
🌸Selamat Membaca🌸
Kata orang. Lelah boleh, menyerah jangan!
-
Ini malam pertama, untuk Sisi dan Arfi tinggal di rumah baru mereka, yang mewah dan megah. Keduanya menikmati kebersamaan di kamar yang rapih dan indah yang sengaja Arfi rancang untuk membuat sang istri senang.
"Sisi..!"
"Iya. Ada apa?"
"Peluk!"
Dengan cepat Sisi mendekati sang suami, lalu memeluknya dengan penuh cinta, memberi kenyaman dan keyakinan, jika keduanya kini, sama-sama saling mencintai.
"Kak, terima kasih untuk kejutanya!"
"Hem.. kakak rasa, semua yang kakak beri hari ini, tak sebanding dengan rasa sakitmu dulu, dimana aku membuat hidupmu menderita, setiap hari membuatmu lelah dan menjadikanmu seperti boneka."
Arfi tertunduk sedih, ia sungguh menyesali, detik-detik dimana ia, membuat Sisi terluka.
"Kak.. itu sudah berlalu. Lupakan! Kita perlu hidup ke depan, bukan tenggelam dalam kesalahan!"
"Tapi.. setiap kali, aku mengingat saat-saat itu, hatiku hancur luar biasa, dan menyesal!"
Sisi tersenyum, ia semakin mengeratkan dekapkanya. "Kakak tahu, meski sedikit lambat menyadari kesalahan, itu jaaauh lebih baik, daripada tidak sadar sama sekali."
"Ya- iya, jelas kalau seperti itu konsepnya." sahut Arfi gugup.
"Aku sudah memaafkan, apapun yang pernah kakak lakukan. Bagiku, kita hidup dimasa sekarang dan kakak memperlakukanku sebaik ini."
"Tugas seorang suami, memang memberikan kenyamanan untuk istrinya."
"Tentu. Kakak tahu tidak?" Sisi menatap wajah Arfi penuh arti.
"Tahu apa, Si?"
"Kalau dulu, saat kakak menjadikanku pelampiasan naf^u, saat itu aku tahu, betapa kacaunya kakak. Semakin kakak membuatku sakit, aku pun tahu, sesakit itu juga perasaan kakak."
Arfi diam sejenak, ia tak bisa berkata-kata, karena nyatanya, saat ia membuat Sisi terluka saat itu juga ia merasa dunia tidak adil, sebab semua hal yang Arfi inginkan tak pernah menjadi kenyataan.
__ADS_1
"Iri... ya, kakak iri dengan hidup kak Arfa dan semua hal yang dimilikinya. Benar kan?"
"I-iya.. aku iri, dia bisa memiliki dunia yang sebebas itu untuk menentukan pilihan. Aku iri karena Arfa lebih memiliki banyak teman, dimana-mana banyak orang yang mengenalnya dan apapun yang dia mau pasti akan dia genggam. Sementara aku, selalu kalah dan mengalah, membiarkan apapun yang ku mau menjadi milik Arfa." jelasnya seraya tertunduk sedih, sebab apapun yang ia rasa, Arfi selalu bersikap biasa saja di hadapan saudara kembarnya itu.
"Hemm...!"
Sisi menghela napas berat, lalu tersenyum penuh arti, ia mengajak Arfi untuk duduk sejenak, lalu saling menatap dalam-dalam.
"Kita bicara antara orang dewasa dan dewasa ya!" Sisi berujar tegas membuat Arfi sedikit tersentak.
"I-iya. Silahkan!"
"Baik.. sebenarnya, aku ingin memberi tahu, satu hal kekuranganmu." Sisi tak memanggil Arfi dengan sebutan "Kakak" bahkan gaya bicaranya sungguh berbeda.
"A-apa kekurangahku?" Arfi semakin gugup.
"Kamu itu, terlalu tertutup. Iya. tertutup, sebab apapun yang kamu rasa, akan kamu simpan sendiri tanpa mau bercerita kepada siapapun."
"Haaah?"
"Jangan melotot dong, biasa saja!" Sisi mencubit hidung sang suami yang semakin membuat Arfi menggeleng. "Kamu selalu diam, mengiyakan apapun pilihan orang lain, tapi sebenarnya kamu menolak. Lantas, bagaimana orang akan paham? Jika kamu saja selalu berkata IYA yang akhirnya menjadikan orang tidak memahami kamu, sebab kamu selalu mengIYAkan semua permintaan mereka."
Arfi semakin malu menatap wajah istrinya itu, ia memilih diam dan membisu.
Arfi kini mengangkat wajahnya, lalu memperhatikan tatapan sang istri. Dari sorot mata saja, sudah menjelaskan jika Sisi kini sudah dewasa, dari cara bicaranya tadi, tak terlihat sedikitpun, Sisi yang manja dan ke kanak-kanakan seperti selama ini.
"Kamu sudah dewasa, jadi bisa berbicara sebijak itu!" ujar Arfi lalu mendekatkan wajahnya tepat di wajah Sisi.
"Iya.. karena, aku memang di wajibkan untuk dewasa!"
"Ah iya kah?" Arfi seakan berbicara dengan orang lain. "Aku bingung, harus sedih atau bahagia, menerima kenyataan, jika kamu memang semakin dewasa."
"Harus bahagia dong kak, sebab semakin aku dewasa maka aku akan semakin memahamimu,"
"Haaah?"
"Iya. Dan saat dewasa, aku tidak akan banyak menuntut apapun padamu, kamu yang harus begini dan begitu. Aku juga tak akan memaksamu, untuk menutupi semua kekurangmu. Tapi... biarkan itu menjadi tugasku! Karena kita di takdirkan bersatu untuk saling melengkapi dan saling memahami." tambah Sisi, berucap panjang lebar seolah tanpa jeda.
Arfi di buat terpaku, diam membisu dan tak tahu harus memjawab apa. Sungguh, Sisi yang ada diadapanya sangatlah berbeda
"Ayo tidur! Sisi kebanyakan nonton drama china, jadi tiba-tiba berubah dan seketika menjadi dewas!" Arfi menolak perubahan istrinya.
__ADS_1
Hal itu membuat Sisi tersenyum simpul, ia langsung memeluk tubuh Arfi, hingga sumainya gemetar seketika.
"Selamat tidur, suamiku. Eemuuuah!" kec^pan mendarat aman di leher sang suami. Arfi pun gemas dan merasa terpancing, jiwa kelakianya seketika meronta-ronta, Ia membalikan tubuh lalu meraih bibir Sisi, malam ini untuk kesekian kalinya, Arfi dan Sisi melakukan hubungan badan dan di setiap akhir permainan, Sisi berharap, akan di beri keajaiban oleh Tuhan, agar ia segera memiliki momongan.
***
Waktu memang sangat cepat berlalu, segala usaha sudah keduanya tempuh, tapi Sisi tak kunjung hamil juga. Hingga mereka memutuskan untuk berkonsultasi kepada dokter khusus kandungan.
"Kalian baik-baik saja, tak ada kekurangan dalam segimana pun." si dokter menjelaskan.
"Lalu, kenapa aku tidak hamil juga? Ini hampir 1 tahun, sejak aku keguguran,"
"Begini. Faktor strees yang berlebihan sedikit menghambat kehamilan,."
"Anda bilang saya gila, seperti itu?"
"Bukan- bukan gila! Stres yang dimaksud, disini adalah sedih yang berlebihan, rasa takut yang berlebihan, dan seolah semua yang terjadi adalah hal yang menyakitkan."
Sisi yang hampir menangis, mampu menahan emosinya, terlebih Arfi memang selalu memberi ia kekuatan.
"Sabar, Sisi!" Arfi menepuk pelan pundak sang istri.
"Lantas, apa yang harus saya lakukan dok?"
"Sisi, kau hanya perlu keyakinan, jika suatu hari nanti, cepat atau lambat kau pasti akan hamil. Jangan selalu tenggelam dalam rasa takutmu! Karena nyatanya, kau dan suamimu baik-baik saja!"
"Jadi, kami pasti akan memiliki momongan ya, dok?" Sisi bertanya lagi dan kini perasaanya jauh lebih lega.
"Iya.... pasti. Kalian hanya butuh kesabaran lebih besar lagi!"
Setelah keluar dari ruangan dokter tersebut, Sisi dan Arfi menjadi sedikit lega, karena setidaknya ucapan dokter tadi memberikan keduanya keyakinan dan kekuatan. Sebab rasa takut memang selalu menghantui Sisi, karena setelah satu tahun pasca keguguran, Tuhan belum menitipkan janin lagi kedalam rahimnya.
"Ayo pulang! Kita lewati hari-hari dengan bahagia!" ajak Arfi.
Sisi mengangguk, ia mengikuti apapun yang di ucapan oleh Arfi. Harus kuat dan tetap semangat❣.
.
.
.
__ADS_1
TERIMA KASIH