Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Menuju Kehancuran


__ADS_3

🕊Selamat Membaca🕊


Ssssssstt...


Airin mengerutkan wajahnya, saat menatap layar CCTV yang tak mau menyala. Wanita cantik itu berkali-kali mencoba menghidupkan ulang, namun nyatanya, tetap tidak berhasil juga.


"Aduhh, kenapa nih?"


Si cantik pun segera melangkah dan keluar dari ruangan untuk memberi tahu kepada si mama mertua, bahwa CCTV rumah mereka tidak mau menyala.


"Ih, masa sih, Rin,"


"Iya mah, aku saja bingung," jawabnya.


"Aneh ya, kok bisa,"


Airin dan Tania menggeleng heran bin penasaran, prihal apa yang telah terjadi dengan CCTV rumah mereka.


"Kenapa, mah?"


Alvian baru saja keluar dari dalam kamar, melihat wajah kusam sang mama dan istrinya menimbukkan banyak tanya pada diri Alvian.


"Ini, CCTVnya tiba-tiba rusak,"


"Iya, padahal sudah aku otak atik, tapi tetap tidak mau menyala juga,"


Alvian menarik sudut bibir lalu tersenyum penuh kemenangan. "Otak atik saja.. sampai jaman kuda, itu CCTV gak akan bisa menyala, karena sudah aku rusak, bahkan semua CCTV di seluruh ruangan rumah, sudah ku hancurkan tanpa sisa," gumam Alvian dalam hati, dengan senyum nakal yang tersungging dari wajah tampanya.


"Kok bisa mah... wah, wah! Mungkin CCTVnya sudah kadaluarsa, jadi rusak tiba-tiba,"


"Memang CCTV bisa kadaluarsa ya?" Airin dan Tania menatap lekat wajah Alvian.


"Heemmm... ciptaan Tuhan saja bisa kadaluarsa, masa ciptaan manusia tidak bisa! Umur manusia saja bisa selesai, apa lagi mesin CCTV," jelas si tampan kemudian.


"Gitu ya,"


Lagi-lagi Tania dan Airin hanya menggeleng seraya menggaruk-garuk kepala yang tak gatal di rasakan keduanya. Sementara Alvian sudah pergi menjauhi keberadaan keduanya dengan meninggalkan banyak tanya dalam benak sang mama dan istrinya tercinta.


"Ya sudah, Rin, mama mau ke kantor, kamu jaga Alvian baik-baik!"


"Siap mah,"


"Mama juga mau cari tanah kosong, untuk mendirikan banguan, yang rencananya, akan di buat sebuah perusahaan properti. Sesuai janji, kami akan memenuhi apa yang kau inginkan, sebelum kau dan Alvian menikah." Tambah Tania.


"Terima kasih, mah,"


Si cantik benar-benar bahagia, karena kedua orang tua Alvian, sungguh menepati janji untuk mendirikan perusahaan, agar bisa di jalankan oleh Airin nantinya.


***


BRRRAAAAAK...


Yuda melempar beberapa berkas di atas meja kerjanya, hingga membuat Amira dan istrinya yang saat ini berada di kantor, berdecak heran.

__ADS_1


"Kenapa, pah?" Amira berusaha menenangkan sang papa.


"Perusahaan kita, seketika kalah saing, dengan perusahaan yang berdiri baru beberapa bulan lalu. Bahkan semua rekan kerja kantor kita, memilih untuk menanam saham di sana," jelas Yuda kesal.


"Bukankah, papa dan pemilik perusahaan tersebut berteman akrab, karena pak Ridho sering main-main ke sini untuk menemui papa, bahkan mereka tak segan meminjamkan uang dengan jumlah besar saat papa butuh suntikan dana,"


"Karena itu, Ra... uang yang papa pinjam ke mereka sudah sangat-sangat besar dan tadi ada orang kantor kepercayaan Ridho itu datang ke sini, menagih semua uang yang papa pinjam, bahkan mereka tak mau di cicil," jelas Yuda dengan emosi yang menjadi-jadi.


"Kau serius, pah?" kini Anita yang bertanya kepada suaminya.


"Iya mah... kita harus bagaimana?"


"Jual mobil papah, dan bila perlu mobilku juga," usul Amira.


"Tidak cukup Ra,"


"Tanya kak Rio, siapa tau kakak memiliki simpanan," tambah Amira lagi.


"Kakakmu mana mau menolong, Ra.. semenjak tak pernah bertemu Airin, kakakmu itu, benar-benar membenci mama dan papa," ungkap Anita.


"Aahh benar, juga.. Tapi, kita harus bagaimana?"


"Entahlah, mana gaji karyawan bulan ini belum di bayar, bahkan bulan kemarin papa meminjam uang ke perusahaan Ridho untuk membayar gaji karyawan,"


Kini keluarga Wijaya Bratayuda tengah di rundung kegelisahan, sebab mereka berada di ambang-ambang kehancuran. Yuda tidak tahu, jika pemilik perusahaan tersebut adalah suami dari anaknya sendiri, Alvian sengaja melakukan itu demi memberi pelajaran kepada Yuda dan keluarganya. Bagaimana rasanya, jika saat dalam kesulitan, tidak ada siapapun yang menolong? Karena, hal itulah yang di lakukan Yuda pada Airin, mencampakan anak kandungnya sendiri, di saat Airin benar-benar butuh dukungan dan pertolongan.


***


"Kak Rio, kita sedang genting, sebab perusahaan tengah menagalami kebangkrutan yang sangat pesat, sementra papa, memiliki hutang yang cukup besar, pada perusahaan tetangga, yang baru saja berdiri beberapa bulan lalu,"


"Terserah... itu bukan urusanku," cetus Rio.


"Bagaimana kakak bisa terserah, sementara papa kita sedang dalam kehancuran,"


"Tentu saja tega... karena papa sendiri yang mengajarkan kita, agar tega terhadap siapapun. Papa saja tega membuang Airin, hanya demi nama baik," emosi Rio yang tak bisa di tawar lagi.


Amira terdiam, karena ucapan sang kakak memang benar adanya, sementara Rio adalah seorang kakak yang selalu melindungi adik-adiknya, tapi nyatanya ia tak bisa melakukan apapun saat Airin berada dalam masalah, sebab Yuda mengancam akan mencoret nama Rio dari daftar warisan keluarga, sementara pria muda itu sadar, tanpa uang ia juga tetap tidak akan bisa membantu adiknya.


"Aku tak akan pernah lupa, luka yang tergores di dadaku, akibat perbuatan papa, yang sengaja melakukan itu agar aku tak bisa menemui Airin... Papa tega menyakiti batin anak-anaknya sendiri, demi harta,"


Rio melangkah meninggalkan keberadaan Amira dengan amarah yang membenam dalam dadanya, sedangkan Amira hanya bisa membisu.


"Aku tidak mau jatuh miskin," lirihnya


🕊


Rio kini sudah berada di parkiran untuk pergi entah kemana.


"Rio, tunggu!"


"Papa,"


"Ada yang mau papa bicarakan,"

__ADS_1


"Katakan, saat ini saja!" seru Rio pada sang papa.


"Ini tentang Airin,"


Yuda mengatakan pada anaknya, bahwa akan memberitahukan keberadaan Airin, namun ia memberi syarat untuk Rio.


"Katakan, apa syaratnya?"


"Bantu papa, untuk memulihkan keuangan perusahaan kita,"


"Boleh, akan ku pikirkan... tapi katakan dulu, dimana adikku!"


Yuda memberikan alamat rumah Alvian kepada Rio untuk bisa bertemu dengan Airin. Dengan harapan anaknya itu bisa membantu kondisi perusahaanya yang tengah terpuruk.


Tanpa pikir panjang, Rio pun segera pergi menuju alamat yang sang papa beri padanya.


"Bodoh... mau darimana aku membantu perusahaan papa, toh, aku juga tak punya uang sebanyak itu," ucap Rio dalam hati, yang terpenting baginya kini, bisa bertemu dengan Airin dulu.


DAN....


Kini Rio sudah berdiri di depan rumah, yang alamatnya tertera di kertas, yang sejak tadi berada di tanganya.


"Maaf pak, apakah ini rumah milik Alvian Atala?"


Rio bertanya pada satpam penjaga rumah.


"Iya mas, ini rumah milik mas Alvian," jawab si satpam.


"Alviannya ada?"


Rio menoleh ke kanan dan ke kiri, bahkan memandangi sampai lantai atas rumah mewah tersebut.


"Airin,"


Benar... pria muda itu melihat sang adik tengah bercanda tawa dengan seorang pria, di lantai atas, namun terlihat jelas dari keberadaan Rio berdiri.


"Rin.......!!!"


Pekik Rio sekuat tenaga, dan Airin pun menoleh ke arahnya. Dua mata saling bertatap dengan rindu yang tak bisa di bendung lagi, si cantik segera berlari dan turun untuk menemui kakak yang sebenarnya sangat ia rindukan juga, bagitu pun Alvian, pria tampan itu ikut turun dan melihat siapa orang yang membuat istrinya spontan saja berlari.


Dengan rumah mewah yang di lengkapi lift, untuk mempermudahkan Alvian naik turun, dari lantai bawah atau pun ke atas. Kini Alvian pun dengan mudah, mengikuti langkah Airin yang berlari untuk menemui kakak kandungnya.


.


.


.


.


.


SEMOGA SELALU BETAH YA YANG BACA DUA "A" DAN JANGAN LUPA BAHAGIA.

__ADS_1


🕊Terima Kasih🕊


__ADS_2