Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bertemu


__ADS_3

🕊Selamat Membaca🕊


Seiring berjalananya waktu, berlalunya hari demi hari, Alvian bisa menata hati lebih baik lagi; setelah kehilangan Toni sahabatnya. Pria muda itu, sudah membantu pihak kepolisian untuk melumpukan beberapa orang yang berniat meledakan Bom di berbagai tempat


"Awas kau..!" salah seseorang yang tertangkap menunjuk wajah Alvian penuh benci.


Berkali-kali Alvian mendapatkan ancaman, tapi pria itu tak gentar untuk melumpuhkan aksi kejahatan, yang meresahkan banyak orang lain.


"Al, apa sebaiknya, kau kembali lagi bertugas di kepolisian?" Egi memastikan, sikap anak muda yang selalu membantu untuk melumpuhkan beberapa tindak kejahatan, membantu pihak polisi memecahkan banyak kasus meski ia belum kembali bertugas di kepolisian lagi.


"Maaf pak, untuk saat ini, aku belum bisa. Karena aku sudah berjanji pada istriku, akan kembali bertugas setelah dia melahirkan nanti," tolak Alvian lembut.


Egi, hanya menghela nafas berat, meski ia berharap Alvian akan kembali, tapi ia tetap menghargai setiap keputusan yang Alvian ambil.


"Baik pak, aku permisi dulu. Katakan apapun, jika kalian membutuhkanku, aku akan siap membantu semampuku!" tegas Alvian meyakinkan, ia segera melangkah pergi setelah mendapat anggukan setujuh dari Egi.


Alvian berjalan pelan, menyusuri setiap sudut ruangan, ia menolah ke kanan dan ke kiri, karena ia sungguh rindu untuk kembali bertugas di kantor ini. Tapi apa mau dikata, Airin belum memberikan izin padanya, terlebih kini ia sendiri tengah sibuk pula mengurus perusahaan, sebab Ridho belum bisa sepenuhnya kembali bekerja setelah kepergian sang anak tercinta, Toni yang juga sahabat baik Alvian.


"Mas, kapan pulang?" tanya Airin dari sebrang panggilan telpon.


"Sekitar 1 jam lagi Rin, aku mau singgah ke makam Toni dulu. Kamu sudah pulang atau masih di rumah mama'mu?"


"Masih di rumah mama, mas. Oh iya, nanti aku mampir ya ke makam Toni juga, biar aku pulang sama kamu,"


"Terus, siapa yang antar kamu ke sini?"


"Kak Rio,"


"Baiklah, tapi kamu harus hati-hati ya! Karena bagaimana pun, Rio itu menyukaimu,"


"Siap pak bos," jawab si cantìk bercanda.


Setelah itu, Alvian pun melajukan mobil menuju makam sahabatnya, dengan membawa sebuket bunga di tanganya.


"Selamat siang Ton," sapanya setelah tiba di sana.


Alvian menggunkan kaca mata hitam, duduk tepat di samping makam Toni, panasnya terik matahari, tak menyurutkan niatnya, berutung si kaca mata hitam, mampu melindungi matanya dari sinar sang surya.


"Hai...," seseorang menepuk pelan pundak Alvian, yang spontan membuat si tampan cukup terkejut.


"Dipta," pria tampan itu menatap bahagia sosok anak muda yang kini berdiri tepat di hadapanya.


"Bang Al, apa kabar?"


"Baik, kau sendiri apa kabar?"


"Aku berduka bang, karena baru tahu jika bang Toni sudah tiada."

__ADS_1


"Hmm, kedua orang tuamu, sengaja tak memberitahu, karena kau baru saja pergi ke luar negri, untuk menempuh pendidikan,"


"Tapi, cepat atau lambat, aku akan tau jika abangku sudah tiada,"


"Lantas, bagaimana kau bisa tau, jika Toni ternyata sudah pergi?"


"Dari status, salah satu teman bang Toni dari kepolisian. Setelah aku mengetahui kebenaranya, aku langsung pulang," jelas Dipta dengan tetes air mata yang seketika saja tumpah.


Ya, Dipta adalah adik kandung Toni satu-satunya, ia diminta oleh Toni untuk menempuh pendidikan di luar negri, agar jauh dari beberapa teman sekampusnya dulu. Sebab teman-teman Dipta itu, membawa dampak buruk untuk Ditpa sendiri.


"Kau anak orang yang tidak punya, jadi jangan kau gunakan uang untuk main wanita," itulah nasehat Toni yang paling Dipta ingat.


Setelah menceritakan keterkejutanya kepada Alvian, Dipta segera melepas rasa rindu dan bersalahnya di atas pusara Toni.


"Bang, kenapa secepat ini kau pergi? Padahal aku belum menjdi adik yang kau banggakan, bahkan selama ini, aku selalu mengecewakanmu," tangis Dipta di penuhi air mata penyesalan, sebab selama sang abang hidup, Dipta lebih sering membuat Toni kecewa dan marah.


"Perbaiki sikapmu, jadilah orang baik, tuntutlah ilmu sebenar mungkin, maka kau akan sukses. Lalu... bahagiakan kedua orang tuamu! Dengan begitu, Toni pasti akan bangga padamu," Alvian berusaha menasehati Dipta.


"Baik bang, maafkan aku! Karena dulu sempat membuatmu celaka,"


"Tak masalah, lupakan masa lulu, dan berubahlah menjadi pribadi yang lebih baik lagi!"


"Siap...!"


Alvian dan Dipta berdoa di atas pusara Toni, agar segala urusanya di atas sana di permudahkan, dan Toni di berikan tempat terbaik di sisi sang pencipta.


"Iya, kenapa?"


"Bolehkah aku minta antarkan abang pulang? Karena dari bandara aku langsung menuju ke sini," harap Dipta seketika.


"Boleh, tapi tunggu istri abang dulu,"


"Owh, bang Al sudah menikah, ya?"


"Sudah dan dia sedang hamil 5 bulan sebentar lagi masuk 6 bulan," jelas Alvian kemudian.


Dipta pun saling bertukar cerita, mengungkapkan rasa kecewa atas sikap kedua orang tuanya, dan meluapkan semua rasa bersalahnya, karena selama ini selalu membuat sang abang kecewa.


"Mas,"


Airin tiba, ia segera menghampiri Alvian yang tampak berteduh di sebuah pohon, bersama seseorang.


"Rin," si tampan tersenyum ke arah sang istri.


Namun, entah mengapa tatapan Airin menajam ke arah Dipta, pria yang berdiri di samping sang suami.


"Airin," lirih Dìpta dalam hati, seraya kedua tangan menutup mulutnya seketia.

__ADS_1


"Dip, kenalkan, ini Airin istriku!"


Dipta mengulurkan tangan, hingga ia dan Airin bersalaman dengan sangat gemetaran. Kedua mata saling tatap penuh arti, Dìpta menatap Airin dengan semua rasa bersalahnya, sementara Airin menatap Ditpa dengan begitu benci, bahkan sikap aneh keduanya sungguh membuat Alvian berdecak heran.


"Apa kalian, saling mengenal sebelumnya?"


"Ti_tidak," jawab Airin gugup.


Si tampan diam sejenak, ada yang tak beres dari sikap Airin dan Dipta.


"Kalau begitu, mari kita pulang!" ajak si tampan kemudian.


"Maaf bang, aku nanti saja pulangnya," tolak Dipta tiba-tiba.


"Lho, kenapa? Katanya tadi mau di antarkan pulang?" Alvian semakin berdecak heran.


"Nanti saja bang, aku mau melepas rindu dulu," anak muda itu mencari alasan.


"Baiklah,"


Akhirnya Alvian dan Airin pulang berdua saja, bahkan si cantik memilih untuk diam saja, pertemuanya dengan Dipta seolah membuka luka lama, betapa ia membenci pria itu.


"Rin, ada apa?"


"Hm mas, Dipta itu temanmu ya?"


"Dia adik kandung Toni,"


"Haaah....."


Tentu saja, Airin terkejut luar biasa mendengarnya, ia tak menyangkan jika pria sebang... sat Ditpa, adalah adik dari pria sebaik Toni.


"Astaga,"


Airin menyentuh dadanya yang berdetak lebih cepat, jantungnya memompa tak biasa, kala mengingat wajah Dipta... Dipta adalah pria yang pernah mengajak Airin tidur berdua dan menganggap si cantik wanita murahan. Tepat di saat Airin keluar dari penjara, saat itu Dipta sempat memaksa ia untuk melayani nafsu be_jadnya.


"Andai Alvian tau?" lirih Airin dalam hati.


.


.


.


.


Nah lho☺.

__ADS_1


🕊Makasih kakak-kakak baik, semoga tetap betah ya. Jangan lupa bahagia buat semua🕊


__ADS_2