Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Candaan dan Kemarahan Sisi


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Arfi yang panik pun langsung menuju mobil dan pergi ke tempat Sisi, ia memacu kendaraan miliknya secepat kilat.


"Aah, kenapa harus macet sih?" grutunya kesal, ia menoleh ke kanan dan ke kiri berharap macet akan segera tersudahi.


Dan... lima belas menit kemudian, barulah ia bisa memacu mobilnya, Arfi sudah tak sabar ingin segera sampai dan menemui gadis yang baru semalam berstatus sebagai kekasihm


Ceklek!


Setelah tiba, ia buru-buru membuka pintu kamar, tapi Arfi tak menemui keberadaan Sisi.


"Si, kamu dimana?"


"Kak,"


Suara itu sangat pelan tapi Arfi masih bisa mendengarnya. Sepertinya Sisi berada di kamar mandi.


"Sisi,"


Pekik Arfi terkejut, ia semakin panik kala melihat gadis itu tersandar di dinding kamar mandi. Tanpa pikir lagi ia langsung mengendong tubuh mungil Sisi.


"Aku ambilkan air hangat dulu!"


Lima menit kemudian, Arfi kembali lagi dengan membawa segelas air hangat di tanganya, lalu meminta Sisi minum obat dan menghabiskan air hangat.


"Kita ke rumah sakit!"


"Tidak kak, aku mau di sini saja!" pintanya pelan dan penuh harap.


"Tapi, Si... lihatlah! Kamu pucat sekali,"


"Aku butuh penghangat saja kak, tolong tutup tubuhku! Setelah itu, aku pasti baik-baik saja," Sisi menjelaskan meski suaranya terbata-bata.


Ck...


Tak mau memunda, ia juga tak menela'ah ucapan Sisi baru saja. Arfi yang panik langsung mendekap tubuh Sisi agar gadis itu merasakan ke hangatan.


"Hmm,"


Sisi tersenyum senang, ingin sekali tertawa tapi nafasnya membuat tawanya tertahan, gadis mungil tersebut justru terbatuk-batuk tak henti. Tapi pelukan Arfi membuat Sisi bahagia.


"Kak, ambilkan obatku di atas meja!"


"Siap!"


Setelah itu Sisi meminumnya dan lima belas menit kemudian, nafasnya terasa lega. Tapi Sisi berpura-pura masih sesak, supaya Arfi terus memeluk tubuhnya.


Dan keduanya pun tertidur bersama dengan mambawa rasa tak biasa, tapi meski begitu Arfi tak berniat membobol pertahanan Sisi. Baginya, kado terindah setelah menikah adalah kehormatan istrinya.


***

__ADS_1


Di sisi lain, Arfa yang masih di sergap rasa bingung, sungguh tak sabar ingin mengetahui siapa orang yang telah menerornya beberapa hari ini?


"Pak, sepertinya bukan Dimas pelakukan,"


"Dari mana anda tau?" Arfa penasaran.


"Kami sudah menyelidiki dan memperhatikan Dimas secara diam-diam, tapi pria itu tak pernah pergi mengarah ke sini," jelas seorang polisi.


Arfa diam sejenak. "Jika bukan Dimas, lantas siapa?" batinya lirih.


Kini yang menjaga rumah Arfa, bukan hanya polisi-polisi saja tapi beberapa anak buahnya pun tinggal di rumahnya. Bahkan sesekali Arfa di buat geleng-geleng kepala karena anak buahnya mampu menghibur Nayla dan istrinya itu mampu tertawa dan lupa akan semua permintaanya. Termasuk prihal kucing 6 warna.


"Jika kalian bisa, membuat Nayla tertawa dan tidak sedih, aku akan membayar kalian perjam 30 ribu,"


"Haaah, serius bos?"


"Iya dong,"


"Hahaha!" Afiz tertawa datar. "Tidak usah bayar bos, kami ihkas menolong, lagi pula jika mbak Nayla tertawa dan senang bos pasti bahagia, kami pun ikut bahagia," Afiz menepuk pelan pundak Arfa lalu pergi meninggalkan pria yang sangat di hormatinya itu.


Bagi Afiz dan anak-anak yang lain, Arfa sudah memberi kebaikan lebih dari cukup. Tempat yang nyaman dan pekerjaan yang halal. Membuat mereka sangat menghormati Arfa.


"Buah mangga, rujak kedondong... mbak Nayla, godain kita dong!!" canda Afiz yang tentu membuat Nayla bergelak tawa.


"Buhahahaha," tawa si cantik terbahak-bahak.


"Balas dong, mbak!"


Dan semua anak buah Arfa pun tak sabar mendengarnya.


"Strawberry, mangga, tomat. Sorry gak minat," balas Nayla dan bukan anak buah Arfa yang tertawa, tapi Arfa sendiri pria tampan itu tertawa sampai sakit perut.


"Buhahahaha.. lucu-lucu. Buah mangga, rujak kedondong, mbak Nayla godain kita dong! Terus di balas... strawberry mangga tomat, sorry gak minat. Hahahahahahaha!" tawa Arfa semakin menggila, kala pantun anak buahnya dan jaga Nayla ia ulangi, sungguh pantun yang sangat bertautan.


"Dih, katawa sih," Nayla mengerutkan wajah.


Tapi kini yang tertawa bukan hanya Arfa, justru semuanya yang akhirnya membuat Nayla ikut tertawa juga.


***


Dan.. Sisi juga Arfi baru saja bangun dari tidurnya. Keduanya saling menatap dan bergegas untuk duduk, karena malu-malu tidur di atas ranjang yang sama.


"Maaf, Si!"


"Ti-tidak masalah, aku mempercayai kakak," jawabnya tanpa ragu.


Dan Arfi pun tak malu lagi, membawa Sisi dalam dekapanya. "Kakak, akan menjagamu!" bisik Arfi pelan.


Sesuai janji, hari ini Arfi akan mempertemukan Sisi dengan orang-orang yang telah menyabotase harta kedua orang tua gadis itu. Lagi pula ponsel Arfa berkali-kali berdering karena kepala kepolisian menghubunginya.


"Siap pak, sebentar lagi aku ke kantor!"

__ADS_1


Arfi pun bergegas pergi ke kantor dan membawa serta Sisi untuk ikut bersamanya. Dan Sesampainya di sana Arfi mendapat peringatan keras, karena sudah berkali-kali terlambat untuk datang bertugas, sebab semua itu Arfi lakukan, demi memiliki waktu untuk menjaga Sisi, karena kondisi kesehatan gadis itu sedang tidak baik-baik saja.


"Maaf pak! Kak Arfi terlambat karena mengurusku, jadi aku mohon jangan memarahinya!" pinta Sisi yang langsung mendapat plototan tajam dari banyak polisi yang ada di sekitar Sisi dan Arfi duduk.


"Cieeee... suit, suit!"


Goda beberapa rekan kepolisian yang tentu saja membuat wajah Arfi memerah seperti udang rebut. Ia mengusap wajahnya berkali-kali karena tersipu malu.


"Umur berapa dek?" kepala keposian pun ikut bertanya dan terkesan menggoda.


"Tujuh belas tahun, pak.. tapi lima puluh hari lagi, usiaku akan masuk 18 tahun,"


"Hadooooh, Arfi pacaran dengan anak remaja," si kepala polisian sebut saja, namanya Hadi.


"Pak Hadi menggodaku," Arfa salah tingkah. Ia beranjak dan menarik tangan Sisi dan mengajak gadis itu pergi.


"Hei... hei... mau kemana?"


"Mengantarkan Sisi pulang, pak," Jawabnya.


"Bukankan, kau mengajak Sisi kesini, karena ingin mengajaknya bertemu dengan orang yang kalian tangkap kemarin?"


"Ohh iya,"


Tanpa pikir panjang lagi, Arfi pun mengajak Sisi bertemu dengan orang yang telah menyabotase harta yang seharusnya menjadi milik Sisi.


"Bibi,"


Sisi tak percaya, karena yang kini ada di hadapanya, seseorang yang dulu pernah menjadi pelayan di rumah Sisi saat kedua orang tuanya masih ada.


"Benarkah, bibi yang membuat orang tuaku meninggal?"


Orang itu tertunduk.


"Iya, dia yang melakukanya, mantan pelayan di rumahmu itu tak sendiri, ada beberapa orang yang membantunya,"


"Be-benar, kah?"


"Iya,"


Arfi pun menceritakan, bagaimana ia dan rekan-rekanya, menyelidiki kasus ini. Hal yang tak pernah terpikirkan oleh Sisi selama ini.


"Aku menemui pihak Bank yang telah menyita rumahmu, dan bertanya kepada mereka, siapa yang telah menggadaikan rumahmu itu. Dari sanalah kami bisa menemukan satu nama Yuni Anati yang tak lain mantan pembantumu." Arfi menjelaskan.


Dan di tangkapnya Yuni, pasti akan membongkar siapa saja, orang-orang di balik kasus yang mengambil alih semua harta yang seharusnya menjadi milik Sisi.


.


.


Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2