
🌸Selamat Membaca🌸
"Bagaimana dok?"
"Sejauh saya priksa, kondisi istri anda, masih baik-baik saja."
"Hah.. syukurlah!"
Arfi membuang napas lega, ia tersandar di dinding rumah sakit, setelah merasakan panik yang amat luar biasa, prihal keselamatan istri dan calon anaknya. Kini ia bisa duduk dengan tenang karena dokter menyatakan, jika kondisi kesehatan Sisi di jamin aman.
"Umur istri anda, masih relatif muda, itu sebabnya, ia harus di jaga lebih baik lagi, jika bisa jangan terlalu lelah dan banyak pikiran!"
"Baik dok."
Arfi mendekati Sisi, yang tampak masih pucat, maklum saja, Sisi takut jika ia akan keguguran, karena tadi, Sisi melihat sendiri banyak darah yang keluar dari area sensitifnya.
"Langsung pulang, boleh?"
"Iya, sebentar lagi kita pulang."
Sisi, sebenarnya sangat takut berada di rumah sakit, karena dulu kedua orang tuanya tidak tertolong di tempat ini. Hingga membuat ia sedikit trauma dan sedih jika mengingat itu semua.
***
Setibanya di apartemen, keduanya sudah mendapati banyak makanan di atas meja, tentu saja si mami yang memasaknya. Kedua orang tua Arfi tahu, jika Sisi tadi masuk rumah sakit, tapi si mami dan papi tidak bisa ikut menemani.
***
"Fadil...!!"
Arfi mengepal tanganya, saat mengingat nama itu. Ia segera keluar setelah memastikan, jika Sisi sudah lelap dalam tidurnya.
"Ada pak.. kalau tidak salah, Fadil itu ada di kamar 19 dan satu lantai dengan apartemen milik anda." si satpam menjelaslan.
"Okee, terima kasih."
Kedua satpam yang berjaga, melihat gelagat aneh dari diri pria gagah itu, raut wajah memerah dan mengepal kedua tanganya, meyakinkan jika Arfi tengah marah.
Brraaak!
Arfi mendobrak pintu apartemen dan mendapati Fadil tengah menonton televisi.
"Tidak sopan! Kenapa masuk ke kamar orang tanpa permisi dulu!" sahut Fadil santai.
"Dengan manusia kurang ajar sepertimu, aku rasa bersikap sopan itu tidak perlu!" geram Arfi emosi.
Fadil tetap terlihat santai, ia mendudukan tubuhnya di sofa lalu menyilangkan kedua tangan di perut. "Pak Arfi yang baik hati, ku beri tahu ya! Jika Sisi itu milikku, bukan milik anda."
__ADS_1
"Manusia tidak tahu diri. Sisi istriku dan kau.. jangan pernah mendekati dia lagi!"
Wajah Fadil yang tadi biasa saja, kini tampak memerah dan mata berkaca-kaca. Ia menatap sinis wajah Arfi, pria yang sudah menikahi wanita yang ia harapkan harus menjadi miliknya. "Sebelum anda minikahi Sisi, aku lebih dulu mengenal dia, aku lebih dulu menyukai dia."
"Lantas, kenapa kau dan dia tidak bersama?" Arfi penasaran.
"Kedua orang tuaku melarang dan aku memilih untuk menyerah sejenak, jika nanti aku sudah cukup dewasa, maka aku akan kembali mencari Sisi dan memperjuangkan perasaanku." jelasnya antara polos atau jujur.
"Buhahahahaha.... bodoh! Artinya, semua ini kesalahanmu sendiri." Arfi tak bisa menahan tawa, ia benar-benar menggelengkan kepala, mendengar penjelasan anak muda di hadapanya.
"Ke-kenapa, anda mengatakan aku bodoh?"
"Hei anak kecil, jika kau benar-benar mencintai Sisi, seharusnya kau berjuang, bukan pergi dengan membawa rencanamu yang tak jelas itu! Kini Sisi sudah menjadi istriku, maka berhentilah untuk mendapatkanya! Paham?!"
Arfi pergi dari hadapan Fadil, dengan membawa tawanya yang sedikit sulit untuk di hentikan. Hal itu membuat Fadil emosi dan geram, ia bertekad untuk menghancurkan kehidupan rumah tangga, Sisi dan Arfi.
Ck...
Sesampainya di dalam kamar, Arfi langsung merebahkan tubuh di sofa, seraya sesekali melirik sang istri yang masih tertidur.
"Haah. Apa kamu serius?" tanya Arfa sebab Arfi memang menghubungi saudara kembarnya itu.
"Ya serius... dan gilanya, itu cowok masih seumuran dengan Sisi. Mau tak hajar masih kecil, gak di hajar tanganku gatel, siap menampar!" sahut Arfi kesal.
"Rumahnya dimana? Kalau tau, gusur saja! Biar dia pindah ke Bekasi sana!"
"Gila.. kok bisa gitu ya? Ya jangan di gusur apartemen itu! Biayanya pasti mahal, nanti kamu jadi miskin, uangmu habis."
"Kurang ajar....! Kamu mau memberiku solusi atau mau mengejekku? Haah!"
"Ya.. dua-duanya lah,"
"Setaaan... adik jahara!"
"Buhahaha.. ya sudah, daripada kamu pusing, lebih baik, kamu saja yang pindah."
"Pindah kemana?"
"Ke dunia lain...!" jawab Arfa kesal.
"Ehh kurang ajar. Gak bener jadi adik, masa doain abangnya mati."
"Yaaa kamu nyebelin! Pindah kemana gitu, atau kamu beli rumah baru saja!"
"Ohh oke. Setujuh!"
Tanpa mengucapkan apapun lagi, Arfi mematikan sambungan telepon secara sepihak, ia mulai berpikir sejenak, Arfi baru paham, kenapa beberapa hari lalu, Sisi mengajak pindah rumah.
__ADS_1
"Ya sudah, lebih baik pindah apartemen saja dulu! Karena mau pindah, rumah yang ku bangun belum sepenuhnya jadi." ujar Arfi di dalam hati.
***
Jam 12 malam tepat, Sisi terbangun dari tidurnya, karena sejak sore sudah beristirahat membuat rasa kantuk pun sirna. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu tertuju pada keberadaan Arfi yang tampak tertidur lelap di sofa.
Ssstt...
Sisi pun turun, lalu duduk tepat di lantai namun menghadap kewajah Arfi, tak henti-hentinya.. ia memuji ketampanan wajah sang suami.
"Dulu.... mami ngidam apa, sih? Kok anaknya cakep begini?" tanyanya dalam hati.
Hampir 15 menit, ia menatap wajah Arfi, Sisi memutuskan untuk duduk di sofa satunya. Ia berjalan pelan seraya memegangi perutnya yang masih terasa sakit.
"Hem...!" Sisi membuang napas kasar, karena merasa sedikit kesal, sebab sampai pagi hampir menyapa. Sisi tak kunjung tidur lagi.
Ia berjalan pelan kesana kesini, membuat makanan, menonton televisi, makan lagi dan berkali-kali, hal itu ia lakukan. Sakit di perutnya, tentu saja masih terasa, tapi hal itu tak mengurangi aktifitas Sisi malam ini.
Jam 4 pagi, Sisi masih menonton televisi, penatnya semakin bertambah, membuat ia semakin kesal saja. Tapi hal yang membuat ia lebih emosi adalah sang suami, sebab meski ia rusuh sekali malam ini, Arfi tak kunjung terbangun dari tidurnya.
Ck...
Sisi masih sering jahil dan bersikap seperti anak-anak, begitupun dengan saat ini, ia beranjak dari duduknya lalu mendekati keberadaan Arfi. Tanpa pikir panjang lagi, Sisi langsung naik ketubuh sang suami dan merebahkan tubuh di atas tubuh Arfi, hal itu tentu membuat suaminya terkejut.
"Heh, Sisi... ada apa ini? Tumben peluk kakak?"
Sisi tak menjawab, ia semakin mengeratkam dekapanya.
"Ayo pindah ke atas tempat tidur, kamu sedang hamil, jadi tidak boleh tidur seperti ini, nanti perutmu sakit!"
"Aku tidak bisa tidur kak."
"Loh, kenapa?"
"Gak tahu." Sisi menggeleng.
Arfi tersenyum datar, ia mengajak Sisi duduk lalu membawa sang istri dalam dekapannya. Ia menemani Sisi sampai tertidur, tapi sayangnya sampai pagi benar-benar tiba, wanita itu tak kunjung tertidur juga. Keduanya menghabiskan waktu dengan menonton Drama Korea dan saling bercanda tawa.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TERIMA KASIH