
❣Selamat Membaca❣
Masih dengan emosi yang sama, Arfi melumpuhkan pria muda pencuri dompet milik Cia tadi. Ia tidak melukai tapi mengikat kedua tangan dan menyeret dia ke kantor Polisi.
"Hajar aja dulu, Mas!!" teriak salah satu orang yang juga ada di sana.
"Jangan, kita tidak boleh menghakimi!" sahut Arfi sebelum membawa pria pencuri itu masuk ke dalam mobil. Dan Cia mengikutinya,
.
.
Sepuluh menit kemdian, mereka pun sampai di kantor Polisi, dengan sarkas Arfi menarik pria percuri yang membuat Cia menangis. Berkali-kali si pencuri memberontak dan Arfi membalas dengan tatapan membunuh.
Ck...
Setelah selesai urusan prihal pencurian, Arfi segera berpamitan dan pergi. Para Polisi yang bertugas di kantor sangat bahagia bertemu denganya, dua tahun lebih tak berjumpa menurut mereka Arfi makin tampan dan gagah.
"Main lah ke rumahku!" titah Arfi pula.
"Siap." jawab mereka bersemangat.
Sementara Cia yang kini sudah berada di dalam mobil, menatap haru foto sang Adik, ia benar-benar bahagia, foto itu masih menjadi miliknya.
"Maafkan Kakak! Tidak bisa menjaga kamu baik-baik," lirihnya sedih.
"Bukan tidak bisa, tapi pencurinya saja yang sialan, jangan sedih lagi ya!" Arfi menenangkan setelah itu ia juga masuk ke dalam mobil, seraya membeli pelan rambut hitam milik Cia. Arfi sedikit memiringkan kepala untuk melihat foto Adik Cia dan dalam sekejab ia terpesona, foto itu terlihat sangat tampan dan menggemaskan. Wajar jika Cia selalu merindukanya.
"Saya antar' kan kamu pulang, jangan sedih lagi! Nanti Mama dan Papamu mengira, aku berbuat jahat,"
Cia tersenyum simpul mendengarnya, sedetik kemudian ia langsung menyeka air mata di wajah. "Terima kasih, Pak!" ucapnya tulus.
Arfi mengangguk setelah itu memacu kendaraan untuk mengantarkan Cia pulang, ada rasa bahagia melihat senyum merekah gadis di sampingnya. Sedangkan Cia sendiri tengah sibuk merapihkan foto sang Adik di dalam dompet, ia menutupi foto itu dengan selembar uang lima puluh ribu.
"Kok di tutup sih?"
"Supaya Mama tidak melihatnya, aku takut Mama merampas foto ini dariku." Cia menjelaskan.
Arfi menghela napas kasar dan berpikir kenapa Cia hidup dalam tekanan. Ia berniat membebaskan Cia tapi Arfi belum yakin untuk segera menikahi gadis ini.
.
.
Tibala keduanya di gerbang rumah Cia. "Mampir Pak!" basa basinya bersikap ramah.
"Saya langsung pulang, hari juga sudah sangat larut. Kamu istirahat!"
__ADS_1
Cia mengangguk cepat, lalu segera melangkah masuk ke dalam rumah. Hari ini ia sangat bahagia, melihat Arfi yang sangat perduli dan melindunginya.
"Ya Tuhan, jaga dan lindungi dia!" harap Cia tulus.
Sementara itu Arfi sendiri kini sudah menjauh dari rumah Cia, ia melihat layar ponsel dan di penuhi panggilan telepon dari saudara kembarnya. Secepat mungkin ia kembali menghubungi Arfa.
("Kemana aja sih? Aku telepon dari tadi nggak di angkat!") pertanyaan Arfa pertama kali saat Arfi menghubungi.
"Ya- ya maaf!" jawab Arfi gugup. "Btw, kenapa kamu menghubungiku?"
Terdengar jelas di seberangan sana, Arfa menghela napas jengah dan setelahnya ia terkekeh pelan. ("Kata, Mami... kamu datang mebawa Sisi bertemu mereka,")
"Eh, Mami cerita ke kamu ya!"
("Iya. Semoga segera rujuk ya, Fi!")
"Aamiin-...," sahut Arfi spontan dan sedetik kemudian ia langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak, karena malu sebab terlalu tampak mengharapkan Sisi kembali.
Arfa pun kesal atas sikap sang suadara kembarnya itu.
.
.
***
"Hai, ini untukmu!"
Angga menyodorkan minuman yang ia beli untuk Cia, gadis itu tersenyum lalu menerimanya. "Makasih," ucapnya tulus.
"Kamu sebentar lagi nggak di kantor ini, karena waktu magangmu sudah selesai. Jujur saya sedih,"
"Kamu bisa berkunjung ke rumahku jika mau,"
"Serius? Tapi nggak deh, saya takut ke rumah kamu. Nanti yang ada saya di bunuh Papa mu!"
Cia terkekeh geli mendengarnya. "Udah santai aja, kalau Papa marah ya cuekin, anggep angin lalu."
"Enak banget kalau ngomong. Nggak semudah itu kali," Angga mengerutkan dahi.
"Ya terserah kamu."
Sebenarnya waktu Cia magang sudah selesai dari tiga minggu lalu, tapi ia tetap datang ke kantor ini atas izin Arfi. Itu sebabnya ia suka datang ke kantor sesuka hati.
"Sebentar lagi kamu skripsi, harus fokus ke kuliah dulu dan jangan sering ke sini!" ucap Arfi hampir setiap hari.
Cia yang kini sedang duduk bersama Angga, menghela napas pelan. "Mulai besok, aku nggak akan datang ke sini lagi!"
__ADS_1
"Loh kenapa?" Angga heran.
"Pak Arfi memintaku untuk fokus kuliah dan jika pun datang ke sini, hanya di izinkan seminggu sekali."
Angga tertawa kecil mendengarnya. "Ya udah, nggak masalah, kan demi kebaikan kamu. Jadi semangat kuliah!"
"Hem."
Hanya itu yang keluar dari bibir Cia. Hampir dua bulan ia bertemu Arfi setiap hari, kini ia harus terpisah karena di wajibkan fokus kuliah, pasti rasanya berat sekali.
"Oh iya, kamu harus semangat dan jangan sedih!" tambah Angga lagi, ia bingung harus mengatakan apa.
Sampai jam istirahat kerja tiba, Cia masih betah duduk di teras kantor. Arfi segera menghampiri gadisnya itu.
"Cia, kok duduk di sini? Kamu nggak kuliah?"
"Nanti siang," jawabnya singkat.
"Ini udah siang loh," ucap Arfi lembut.
"Ya udah kalau di usir, aku pergi!"
Melihat sikap Cia yang tampak marah, Arfi hanya mampu memasamkan wajah, ia benar-benar melihat sikap anak-anak dari gadisnya. Mudah marah dan mudah mengambil kesimpulan. Detik ini contohnya, Arfi meminta Cia pulang karena harus kuliah, tapi gadis itu justru merasa di usir.
"Kejar, Fi!" titah Sisi tiba-tiba saat melihat sang Adik menjauh karena marah.
"Ogah, aku paling males berhadapan dengan manusia-manusia yang gampang marah." Arfi menolak.
"Heleh, sok si paling sabar.. sadar diri dong! Kamu juga tukang marah-marah!"
Spontan Arfi langsung mengerutkan wajah tampanya. Tapi ucapan Sisi juga tidak salah karena pada kenyataanya ia memang mudah marah. Namun semenjak mengenal Cia, ia seolah bisa mengendalikan emosi dan bersikap sedewasa mungkin. Faktanya ia memang sudah mulai berubah sejak bercarai dari Sisi.
"Kerjar, Pak Arfi! Jangan sampai Adik saya kenapa-kenapa!" Sisi berteriak.
"Oke oke... saya kejar dia demi kamu." Arfi langsung beranjak dan Sisi sangat senang karenanya.
"Arfi- salahkah jika aku masih mengharapkan kamu," lirih Sisi dalam hati.
Tapi sedetik kemudian ia sadar dan mengutuki harapanya. Sisi merasa tidak pantas untuk bersanding lagi dengan Arfi, sang mantan suami yang masih sangat ia cintai sampai detik ini.
.
.
.
B E R S A M B U N G
__ADS_1