Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Pertengkaran


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


☡Selamat Membaca☡


Jam 6 pagi, Arfa sudah rapih dengan stelan kaos polos berwarna hitam dan celan jeans pendek, ia tak pernah sibuk prihal penampilanya. Namun ada hal yang membuat Arfa bingung, jika sang papi kini telah menyerahkan semua urusan kantor kepadanya, padahal ia saja belum lulus kuliah.


"Ya Tuhan, jika aku melihat sosial media teman-teman seumuran denganku, mereka semua sudah sukses, memiliki karir yang bagus, sementara aku... masih berjuang untuk segera lulus kuliah, dan Wisuda dengan nilai yang cukup memuaskan." gumamnya lirih.


Arfa segera meraih ponselnya yang berada di atas meja, lalu menghubungi si papi, ia meminta jika kini harus fokus kuliah terlebih dahulu dan belum bisa mengurus perusahaan.


"Oke, papi setujuh.. tapi, kamu tetap harus ke kantor jika tidak ada jam kuliah, karena bagaimanapun, kamu sudah menikah dan kebutuhan istrimu, semua tanggung jawabmu!" si papi mengingatkan.


"Uang bulanan dari papi, aku rasa cukup untuk kami hidup."


"Itu sementara. Jika kamu sudah memiliki anak, kebutuhamu akan terus bertambah,"


"Baik, pi," jawabnya datar.


"Jangan malas, Fa! Kamu, akan jadi pemimpin perusahaan papi, jadi kamu harus belajar terlebih dahulu semua tugas perkantoran."


"Iya, iya...,"


Meski ragu, Arfa tetap mengiyakan semua ucapan sang papi. Setelah pembicaraanya di telpon selesai, ia segera menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan, sebab Nayla belum juga bangun dari tidurnya.


"Jadi.... nasi goreng pedas, ala Arfa," ucapnya bangga, si tampan langsung meletakan hasil kerja kerasnya di atas meja. Arfa, memasak cukup untuk ia dan Nayla sarapan.


Seraya menikmati sarapan, hasil masakanya sendiri, Arfa masih terus mengotak-atik ponselnya. Ia tersenyum saat melihat, beberapa anak buahnya, memposting video ketika mereka sedang membantunya membersihkan rumah baru, dan menyusun semua barang-barang. Namun, senyum itu buyar kala ia melihat status WhatsApp milik Afiz, di dalam video unggan Afiz tersebut, memperlihatkan mereka semua tengah asik makan bersama. Tapi ada satu hal yang membuat Arfa kesal, sebab video itu tampak jelas, jika kemarin Arfi memandangi Nayla dengan senyum penuh makna. Hal itu spontan membuat Arfa cemburu.


"Woooy, kamu belum move on, dari istriku" pekik Arfa yang langsung menelpon saudara kembarnya.


"Heeeh.. apa, sih??" Arfi menjaukan ponsel miliknya, sebab suara Arfa sungguh membuat sakit telinga.


"Ga, usah sok polos! Ngapain, kamu senyum-senyum ke Nayla?"


"Senyum doang,"


"Munafik tau gak sih? Beium bisa move on, kan?"


"Sudah," jawab Arfi spontan.


"Yakin?"


"Yakinlah,"


'Apa buktinya?"


"Aku sudah punya pacar,"


Lagi, Arfi menjawab spontan pertanyaan Arfa, agar sang adik tak terus menerus mencurigainya.

__ADS_1


"Haaah... serius?"


"I_iya," gugup Arfi lagi.


"Malam minggu, ajak pacarmu! Makan makan di rumahku, sekalian, ajak mami dan papi juga!"


"Haaah,"


"Kenapa? Ga berani ya? Bilang saja belum move on!"


"Hiih, apaan sih! Baiklah, malam minggu akan ku ajak pacarku, makan malam di rumahmu,"


"Bagus. Jangan sampai tidak datang ya!"


"Iya,"


Setelah sambungan telepon usai, Arfi di buat bingung akan ucapanya sendiri. Sementara Arfa sudah tidak sabar... apakah, sang kakak benar-benar sudah memiliki pacar?


***


Pukul 9 pagi.. Arfa dan Nayla sudah tiba di kampus, dengan wajah lelah si cantik turun dari mobil, bahkan kedatangkan keduanya secara bersamaan, membuat pasang mata tertuju ke arah mereka.


"Hemmm, pasangan haram!" Dimas mengejek.


Arfa berusaha untuk sabar, karena ia tak mau membuat keributan.


Mendengar ejekan itu, Arfa spontan mer*m*s jari jemarinya. Namun Nayla langsung menarik tangan sang suami, agar menjauhi keberadaan Dimas.


'Pasti, malu!!" pekik pria sialan itu lagi.


Dan di sertai sorakan dari anak-anak kampus. Hal itu tentu membuat Arfa semakin emosi, ia ingin sekali memberi Dimas pelajaran.


"Sabar, kita baru saja masuk kuliah!"


Nayla menepuk pelan pundak suaminya, dan keduanya pun langsung menemui Dosen pembimbing.


***


Di dalam ruangan, Arfa benar-benar tak nyaman, kala jam kuliah tengah berlangsung ada beberapa anak-anak kampus, menatap wajahnya sinis.


"Menjij*kan!'


Seseorang melempar kertas ke arah Nayla, namun kertas tersebut di tangkap oleh Arfa, la langsung membaca, sebuah tulisan yang membuatnya kian geram.


"Huuuuf!"


Sampai jam kuliah selesai, Arfa masih bisa menahan emosinya. Karena masih ada Ika Meymei dan beberapa anak-anak kampus yang tak menyudutkan ia dan Nayla.


"Kelihatanya, seperti cewek mahal, tapi ternyata.. harga diri di kasih gratisan, ke cowok yang selama ini, selalu di anggap cupu. Gaaa nyangka!!" ucap seorang yang selama ini memang selalu iri kepada Nayla.

__ADS_1


"Mulutmu, bisa diam gak?!" Ika menunjuk, sebut saja namanya Erna.


"Gaak, bisa...," Erna justru terus melontarkan kata-kata yang sangat menyudutkan Nayla.


"Sudahlah, Nay... ayo kita pergi!" ajak Meymei.


"Huuuuuh, memalukan. Tidak di sangka, sok polos, taunya lolos, sok cantik nyatanya murahan, sok segalanya, tapi ternyata gampang di jajah ke hormatanya!!!"


Kata demi kata, yang amat menyakitkan batinya, terus Nayla dengar, hingga air mata tak terasa jatuh membasahi wajah. Hati dan perasaanya sakit luar biasa, caci maki itu sungguh mengoyak luka.


Praaaankkk!!


Arfa melempar gelas kaca, ke arah anak-anak kampus yang sejak tadi membully dan menyakiti Nayla. Si tampan yang sedari tadi diam saja, mendengar caci maki mereka semua, dari kantin kampus yang tak jauh dari tempat keributan itu terjadi, seraya meminum segelas teh dingin, Arfa menyaksikan mereka menyudutkan istrinya.


"Arfa____!!" pekik mereka bersamaan, lalu menatap nanar wajah Arfa kerena melempar gelas kaca hingga berserakan.


"Apa? Kalian marah?"


"Cowok bang sat! Beraninya kau ya,"


Erna berlari ke arah, Dimas dan geng'nya, lalu meminta mereka untuk menghajar Arfa.


"Mampus, kau hari ini!!" teriak Dimas lalu mendekati Arfa.


"Beraninya kroyokan. Kalau mau berkelahi, ayo maju satu-satu!"


"Banyak b*cot_____!"


Perkelahian itu tak bisa di tawar lagi. Arfa seorang diri dan Dimas bersama 4 temanya. Hingga membuat Arfa nyaris kehilangan nyawa. Tapi hal itu urung terjadi, saat Dimas akan menendang d*da Arfa, seketika Nayla menghalanginya.


"Aah sial!!" kesal Dimas seketika, ia urung melancarkan niatnya, karena rasa sayang terhadap Nayla masih ada.


5 menit kemudian... barulah para petinggi kampus datang dan langsung membubarkan keributan. Lagi, akhirnya, semua pihak yang membuat ke ributan. Orang tuanya di panggil lagi, untuk bertemu dengan dewan kampus. Termasuk orang tua Arfa dan Dimas.


Arfa langsung di larikan ke rumah sakit setempat, sementara Dimas dan kawan mendapatkan hukuman, karena hampir menghilangkan nyawa seseorang.


"Tahan ya!" ucap Nayla menguatkan, meski ia khawatir sebab darah segar terus keluar dari hidung Arfa.


"Aku tidak apa-apa.. tenanglah!" Arfa juga menenangkan istrinya.


.


.


.


.


Terima kasih kakak-kakak baik. Nanti Arfi pasti dapet jodoh ya🤗❤.

__ADS_1


__ADS_2