
❣Selamat Membaca❣
Sisi tak kuasa menyembunyikan kebahagianya. Kado pemberian Arfi tepat di hari ulang tahun yang ke-18 sangat berkesan di hati, bukan itu saja. Baik Arfa ataupun Nayla mengupload foto dan video di saat mereka memberi kejutan semalam dengan caption yang membuat Sisi semakin riang. (Sehat selalu calon adik ipar) dengan emoticon peluk. Begitu saja Sisi tak bisa melukiskan betapa bahagianya ia.
Sssstt.....
Sisi tiba di sekolah dengan menggunakan motor barunya, ia tak pernah tahu berapa harga motor yang di kendarai itu, karena yang Sisi tahu, ia hanya menggunakannya dengan sangat nyaman.
"Uwoow, Sisi punya motor baru," decak anak-anak sekolah lainya.
Begitulah anak-anak remaja selalu excited dalam segala hal dan menjadi heboh dalam sekejap, bila ada hal-hal baru yang menurut mereka semua bagus untuk menjadi topik pembicaraan. Termasuk saat mengetahui jika Sisi memiliki motor baru dan dari sebagian mereka pun paham. Berapa harga motor yang dikendarai Sisi itu?
"Berapa?"
"Tiga puluh satu juta... dan itu jika dibayar cash, apalagi kalau kredit, pasti lebih mahal harganya," ujar salah satu siswi yang orang tuanya memiliki motor sama persis dengan yang dimiliki Sisi.
Mereka heboh sendiri, saling membicarakan dan mempertanyakan... dari mana Sisi memiliki motor dengan harga sefantastis itu?
"Masa sih, dia benar-benar jadi wanita penghibur?" decak salah satu siswi lagi.
"Terus dari mana dia punya motor semahal itu jika tidak menjual diri? Coba kalian pikir!" tambah Lili meyakinkan.
Sisi benar-benar tidak peduli, meski ia sendiri tahu.. jika saat ini tengah menjadi bahan pembicaraan teman-teman satu sekolahnya. Gadis itu justru sibuk memainkan ponsel pintar, seraya menatap buku-buku dan pena.. entah apa yang tengah dikerjakan gadis mungil itu?
"Buhahahahaha.....!"
Sisi tertawa pendiri, secara tiba-tiba, seraya terus fokus menatap layar ponsel. Gadis itu tengah melakukan obrolan chatting bersama Arfi yang saat ini tengah bertugas.
"Hahaha___!!" tawanya lagi.
Melihat tingkah aneh Sisi, membuat mereka semua semakin yakin, jika Sisi menjadi wanita simpanan atau menjadi kekasih dari pria yang sudah memiliki istri. (Sama aja simpanan thor, islah peak😭).
"Hmmm....,"
Sisi membuang napas pelan, ia tersenyum datar dan bersikap biasa saja, meskipun ia tahu jika tengah menjadi pusat perhatian dari teman-temannya. Tapi sampai sekolah hari ini selesai Sisi tetap beriskap masa bodoh dan acuh tak acuh kepada siapapun yang mengatakan hal buruk tentangnya.
"Si, sudah pulang belum?"
Airin menelepon calon menantunya itu dan bertanya di mana Sisi kini berada.
"Aku di jalan, tante... baru saja keluar dari sekolah," Sisi menjelaskan.
"Ya sudah, hati-hati di jalan!"
__ADS_1
Semenjak Sisi resmi menjadi kekasih Arfi yang sesungguhnya. Kini keluarga pria itu memang memperlakukan Sisi sebaik mungkin, termasuk si mami yang memperhatikan Sisi layaknya anak sendiri, bahkan setiap pagi dan sore Airin selalu mengantarkan makanan untuk gadis itu. Masa lalu si mami yang cukup mencekam, membuatnya tidak memilih, siapapun untuk menjadi menantu asal baik dan memiliki sopan santun si mami dan papi pasti akan setuju.... siapapun wanita yang akan menjadi pendamping hidup anaknya nanti.
"Ya ampun,"
Sisi berdecak kagum, saat ia masuk ke dalam kamar apartemennya, gadis itu mendapati sudah ada makanan, minuman dan sedikit makanan ringan yang tersedia di atas meja.
"Pasti Arfi dan mami'nya," lirihnya pelan.
Gadis mungil yang sudah hampir 5 tahun ini menjadi yatim piatu dan hidup sendiri itu, menikmati dengan lahap makanan yang sudah tersedia. Tapi seketika saja air matanya jatuh perlahan, bukan karena sedih... namun Sisi merasakan, jika saat ini ia memiliki keluarga dan merasakan perhatian yang sesungguhnya.
Ceklek!
Pintu kamar pun terbuka. Sisi menoleh dan hadir lah seorang pria yang sangat ia cintai, berdiri tepat di depannya masih menggunakan baju kebanggaan.
"Kakak,"
"Sedang apa, Si?"
"Ma-makan. Kak Arfi sudah makan belum?"
Begitulah Sisi... meski sudah hampir 4 bulan lebih ia dan Arfi bersama, tapi sisi tatap gugup jika bertemu dengan pria pujaannya itu, pria yang selalu melindungi Sisi dan menjaganya baik-baik.
"Kakak sudah makan, kamu makanlah dan habiskan!"
Sisi mengangguk cepat, ia kembali menghadap piring nasi... yang sejak tadi berada di atas meja dan Sisi menikmatinya tahap demi tahap dan menghabiskannya tanpa sisa. Siang ini Arfi mengajari Sisi menyelesaikan tugas sekolah, sebelum jam tugas kembali tiba.
Di rumah lain, Arfa yang baru saja pulang dari kuliah, mengeryitkan dahi karena melihat sang istri tengah duduk tepat di depan pintu tengah, tapi sorot matanya menarap televisi.
"Nay, kok duduk disini?"
"Suka," jawabnya singkat
"Tapi, Nay... kata orang tua, kalau wanita sedang hamil tidak boleh duduk di depan pintu, karena nanti saat melahirkan katanya akan sulit.
"Kamu menyumpahiku, yank!" Nayla berdecak kesal, ia memasamkan wajah seraya membuang muka, tak mau menatap Arfa.
"Marah?"
"Gaaak...,"
"Kalau nggak marah... Kenapa cemberut?"
Kali ini Nayla tak bergeming, ia memilih diam saja tapi perlahan Nayla beranjak dari duduknya, dan berpindah duduk di sofa.
__ADS_1
"Nah gitu dong. Aku ke kamar dulu ya, untuk mengganti baju. Setelah itu, jika kamu mau minta buatin apapun, nanti pasti akan kubuatkan." Arfa berucap bahkan terkesan berjanji.
Nayla mengangguk senang, ia tersenyum seraya menatap langkah sang suami, yang kian menjauh dari keberadaannya. Dan... 15 menit kemudian Arfa pun tiba dengan membawa senyum penuh makna lalu duduk tepat disamping istrinya.
"Kamu mau makan apa, Nay?"
"Ayam yang belinya di Cina,"
"Jadi, aku harus ke Cina dulu nih, buat beli ayam?" Arfa menahan tawa.
"Ya udah ganti. Jus tomat di campur bayam di kasih garam, terus di tambah bubu cinta.. tapi kamu yang meminumnya!"
Arfa tak menjawab, ia justru melangkah pergi masuk kedalam kamar, ia tak perduli akan permintaan Nayla baru saja. Dan... sikap Arfa tentu saja membuat istrinya menangis sesenggukan, sampai satu jam kemudian, Nayla betah bersahabat dengan air matanya.
"Astaga, Nay... masa gitu aja, nangis sih?"
"Namanya juga ngidam, kalau gak keturutan ya sakit hatiku," jawabnya.
"Laah.. hamil sudah 7 bulan, masa masih ngidam juga?" Arfa menggeleng pelan.
"Ya sudah, kalau begitu kamu saja yang hamil! Biar gak pakai ngidam ini dan itu!" Nayla seketika merasa kesal.
Arfa yang mendengar ucapan istrinya, seketika mengerutkan wajah seraya menggeleng pelan. Ia pun akhirnya menyerah dan ingin menuruti kemauan Nayla.
"Ya sudah, aku buatin. Kamu mau apa tadi?"
"Sudah gak n*fsu." Jawab Nayla ketus.
"Astaga, Nay. Terus kamu maunya apa?" Arfa kesal tapi menahanya.
"Beliin aku bakso, di mamang yang pake baju merah dan rambutnya kriting!" permintaan Nayla kian nyleneh.
"Ala maak.... dimana aku harus cari mamang pake baju merah, Nay?"
"Terserah kamu... pokoknya aku mau beli bakso di mamang itu!"
Dengan terpaksa, Arfa pun menuruti permintaan Nayla. Si tampan memasang spanduk dengan tulisan. {"Mamang Bakso Yang Merasa Bajunya Warna Merah Dan Rambutnya Kriting, Tolong Hubungi Ke No Ini 08××××××31. Nanti Baksonya Saya Borong!!.} Tak lupa tanda serunya juga banyak-banyak.
.
.
.
__ADS_1
.
TERIMA KASIH😊