Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 16 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Cuaca pagi ini seakan tak bersababat dengan kondisi hati Cia. Mana kala sang mentari seolah menari-nari menyinari cakrawala nan indah. Beberapa burung-burung mulai terbang entah kemana, dan angin yang meyeruak sampai menusuk tulang tapi terasa damai.


"Hem,"


Sekali lagi, Cia menghela napas gusar dan menguap lebar, tentu membuat Angga yang kini bersamanya menggeleng pelan.


"Kamu nangis, ya?" telisik Angga basa-basi. Karena sejak tadi keduanya hanya diam saja.


"Eh, siapa yang nangis?"


"Ya kamu lah, tuh matanya berair,"


"Aku nguap goblok, bukan nangis. Sok tahu sih!" celetuk Cia sarkas.


Tapi Angga tetaplah Angga, ia yang tak pernah marah meski Cia berkali-kali mencacinya. Entah terbuat dari apa, hati cowok ini? Seolah tak pernah peduli meski di hina sampai ke elu hati. Terkadang Cia sampai bingung sendiri karena sikap Angga.


"Btw, aku boleh nanya sesuatu, nggak?"


"Tanya apa?" telisik Cia penasaran.


"Gimana hubungan kamu dan Pak Arfi, ada kemajuan belum?"


"Udah jadian," jawab gadis itu jujur.


"Haaah?" wajah Angga pias seketika.


"Kemarin aku dan Pak Arfi resmi jadian. Kenapa memangnya?"


"Eng-nggak kok, tanya aja."


Dalam hati Angga terasa sangat sedih, seraya sesekali menghela napas pelan demi menetlarisir perasaan yang sempat-sempatnya merasa kecewa, toh nyatanya Angga tak pernah menyatakan perasaanya kepada Cia, jadi wajar saja jika dia mengejar cinta Pak Arfi dan tak perduli perasaan Angga.


"Rumah orang tuamu, masih jauh ya?" Angga kembali bertanya, ia ingin secepatnya mengantarkan Cia, karena semakin lama bersama, ia takut perasaanya kian tumbuh.


"Nggak lama lagi, bawa motornya santai-santai aja!"


Tak menjawab, Angga menggigit tipis bibirnya sendiri, mentapkan pandanganya ke depan dan fokus mengemudi kendaraan. Tapi sedetik kemudian, fokusnya teralihkan, karena secara tiba-tiba, Cia melingkarkan tanganya ke pinggang Angga. Hal ini memacu jantungnya memompa lebih cepat dari yang seharusnya.


"Sebenarnya, aku juga masih belum yakin jika, Pak Arfi memiliki perasaan yang sama untukku." ucap Cia.

__ADS_1


"Kenapa? Jika kalian sudah jadian, harusnya karena sama-sama saling mencinta."


"Tapi aku ragu." sesekali Cia menghentakan kepalanya ke bahu Angga. "Apa ini semua karma, ya?"


"Karma gimana?"


"Karma karena sejak awal niatku nggak baik. Sebab jauh sebelum aku dan Pak Arfi resmi jadian. Aku punya rencana membuat dia jatuh cinta demi bisa merebut perusahaanku kembali. Tapi kenyataanya.... aku justru terjebak dan kini benar-benar jatuh cinta ke Pak Arfi." ungkapnya, Cia bercerita sejujur mungkin.


"Aku turut bingung, semoga Pak Arfi benar-benar cinta kamu!"


"Semoga."


Sepanjang jalan, Angga menjadi pendengar yang baik untuk Cia, sampai gadis itu tiba di rumah, Angga masih setia mendengarkan semua curahan hati Cia.


"Terima kasih, Ga," ucap Cia tulus setelah tiba tepat di depan gerbang rumah.


"Sama-sama," jawab Angga singkat. Tak mengucapkan sepatah kata lagi, ia langsung memilih pergi. Sikap Angga tentu sangat membingungkan bagi Cia.


Sepanjang jalan menuju ke kantor, Angga terus terngiang-ngiang ucapan Cia, prihal gadis itu yang hanya pura-pura suka kepada Arfi tapi malah terjebak dalam rasa yang sebenarnya. Bukan itu saja, tadi saat ia berdiri di depan gerbang rumah Cia, ia dapat melihat betapa mewah dan megahnya rumah milik gadis yang ia sukai itu. Yang pada akhirnya Angga merasa sangat insecure dan tak memiliki nyali lagi.


"Cantik, baik, berpendidikan dan anak orang kaya. Dah lah, sepertinya aku mundur saja!" Angga bermonolog sendiri.


.


.


.


Sementara di kantor kini, tengah heboh dan terjadi bisik-bisik lirih. Karena sejak tiga puluh menit yang lalu, Sisi masuk ke dalam ruang kerja bos mereka, wanita itu tak kunjung keluar juga. Apa yang mereka lakukan? Setidaknya itulah yang mereka semua pertanyaakan.


"Buka pintunya! Aku mau keluar,"


"Nggak!"


"Tolong deh, Fi... jangan kayak anak kecil begini! Aku yakin mereka semua sedang membicarakan kita."


"Ya nggak masalah, anggaplah mereka semua mengurangi dosa kita."


"Mulutmu kalau ngomong masih seenak jidat. Minggir- minggir-.....!"


Sisi menarik tangan Arfi, niatnya ingin mendorong pria itu. Tapi apa mau di kata, tenaga pria ini seratus kali lipat lebih kuat darinya. Kini justru Arfi yang menyandarkan tubuh Sisi ke dinding dan mengunci tubuh wanita itu dengan kedua tanganya.

__ADS_1


"Jika sudah kembali, jangan coba-coba untuk pergi!"


Sisi terdiam, karena nyatanya sikap arogant Arfi belum juga hilang. Seperti saat ini, pria itu mencekatkan dekapanya ke pergelangan tangan Sisi, bahkan tak sadar sampai memerah.


"Aw," decak Sisi lirih karena nyatanya memang sakit sekali."


"Ma- maaf- maaf!" spontan Arfi melepaskan, ia terbelalak kala cengkramanya di tangan Sisi meninggalkan bekas memerah. "Maaf, Si!" pintanya lagi.


Mata Arfi berkaca-kaca, Sisi melihat pria itu sangat menyesali sikapnya. Secepat mungkin ia membuka pintu dan membiarkan Sisi keluar dari ruang kerjanya.


"Apa yang terjadi, kenapa kamu lama sekali di dalam sana?" tanya seorang karyawan yang usianya sudah cukup tua, ia penasaran, kenapa Sisi lama sekali di dalam sana.


"Pak Arfi sedikit tak enak badan, jadi aku membantu beliau menyelesaikan beberapa pekerjaan, jadi lama deh," Sisi susah payah mencari jawaban, dan jawaban inilah yang paling jitu menurutnya.


"Oooohh, begitu ya!!"


Mereka semua menghela napas lega, tapi sorot mata mereka, masih menatap lekat ke arah Sisi. Wanita ini cantik sekali, wajar sih... jika Pak Arfi langsung suka. Padahal mereka tidak pernah tahu, jika sebenarnya Sisi dan Arfi pernah menjadi suami istri


Ck...


Sisi mendudukan tubuhnya di kursi, seraya sesekali membayangkan wajah sedih Arfi tadi. Wajah penuh penyesalan karena tak sadar mencengkram tangan Sisi erat dan kuat.


"Kamu kenapa sih, Fi?" tanyanya dalam hati.


Berbeda dengan apa yang di pikirkan Arfi sendiri saat ini. Ia merasa malu sekali karena memperlakukan Sisi seperti tadi. Ia memang selalu mengutuki diri sendiri karena tak mampu meredam emosi.


"Eh, kok tadi Sisi manggil aku, ARFI doang. Nggak pake KAK apa lagi PAK? Nggak sopan banget tu cewek." Arfi mengingat-ingat lagi ucapan Sisi tadi. Ia pun kembali ngomel-ngomel tidak jelas. Entah kepada siapa sebenarnya ia marah?


Jika di analogikan, perasaan Arfi kini seperti angin. Tak menentu arah. Terasa tapi tak terlihat. Ia ingin berpura-pura tidak menunjukan rasa cintanya, tapi ia tidak bisa.


"Ya Tuhan, aku harus apa?" Arfi betanya-tanya sendiri lagi. "Kenapa Sisi datang saat aku mulai belajar membuka hati untuk orang lain. Kenapa dia kembali, di saat aku baru menerima, Cia?" ia pun bingung sendiri.


Ikuti alurnya, nikmati setiap hal yang terjadi. Sekali lagi, apapun yang nanti akan di takdirkan, pasti itu hal yang paling baik menurut Tuhan.


.


.


.


.

__ADS_1


L A N J U T


__ADS_2