Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Happy End


__ADS_3

❤Selamat Membaca❤


Alvian segera beranjak dari tempat duduknya, ia menuju ke teras rumah untuk menemui sang papa.


"Pah...,"


"Al...,"


Reyhan langsung mendekati kedua cucunya, yang bersembunyi di belakang Alvian.


"Arfa dan Arfi kenapa? Kok takut sih, bertemu Opa?"


"Papa, tanya apa ke mereka?"


Alvian justru balik bertanya, karena kedua anak kembarnya, memilih untuk diam saja, saat sang papa bertanya kepada kedua anak kembarnya. Sementara itu Reyhan pun langsung menceritkan, apa yang tadi ia tanyakan kepada kedua anaknya.


"Astaga papa___," Alvian berdecak kesal namun ia tak kuasa menahan tawa, karena baginya sikap sang papa dan kedua anaknya sangatlah lucu.


"Kok ketawa sih, Al?"


"Papa tahu? Karena pertanyaan papa itu, mereka mengira, papa lupa ingatan." Jelas Alvian kemudian.


Buahahahahahahahaha_____!!


Tania yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka, dari jendela kamarnya, pun ikut bergelak tawa, yang tentu saja membuat Reyhan menautkan kedua alisnya.


"Oma, dengar juga?" tanya Arfi terbata-bata.


Tania pun mengangguk, tanda meng'iyakan pertanyaan cucunya.


Sore itu, mereka menyambut malam dengan bergelak tawa. Hadirnya Arfi dan Arfa, memberi warna di kehidupan Tania dan Reyhan, bahkan hadirnya si kecil, mampu menyatukan, perselisihan antara kedua orang tua Airin dan Alvian.


.


"Haaah, kau akan menikah?" tanya Airin sedikit terkejut.


"Iya, dan ini foto calon suamiku," jawab Amira seraya menyerahkan selembar foto kepada Airin.


"Astaga. Inikan Dipta??"


"Iya, calon suamiku, Dipta, teman kakak saat kuliah dulu,'


Benar saja, Amira dan Dipta diam-diam menjalin cinta, dan kini keduanya memutuskan untuk segera menikah. Tapi berbeda dengan Rio, kakak dari Airin dan Amira itu masih betah menjomblo, di usianya yang tak lagi muda, Rio memilih untuk menghabiskan waktunya untuk bekerja.


"Sesempit itukah dunia? Kenapa adikmu, justru memilih Dipta untuk menjadi pendamping hidupnya, padahal masih banyak pria di atas muka bumi ini," decak Alvian lirih, seraya menggeleng tak mengerti.


"Astaga Al. Apa kau tau? Jika cinta itu tak memandang apapun, jika kini Amira dan Dipta berencana untuk menikah, artinya mereka sudah berjohoh," Airin memberi Alvian sedikit pemahaman, sebab yang ia tau, jika jodoh dan cinta, semua sudah Tuhan yang menentukan, dan tugas setiap mahluk yang bernyawa adalah, menjalankan semuanya dengan sebaik mungkin.

__ADS_1


***


Hari terus berganti, semakin hari kebahagian selalu menghiasi rumah mewah milik Alvian. Canda tawa dan tingkah konyol Arfi dan Arfa, sungguh memberi warna di sana. Bahkan Reyhan dan Tania menyambut masa tuanya dengan menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya, ya... karena usia keduanya yang tak lagi muda, Alvian meminta kedua orang tuanya untuk tak lagi bekerja, karena 2 perusahaan yang Alvian punya, sudah cukup untuk menopang hidup mereka setiap harinya, toh, pada kenyataanya, Reyhan dan Tania memanglah keluarga yang kaya raya.


"Kamu gambar apa?" tanya Arfa saat melihat Arfi tengah asik mewarnani sesuatu.


"Aku gambar bu peri cantik, dengan sayapnya yang warna-warni," jawab Arfi pula.


Meski masih berusia 5 tahun, si kembar bertingkah dan berbicara layaknya orang dewasa. Sebentar mereka akrab, sebentar lagi mereka bertengkar, selalu begitu dan akan begitu, karena... seperti itulah saudara.


"Mata bu peri, kok gede banget sih?" tanya Arfa lagi.


"Biar kelihatan, kalau ada yang nakal, kan matanya gede," Arfi menjelaskan.


"Kasih sambel, matanya pasti perih,"


"Masa sih?" Arfa berdecak heran.


"Coba aja, kalau mata kamu di kasih cabe! Perih gak tu?"


"Okeee____!"


Ucapan Arfa yang seperti menyuruh, langsung di sambuat dengan kata "IYA" yang membuat Alvian langsung menarik tangan anaknya.


"Arfi mau kemana?"


"Terus, mau kamu coba, lalu tarok di mata, gitu?"


Arfi mengangguk cepat, ia langsung meminta anaknya itu, kembali duduk di samping Arfa.


"Sambal, kalau di makan, pedas atau tidak?" Alvian bertanya pada kedua anaknya.


"Pedas, pi," jawab keduanya bersamaan.


"Jadi.... kalau sambal di letakan di mata, pasti mata kita juga kepedasan, kepanasan." Jelas si papi kemudian.


Arfa dan Arfi pun saling menatap.


"Maka dari itu.... jangan coba-coba main sambal ya! Apa lagi di tarok ke mata, itu tidak boleeeh. Oke sayang!" Alvian memberitahu pemahaman kedua anaknya, selembut mungkin, agar si kembar paham, dengan apa yang baru saja ia sampaika.


Akhirnya Arfa dan Arfi memilih untuk melanjutkan bermain lagi. Sementara Alvian duduk di samping sang istri.


"Anakmu tuh! Usil deh,"


"Kan, anak kamu juga, hasil karya kita berdua," ujar Airin seraya menautkan kedua alisnya.


Alvian menarik sudut bibir, karena nyatanya Arfa memang luar biasa jahilnya, sedangkan Arfi selalu menjadi korban kejahilan saudara kembarnya. Itulah sebabnya, ia dan Airin harus memberi perhatian lebih saat Arfa dan Arfi tengah bermain besama.

__ADS_1


***


Matahari siang ini, tak menunjukan sinarnya, namun hari juga tidak turun hujan. Cuaca yang redung tapi terang itu, membuat Arfa dan Arfi nyaman bermain di halaman rumah.


Sssssttt.


Alvian meyantap makanan ringan yang di buatkan oleh sang istri, dengan di temani secangkir kopi. Namun melihat kedua anaknya berlari-lari ria di halaman, menarik Alvian untuk ikut bermain pula.


"Papi jaga gawang!" seru Arfa.


"Iya pi, aku dan Arfa yang tendang bola," ujar Arfi pula.


Ketiganya bermain di penuhi canda tawa, bahkan dari sebuah kursi santai, ada Reyhan dan Tania, berdecak sangat bahagia, saat melihat kedua cucu kembarnya, bermain bola besama Alvian di halaman.


"Papa gak ikutan?" Tania tersenyum ke arah Reyhan.


Yang akhirnya pria yang sudah lanjut usia itu, tegelitik untuk ikut bermain bersama mereka semua.


"Ye... opa jaga gawang satunya!" sorak Arfi dan Arfa bahagia.


Dari lantai atas, Airin menyeka air mata bahagia yang sejak tadi terus mengalir; karena rasa bahagia yang tak terlukiskan, saat melihat tawa ria, sang suami dan kedua anaknya.


"Terima kasih Tuhan, meski hidupku selalu di dera cobaan, kini kau pula telah memberiku kebahagiaan," lirih Airin dalam isak tangisnya yang mensyukuri semua rasa bahagianya kini.


Ya..... perjalanan hidup Airin memanglah tak mudah, ia selalu di terjang badai air mata, mulai dari ia di selingkuhi, masuk pernjara dan mendapatkan kenyataan jika bukan anak kandung Yuda, adalah cobaan yang paling sulit Airin lalui. Tapi dengan berjalanya waktu, ia di temukan dengan pria tampan berhati malaikat, yang selalu ada saat ia membutuhkan apapun, pria itu dialah Alvian, ayah dari anak-anaknya.


Alvianlah, orang yang berusaha ada dan melindungi Airin dari hal apapun, ia juga menikahi Airin dan merima semua kekurangan dan cerita buruk di masa lalu wanita itu.


"l love you....," ucap Alvian saat mendapati Airin memperhatikan mereka dari lantai atas.


"Love you to____," balas si cantik lalu turun dan ikut bermain bersama mereka.


.


.


.


~T A M A T


Terima kasih kakak-kakak baik, yang mau baca karyaku walau masih banyak sekali kekuranganya. Rencanyanya ini mau aku tamatin di bab 200, tapi gak bisa shaay, karena sakit mataku berkepanjangan, dan ternyata itu semua karena sinar radiasi HP. Maklum kebanyakan main hp😁. Jadi sama dokternya di suruh istirahat dulu main hpnya.


Tapi, nanti... aku bakal sering up di sini, dengan menyuguhkan kelucuan si kembar, kali ada yang mau nungguin😆🤗.


Dan ada beberapa pembaca yang beruntung, buat dapet pulsa, nanti aku hubungi via pesan pribadi di aplikasi ini, pulsa akan tak kirim setelah gajiku masuk gaes🤗. Terima kasih ya, sekali lagi buat semua.


Semoga dari ceritaku ini, ada hikmah yang akan kalian ambil. Sampai jumpa di karya selanjutnya setelah mataku pulih. Love you buat semua.

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2