
Takdir adalah hal yang paling tak pernah kita ketahui. Jika hari ini kita masih bisa menikmati apapun yang kita punya, tapi esok hari, kita tidak pernah tahu, apakah hal itu bisa kita nikmati lagi. Sama halnya dengan apa yang terjadi pada Airin saat ini, sebab hari-hari kemarin ia masih menikmati apapun yang Airin punya namun kini ini ia harus kehilangan itu semua bahkan hak bebasnya.
"Rin," Panggil Alvian lembut ia segera memberikan satu kotak nasi goreng kepada Airin yang baru saja dibelinya.
"Terima kasih," jawab Airin lembut ia segera mengambil nasi goreng yang Alvian beli untuknya.
"Harganya 50 ribu Rin, jangan lupa di ingat, nanti bayar ya!" canda Alvian.
"Ih mahal banget sih, padahal cuma nasi goreng pakai telur, masa iya sampai 50 ribu," Airin menatap Alvian heran.
"Sekalian ongkos sama bensinnya dihitung juga, jadi totalnya segitu, itu udah murah loh," tambah ah Alvian diiringi tawa sejadi-jadinya.
"Dasar polisi gila, pelit pula! umpat Airin kesal.
"Ya udah... mau nggak nih?"
"Iya... iya mau. Catat aja oke! "jawab Airin pula lalu menyantap nasi goreng tersebut dengan lahapnya.
"Laper banget ya, Rin ?Jangan terburu-buru dong nanti kamu tersedak bahaya," nasehat Alvian seketika.
"Makanya kalau beliin makanan? jangan lupa sama minumannya,"
"Oke aku beliin ya, tapi nanti sekalian dihitung berapa harganya, plus nasi goreng tadi," canda Alvian lagi.
"Yaelah Pak... pak, apa-apa kok dihitung pelit banget sih!" grutu Airin yang langsung di sambut tawa Alvian lagi.
Airin menatap kesal sikap pak polisi tampan yang kini berada di hadapanya, namun meski kesal ia tetap senang karena Alvian terlihat sangat memperdulikan dirinya.
"Terima kasih," lirih Airin dengan raut wajah serius.
"Sama-sama," jawab Alvian yang membalas dengan wajah serius juga.
Alvian segera berlalu dari hadapan Airin, sebab ia tak mungkin untuk terus berada di sana, karena hal itu pasti akan menjadi pembicaraan sesama rekan kerjanya di kepolisian.
"Al.. ada mamahmu di depan," tukas Toni pada temanya yang baru saja terlihat batang hidungnya.
"Masa sih? Dimana?"
"Di depan. Katanya ada hal penting yang perlu dia bicarakan denganmu," ujar Toni lagi.
Alvian pun segera berlalu dari hadapan temanya itu dan segera menemui sang mama. Ia menatap kelu wanita yang telah melahirkanya sekitar 24 tahun yang lalu.
"Mah,"
"Al, kau dimana tadi? Mama menelponmu berkali-kali,"
__ADS_1
"Maaf ma! Ada hal yang tengah ku lakukan," jawabnya datar. "Ada apa, mama mencariku malam-malam begini?"
"Mama ingin bertemu dengan Airin,"
"Mana boleh sekarang mah, ini bukan jam besuk, mama harus datang lagi besok pagi,"
"Gitu ya." Si mama sedikit kecewa. "Oh iya, Al, apa kau belum pulang?"
"Pulang mah, sebentar lagi. Apa mama mau menunggu?"
"Mama pulang dulu saja ya. Karena mama bawa mobil sendiri," jelas si mama pula.
"Baik mah, hati-hati ya di jalan!"
Wanita paruh baya itu, pun segera berlalu meski sebanarnya ada hal yang perlu ia tanyakan langsung kepada Airin.
"Bagaimana bisa? Orang tuanya tak perduli sama sekali?" batin wanita bernama Tania tersebut, meski sudah memiliki anak, namun Tania tetap terlihat cantik dan mempesona.
Tania adalah nama sang mama, yang hampir 10 tahun ini bekerja sebagai pengacara. Wanita paruh baya itu memang sudah menginginkan anaknya menjadi polisi sejak Alvian lahir, hal itu bukan tanpa alasan, sebab dulu kedua orang tuanya yakni kakek dan nenek Alvian meninggal karena di habisi nyawanya oleh seseorang. Namun orang tersebut sampai hari ini masih bebas dan bisa pergi kemana-mana.
"Haaaah," emosi Tania kala mengingat hal buruk tersebut.
Wanita paruh baya itu selalu berharap jika Alvian bisa membantu siapapun yang butuh keadilan, itulah sebabnya ia membantu anaknya untuk meringankan beban yang di tanggung Airin.
Alvian kini melajukan mobilnya untuk segera pulang ke rumah, namun di tengah perjalanan ia melihat Dini dan Nino tengah menikmati indahnya bintang malam di sebuah tempat yang tak jauh dari Alvian melajukan mobilnya. Polisi muda itu menggeleng kelu melihat mereka berdua masih bisa tertawa, sementara Airin harus menikmati malam-malam panjang di dalam jeruji besi.
"Ehem," dehem Alvian yang membuat Dini dan Nino terkejut luar biasa.
"Anda?!" Nino menatap heran ke arah Alvian yang secara tiba-tiba ada di antara ia dan Dini.
"Maaf mas Nino! Menggangu santai malam anda. Saya kebetulan melihat kau ada di sini dan aku sengaja berhenti. Karena ada hal yang perlu ku tanyakan padamu," ujar Alvian dengan senyum penuh arti.
"Apa?" tegas Nino penasaran.
"Katakan! Karena aku ingin tahu juga," titah Dini pula.
"Hemm, baiklah,"
Alvian pun melipat kedua tanganya lalu duduk tepat menghadap keduanya. Polisi muda itu mengatakan satu hal rahasia besar Nino yang di simpan rapat-rapat, namun akhir-akhir ini Alvian bisa mengetahui, rahasia besar yang Nino sembunyikan tersebut.
"Haaah.. dari mana anda tau?" Nino terkejut luar biasa, prihal rahasia yang Nino sembunyikan.
"Aku polisi, dan dengan sekali gerak saja semua rahasia besarmu itu bisa dengan mudah ku hancurkan," ujar Alvian tanpa ragu membuat Nino tersenyum kelu
"Bagaimana, ini?" Dini pun ikut khawatir sebab polisi di hadapanya kini sudah tau sesuatu yang memang sangat rapat di simpan oleh Nino dan ia sendiri baru tahu akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Hmmmm....!" Alvian pun segera berdiri dan menjauhi keberadaan mereka berdua.
"Pak tunggu!" Nino menghentikan langkah polisi muda yang baru saja membuatnya gemetar, sebab Alvian seolah memberi ancaman kepadanya setelah polisi tersebut memaparkan semua rahasia besar dalam hidupnya.
"Kenapa? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Begini pak,"
"Jangan panggil aku, pak!"
"Lalu?"
"Namaku, Alvian," jelasnya.
"Oke, Al." Nino mengerutkan wajahnya lalu kembali menatap lekat wajah Alvian yang juga tengah menatapnya. "Begini Al, kalau boleh tau, apa yang harus ku lakukan? Agar kau tak membongkar rahasiaku?" tanya Nino gemetaran.
"Hmmmm... yakin kau bisa memenuhinya?"
"Yakin," jawabnya datar.
"Baiklah," Alvian tersenyum penuh makna ke arah Nino yang menunggu jawabanya.
"Katakan!"
"Aku ingin kau mencabut tuntutanmu terhadap, Airin!"
"Haaaah!"
"Iya, agar dia tak terlalu lama mendekam dalam penjara,"
"Tapi dia memang bersalah, jadi sepantasnya mendapatkan, hukuman,"
"Lalu bagaimana dengan dirimu? Yang justru merusak generasi anak-anak bangsa," todong Alvian tanpa ragu.
Nino hanya mampu membisu, kini ia menatap Dini sendu, seolah menginginkan wanita itu memberi masukan untuknya.
"Din?"
Dini mengangguk seolah mengisyaratkan, agar Nino menyetujui persyaratan yang Alvian ajukan.
"Bagaimana?!" todong Alvian lagi.
"Baiklah, aku setujuh,"
Alvian pun tersenyum puas, setelah mendapatkan jawaban dari Nino. Polisi tampan itu pun segera berlalu dari hadapan keduanya dengan hati dan perasaan yang cukup bahagia.
__ADS_1