
🕊Selamat Membaca🕊
Airin diam sejenak, ia melangkah pelan saat seseorang pria yang sangat ia rindukan, berdiri tepat di gerbang pintu rumahnya. Wanita cantik itu tersenyum kala sang kakak menatapnya sendu.
"Rin,"
"Kak, apa kabar?" tanyanya gugup "Ayo, masuk!" ajaknya kemudian.
"Tidak di sini saja, kakak senang bisa bertemu denganmu lagi,"
"Hmmm, memang kenapa? Apa selama ini kakak tak punya niat untuk bertemu denganku,"
"Bukan begitu, Rin,"
Rio menceritakan alasana, kenapa ia tak bisa bertemu Airin selama ini, pria itu hanya bisa menunduk sedih, menyesali sikapnya yang justru menuruti sikap dan keinginan sang papa.
"Emm," Airin membuang nafas pelan, sebenarnya ia biasa saja akan cerita yang di sampaikan kakaknya. Ia tahu, jika sang papa pasti akan mati-matian untuk melarang Rio untuk menemuinya.
"Masuk ke dalam saja! Bukankah lebih nyaman bercerita di dalam rumah," ujar Alvian tiba-tiba, yang seketika membuat Rio bertanya-tanya, siapa dirinya.
"Rin, siapa?"
"Masuklah dulu kak, biar aku perkenalkan, kepada kakak, siapa dia sebenarnya," tegas Airin namun sorot matanya menatap wajah tampan Alvian.
Ketiganya kini sudah berada di dalam rumah, bahkan Alvian dan Rio pun saling berkenalan.
"Su_suami," gugup Rio bercampur terkejut, saat mendengar bahwa Alvian adalah suami Airin. "Ka_kapan kalian menikah?"
"1 minggu yang lalu, bahkan mama dan papa pun hadir di hari penikahaanku,:
"Kau, 1 minggu yang lalu menikah,"
"Iya," Alvian menegaskan.
Meski pun cukup terkejut, Rio tetap senang melihat sang adik sudah memiliki pasangan, bahkan Rio menggingat, siapa Alvian sebenarnya.
"Maaf, bukankah anda seorang polisi?"
"Dulu, tapi sekarang tidak lagi,"
"Benarkah?"
"Apakah anda tidak melihat, bahwa saya duduk di kursi roda?"
"Ohh, iya.. maaf!" pintanya.
Alvian, Airin dan Rio, kini saling bercanda ria, bahkan Airin melepaskan rasa rindunya kepada sang kakak.
"Andai, 1 minggu yang lalu, ikut mama dan papa datang ke pesta, pasti... aku sudah bertemu denganmu, Rin,"
"Tidak masalah kak, yang terpenting kita sudah betemu dan bertatap muka lagi," tambah si cantik tulus.
Sejenak Rio memandangi Alvian mulai dari atas hingga ke bawah, pria itu seolah mengingat sesuatu.
"Apakah, selain menjadi polisi? Kau juga seorang pengusaha?"
__ADS_1
"Ti_tidak," jawab Alvian gugup. "Ada apa?" si tampan penasaran.
"Ohh maaf, mungkin aku salah mendengar, sebab ada beberapa rekan kerjaku, berpindah ke sebuah perusahaan yang belum lama ini berdiri.. Pak Ridho adalah Manager di sana, tapi ada orang yang bilang, pemilik asli perusahaan tersebut bernama Alvian," ungkap Rio tanpa ragu.
"Kacauuu... untuk saat ini, Rio belum boleh tahu, bahwa memang aku, yang memiliki perusahaan tersebut, karena aku belum menghancukan perusahaan Wijaya Bratayuda," lirih si tampan dalam hati.
Dengan banyaknya penjelasan, Alvian meyakinkan Rio bahwa ia bukan pemilik perusahaan tersebut, meski sebenarnya Rio sendiri belum mempercayai penjelasan yang di sampaikan oleh suami adiknya itu.
"Kakak, nama "Alvian" itu pasti banyak di atas muka bumi ini... maka tak mungkin jika Alvian pemilik perusahaan yang kakak katakan tadi. Kalau boleh tau, kenapa dengan perusahaan itu?" Airin justru bertanya.
"Begini Rin, perusahaan papa, kini di ambang kehancuran, sebab papa memiliki hutang yang sangat besar terhadap perusahaan baru tersebut, bahkan di pastikan, papa tak akan sanggup membayarnya," jelas Rio kemudian.
"Benarkah?" Airin sedikit terkejut sementara Alvian ikut pura-pura terkejut.
"Bagaimana bisa, orang sekaya papamu itu, bangkrut?"
"Iya Al, karena dalam beberapa bulan ini, semua rekan kerja di kantor berpindah ke perusahaan tetangga, hingga bangkrut pun kini sudah di depan mata,"
"Wwoow, keren," cetus Airin seketika.
"Apanya yang keren, Rin?"
"Tadinya, aku yang berniat akan menghancurkan perusahaan si sombong itu, tapi nyatanya, tanpa aku harus bersusah payah, Tuhan sudah mengirimkan, malaikat-malaikatnya untuk menghancurkan, papa," jujur si cantik tentu membuat si kakak terdiam.
Dendam dan sakit hati sang adik, menjadikan Airin tak perduli sedikitpun, bahwa keluargaanya kini dalam kehancuran.
"Tidak ada alasan untuk aku perduli, karena nyatanya, papa dan mamalah yang membuat rasa benci ini tumbuh di hatiku,"
Mendengar penuturan sang istri, Alvian tersenyum puas... bahkan satu kali tepuk saja, sudah di pastikan keluarga Yuda akan jatuh miskin.
"Al, titip adiku ya... semoga kalian akan menjadi keluarga yang amanah dan berjodoh sampai surga!" titah Rio tulus.
"Tentu.. aku pasti akan menjaga adikmu, bahkan aku rela melakukan apapun demi dia," tegas si tampan tanpa ragu.
Kini Rio sudah melangkah pergi, menjauhi rumah dimana sang adik tinggal, setidaknya Rio bisa tersenyum bahagia, karena ia bisa menemui Airin kapan saja. Bahkan si tampan Alvian, memberi izin, agar Rio untuk menginap di rumahnya.
"Hmmm, tak ku duga, jika sebelumnya papa menjodohkan Alvian dengan Amira, tapi nyatanya jodoh Alvian adalah Airin... Cinta, memang tak bisa di duga, jodoh dan takdir memang rahasia sang pencipta," batin Rio lirih seraya melangkah pergi.
Sementara Airin kini mendudukan tubuhnya di sofa, wanita itu menarik nafas pelan, sebab kini ia tengah berpikir keras.
"Apa yang kau pikirkan, Rin?"
"Siapa ya, pemilik perusahaan itu, kenapa dia bisa semudah itu meminjamkan uang ke papa, dengan jumlah yang sangat fantastis," ujar Airin membuat sang suami tersenyum penuh arti.
"Tugasmu bukan memikirkan mereka, Rin, tapi memikirkan diriku," canda Alvian pada istrinya yang berusaha merubah suasana menjadi sedikit cair, hingga istrinya tak lagi memikirkan, prihal siapa pemilik perusahaan yang telah menghancurkan perusahaan sang papa, karena nyatanya, pemiliknya adalah orang yang kini berada di hadapan Airin.
"Memang kau butuh apa, Al? Apa kau mau makan, atau minum jus buah?"
"Tidak, tapi aku......" Alvian tersenyum seraya mengedipkan matanya.
"Kamu butuh...... apa, Al?"
Alvian menarik tangan sang istri hingga tubuhnya kini saling mendekap, keduanya saling tatap seolah mengatakan. "Aku Cinta Padamu".
"Ka_u, mau apa?"
__ADS_1
Alvian tetap diam, ia tak mengatakan apapun, tapi tanganya menarik tubuh si cantik hingga Airin tak mampu bergerak sedikit pun.
"Rin, aku mau dirimu?"
"Jangan gila Al! Masa mau colek-colekan, di siang bolong,"
"Gapapa, seru tau,"
"Masa sih?" Airin menautkan kedua alisanya.
"Iya, dannnn kata orang... kalau kita kuda-kudaan di siang bolong, nanti anaknya pasti perempuan..,"
"Ayooo kita coba!" Airin bersemangat.
"Eeeh," si tampan mengerutkan wajahnya sebab sang istri kini jutru lebih bersemangat. "Mari kita buktikan, kau atau aku yang lebih hebat,"
"Kamu nantingin aku, ya?"
"Iya dong," jawab Alvian seraya mencubit pelan pipi sang istri.
"Baiklah,"
Airin pun segera meminta Alvian untuk melepaskan dekapanya.
"Eeeh, Rin, hati-hati!"
Si tampan berdecak heran sebab Airin kini mendorong kursi rodanya dengan tergesa-gesa.
"Ini hampir sore Al, bukan siang lagi, jadi kita harus terburu-buru, sebelum terlambat! Karena lewat 1 menit saja, nanti anaknya gak jadi cewek dong." Jujur Airin penuh harap dengan senyum yang tersungging dari wajah cantiknya.
"Haaaah, astaga.... gak gitu juga kali, Rin, rumusnya! Mau siang, sore, malam, atau pun pagi, semuakan tergantung Tuhan, yang kasih,"
"Heleh.... kan, tadi kamu sendiri yang bilang, harus siang-siang, biar dapat anak perempuan,"
"Ya Tuhan......,"
Alvian menepuk jidatnya sendiri, saat sang istri menggebu-gebu, untuk melakukan hubungan di siang hari demi mendapatkan anak perempuan.
"Kan kamu yang bilang,"
"I_yaaa, iya,"
.
.
.
.
.
SEMOGA SELALU BAHAGIA, MAAF YA, KALAU JARANG BALES KOMENTAR🤗❤.
🕊Terima Kasih🕊
__ADS_1