Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 44 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌹Selamat Membaca🌹


Meski emosi, Arfi masih bisa mengendalikan diri, bahkan Angga terlihat semakin menjadi-jadi. Anak muda itu menggenggam erat tangan Sisi tepat di hadapan Arfi.


Ck...


Sisi berusaha melepas genggaman Angga, tapi anak muda ini malah mengeratkan dan memberi isyarat agar Sisi membiarkan ia bersikap demikian.


"Ga... kamu suka Kak Sisi ya?" Cia juga sejak tadi memperhatikan sikap Angga kepada Kakaknya.


"Sisi kan nggak ada yang punya, kalau aku suka ngga masalah dong."


"Haah?" Sisi sendiri kini menatap Angga tak percaya.


Bukan Sisi sendiri yang terkejut tapi Arfi dan Cia pun sama. Terlebih saat Angga memanggil Sisi dengan sebutan nama saja.


"Nggak usah kaget gitu dong, biasa aja!" Angga sengaja mengejek Arfi. "Sini aku ambilkan minum!" Angga berinisiatif membuat Arfi semakin cemburu.


"Makasih, Angga." Sisi menyahuti dan benar-benar mengindahkan sikap Angga padanya.


"Jijik." celetuk Arfi seraya memutar bola mata.


Angga malah terkekeh geli mendengarnya. Dan puas sekali membuat Arfi meradang.


"Kalau mau romantis-romantisnya jangan di kantor. Haram hukumnya." Arfi mengada-ada karena saking kesalnya.


Berbeda dengan Cia, meski kadang ia merasa sedikit tidak nyaman karena Angga terlalu memperhatikan Sisi. Tapi setidaknya pria muda ini tampak sangat bertanggung jawab dan di pastikan akan mampu melindungi sang Kakak.


"Kamu lucu deh!"


"Siapa yang lucu?" Angga menatap Cia penasaran.


"Ya kamu lah."


"Baru sadar kalau saya lucu. Selain lucu saya juga mempesona."


Sikap alay Angga membuat Cia dan Sisi kompak terkekeh geli, entah sejak kapan si pendiam ini menjadi bisa melawak dan membuat siapapun tersenyum kecuali Arfi.


Merasa tidak punya pilihan, Arfi memilih pergi dan menghindar, satu meja dengan Angga membuat kepalanya mau pecah. "Saya harus kembali keruangan." ucapnya sebelum benar-benar enyah dari hadapan mereka. Cia pun langsung mengikuti langkah sang suami.


Kini hanya tinggal Angga dan Sisi, keduanya saling menatap dan sedetik kemudian tertawa bersama. "Kamu sengaja kan?" tanya Sisi seketika.


"Iya," Angga membenarkan.

__ADS_1


Jam istirahat pun usai, semua sudah kembali ke tempat kerjanya masing-masing termasuk Angga dan Sisi. Setelah di pikir-pikir Sisi merasa tak enak hati, karena tadi sikap Angga membuat Arfi emosi, ia pun berinisiatif memberi tahu mantan suaminya, jika ia dan Angga tak memiliki hubungan apapun.


"Kak Arfi baca chat dari siapa sih? Kok mendadak senyum senyum sendiri?"


"Ehh, e-nggak, ini aku baca pesan dari rekan kerja, katanya dia sudah menemukan tempat strategis untuk di bangun sebuah Mall." Arfi tentu saja berbohong. Dan bodohnya Sisi tetap percaya..


Merasa sangat bersalah karena berbohong kepada istrinya sendiri. Arfi pun berencana mengajak Cia makan makan bersama di sebuah Cafe favorit mereka.


"Dalam rangka apa nih? Tumben ngajak makan bareng?" tentu saja Cia merasa sangat heran.


"Memangnya salah, ya? Ngajak istri sendiri makan malem di luar?"


"Ya- ya nggak sih, tapi makasih deh!" Cia tersenyum sumringah.


Sebenarnya, Arfi bukan tidak menyayangi Cia, hanya saja dia belum cinta. Perkara rasa sayang, sejak hari pertama mereka menikah ia sudah berjanji akan menyayangi sepenuh hati. Dan yang lebih membuat Arfi tak tega, setiap kali ia menyakiti Cia secara sadar. Contohnya ia masih mencintai Sisi padahal mereka sudah menikah.


.


.


.


***


Saat Arfi dan Cia, tengah menikmati makanan yang di hidangkan di atas meja. Keduanya dia kejutkan oleh beberapa anak muda yang tengah ribut tak jauh dari mereka berada.


"Woy... ini Cafe, tempatnya orang untuk merasa nyaman. Kalau mau tawuran di luar sana!" pekik Arfi dengan nada meninggi. Semua anak muda yang tampak berkelahi tadi kini menoleh ke arahnya.


"Nggak usah ikut campur om!" celetuk salah satunya.


Dan karena meras emosi, akhirnya Arfi berdiri lalu mendekati mereka semua. "Anak kecil tapi songong banget ya kalian."


"Terus anda mau apa? Berantem? Ayo! Udah tua juga masih sok jagoan."


"Yang sok jagoan siapa an jing? Kalian buat rusuh di sini, cepat pergi... kalau mau gelut di luar sana!


Omelan Arfi yang sangat kesal tak di indahkan oleh mereka. Anak-anak muda itu justru menertawakanya.


"Jangan cari masalah sama dia, kalian belum tau kalau dia bukan sembarangan!" salah satu anak muda mengingatkan.


"Udah deh, bilang aja lu takut! Dasar banci!" balas salah satu anak muda juga dengan mencaci.


Setelah di perhatikan, rupanya Arfi mengenali salah satunya. "Kamu Adiknya Angga, kan?" Arfi memastikan.

__ADS_1


Cia yang sejak tadi duduk pun langsung berdiri dan memastikan siapa yang membuat Arfi mengepal jari jemari.


"Ata..," Cia cukup terkejut, karena yang berdiri di hadapan Arfi memanglah Ata, Adik dari Angga.


"Maaf Pak! Saya tidak ada niat mau buat rusuh, tapi mereka buat saya emosi." Ata tertunduk.


"Alah bilang aja miskin, masa motor di rusakin dikit aja ngamok." celetuk salah satu dari mereka.


"Bacot lu, bisa diem nggak!" Ata tersulut emosi.


"Satpam, goblok banget sih! Ini ada yang ribut, tolong di usir!" teriak Arfi yang tak habis pikir kenapa beberapa satpam yang berjaga diam saja dan tak mau mengusir mereka.


Tapi setelah Arfi berteriak, terpaksa para anak-anak pembuat rusuh ini harus di usir keluar. Kecuali Ata, karena Arfi meminta ia tetap di sini.


"Coba kasih tau saya! Kenapa sampai kamu ribut di sini?"


Ata pun menceritakan, jika mereka semua teman satu geng dengannya. Hanya saja mereka terlalu sering membuatnya merasa tersudutkan akhir-akhir ini. Dan puncaknya adalah tadi, saat mereka dengan sengaja merusak motor yang ia bawa.


"Padahal, itu motor punya Abang saya Pak. Motor buat berangkat kerja lagi, Abang saya pasti sedih jika tau motornya rusak."


"Mangkanya Ta, lu tuh jangan banyak gaya! Harusnya belajar yang bener biar pinter, bukan malah gabung sama anak geng kayak mereka.'"


"Dengerin tuh kata, Cia!"


"Hmmm...," hanya itu yang keluar dari bibir Ata.


"Lu juga Ta, nggak peka banget! Angga pake motor itu buat cari rejeki, buat ngidupin kalian. Lu seenaknya aja ngerusakin."


Arfi menggeleng pelan mendengar gaya bicara istrinya yang teramat gaul. Sementara Cia terus menerus memarahi Ata.


Ata yang sedari tadi tengah pusing di campur emosi. Semakin marah karena Cia membahas perkara PEKA kepadanya. "Nggak usah merasa sok paling bener deh! Lu bilang gue nggak peka.... padahal lu juga nggak peka, kalau Abang gue suka sama lu udah dari lama, eh lu malah nikah sama Pak Arfi. Dasar nggak peka!"


"Haaah?" Cia terkejut dan mendadak tercekat. Ia menuntut penjelasan kepada Ata, apakah yang di katakannya itu benar?


Sementara Arfi hanya mangut-mangut tak jelas seraya menepuk pelan jidatnya sendiri.


.


.


.


B E R S A M B U N G

__ADS_1


__ADS_2