
ANTARA DENDAM DAN CINTA
☡Selamat Membaca☡
"Kamu?"
Arfi mendekati saudara kembarnya Arfa, yang wajahnya nampak lebam parah, bahkan hidungnya mengelurkan darah segar. Polisi muda itu tak menyangka jika sang adik yang selama ini selalu menang dalam setiap perkelahian, tapi tidak dengan kali ini, nyatanya Arfa bisa kalah juga.
"Kenapa bisa begini, Nay?" tanya Arfi kepada istri adiknya.
Nayla pun menceritakan, semua hal yang terjadi di kampus tadi lagi.
"Bagaimana, jika masalah ini... kita bawa ke jalur hukum?" tanya Arfi.
"Ah, tidak-tidak," tolak Arfa cepat.
"Kenapa?"
"Ini urusanku, jadi tidak perlu ikut campur!" larang Arfa seraya memegangi bagian hidung yang masih terasa nyeri, meski tadi sudah mendapatkan penanganan dokter.
"Tapi, Dimas itu sudah keterlaluan. Dia membuatmu sampai masuk rumah sakit begini,"
"Issshh.. aku sengajalah,"
"Sengaja gimana?" Arfi penasaran.
"Sengaja mengalah, agar tidak mendapat sangsi lagi dari pihak kampus. Jadi, tidak perlu bawa-bawa masalahku ini, ke pengadilan!"
"Fuuuh!"
Arfi membuang nafas kasar, ia menepuk kuat pundak Arfa.
"Aww, sakit,"
"Bodo amat!"
Si kembar saling cekcok ucapan, melempar caci dan maki, berganti-gantian seraya sesekali saling menatap dalam-dalam, keduanya bertingkah layaknaya anak-anak. Sementara itu, Nayla yang sedari tadi ada di antara keduanya, mengulas senyum bahagia, sikap dan keakraban, Arfi dan Arfa memanglah luar biasa.
"Aku pulang dulu,"
"Hati-hati! Dan... ingat, bawa pacarmu ke rumahku, malam minggu nanti!'
"Ahaha, si_siap," jawab Arfi gugup, tanpa mengucapkan apapun lagi, ia pun melangkah pergi dengan tergesa-gesa, hal itu membuat Arfa berdecak curiga.
"Menurutmu, apa dia benar-benar punya pacar?"
Nayla tersenyum, ia mendekati Arfa sebelum menjawab pertanyan suaminya itu.
"Aku yakin, dia pasti sudah punya pacar. Secara, Arfi tampan dan mapan. Pasti banyak gadis yang mau menjadi pacarnya," jelas Nayla.
Tanpa sadar, penjelasan tersebut justru membuat Arfa cemburu. "Jangan-jangan, kamu menyukai Arfi?"
"Haaah?"
"Udah jawab saja! Apa kamu menyukainya?"
Nayla menggeleng cepat, sorot matanya menghujam wajah Arfa. Nayla mengepal jari jemarinya lalu siap menonjok wajah Arfa.
Ssstttt____
"Ga kena," Arfa mengejek.
__ADS_1
"Ngeselin banget sih, Fa,"
"Memang,"
"Ya Tuhaan... kenapa aku harus jatuh cinta, ke cowok cuek, ga peka, ga romantis, galak dan ga pengertian," celoteh Nayla seraya menepuk jidatnya.
Omelan Nayla baru saja, tentu membuat Arfa menahan tawa, ia tersenyum selebar mungkin, karena ucapan sang istri sungguh menyenangkan hati.
"Ayo pulang!"
"Eh, kok pulang? Kan Dokternya belum kasih izin,"
"Hidup-hidup saya, yang menentukan pulang atau belum, itu urusan saya," jawabnya ketus.
Setelah berbicara kepada perawat dan membayar biaya rumah sakit, Arfa langsung berjalan dan menuju ke tempat parkir mobil.
"Mau pulang, ga?" si tampan mendengus kesal kala Nayla diam saja, bak orang bodoh.
"I_iya, pulang,"
"Ya sudah, masuk!!"
Keduanya pun sudah berada di dalam mobil dan Arfa memacu mobil miliknya untuk segera sampai ke rumah. Selama di dalam perjalan Arfa dan Nayla memilih untuk tidak saling berbicara.
***
Setibanya di rumah, Nayla langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh diri, sementara Arfa memilih duduk di sofa seraya mengompres lebam di wajahnya menggunakan air es.
"Mau kemana?"
"Ambil jemuran di depan,"
Karena jam sudah menunjukan pukul 6 sore, cuaca sudah hampir gelap, matahari sudah tenggelam, bahkan tampak awan hitam pekat, membumbung di langit yang warnaya tak lagi membiru.
"Sepertinya, akan turun hujan deras malam ini," gumam Nayla dalam hati.
Ia kembali masuk ke dalam rumah, lalu meletakan baju-baju hasil kerja kerasnya tadi pagi sebelum berangkat kuliah, di ruang tengah.
"Nay, sini!"
"A_ada, apa?" gugupnya.
"Ada hukuman untukmu malam ini,"
"Haah, kenapa? Aku salah, apa?"
"Karena, sepanjang hari tadi, kamu tidak memanggilku, dengan sebutan SAYANG,"
"Haaah. Ma_maaf! Aku lupa, jangan marah ya! Sini, aku kompres lukanya,"
"Telat! Aku bisa melakukanya sendiri," ujarnya kesal.
"Lalu, kamu mau melakukan apa, padaku?"
"Kamu tidur di sini, dan tidak boleh masuk ke dalam kamar!"
"Itu saja?" tanya Nayla, toh hukumanya biasa saja.
"Iya... itu saja,"
Arfa langsung masuk ke dalam kamar dan meninggalkan istrinya di ruang tamu. Sedangkan Nayla merasa biasa saja, ia menghabiskan malam ini, dengan menonton televisi.
__ADS_1
"Buhahahahahaha___!!"
Tawa si cantik menggema, bahkan terdengar sampai ke dalam kamar.
"Astaga! Di suruh tidur di luar, kok malah bahagia," grutu Arfa seketika.
Sebab, saat ini Nayla tengah menyaksikan drama Thailand, yang menurutnya sangat-sangat lucu dan bikin bsper. Nayla menonton banyak judul, mulai dari yang mengocok perut sampai yang membuatnya berlinang air mata.
"Huuuwaaamm!"
Matanya mulai mengantuk, tapi ia masih ingin menonton. Dan... Sssss....! Tiba-tiba saja, listrik di rumah MATI, itu di sebabkan, karena di luar sana tengah hujan di sertai badai, juga petir, membut suasana kian mencekat.
"Ihhh,"
Nayla menarik selimut, lalu menutup seluruh tubuhnya, meski tidur di sofa tak membuatnya gelisah. Satu-satunya hal yang membuatnya takut, adalah badai di luar rumah, yang sepertinya, tampak sangat kencang.
"Ayo tidur, Nay!!" ajak si cantik pada dirinya sendiri.
Matanya coba untuk terpejam, tapi rasa takutnya tetap saja, tak bisa membuatnya cepat tertidur. Tapi karena lelah dan takut yang kian mencekat, akhirnya membuat Nayla tertidur juga.
Tap. Tap. Tap.
Dari dalam kamarnya, Arfa berjalan keluar untuk memastikan keadaan istrinya, karena bagaimana pun, Nayla kini tengah mengandung.
Ck..
Meski sempat kesal, karena hampir 2 jam lebih listrik belum hidup juga, tapi kini Arfa mampu tersenyum lebar, sebab melihat wajah polos Nayla saat tengah tertidur pulas.
"Nay,"
Arfa memandangi si cantik, inci demi inci. Wajahnya yang cantik, bibir yang merah muda, rambut berwarna kecoklatan, bulu mata lentik, menjadikan Nayla cantik paripurna, meski tanpa make up sekalipun.
Ssstt.
Dengan inisiatifnya, Arfa menggendong tubuh istrinya dan membawa Nayla masuk ke dalam kamar.
Ck.
Karena sang suami tiba-tiba memapah tubuhnya, Nayla seketika saja terbangun, namun secepat kilat, ia kembali memejamkan mata dan pura-pura masih tidur.
"Kalau tau aku sudah bangun, pasti gak jadi di ajak ke kamar," lirih Nayla dalam hati.
Pelan-pelan, Arfa membaringkan istrinya di atas ranjang. Sehati-hati mungkin agar Nayla tidak terbangun. Tanpa ia sadari jika sebenarnya Nayla sudah bangun sekitar 2 menit yang lalu.
"Love you, Nay," bisik Arfa pelan.
Senang, bahagia dan berbunga-bunga, sungguh melukiskan perasaan Nayla, setelah mendengar bisikan Arfa baru saja.
Haap
Nayla langsung memeluk suaminya, tapi tetap dengan mata masih terpejam dan pura-pura tidurnya. Yang langsung saja mendapat sambutan hangat dari Arfa. Malam ini, keduanya menghabiskan malam, sambil berpelukan, hingga pagi menyapa, Nayla enggan melepaskan tangan sang suami yang masih melingkar di pinggangnya.
.
.
.
.
TERIMA KASIH KAKAK-KAKAK BAIK, SEMOGA MASIH BETAH YA😊❤
__ADS_1