
🌹Selamat Membaca🌹
Setelah memastikan Cia istirahat dan menitipkan kepada Bi Lina untuk menjaga. Sisi memilih untuk segera kembali ke kantor, ia sudah emosi tingkat tingga dan marah semarah-marahnya.
Ssstttt...
Setibanya ia di kantor, Sisi langsung melesat masuk ke ruangan Arfi, tanpa perduli banyak pasang mata yang menatap heran sikapnya.
"Eeh, ada apa sih? Kok dateng-dateng Sisi langsung ke ruangan Pak Arfi aja?" seperti ini pertanyaan di antara mereka.
Sisi tahu akan jadi bahan perbincangan, tapi ia tidak perduli, yang ingin ia lakukan kini menampar wajah Arfi berkali-kali. Ia tak pernah seemosi ini.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" Arfi terkejur, kala Sisi masuk ke ruangan tanpa permisi dan memandangnya penuh emosi.
Sisi melangkah kian dekat, tatatapanya seakan mengintimidasi, ia menarik kerah baju Arfi lalu menampar pria ini berkali-kali.
"Gila ya? Kenapa menamparku tiba-tiba?"
"PECUNDANG... kenapa menikahi Cia, jika tak memperlakukanya layaknya seorang istri?"
"Memang, apa yang Cia sampaikan padamu?" Arfi memutar bola mata seraya mengelus pipinya yang memerah karena tamparan dadakan yang Sisi beri.
Sisi pun menyampaikan rasa kecewanya, karena Arfi tak memperlakukan Adiknya seperti seorang istri yang seharusnya. Bahkan sampai dua bulan lebih mereka menikah tapi Cia masih perawan dan belum tersentuh sedikit pun.
"Kalau seperti ini ceritanya? Bagaimana Cia bisa hamil? Bagimana dia bisa memberimu keturunan?"
"DIAAAAM!" bentak Arfi keras dan spontan menghentikan omelan Sisi yang panjang kali lebar. "Aku memang tidak melakukanya, karena aku mau memberi kamu pemahaman, jika aku baik-baik saja tanpa hadirnya anak dalam hidupku. Aku tidak mempermasalahkan sekali pun tidak memiliki keturunan. Aku mau kamu, aku mau kita sama-sama!!" tambahnya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu yang memaksaku menikahi Cia, tanpa memikirkan perasaanku. Aku memang tidak melakukanya, tapi aku berusaha tak menyakiti Adikmu." ucapnya lagi.
Sisi memundurkan tubuhnya selangkah, saat Arfi di penuhi amarah dan emosi. Sepertinya benar-benar salah menuntut penjelasan dari pria ini, dan sejenak kemudian, Sisi benar-benar merasa sangat bersalah karena memaksa Arfi menikahi Cia.
"Seharusnya kamu bisa berpikir dewasa, Fi.. setidaknya dengan Cia kamu bisa memiliki anak. Aku yakin jika nanti hadir malaikat kecil dalam pernikahan kalian, kamu akan menerima Cia seutuhnya."
"KELUAR! Aku tidak butuh nasehatmu. Jangan datang dan menemuiku, jika hanya untuk ceramah sok bijak!!"
Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi, Sisi langsung keluar dari ruang kerja Arfi. Ia bahkan tidak bekerja hari ini, Sisi meminta Angga untuk mengantarkanya pulang ke rumah.
"Apa yang terjadi Kak?" Angga penasaran.
"Gak apa-apa. Antat aku pulang tapi jangan banyak tanya!"
__ADS_1
Angga mengangguk patuh dan segera menghantarkan Sisi pulang. Sedangkan Angga semakin emosi, mana kala melihat Angga mengatarkan Sisi pulang dari layar CCTV.
.
.
.
***
Pertengkaranya dengan Sisi tadi dan rasa cemburnya karena Angga selalu ada untuk mantan istrinya, serta amarahnya karena Cia menceritakan apa yang terjadi di dalam pernikahan keduanya. Membuat kepala Arfi terasa mau pecah jika mengingatnya.
Ia pun tidak langsung pulang malam ini. Arfi justru memilih untuk pergi ke club malam dan menghabiskan banyak minuman.
Angga yang merasa, Arfi selalu baik dan menolong keluarganya saat kesulitan, merasa bertanggung jawab melindungi bosnya ini. Meski terkadang Arfi sangat menyebalkan, ia tetap tahu jika Arfi adalah orang yang sangat baik dan perduli terhadap sesama. Hanya saja dia tempramen saat tengah marah.
"Astaga, anda banyak sekali minum Pak, sampai tak memiliki tenaga seperti ini."
"Heh, Angga... jangan sok baik ya! Saya tahu kamu mau merebut Sisi dari saya," rancaunya di tengah kepala yang ia rasa sangat berat.
Angga tersenyum tipis, ia tahu Arfi tengah tidak waras karena efek terlalu banyak minum. Apa yang di ucapkan oleh bosnya ia yakin itu sebuah kejujuran. Arfi takut Angga membuat Sisi jatuh cinta, Angga sadar sebesar apa pria ini mencintai Sisi.
"Kalau anda sangat mencintai Sisi, kenapa menikah dengan Cia? Saya kira, meski anda pernah menikah dengan Sisi, tapi anda sudah berpaling kepada Cia." ucap Angga setelah keduanya sampai sudah masuk ke dalam mobil.
"Saya antar Pak Arfi pulang, ya!"
Arfi pun mengangguk berkali-kali seraya memegang kepalanya yang semakin berat. Angga dengan sangat hati-hati memacu kendaraan yang kini ia kemudi.
.
.
.
***
Kini tibalah keduanya di rumah. Cia terkejut melihat keadaan suaminya, selama menikah ini kali pertama ia melihat Arfi tidak waras karena pengaruh minuman.
"Terima kasih, Ga. Kamu pulang bawa saja mobilnya!"
__ADS_1
"Sama-sama." Angga pun menuruti ucapan Cia, toh motornya memang ia tinggal di Club Malam tadi. Ia berpikir untuk mengambilnya besok pagi.
Ssstt....
Cia membantu Arfi yang berjalan sempoyongan. Ia dengan telaten membantu suaminya membaringkan tubuh.
"Kak Arfi di sini sebentar, biar aku ambilkan baju."
Sungguh Sisi tak tahan, bau minuman sangat menyengat menusuk hidungnya. Dengan cepat ia melangkah masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju sang suami.
TAPI!
Saat Cia akan keluar, ia melihat Arfi sudah berdiri di depan pintu kamar. "Kenapa Kakak ke sini? Harusnya biarkan aku mengganti bajumu dulu,"
Namun Arfi tidak menjawab, dengan langkah gontai, mata memerah dan tampak menakutkan. Ia berjalan mendekati keberadaan Cia. Dan dengan sekuat tenaga ia menghempaskan tubuh mungil Cia ke atas ranjang.
Cia terperanjat, ia kaget luar biasa, dan dengan sigap ia berusaha bangkit. Tapi sayang usahanya sia-sia. Arfi sudah mendekap tubuhnya dan membuat Cia sulit bergerak.
"Kakak mau apa?" ia coba untuk bertanya.
Arfi justru melotot lebar dan menlancarkan seranganya. Dengan kondisi sadar tidak sadar, pria itu menyentuh bibir Cia dengan bibirnya dan melakukan secara kasar sampai Cia sulit bernapas.
"Ini yang kamu inginkan?" bisiknya.
Cia seakan mendengar suara penjahat yang siap merenggut kesucianya. Ia memang mau Arfi mengaggapnya sebagai seorang istri tapi tidak dengan kondisi tak waras seperti ini.
Dengan kasar dan sekuat tenaga, ia menanggalkan semua pakaian yang Cia gunakan. Arfi seolah kemasukan siluman karena membuat tubuh istrinya di penuhi warn memerah.
"Aww, sakit." decaknya lirih, saat merasakan sesuatu mengguncang tubuh.
Masih sekasar tadi, kali ini Arfi benar-benar menjajah tubuh Cia tanpa ampun. Napas keduanya terengah-engah seolah baru saja berlari sekencang-kencangnya.
Arfi tersenyum sinis, tak memberi Cia celah untuk bersuara, karena setiap kali sang istri akan berbicara, ia langsung melahap bibir Cia dan membuatnya kembali diam.
Sungguh tak ada yang bisa Cia lakukan, kecuali pasrah menghadapi kemarahan sang suami yang kini melampiaskan pada tubuhnya.
.
.
__ADS_1
.
B E R S A M B U N G