
🌺Selamat Membaca🌺
"Al, kau mau apa?" tanya Airin seraya duduk di samping pria muda yang kini tengah menatapnya.
Diam, Alvian hanya diam namun tatapanya semakin menajam.
"Kau kenapa?"
"Aku...,"
"Iya, kamu mau apa?"
"Mau kamu,"
"Heh," Airin tersenyum spontan.
"Maukan?"
"Ta_tapi?" gugup si cantik
"Kenapa? Kamu tidak mau, karena aku cacat,"
"Astaga, Al, kenapa kau berkata begitu kepadaku,"
Alvian membuang muka, ia malas menatap wajah Airin yang tak langsung menjawab pertanyaanya. Sementara Airin tersenyum simpul, sebab hal yang membuatnya tak bisa menjawab pertanyaan Alvian adalah restu Reyhan, yang tak lain papa dari Alvian sendiri, sebab tadi Reyhan secara terang-terangan melarang Airin untuk lebih dekat lagi dengan anaknya.
"Al," lirih si cantik agar Alvian tak lagi membuang muka.
Alvian masih tetap dengan diamnya, ia merasa jika Airin sama dengan Amira, yang tak menyukai karena ia sudah tak sempurna.
"Kau tau, selama di dalam penjara, setiap jam aku selalu memikirkanmu.. memikirkan kabarmu, memikirkan sedang apa dirimu, dan semua hal tentangmu, bahkan aku selalu bertanya kepada Toni, tentang keadaanmu, tapi temanmu itu hanya diam, dia tak pernah mau menjawab pertanyaanku, rasanya saat itu, aku ingin sekali meramas wajahnya yang kaku." Jelas Airin yang di iringi candaan agar Alvian terhibur.
"Ih, kau tidak bohongkan?"
"Apa aku terlihat berbohong?"
"Tapi, apa kau masih mau menerima keadaanku?"
"Tentu," jawab Airin bersemangat.
"Kau yakin?"
"Iya, tapi bolehkah aku berkata sesuatu padamu?"
"Boleh,"
"Tapi kau jangan marah, jangan membenciku dan jangan berpikir yang bukan-bukan tentangku!"
"Apa katakanlah!"
"Janji dulu,"
"Iya, aku janji," jawab Alvian yang kini sudah menatap lagi wajah Airin.
"Aku mau menikah denganmu, asal ada restu dari mama dan papamu," ujar Airin.
"Lalu!" Alvian semakin penasaran.
"Dan, aku ingin memberi pelajaran kepada kedua orang tuaku, adikku dan kakakku, bahwa uang bukan segalanya."
__ADS_1
"Heem, oke,"
"Jadi, setelah kau di izinkan menikahiku, aku akan minta uang yang baaaanyak padamu, untuk mendirikan perusahaan. Dan aku akan merebut semua rekan bisnis papaku, dan membuat mereka jatuh sejatuh-jatuhnya, agar mereka tau, jika anaknya yang tak berguna ini, bisa membalikan hal yang sangat mereka banggakan, ya "HARTA" dan "TAHTA", karena kedua hal itulah, mereka membuangku," lanjut Airin dengan wajah memerah, airmata yang mengalir dengan begitu derasnya, karena rasa sakit hati yang amat luar biasa.
"Kau yakin, akan melakukan itu, kepada keluargamu?" Alvian segera duduk dan mendekati Airin lalu menghapus airmata di wajah si cantik
"Yakin, meski sebenarnya, aku juga tak tega, tapi mereka sudah tega padaku, Al. Apa aku salah ingin memberi pelajaran pada mereka?"
"Tidak sama sekali." Jawab Alvian tegas. "Baik, aku akan membantumu merebut perusahaan papamu," tambahnya.
"Serius,"
"Seratus rius," jawab Alvian sedikit bercanda.
"Tapi, Al,"
"Tapi apa?" Alvian penasaran.
Airin pun mengatakan hal yang mengusik pikiranya, bahwa ia meminta Alvian agar tak meragukan perasaan yang ia punya.
"Aku tulus, dan aku serius,"
"Kau ini.... pulang dari penjara langsung melamarku," canda Alvian lagi.
"Al, aku serius,"
"Iya, aku percaya padamu, Rin,"
"Jika kau tidak bisa menjadi polisi yang menaklukan para penjahat lagi, setidaknya kau kini menjadi polisi penakluk hati," ujar Airin lalu menggenggam tangan Alvian.
"Jadi, kita pacaran, nih,"
"Sekarang dunia sudah terbalik, ya pak,"
"Maksudmu?"
"Cewek yang datang melamar cowok, kalau dulu mana boleh begitu," ujar Airin dan mereka berdua pun kembali tertawa.
Tawa lepas Alvian terdengar jelas di telinga kedua orang tuanya. Dan itu tawa pertama kalinya setelah 3 bulan ini Alvian duduk di kursi roda.
"Lihatlah! Airin mampu membuat Alvian tertawa, berbeda dengan Amira, yang selalu membuat anak kita marah-marah," ucap Tania membuat sang suami spontan menautkan kedua alisnya.
"Apa mama yakin? Akan menerima Airin menjadi menantu kita, sementara gadis itu mantan narapidana," tambah Reyhan.
"Mantankan, lagi pula gadis itu bukan penjahat, meski ia masuk kedalam penjara,"
"Tapi Alvian itu polisi mah, apa kata dunia jika dia menikahi mantan narapidana dan kita. Kita berdua bekerja di bidang "Hukum" masa punya menantu mantan tahanan,"
"Alvian bukan polisi, dia hanya pernah jadi polisi, dan sama dengan Airin, dia hanya pernah menjadi narapidana, gadis itu sudah bebas, lantas apa salahnya mereka di satukan, anak kita mencintai dia pah," jelas Tania dengan mata yang berkaca-kaca.
Bukan tanpa alasan Tania ingin Alvian dan Airin menikah, wanita paruh baya itu berharap jika Airin bisa menjadi alasan agar anaknya kembali bersemangat dan tersenyum, sebab di keadaan Alvian saat ini, dia butuh seseorang untuk terus ada di sampingnya, sementara Tania dan Reyhan tak bisa memberikan itu untuk anaknya karena keduanya sama-sama sibuk bekerja.
"Lalu, bagaimana dengan keluarga Amira? Kita sudah berjanji akan menikahkan gadis itu dengan Alvian," tukas Reyhan pula.
"Kita bisa membatalkannya, sebelum mereka menikah.. lagi pula, mama meragukan kesetiaan Amira. Apakah dia bisa mencintai anak kita sepenuhnya,"
"Tapi mah, tidak semudah itu."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku takut, hubungan persahabatanku dengan Yuda, berselisih paham dan hubungan pertemanan yang sudah lama, bisa-bisa hancur."
"Lebih baik, papa tidak berteman lagi dengan Wijaya Bratayuda daripada anakku yang hancur karena keegoisan, papa,"
Kesal Tania luar bisa, sikap keras suaminya benar-benar membuatnya geram.
"Bagaimana bisa, papa lebih takut jika persahabatanya hancur daripada kebahagiaan anaknya," grutu Tania seraya melangkah menjauhi keberadaan Reyhan
"Haaaah.... hadirnya Airin benar-benar mempersulit,"
Reyhan pun berdecak kesal dengan sikap sang istri, yang kini sudah berlalu dari hadapanya.
Ck
Dengan rasa kesal yang sangat luar biasa, pria paruh baya itu menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Om," sapa Airin yang sudah keluar dari kamar anaknya.
"Hm," hanya itu yang keluar dari bibir Reyhan saat melihat Airin.
Penjelasan sang istri tadi tak membuat pria paruh baya itu bersikap ramah kepada gadis yang di cintai anaknya.
"Rin, ayo ikut tante sebentar!" ajak Tania seraya membawa baju di tanganya.
"Baik,"
Airin pun berjalan, mengikuti langkah wanita paruh baya yang tak lain, mama dari Alvian, sikap ramah Tania, membuat Airin sedikit nyaman.
"Ini...!"
Tania memberikan baju gaun kepada gadis cantik yang kini bersamanya.
"Apa ini, tante?"
"Baju. Mandilah dan gunakan baju itu!"
"Haaah,"
Dengan sedikit gugup Airin pun mengambil baju yang berada di tangan Tania dan segera menuruti apa yang di perintahkan wanita paruh baya itu padanya.
"Rin, baju-bajumu sudah ada di dalam kamar dan di sebelah sana! Mulai hari ini menjadi kamarmu!" Tania menunjuk sebuah ruangan yang bersebelahan dengan kamar Alvian.
"Ba_baik, tante," jawab Airin gugup.
Gadis itu berjalan pelan memasuki kamar yang sudah di sediakan untuknya. Airin tak menyangka jika dia akan di terima untuk tinggal di rumah Alvian, tak terasa airmata membasahi wajah cantiknya, karena rasa haru dan bahagia kini benar-benar menyelimuti dirinya.
Sebuah kesabaran, pasti akan mendapatkan hasilnya.
.
.
.
JANGAN LUPA BAHAGIA UNTUK SEMUA.
Yuk kenalan lebih dekat😁, buat kalian yang punya IG yuk merapat ke @shanty_fadillah123 atau FB Shanty Fadillah❤.
Terima kasih
__ADS_1