
🌹Selamat Membaca🌹
Mengikuti rencana takdir mungkin hasilnya akan lebih membahagiakan. Meski harus di awali dengan rasa sakit lebih dulu. Begitulah harapan Arfi, yang terus meyakini jika Tuhan sudah menyiapkan hadiah besar untuknya, suatu hari nanti.
"Sayang apa kamu sudah siap?" tanya Mami lembut. Senyum Mami tak pernah gagal membuat Arfi merasa teduh.
"Sebentar lagi," ujarnya dan di iya kan oleh Mami.
"Kalian akan menikah pukul sembilan, jadi kita harus berada di acara pernikahan sebelum jam sembilan."
"Siap, Mi." Arfi mengangguk paham.
Sesuai rencana yang sudah di jadwalkan. Hari pernikahan pun tiba. Arfi menyambut dengan debar-debar tak jelas, ia merasa gugup luar biasa.
"Semangat!" Arfa saudara kembarnya berusaha membuat Arfi sedikit rileks. Keduanya saling menyapa melalui sambungan telepon.
"Aku merasakan gugup, lebih dari waktu aku menikahi Sisi. Apa karena aku belum sepenuhnya mencintai Cia ya?" curhatnya.
Arfa terdengar menghela napas berat, ia memilih diam sejenak. "Alasan Sisi memintamu untuk menikah dengan Cia, apa sih?"
"Karena dia ingin, aku segera memiliki momonga." ungkap Arfi jujur.
Arfi yang berada di negara orang, dapat merasakan betapa sulitnya berada di posisi Arfi, ia bahkan tak mampu berkata apapun lagi. Setelah hampir sepuluh menit berbicara dan saling curhat, kini saatnya untuk Arfi mempersiapkan diri.
"Nanti ku hubungi setelah SAH menikah ya!"
"Oke.. aku juga penasaran, dengan wajah Kakak Iparku itu."
"Sialan...,"
Arfi langsung memutuskan sembungan telepon. Dan kini ia sudah rapih, memakai kemeja coklat di balut jas berwarna senada. Mami dan Papi langsung bersorak kagum.
"Pasti orang nggak bakal sangka, kalau kamu itu sudah hampir kepala tiga. Soalnga anak Mami cakep buuuuuuanget." puji si Mami jujur.
"Duuih, Mami lebay deh!"
"Nggak lebay sayang. Kamu memang tampak seperti anak kuliahan." kini Papi pun menambahkan.
"Haaduuuh.... sudahlah, jangan memuji aku terua, nanti aku terbang tinggi. Gimana?"
Setelahnya mereka bertiga pun tertawa bersama. Hal ini bisa membuat Arfi sedikit nyaman dan tak segugup tadi.
.
.
.
__ADS_1
***
Di tempatnya Cia sudah sejak pagi tadi berada di sana. Dimana ia dan Arfi akan melansungkan hari bahagia. Sejak datang dan memperhatikan seisi gedung, Cia sudah di buat takjub sebab semua dekorasi pernikahanya tampak mewah dan elegan.
"Baguslah, akhirnya kamu menikah juga dan yang lebih membuat saya senang adalah. Saya tidak perlu keluar biaya sedikit pun untuk mempersiapkan ini."
Cia hanya bisa menghela napas sebal, entah bagaimana ceritanya, ia bisa memilik Papa yang semenyebalkan ini.
"Itu siapa? Kenapa sedari tadi dia ada bersama kamu?" Papa menunjuk ke arah Sisi.
"Dia sahabat sekaligus Kakak buat aku." jawabnya jujur.
"Emmmm, jangan-jangan selama ini kamu suka ngabisin uang banyak demi dia. Saya harus buat perhitungan."
Beruntung Pak Dana masih bisa di cegah. Kalau tidak pasti sudah terjadi keributan. "Jangan buat masalah, Pa! Ini hari pernikahanku," ucap Cia sepontan.
Merasa kesal, pria tua itu memilih untuk menjauh. "Jangan lama-lama bermuke-up'nya! Sebentar lagi pengantin pria akan segera tiba." Pak Dana memperingati si Mbak-mbak perias.
"Baik, Pak!" mereka menjawab dengan antusias.
Sisi yang sedari tadi juga berhias, kini mendekati keberadaan Cia. "Aku tahu, Papamu tadi marahkan, karena aku ada di sini?"
"Udah deh Kak, jangan di tanggepin dan jangan di ambil hati! Papa memang gitu orangnya, bahkan aku sudah kebal karena setiap hari selalu salah di mata dia."
Sisi menatap Cia kelu, ia pun paham sesulit apa berada di posisi Adiknya. Kini Sisi berpikir hidup itu memang mengherankan. Karena ada yang nggak selalunya bahagia meski memiliki orang tua. Tapi setidaknya itu lebih baik, sebab Cia menikah bisa di saksikan oleh sang Papa.
"Benar- jadilah istri baik, Pak Arfi tidak suka di bantah, turuti saja apa maunya!"
"Kok Kakak tau?" telisik Cia yang kini menatap fokus ke arah Sisi sepenuhnya.
Sisi mendadak gugup sendiri, ia sadar kecepelosan kala berbicara tadi. "Maksudnya, selama Kakak menjadi karyawan Pak Arfi, Kakak melihat jika beliau itu sangat tidak suka di bantah." akhirnya ia mendapatkan alasan yang tepat.
"Ohh gitu ya." meski tadi mendadak merasa aneh tapi kini Cia sudah mempercayai Sisi sepenuhnya lagi.
.
.
Tepat jam sembilan pagi, kurang dua puluh menit. Arfi berserta rombongan tiba di gedung dimana akan berlangsungnya pernikahan.
"Mi, aku gemeter banget nih!"
"Santai dong sayang. Kamu kan pernah menikah masa gemeter sih?" Mami menggoda.
"Ihh, Mami....," Arfi berlagak sangat manja.
Si Papi pun tersenyum mendengarnya. Ia merasa Arfi seperti anak tujuh belas tahun yang menikah secara dadakan. Tampak gugup, canggung bin gemetar. Terlebih Mami malah ikut menggoda membuat anak kesayanganya ini semakin salah tingkah.
__ADS_1
-
Mereka di sambut ramah, oleh Pak Dana beserta keluarga. Ini kali pertama orang tua Arfi dan orang tua Cia berjumpa. Tampilan bagaikan sultan yang hartanya tidak akan habis tujuh turunan, menjadikan Pak Dana sedemikian antusias menyambut kedatangkannya.
Ck....
Sapa menyapa antara keluarga Arfi dan Cia pun masih berlanjut, namun mereka harus menghenntikan obrolab, sebab pernikahan dan janji setia sehidup semati pun akan di langsungkan.
Sssttt....
Arfi sudah duduk di kursi paling depan di dampingi Mami juga Papi. Dan lima menit kemudian mempelai wanita pun harus duduk bersebelahan.
Ck
Cia keluar dan berjalan begitu anggun. Gaun biru dan polesan make up di wajah, sungguh membuatnya tampak bak Bidadari. Semua orang berdecak kagum dan memuji kecantikan Cia. Tapi sorot mata Arfi justru tidak tertuju pada sang calon istri, melainkan wanita yang berjalan di samping Cia.
SISI!
Tentu Mami dan Papi sangat terkejut. Karena ada Sisi di samping Cia. Mereka tak habis pikir bagimana mantan istri anaknya itu ada di sini.
"Mi, anggap tidak mengenal, Sisi!" bisik Arfi pelan.
"Kenapa?" Mami tentu merasa heran.
"Nanti akan ku jelaskan," balas Arfi lagi.
Dan sedetik kemudian, jantung Arfi marasa tidak aman. Karena Sisi melempar senyum manis ke arahnya dan juga ke arah Mami Papi.
"Astaga... kenapa dia cantik sekali." puji Arfi berkali-kali mengangumi kecantikan Sisi.
Sebenarnya Cia tidak kalah cantik, tapi Arfi tetap saja terfokus menatap Sisi, hal itu tentu menimbulkan banyak tanya dalam benak Cia. Tapi sekali lagi, ia meyakinkan dirinya sendiri, jika tidak ada apa-apa di antara mereka berdua.
"Bagaimana Mas, siap?" tanya seorang pria yang duduk tepat di hadapan Arfi.
"Siap Pak," jawabnya meyakinkan.
"Mempelai wanita silahkan duduk di samping mempelai pria."
Dan hari sakral serta janji setia sehidup semati pun akan segera terlaksana. Baik Cia atau pun Arfi sama-sama gugupnya. Begitu pun Sisi, munafik sekali jika kini hatinya tidak sakit.
.
.
.
B E R S A M B U N G
__ADS_1