Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Sikap Sisi


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Cinta, bukan tentang aku dan kamu lalu menikah, tapi cinta yang sebenarnya adalah saling memaafkan, melengkapi, mendukung dan saling menerima.


***


Karena sepanjang malam Sisi tidak tertidur, akhirnya pagi ini ia merasa sangatlah lelah. Ia mendudukan tubuh di sofa dan diam-diam memejamkan mata.


"Hm...,"


Arfi menghela napas pelan, saat mendapati Sisi tengah tertidur lelap. Secepat mungkin ia memindahkan sang istri untuk tidur di atas ranjang.


"Untung libur," ucap Arfi lirih.


Ya... hari ini memang hari minggu, jadi Arfi masih libur dan bisa menjaga istrinya. Dan selama Sisi tidur Arfi memilih untuk mengerjakan tugas kantor.


"Haaah?"


Pria gagah itu tersentak, saat membaca berita online, tentang seorang pria yang tega membunuh istrinya karena tak bisa memberikan keturunan setelah dua tahun menikan.


"Ya Tuhaan...!"


Dadanya berdebar tak jelas, ia menghela napas panjang lalu membuang perlahan. Arfi berharap sejahat dan seteganya ia, tak akan pernah membunuh orang, apa lagi orang yang ia cintai. Arfi bahkan mengutuk keras, kejahatah pria itu.


Drrrt..!


Ponsel Arfi bergetar, ternyata Arfa yang menghubunginya.


"Hallo,"


"Hei, Fi, sedang apa?"


"Main ponsel," jawab Arfi datar. "Gak usah basa-basi deh, bilang saja apa yang mau kamu sampaikan!" todongnya tanpa ragu.


Arfa menarik napas sebelum menyampakan, sesuatu kepada Arfi. "Aku tidak jadi pulang dalam waktu dekat, karena disini pekerjaanku sedang bagus,"


"Maksudmu?"


"Sebentar lagi, aku dapat promosi naik jabatan dan usaha yang ku kembangkan, sedang naik pesat. Sampaikan maaf kami, kepada istrimu, karena aku tahu, jika Sisi ingin sekali bertemu dengan Nayla." jelas Arfa.


"Lalu, kapan kira-kira kalian akan pulang?"


"Paling cepat, dua tahun lagi!"


"Tidak perlu pulang sekalian... menetaplah disana dan ku doakan kalian bahagia!!" nada bicara Arfi meninggi, ia kecewa dengan apa yang di sampaikan Arfa. Spontan Arfi mematikan sambungan telepon secara sepihak, yang tentu saja membuat Arfa merasa bersalah.


***


Hampir jam 11, Sisi baru saja terbangun dari tidurnya, ia berkali-kali mengerjabkan mata seraya memegangi perutnya yang terasa lapar.


"Kakak...!" panggil Sisi seperti suara anak kecil yang mencari ibunya.


Arfi yang ada di ruang belakang, langsung berlari menemui sang istri. "Hei, kamu sudah bangun? Cucilah muka, nanti kita makan sama-sama!"

__ADS_1


Sisi bersorak senang, karena sang suami seolah paham, apa yang ia inginkan, secepat kilat ia masuk kedalam kamar mandi dan tak sampai 5 menit ia sudah keluar lagi.


"Yee.. kentang goreng, kentang sambal dan kentang rebus!" Sisi bersemangat. Ia langsung meraih piring dan mengambil semua makanan yang berbahan kentang.


Selama hamil, Sisi memang menyukai semua makanan yang berbahan kentang dan seolah menjadi makanan favoritenya. Arfi memahami hal itu dan itu sebabnya, ia menyiapkan semua makanan sesuai selara sang istri.


"Kak, kenapa?"


"Kenapa. Gak apa-apa." jawab Arfi gugup.


"Yakin gak apa-apa? Tapi kok, mukanya kusut banget?"


Akhirnya, Arfi pun menceritakan hal yang membuatnya sangat galau. Pria itu memberitahu Sisi, jika Nayla dan Arfa akan lama pulang ke Indonesia.


"Jadi mereka belum bisa pulang tahun ini ya, kak?"


"I-iya. Dan mereka minta maaf ke kamu."


"Kok... maaf. Kan mereka gak salah. Mau pulang cepat atau pun lambat, itu hak mereka, jadi kita hanya bisa berdoa, agar suatu saat nanti, kak Arfa dan mbak Nayla bisa kumpul bersama kita."


Arfi tersenyum datar. "Jadi, Sisi gak marah?"


"Ya gak lah, buat apa marah. Kita masih bisa video call setiap hari dan bisa menyapa mereka kapan saja. Jaman sudah canggih, jarak bukan penghalang, untuk memutuskan keakraban. Jadi galau itu tidak perlu."


Ucapan Sisi membuat perasaan Arfi sedikit lega. Meski tadi sempat kecewa tapi kini perasaanya sudah baik-baik saja.


***


Hari terus berganti, kini usia kandungan Sisi genap 4 bulan, ia sudah di wajibkan posyandu dan tidak boleh terlewatkan. Kebetulan, Arfi suami yang siap siaga dan selalu mau meneman Sisi kemana saja.


"Saya suaminya. Kenapa?" Arfi merasa risih, ia langsung berlalu dan masuk kedalam mobil.


Sisi yang masih duduk menunggu antrian menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan keberadaan sang suami. "Kakak dimana?"


'Mobil, Si... kakak males, berhadapan dengan emak-emak rempong!" balasnya.


Sisi hampir saja tertawa, untung ia bisa menahanya. "Hahahaha...!" balas Sisi kepesan singkat sang suami.


Setelah selesai, Sisi langsung memutuskan untuk pulang, karena sadar ia menjadi pusat perhatian.


"Eh.. eh.. suaminya Sisi itu, cakep banget lho,"


"Masa sih, kok Jeng Intan tau?"


"Tadi, dia berdiri didepanku. Kok bisa ya, mau sama si Sisi itu?"


Bisik-bisik ibu-ibu lemes itu, terdengar jelas di telinga Sisi, membuat ia seketikan menjadi sedih. Berjalan gontai lalu masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Hei.. Sisi kenapa?" Arfi melihat jelas raut wajah sedih sang istri.


"Kakak.. aku gak cantik, ya?" tanya Sisi tiba-tiba.


"Cantiklah... kenapa bertanya seperti itu.

__ADS_1


Sisi menceritakan, apa yang ia dengar tadi, yang seketika air matanya tumpah, karena Sisi memang sesensitif itu semenjak hamil.


"Astaga Sisi... sudah jangan menangis! Kamu cantik, kamu baik dan kamu istri kesayangan kakak, jangan dengarkan ucapan mereka!"


"Tapi kak. Mereka bilang aku tidak cantik." jujurnya lirih.


"Sisi sayang. Kalau kamu tidak cantik, kenapa Fadil sampai tergila-gila dan terobsesi untuk mendapatkanmu? Karena apa? Karena kamu cantik... baik dari hati dan memang cantik secara keseluruhan.


Ucapan Arfi membuat pipinya merah merona, Sisi tersenyum penuh makna, tapi mengingat nama Fadil membuat Sisi seketika bergidik ngeri, sebab saat ia dan Arfi sudah pindah apartemen, bisa-bisanya Fadil pindah juga dan gilanya di apartemen yang sama. Fadil, sering membuat Sisi tak nyaman sebab secara diam-diam ia pernah mencium Sisi secara paksa. Hal itulah yang membuat Sisi tak berani keluar jika tidak bersama Arfi.


***


Kini keduanya sudah tiba di apartemen. Sisi langsung merebahkan tubuh, sementara Arfi langsung keruang belakang.


"Si... mau makan bubur atau minum susu?"


"Susu saja kak!" jawabnya.


Dan... 10 menit kemudian Susu khusus untuk ibu hamil pun sudah selesai Arfi buatkan. Ia meletakan di atas meja. "Minumlah, selagi masih hangat!"


Sisi mengangguk, tapi setelah itu ia meminta Arfi untuk membelikan ia es krim. "Tolong kak!" pintanya penuh harap.


Arfi langsung mengiyakan permintaan sang istri dan dalam waktu 10 menit.... Arfi pun langsung kembali, membawa es krim rasa vanila dan strawberry.


"Ihh kakak... rasa coklatnya mana?"


"Haduh.... kakak lupa!" Arfi menepuk keningnya sendiri.


"Ya sudah, letakan es krim itu ke kulkas dulu! Biar aku yang beli rasa coklat! Kakak istrirahat saja, karena kakak pasti lelah!"


Arfi pun mengangguk, ia meletakan es krim kedalam kulkas dan berancana mengistirhatkan tubuh. Tapi belum sempat Arfi duduk di atas tempat tidur, ia di kejutkan dengan suara teriakan sang istri.


Aaaaaaaa!"


Pekik Sisi sekuat tenaga dan seketika suaranya langsung hilang juga.


"Sisi......!!"


Arfi panik bercampur terkejut, sebab mendapati sang istri terjatuh di depan pintu dan langsung tak sadarkan diri.


"Satpam... panggil ambulan!"


Arfi berteriak meminta pertolongan, sebab sang istri mengeluarkan banyak darah. Dan di sekitar Sisi terjatuh, ada banyak kulit pisang yang berserak, membuat Arfi yakin ada yang sengaja meletakanya.


"Priksa CCTV!" titah Arfi pada pelayan apartemen yang ia tempati.


Sementara itu, Arfi langsung membawa Sisi kerumah sakit, selama itu pula, rasa takutnya kembali menyergap dada, karena darah yang keluar lebih banyak dari kemarin saat sang istri terjatuh juga.


.


.


.

__ADS_1


.


TERIMA KASIH


__ADS_2