Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Makan Malam Berdua


__ADS_3

🕊Selamat Membaca🕊


Angin bertiup sangat kencang, awan hitam mulai menampakan sinarnya sedikit demi sedikit.


Airin berjalan lalu berlari menjauhi kantor polisi, ia membawa hatinya yang koyak dan batin yang tak biasa ia bohongi, bahwa saat ini ia tengah dalam kenyataan yang amat menyakitkan.


"Aaaaaaa.......!"


Pekiknya sekuat tenaga, air mata jatuh tanpa terasa, membasahi wajah cantiknya, Airin menangis di tengah guyuran hujan yang menerjang bumi.


Ia marah, tentu saja, sebab ia kecewa dengan jalan hidup yang Tuhan gariskan untuknya.


"Rin,"


Suara itu terdengar pelan, ya Alvian datang dengan membawa payung di tanganya, untuk melindungi tubuh sang istri yang sudah basah kuyup.


"Al,"


Si cantik spontan memeluk tubuh Alvian, ia menangis dalam pelukan suaminya, Airin berharap semua sesak di dadanya akan segera lega.


"Ayo pulang!"


"Tapi Al,"


"Tapi kenapa lagi, Rin?"


"Dia,"


Airin tertunduk lesu, wajahnya semakin nampak sendu.


"Pak Bima, akan mendapatkan hukuman sesuai dengan kejahatan yang ia lakukan,' jelas Alvian.


Mendengar itu, Airin pun menuruti sang suami, yang mengajaknya untuk pulang ke rumah. Ia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


Kini... semua banyak tanya, yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran Airin pun, terjawab sudah. Papa kandungnya sudah meninggal dunia sejak ia berada di dalam perut sang mama. Bayu Prastio namanya, ia bukan pergi tanpa kata, atau tak bertanggung jawab seperti orang-orang pikirkan tentangnya, tapi Bayu meregang nyawa karena sengaja di lenyapkan oleh kakak kandungnya sendiri.


Kini, tugas Airin adalah menjalani hidup dengan lebih baik lagi, dan menatap dunia dengan senyuman. Meski rasa sakit berkali-kali ia terima, namun Airin bersyukur di saat tersulit selalu ada Alvian di sisinya.


"Terima kasih Al, jangan bosan mencintai dan menyayangiku!" harapnya pelan, seraya menyandarkan bahunya di pundak Alvian.


***


Kini tibalah keduanya di rumah tanpa, basa-basi dan pikir panjang lagi, si cantik segera mandi lalu mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Sementara Alvian menceritakan secara keseluruhan, apa yang sudah terjadi hari ini dan kenyataan apa yang sudah Airin terima.


"Haaah...!!"


Reyhan dan Tania sama terkejutnya, setelah mendengar cerita dan kenyataan yang ada.


"Jadi, kakekmu dibunuh, karena Bima Prasetyo itu, kakak kandung dari Bayu sendiri, yang tak lain ayah kandung Airin?" tanya Tania penasaran.


"Iya mah, nyatanya rasa iri dan benci, membutakan akal sehat, hingga Bima tak menyadari, perbuatannya akan merugikan banyak orang dan menyakitkankan hati siapapun," tambah Alvian pula.

__ADS_1


Reyhan dan Tania menggeleng pelan, keduanya merasakan nyeri yang amat luar biasa di dalam dada, karena nyatanya yang membunuh kakek Alvian adalah orang kepercayaan si kakek sendiri.


"Dari sini kita paham, bahwa orang yang kita pikir, tidak akan menyakiti kita, nyatanya adalah orang yang paling mengecewakan," ujar Alvian pelan.


Pria muda itu segera beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar, dan segera menemui Airin.


"Heih," sapa Alvian pelan, saat melihat sang istri tengah duduk di sebuah kursi, tepat di depan jendela dengan menatap dan memandang pemandangan indah di taman rumah.


"Aku berharap, bahwa saat ini ini Papa sudah nyaman dan tenang di surga, karena orang yang telah membuatnya tiada sudah di tahan oleh pihak berwajib!" ucap Airin Lirih.


"Pasti, papamu akan bahagia... terlebih lagi, jika kau mampu menghadapi semua masalah ini, karena seorang ayah, pasti akan sedih luar biasa, jika melihat anaknya selalu dirundung kesedihan, maka dari itu, kau harus tetap tersenyum dan jalani hidup ini sebaik mungkin. Percayalah di depan nanti akan ada, kebahagiaan yang kau terima," Alvian meyakinkan istrinya.


Airin tersenyum simpul. Apa yang diucapkan Alvian benar adanya, bahwa Airin tetap harus bangkit dan tidak boleh terus menerus tenggelam dalam keterpurukan.


"Sedih boleh, lelah pun boleh tapi menyerah jangan!"


Lagi-lagi Airin pun tersenyum sebab Alvian mampu membuat perasaannya lebih lega.


"Nanti malam, kita makan di luar yuk!"


"Boleh," jawab si cantik lembut.


Alvian ingin menyiapkan makan malam romantis, sebab selama ia dan Airin bersama pria itu belum pernah, menyiapkan kejutan romantis bak film di drama korea.


***


Malam pun tiba, untuk pertama kalinya Airin dan Alvian menikmati makan malam di luar dan berdua saja.


Alvian membalas senyum itu, sambil mengambil dan meremas lembut jemari sang istri, Keduanya berjalan perlahan menuju meja bulat dengan dua kursi yang tampak anggun dalam temaram lampu taman berwarna kuning. Nyala api lilin yang bergoyang tertiup angin, jatuh bersinar di mata Airin.


“Terima kasih,” ucap si cantik halus, saat ia sudah duduk dengan nyaman di kursinya.


Alvian segera duduk di kursi. Dua gelas tinggi di hadapan keduanya mengembun karena ada cairan bening yang dingin di dalamnya.


Airin mengambil gelasnya, lalu menyesap minumannya sedikit. Matanya melirik ke arah Alvian yang tak lepas menatap tubuhnya yang di balut gaun panjang berwarna putih, menambah kencantikan Airin malam ini.


“Kau cantik sekali,” desuh Alvian, seraya terus mengumbar senyum ke wajah istrinya.


"Cantiklah, kan cewek," jawab Airin bersikap malu-malu.


Keduanya menikmati makan malam, di bawah langit yang nampak berbintang malam ini, seraya terus mengumbar senyum dan bercerita apapun, untuk melupakan sedikit sesak yang sepanjang hari, menerjang batin dan hati Airin.


"Aku mencintaimu, Rin," ucap Alvian pelan seraya mengecup kening si cantik.


"Berapa kali? Kau akan mengatakan hal itu padaku?" Airin menautkan kedua alisnya.


"Seribu kali, setiap hari... akan ku katakan bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu,"


"Terima kasih," jawabnya lirih.


Airin menatap, pria tampan berhati malaikat untuknya, ia benar-benar bahagia memiliki suami yang selalu ada saat ia butuh dukungan.

__ADS_1


"Jangan lelah, untuk selalu ada di sisiku!"


"Iya, kau adalah bidadari yang Tuhan kirim untukku,"


"Heleeeh gombal,"


Airin spontan mencubit hidung suaminya dan seketika saja, si tampan berdecak kesakitan.


"Sakit tau, Rin," decaknya dengan bibir sedikit di manyunkan.


Sssttt... Haaaap!"


"Ehhh," Alvian tersenyum.


"Kalau itu, sakit tidak?"


Si tampan menggeleng cepat.


"Yakin?"


"Iya, lagi dong!" pinta si tampan menggoda.


Hahhahahaha!"


Airin tertawa sejadi-jadinya, sementara Alvian menyentuh bibirnya sendiri, karena tadi mendapatkan kecupan dadakan dari sang istri.


Sssst.. Ck..


Airin terperanjat, saat Alvian secepat kilat menyambar tanganya dan menarik Airin untuk semakin mendekatinya.


"Al, kau mau apa?"


"Membalas,"


"Balas apa?" Airin tersenyum penuh arti.


Keduanya, benar-benar bahagia. Untuk sesaat Airin bisa melupakan, hal yang sudah membuat dadanya sesak. Malam ini sang suami memperlakukanya bak seorang ratu, memberi apapun yang Airin mau.


"Ayo pulang!" ajak Alvian.


"Gendong!" pinta Airin manja.


Dengan senang hati, Alvian memapah tubuh istrinya dan menggendong Airin hingga masuk kedalam mobil.


.


.


.


HADEEEH😭😭❤❤❤❤.

__ADS_1


Makasih lagi kakak-kakak baik, jangan lupa bahagia ya❤💪🤗.


__ADS_2