
🌺Selamat Membaca 🌺
Suatu hari nanti, kita semua tidak akan lagi berharap senang melainkan tenang. Memilih di mengerti dari pada dicintai. Dan lebih perduli di terima dari pada di puja. Pada akhirnya kita semua akan berada di titik ikhlas paling tinggi..
"Ma... ini pasti bukan Mama kan?" tangis Cia pecah. Mendapati jasad wanita paruh baya yang sudah terbujur kaku di hadapannya.
Gadis itu belum sempat mendudukkan tubuh, tapi ia sudah di tarik paksa oleh sang Papa. Pak Dana menatap benci wajah Cia, entah apa yang sedang di pikirkan pria tua itu, yang pasti ia tak mengizinkan Cia menyentuh tubuh Mama.
*Pergi!" kalimat itu keluar sarkas dari mulut Pak Dana ia tak ingin melihat wajah Cia.
Gadis itu tertunduk lesu, ia menangis sejadi-jadinya sampai sulit bernapas. Cia pandangi di mana sang Mama terbaring. Selama ini keduanya memang tidak terlalu akur, tapi bagaimana pun kehilangan Mama tetap lah sangat menyakitkan.
"Ayo!" Angga meraih lembut tangan Cia dan meminta gadis itu untuk ikut bersamanya.
"Kemana?"
"Yang pasti tidak di sini."
Angga sendiri memang belum mengetahui jika hubungan antara Cia dan kedua orang tuanya memang tidak akur. Terlebih apa yang ia lihat tadi, dimana Pak Dana meminta Cia pergi dengan nada bicara meninggi. Entah apa yang terjadi? Angga bingung sendiri.
"Saya nggak akan paksa kamu cerita, tapi kalau kamu mau cerita, aku siap dengerin." Angga berucap s
lembut mungkin.
Cia menghela napas pelan, ia pikir tak ada mahluk yang hidup nya sesial dia. Dimana saat ini seharusnya bisa berada di samping Mama dan mengantarkan nya sampai ke peristirahatan terakhir. Tapi sayang hal itu hanya akan menjadi mimpi karena Papa merasa Mama meninggal karenanya.
"Haah, meninggal adalah takdir Tuhan dan sudah menjadi ketentuan, jadi meninggal nya Mama'mu 8u sudah takdir dan bukan karena kamu."
Cia tahu... saat ini Angga tengah berusaha menenangkannya. Tapi jika ia mengingat pertengkaran beberapa waktu lalu, dimana Mama memaksa Cia untuk menikah detik itu juga. Permintaan aneh dan gila menurutnya, membuat dada Cia terasa sangat membengkak. Pada akhirnya ia dan Mama bertengkar hebat, setelah cekcok mulut yang cukup membuatnya mengelus dada, Cia pun memilih untuk pergi dari rumah.
.
__ADS_1
.
.
Pagi menyapa, suasana rumah masih ramai, Cia mendekati jasad sang Mama lalu menangis tersedu-sedu di sebelah nya.Angga sudah pulang, Papa juga masih di kamar nya membuat Cia leluasa mendekati di mana Mama terbaring. Banyak orang yang ada di sana merasakan iba, mereka pun bingung kenapa Pak Dana tega kepada anak nya sendiri.
"Cia, jangan menangis di samping jasad Mamamu, ikhlaskan dan Mamamu akan tenang.!" seorang wanita yang usianya tak lagi muda menguatnya. Cia pun mengangguk pelan.
Ia tertunduk bahkan tak perduli saat banyak orang memperhatikannya, ada yang menatap iba dan ada yang merasa aneh luar biasa.
"Cia...," seseorang memanggil namanya, suara itu sangat familiar. Ia pun menengok ke arah pintu dan mendapati Arfi dan Sisi berjalan mendekatinya.
"Pak Arfi, Kak Sisi, kenapa kalian ada di sini?"
"Kamu yang seharusnya saya tanya. Kenapa tidak menghubungi saya dan memberi tahu jika Mamamu meninggal." omel Arfi kesal namun raut wajahnya terlihat iba.
"Aku tidak mau merepotkan kalian," jawab Cia lirih.
"Jika begitu pikiranmu... artinya kamu tidak menganggap aku sebagai calon suami dan tidak menganggap Sisi Kakak." tambah Arfi dan sontak membuat Cia merasa bersalah.
Sisi yang sedari tadi diam saja, langsung mendekap erat tubuh Cia dan menguatkan gadis yang sudah ia anggap Adik ini. "Sudahlah, yang terpenting kamu harus kuat ya, ikhlaskan Mamamu,!' ucap Sisi lembut
Cia bukan tidak ikhlas, tapi merasa bersalah karena sang Mama meninggal setelah bertengkar hebat dengannya. Pertengkaran yang membuat Cia merasa tersudut kan.
"Mama bilang, dia akan meninggalkanku, jika aku tidak menuruti permintaannya. Mama mau aku segera menikah karena merasa umurnya tidak akan lama dan kini Mama benar-benar meninggal."
Arfi menghela napas pelan, ia merasakan apa yang Cia rasa. Pria itu merasa ikut bersalah karena kemarin berjanji akan segera menikahi Cia. "Dimana Papamu?"
"Ada Pak, kenapa?"
"Hantarkan aku menemuinya!"
__ADS_1
"Anda mau apa?"
"Sudahlah Cia, ikuti saja apa kata Pak Arfi."
Cia pun mengangguk ia segera mengajak Arfi naik ke ruang atas dan menemui sang Papa yang tampak masih tertidur dengan memeluk foto Mama, hati Cia sakit melihatnya, ia sudah berjanji untuk menjadi anak yang baik tapi nyatanya ia malah membuat Mama meninggal.
"Turunlah temani Sisi, biar kan aku bertemu Papamu sendiri!" titahnya dan Cia mengangguk cepat.
Kini tinggal lah Arfi seorang diri, ia mendudukkan tubuh di kursi seraya menatap lekat pria tua yang masih tampak tertidur pulas pulas.
Sepuluh menit kemudian pria tua itu pun terbangun, dia terkejut luar biasa saat mendapati Arfi yang kini menatap tajam ke arahnya.
"Selamat pagi, jasad istri anda akan segera di makamkan. Lantas kenapa anda masih santai-santai di sini?" Arfi bertanya dengan gaya sombongnya,, ia melipat tangan ke perut lalu menumpukan kedua kaki.
Pak Dana tak menjawab, secepat kilat ia masuk ke dalam kamar mandi dan sepuluh menit kemudian ia kembali dan langsung turun tapi basa basi. Arfi pun langsung mengejarnya.
"Tunggu, ada yang mau saya bicarakan!" Arfi menghentikan langkah Pak Dana.
"Apa?"
"Setelah istri anda di kebumikan, saya akan melamar Cia."
"Haah, anda jangan bercanda Pak Arfi!"
"Saya tidak bercanda Pak."
Pak Dana diam membisu, ia menatap Arfi kelu, antara percaya dan tidak. Untuk sejenak ia tak bersuara dan memastikan apakah Arfi benar-benar tak main-main dengan ucapannya.
.
.
__ADS_1
.
B E R S A M B U N G