
❣Selamat Membaca❣
Plaaaaak!
Sisi menampar wajah Yuni dan wanita paruh baya itu meringis kesakitan. Ia menatap wajah Sisi penuh benci dan berbalik menampar gadis mungil itu.
"Hei... apa yang kau lakukan? Beraninya menampar wajah kekasihku!" Arfi menjadi emosi. "Bawa masuk dia!" titah Arfi pula kepada berapa polisi yang bertugas.
Yuni kembali di bawa masuk ke dalam ruang pengap nan dingin, tapi nyatanya meski semua kejahatanya terbongkar, Yuni tetap bersikap tak pantas kepada Sisi.
"Dasar sialan! Anak dari manusia yang tak punya hati, kenapa kau tak ikut enyah bersama kedua orang tuamu?!" Yuni berteriak keras suara dan omelanya terdengar jelas.
Hal itu membuat Sisi geram, gadis yang baru duduk di bangku SMA itu sungguh tak paham, kenapa wanita bernama Yuni tersebut mengatakan, jika kedua orang tuanya tak punya hati.
"Apa maksudmu, berucap seperti itu tentang kedua orang tuaku?"
"Ha ha...," Yuni tertawa terpaksa. "Asal kamu tahu, harta kedua orang tuamu itu haram, hak semua orang yang bekerja pada mereka, tapi mama dan papamu tidak pernah membayarnya." emosi Yuni pun ikut menjadi dan terbakar.
Sisi merasakan semua anggota tubuhnya melemas, ia tak mampu berdiri dan hal itu membuat Arfi semakin panik. Ia memapah tubuh si cantik lalu membawanya menjauh dari Yuni.
"Apa nafasmu kembali sesak?"
Sisi menggeleng, ia mendekap erat tubuh Arfa dan mencari kenyamanan untuk dirinya. Sementara Arfi meminta izin untuk mengantarkan Sisi pulang.
"Nanti kembali lagi, Fi!"
"Siap pak!" jawabnya tegas.
Kini Arfi dan Sisi sudah berada di jalan untuk mengantarkan gadis itu pulang. Sedangkan wanita bernama Yuni tersebut, di interogasi pihak polisi dan harus menjelaskan alasan. Kenapa dia menyabotase harta miliki orang tua dari gadis bernama Prisila Lisika?
"Aku________!"
Yuni mengungkap bahwa ia dulu sangat menghormarti kedua orang tua Sisi, tapi ia menjadi benci, pasalnya sudah lebih dari 2 tahun bekerja, ia tak pernah di bayar. Dan setia kali menanyakan haknya, mereka justru tidak perdulu dan memecat Yuni tanpa di beri uang sedikitpun. Ya.... dendam lah, yang melandasi niat Yuni untuk melenyapkan kedua orang tua gadis yang menamparnya tadi.
"Anda bisa di tuntut, hukuman seumur hidup, karena melakukan pembunuhan berencana."
"Tapi, aku tidak membunuh mereka. Papa gadis bernama Sisi tersebut, meninggal karena serangan jantung... dan mama dari Sisi pun meninggal karena bunuh diri." Jelas Yuni.
Yuni pun tetap, harus mempertanggung jawabkan, perbuatanya. Ia di tuntut atas tuduhan pencucian uang dan mengambil alih hak orang lain.
Sementara Sisi dan Arfi kini sudah sampai dan si tampan meminta kekasihnya untuk beristirahat.
"Nanti, setelah aku pulang dari tugas, kakak pasti ke sini lagi. Sisi istirahat ya, jangan berpikir yang macam-macam!" titahnya berbisik pelan dan setelah itu ia memutuskan untuk kembali bertugas.
***
Hari terus berganti, waktu terus berlalu. Kini usia kandungan Nayla sudah memasuki 7 bulan.. Arfa pun semakin sayang dan terus memberikan perhatian lebih untuk Sisi. Teror 2 bulan yang lalu tak menemui titik temu, karena di hari-hari berikutnya, teror itu tak pernah datang lagi.
__ADS_1
"Perutnya besar sekali, mungkin anaknya kembar!" harap si mami dan si papi, bahkan Tito papa dari Nayla pun, tak sabar menanti lahirnya cucu pertama.
"Sudah di USG, mi... dan anakku gak kembar, kemungkinan yang akan menjadi malaikat kecil kami, bayi perempuan," Arfa menjelaskan.
Arfa meminta kepada kedua orang tuanya, agar tinggal di rumahnya untuk sementara. Karena perut Nayla sudah semakin besar dan tak lama lagi, Arfa dan istrinya akan menjadi orang tua.
"Mami tidak keberatan," ujar si mami tulus.
Ya.. kerena Arfa saat ini tengah sibuk menyusuk skripsi, dan kalau tidak ada halangan dua bulan lagi Arfa akan lulus.
"Jadi kelulusamu, bersamaan dengan lahirnya anakmu?" si papi bertanya.
"Iya, pi.... sama bulan tapi belum tentu sama hari, kan? Do'akan aku cepat lulus dan mengurus kantor sepenuhnya, juga akan menjadi suami dan orangt tua yang seutuhnya!"
"Pasti, doa mami dan papi akan selalu menyertaimu." Ucap Alvian tulus.
Selama berada di rumah Arfa, si mami dan si papi tampak gelisah, bukan karena tak betah mereka pusing memikirkan masa depan Arfi.
"Kata mami, kalian akan mencarikan Arfi jodoh," Nayla penasaran.
"Iya... rencananya hari ini anak teman mami dan papi akan kesini, bahkan sudah meminta Arfi untuk kemari juga!"
"Ohh.. begitu ya," Nayla tersenyum simpul.
Saat keduanya sedang asik berbicara, Arfa pun ikut duduk di tengah-tengah si mami dan Nayla. Ia mendengarkan pembicaran dua wanita yang sungguh di cintainya.
"Bukankah, Arfi sudah memiliki kekasih? Kalau tidak salah namanya Sisi."
"Sisi itu... hanya pacar pura-pura. Arfi melakukanya agar kamu tidak terus menerus menuduhnya, jika dia belum move on dari Nayla." si mami mengungkapkan.
"Haaaah....?!"
Bukan hanya Arfa yang terkejut tapi Nayla juga. Keduanya menggeleng heran, atas sikap Arfi yang sedikit kekanak-kanakan.
"Bukan tidak dewasa, Arfi menjaga perasaan kalian berdua," kini si papi yang berbicara.
Sejenak keduanya terdiam dan Arfa pun merasa bersalah. Karena tuduhanya lah membuat sang saudara kembarnya itu, akhirnya mencari pacar pura-pura.
"Selamat sore tante,"
Seorang gadis berparas cantik, langsing dan tinggi semampai, kini berkunjung ke rumah Arfa. Dialah gadis yang akan di jodohkan dengan Arfi.
"Sayang, ini Nayla menantu tante dan ini Arfa saudara kembar Arfi," Airin memperkenalkan.
Gadis yang akan di jodohkan dengan Arfi itu, tampak humoris dan gampang tertawa, ia bahkan cepat akrab dengan Nayla dan Arfa.
"Kamu sudah bekerja?"
__ADS_1
"Iya, aku guru di salah satu sekolah ternama,"
"Woow.. keren!" Nayla spontan memuji dan nyatanya gadis itu usianya 2 tahun lebih tua dari Nayla.
Mereka pun saling bertukar cerita dan bercanda tawa. Benar-benar seru dan akrab. Si mami berkali-kali memuji gadis yang akan di jodohkanya dengan Arfi.
Tap. Tap. Tap....
Arfi pun tiba di rumah Arfa, masih lengkap menggunakan baju dinasnya, membuat Arfi semakin tampak gagah.
"Fi.. ayo duduk!" titah si mami bersemangat.
Sorot mata Arfi menajam ke arah wanita yang duduk di samping Nayla. Bahkan wanita itu menatap tajam ke arahnya juga.
"Siapa, mi?"
"Calon istrimu," Arfa yang menjawab dan bersemangat.
"Haah?" Arfi tersentai ia tak mempercayai ucapan Arfa dan meminta kejelasan kepada sang mami.
Airin pun mengiyakan, dan berkata jika gadis itu pilihan ia dan sang suami. Tapi semua keputusan ada di tangan Arfi.
"Mami tidak memaksa meski berharap kamu segera menikah!' ujar si mami penuh harap.
"Permisi...!"
Belum Arfi menjawab, suara orang yang baru datang itu, mengalihkan pandangan mereka semua. Sisi, gadis mungil yang masih menggunakan baju SMA bertamu juga ke rumah Arfa, karena Arfi memintanya.
"Kok telat, sih sayang?"
"Maaf kak! Tadi ada tugas kelompok dadakan,"
"Begitu ya,"
Tanpa ragu, Arfi meraih tangan Sisi dan mengajak gadis itu mendekat dan meminta Sisi ikut duduk bersama mereka.
"Bu.... Jeni?!"
Sisi terkejut, karena ada guru yang sangat ia benci hadir di rumah saudara kembar Arfi.
"Sisi... kenapa kau ada di sini?" tanya bu Jeni sinis.
"Kalian saling mengenal?"
Semua orang yang ada di dalam rumah Arfa, saling menatap penuh tanya.
.
__ADS_1
.
TERIMA KASIH