Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Perasaan Yang Salah


__ADS_3

πŸ•ŠSelamat MembacaπŸ•Š


Meski belum di izinkan untuk beraktifitas terlalu berat, Alvian tetap memaksa untuk pergi ke kantor, sebab banyak pekerjaan yang sudah menanti, ia juga masih harus segera membalik nama perusahaan, yang ia beli dari Wijaya Bratayuda, menjadi nama sang istri.


"Mulai hari ini, kau memimpin perusahaan di depan dan aku tetap berada disini!" titah Alvian kepada istrinya, seraya menyodorkan berkas-berkas, yang sudah ia tanda tangani dan sepakati, bahwa perusahaan tersebut telah sah menjadi milik sang istri.


Dengan menghela nafas kasar, Airin pun segera mengambil berkas, yang diberikan Alvian kepadanya, sebuah dokumen bahwa kepemilikan perusahaan sang papa, kini telah beralih ke tangannya. Ada rasa senang, yang menyergap perasaan sicantik, sebab mulai hari ini, ia bisa mengatur semua akses dan cara kerja perusahaan, yang selama ini tak pernah, ia datangi. Karena Yuda sang Papa selalu melarangnya untuk datang kesana.


"Oh...iya Rin, ini hp-mu, aku tak sengaja membawanya, karena tadi pagi, aku melihat hp-mu tergeletak di meja depan rumah, aku lupa untuk mengembalikannya padamu," ucap Alvian berbohong, karena nyatanya, ia sengaja, membawa ponsel milik sang istri, demi membalas pesan WhatsApp, yang dikirim Rio tadi pagi.


Airin sudah berada di kantor sang Papa, yang kini sudah menjadi miliknya. Sementara Alvian tetap berada di perusahaannya sendiri, pria itu tidak fokus saat menghadapi, banyaknya berkas-berkas yang kini berada di atas meja, sebab pikiran Alvian melayang-layang entah kemana.


"Rio....." geramnya, Alvian mengepal-ngepal tangannya sendiri, saat mengingat nama Rio dalam pikirannya.


Benar saja, sebab pesan WhatsApp yang dikirim Rio untuk Airin tadi pagi, membuat Alvian merasa sangat gelisah, ia sudah tak sabar menanti siang tiba, karena Alvian berniat datang dan menemui kakak dari istrinya itu.


***


Tepat jam satu siang, Alvian pun segera bergegas keluar dari kantornya, ia masuk ke dalam mobil lalu memacu kendaraan miliknya dengan kecepatan tak biasa.


Sementara Airin, berencana mengajak Alvian untuk makan siang bersama.


"Dimana Alvian?" tanya Airin kepada dua satpam yang menjaga kantor milik sang suami.


"Pak Alvian keluar bu, sekitar 10 menit yang lalu, beliau melangkah dengan tergesa-gesa, lalu mengendarai mobil dengan sangat terburu-buru," si satpam menjelaskan, hal itu tentu membuat Airin berdecak heran.


"Kemana dia?" tanya dalam hati, si cantik segera meraih ponsel yang berada di dalam tasnya, ia berniat menghubungi Alvian.


Dan... ck!


Airin menatap nanar, saat membaca pesan di ponselnya, ia menarik sudut bibir, sebab pasan tersebut dari sang kakak.


"Sepertinya, Alvian ke taman, karena membaca pesan singkat ini,"


Tanpa pikir panjang lagi, secepat kilat ia segera masuk ke dalam mobil, lalu menuju ke taman, sesuai pesan yang di kirim Rio ke ponselnya.


Chiiit!


Airin menghentikan laju mobilnya, ia turun dengan begitu terburu-buru.


Ssssttt!


Si cantik menoleh ke kanan dan ke kiri, bola matanya menatap ke segala arah, namun ia tak menemui keberadaan Alvian, hanya ada Rio yang tengah duduk dengan membawa sebuket bunga di tanganya.


"Kak Rio,"

__ADS_1


"Hai Rin, syukurlah.. akhirnya kau datang juga,"


"Kakak di sini sendiri?"


"Iya, kan segaja ingin bertemu denganmu," jawabnya dengan senyum penuh makna.


Namun Airin seolah tak perduli, matanya masih memandang ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada Alvian di sana.


"Lalu, kemana dia pergi?" lirihnya dalam hati.


"Heii, Rin... kau kenapa? Kok, seperti orang yang bingung begitu?"


"Ah, tidak," jawab si cantik datar.


Rio segera mengajak Airin untuk duduk bersamanya, tak lupa.. ia pun memberikan bunga pada wanita yang selama ini ia anggap adiknya.


"Bu_bunga?"


"Iya, bunga yang cantik, untuk wanita paling cantik,"


"Kakak sehat?"


"Sehat, kenapa?"


Rio tersenyum simpul, seraya meraih tangan Airin.


"Kakak rindu, Rin.. sudah hampir berbulan-bulan, kita tak pernah sama-sama, apa lagi duduk berdua seperti ini, dulu, kemanapun kamu pergi, selalu kakak yang menemani. Tapi kini, jangankan jalan-jalan bersama, ngobrol dan duduk berdua saja, sungguh sulit kita lakukan," jujurnya.


"Kondisi sudah berbeda, kak, aku sudah menikah dan memiliki suami. Kita tak bisa terus sama-sama, tapi.. jika kakak rindu, kak Rio bisa menemuiku, kapanpun kakak mau,"


"Huuuuuf!"


Rio tertunduk lesu, wajanya memerah menahan malu.


"Ada apa, kak?"


"Apakah, perasaan yang ku punya salah? Karena nyatanya, hatiku benar-benar sakit, saat melihatmu berada di samping laki-laki lain. Kakak, cemburu, Rin," jujurnya dengan semua perasaan yang membenam dalam dada sejak lama.


Rio.. jatuh cinta kepada Airin sejak, keduanya sama-sama beranjak dewasa. Sikap Airin yang selama ini, terkesan lucu dan jenaka bahkan selalu tampil cantik luar biasa, membuat Rio terpesona. Semakin hari, rasa yang ia punya semakin tak bisa terbendungkan. Ya... Rio jatuh cinta kepada adiknya sendiri.


"Kakak sudah gila! Kita saudara, mana boleh kak Rio menyukai adik sendiri!!" keterkejutan tak bisa Airin elak'kan, sungguh ia tak menyangka jika Rio sudah menyimpan rasa sejak lama kepadanya.


"Hatiku hancur, Rin... saat bertemu denganmu, tapi kamu sudah menikah dengan pria lain. Awalnya, aku coba untuk menerima tapi tetap saja, aku benar-benar kacau setelah tau kau sudah bekeluarga," jujurnya lagi.


Mendengar itu, Airin segera berdiri dari tempat duduknya. Alasan apapun tak bisa ia terima, karena.. bagaimana pun ia dan Rio adalah saudara.

__ADS_1


"Perasaan kakak salah, itu tidak akan pernah di benarkan oleh siapapun," cetus Airin kecewa, ia melangkah lalu menjauhi keberadaan kakaknya.


"Rin tunggu!"


Rio mengejar langkah Airin, ia seolah tak mau kehilangan wanita itu lagi.


Dan..... Bugh!


Spontan, seseorang meninju wajah Rio, hingga darah segar seketika mengalir dari hidungnya.


"Al....,"


Airin terperanjat, karena tiba-tiba saja, suaminya itu menunjukan wajahnya.


"Cih! Apa maksudmu, memukul wajahku?" emosi Rio tak terkendali.


"Jauhi istriku! Dasar, manusia tidak tahu malu!!"


"Heeei, Alvian! Asal kau tau, sebelum dia menjadi istrimu, Airin adalah miliku, sejak kecil kami sudah bersama-sama. Tapi hadirmu merubah segalanya, kau mengambil Airin dariku,"


"Wajar, karena kalian saudara, jadi sudah jelas, sejak kecil pasti bersama-sama," jawab Alvian sebab ucapan Rio terkesan mengada-ada.


Dengan wajah memerah, air mata yang spontan saja tumpan, Rio tertunduk lesu. Hatinya kacau balau, hancur bagaikan debu. Airin adalah alasan, kenapa ia tak pernah membuka hatinya untuk siapapun, sebab sebuah rasa yang tak biasa, sudah tumbuh sejak lama. Rio, selama ini memang selalu menjadi pelindung bagi Airin, Rio adalah tempat ternyaman setiap Airin di rundung kesedihan.


"Bagaimanapun, kau memiliki rasa, tapi semua itu, haram menurut agama. Yang jelas, saudara tidak di bolehkan jatuh cinta, kepada saudaranya juga,"


Kini Alvian berucap pelan, berusaha berbicara dari hati ke hati kepada Rio, karena ia melihat kehancuran dari wajah pria itu.


"A_ku....," ucapan Rio tertahan.


"Iya, kau kenapa?" Alvian penasaran ia coba bersikap setenang mungkin.


"Airin, bukan adik kandungku!!" ucapnya tegas.


"Haaaaah!!!"


..


..


..


..


Makasih kakak-kakak baik. Maaf ya, aku jarang bales komentar! Bisa up aja, aku dah bahagia banget😊❀. Karena sinyal sesulit itu di tempatku. Btw nanti siang up laginya. Lope you pull kakak-kakak baikπŸ€—.

__ADS_1


πŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•Š


__ADS_2