka-suka dia, bukankan seorang ibu menampar wajah anaknya, itu boleh-boleh saja," ucap Alvian seraya menatap tajam wajah sang mama.
__ADS_1
"Al, maaf! Mama, tidak bermaksud menampar wajahmu.. mama hanya sakit hati. Kenapa kau tega berucap seperti tadi pada mama?" emosi Tania yang juga begitu luar biasa.
"Tante... Al, ini bukan saat yang tepat untuk membahas hal seperti ini! Lihat, di depan, banyak orang yang kini melihat pertengkaran kalian!" tegas Airin.
Benar saja, bahwa saat ini rumah Alvian sedang ramai, karena sang mama memperkerjakan banyak orang untuk mendekorasi rumah miliknya agar nampak lebih indah, sebelum hari pernikahan tiba.
"Aaaah....!" si tampan berdecak kesal, ia memasamkan wajahnya dan segera berlalu dari hadapan si mama dan Airin.
"Kejar Rin!"
"Baik tante,"
Airin pun mengindahkan seruan Tania lalu mengejar Alvian yang kini sudah masuk ke dalam kamar. Sebenarnya, sejak Alvian lumpuh dan duduk di kursi rodalah, yang membuat sikap Alvian berubah, dulu ia pria yang lembut, bahkan nada bicaranya pun tak pernah meninggi, tapi kini Alvian lebih sering emosi dan marah-marah tanpa sebab.
"Al, ini bukan saatnya kau marah-marah dan emosi seperti tadi, mamamu itu benar-benar tulus menyanyangimu,"
"Jangan sok tau, Rin!"
"Aku bukan sok tau, tapi ini kenyataan,"
"Darimana kau tau, jika mamaku sungguh-sungguh menyayangiku?"
"Aku mendengar, pembicaraan antara mamamu dan papamu.. sebelumnya, papamu itu melarang kamu untuk menikah denganku. Tapi, tante Tania meyakikan, bahwa pernikahan antara aku dan kamu, semua di lakuan demi dirimu, artinya tante Tania sangat menyanyangimu,"
"Benarkah?" Alvian tersenyum.
"Iya.. maka dari itu, jangan katakan hal apapun, yang memicu rasa sakit di hati, mamamu!"
"Oke baiklah," senyum Alvian semakin mengembang. "Kemarilah!" serunya kemudian.
"Kenapa, ada apa?"
Tanpa ada rasa curiga sedikitpun, Airin pun segera mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Alvian.
Ck.... Ssssttt...
Satu ke cupan mendarat aman di bibir merah Airin, yang sontak membuat gadis itu salah tingkah dan terkejut luar biasa.
"Al, apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan pipi yang memerah.
"Itu peringatan, agar kau tidak ceramah lagi,"
"Haaah,"
"Berani menasehtiku lagi, maka aku akan melakukanya lebih dari ini," ujar Alvian terkesan mengacam.
"Iyuuuw... mengerikan," cetus Airin seraya melangkah pergi untuk keluar dari kamar Alvian.
"Heei, mau kemana kau?"
"Kaburr, di sini berbahaya. Nanti kau merampas hartaku satu-satunya," jelas si cantik seraya menggigit bibirnya sendiri.
Buahahahaha..
Mendengar itu, Alvian pun tertawa sejadi-jadinya, sementara Airin sudah keluar dari kamar.
Ck.
__ADS_1
"Rin, kenapa kembali lagi, apa kau mau tidur denganku, siang ini?" canda Alvian semakin menggila.
"Huuuus, bukan itu,"
"Lalu, apa?"
"Di luar, ada papaku dan adiku," jelasnya kemudian dengan raut wajah keheranan, sebab Airin bingung, kenapa papa dan adiknya bisa berada di rumah Alvian.
"Kau di sini saja, jangan keluar! Meski papa dan mamaku memintamu untuk keluar kamar,"
"Tapi, Al, kenapa?"
"Nanti, ku jelaskan,"
Anak muda itu pun segera keluar, sedangkan Airin mengikuti titah Alvian, untuk tetap berada di dalam kamar, meski pun banyak tanya yang kini membenam dalam benaknya.
**
"Pah, om," sapa Alvian seramah mungkin, setelah bertemu dengan sang papa yang kini bersama Yuda dan Amira, mereka berdua ayah dan adik kandung Airin.
"Al, apa kabarmu, nak?" Yuda pun bersikap ramah pula.
"Baik, om," jawabnya datar namun sorot matanya mematap lekat wajah Amira.
"Al, om Yuda datang kesini ingin mengatakan sesuatu dan ingin berkenalan dengan calon istrimu," ujar Reyhan pada anaknya.
"Owh, maaf om, calon istriku sedang istirahat, jadi tidak bisa di ganggu. Oh iya, ngomong-ngomomg om mau menyampaikan apa kepadaku?"
"Bukan om yang mau bicara Al, tapi Amira,"
Amira pun mendekati keberadaan Alvian lalu menatap sinis pria itu.
"Selamat, semoga kau bahagia dengan istrimu nanti, dan semoga dia bisa menerimamu apa adanya, serta sabar menhadapi sikapmu yang ke kanak-kanakan itu," ucap Amira tanpa ragu lalu mengulurkan tanganya.
"Terima kasih... karena calon istriku ini tak kalah cantik darimu, bahkan dia menerima semua keadaanku." Tegas Alvian dengan senyum bangga.
Amira yang sedikit kesal pun segara pergi tanpa permisi, sikap Alvian yang membandiangkan ia dengan calon istrinya membuat Amira cemburu.
"Dasar cacat, bisa-bisanya menolak gadis secantik dan secerdas aku," Amira memuji dirinya sendiri.
"Maafkan sikap anakku!"
"Tidak masalah," jawab Alvian dan Reyhan bersamaan.
Anak muda itu membiarkan, Yuda dan sang papa saling berbicara, sementara ia pergi lalu masuk kedalam kamarnya.
"Aku, akan membantu separuh biaya pernikahan anakmu, anggap ini hadiah untuk Alvian," ujar Yuda.
"Terima kasih, dengan senang hati, akan ku terima. Nanti saat Amira menikah, aku akan melalukan hal yang sama," jawab Reyhan pula.
Dua sahabat yang usianya tak lagi muda itu, memang selalu saling mendukung dalam segala hal.
.
.
.
__ADS_1
.
JANGAH LUPA BAHAGIA BUAT SEMUA❤❤