Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 42 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌹Selamat Membaca🌹


Menikah bukan tentang, siapa cepat dia dapat. Melainkan siapa yang siap dalam segi mental, finansial dan tanggung jawab.


Setidaknya kata-kata itulah yang Cia ucapkan kepada Angga, kala pria ini bertanya. Kenapa ia mau menikah dengan Arfi padahal ia sedang kuliah.


"Pak Arfi itu dewasa, otomatis dia sudah siap menikah dan Pak Arfi juga kaya raya, secara finansial, hidupku juga akan terpenuhi."


"Heran saya, kenapa cewek sering banget mikir kalau pria yang sudah cukup usia pasti siap menikah. Nggak semua orang kayak gitu kali, ada loh yang nikah karena terpaksa." Angga tak kalah mengutarakan pendapatnya.


"Kamu mau nakutin aku?" Cia menatap Angga sinis.


"Tentu aja nggak, tapi ya gitulah. Setiap manusia di kasih otak buat mikir dan di kasih perasaan biar peka. Jadi kamu bisa rasain, Pak Arfi tulus apa nggak ke kamu."


"Oke." jawabnya singkat. Cia mendadak gusar dan mengutuki Angga yang menurutnya telat berbicara seperti ini, sebab seharusnya Angga berkata demi kian sebelum ia dan Arfi menikah.


Keduanya kini sudah tiba di rumah sakit. Angga dan Cia langsung masuk ke dalam ruangan dan keduanya mendapati Sisi atau pun Arfi sibuk memainkan posel masing-masing.


"Kakak seharusnya istirahat, bukan malah main handphone begini."


"Kakak, bosen dan belum mengantuk juga, jadi main ponsel lebih baik."


"Pak Arfi dan Kak Sisi nggak saling berbicara apa gimana?" telisik Cia penasaran; ia menatap sang suami dan sang Kakak dalam-dalam.


Baik Sisi atau pun Arfi kini saling berpandangan. Dan Angga ya mengetahui hanya bisa menghela napas kesal.


"Pak Arfi kan orangnya nggak punya perasaan. Mana mau ngajak Kakakmu berbicara otomatis gengsi dong dia." ujar Angga mengada-ada.


Meski terkesan menyebalkan, karena perkataan Angga tampak memojokkan Arfi. Setidaknya hal itu membuat Cia percaya. Karena Cia merasa suaminya tidak suka banyak bicara dengan siapapun, jadi ia berpikir sangat wajar jika Arfi dan Sisi tidak saling menyapa. Padahal pikirannya salah besar.


.


.


.


***


Pagi menyapa, sinar matahari sudah tampak menyinari bumi. Saat ini Sisi sudah izinkan pulang karena nyatanya ia memang sudah baik-baik saja. Penderita asma hanya merasa lemah saat napasnya sedang sesak saja.


"Aku di antar Angga saja!"


"Naik mobil sama kita aja Kak!" ajak Cia.


"Nggak mau,"


Cia pun akhirnya membiarkan, Sisi pulang bersama Angga. Sedangkan Arfi sendiri berdecak sebal dalam hati, ia selalu merasa cemburu, jika Angga berdekatan dengan mantan istrinya itu.

__ADS_1


"Kamu mau langsung pulang atau mau sarapan di luar dulu?" tanya Arfi setelah keduanya sudah di dalam mobil.


"Terserah Pak Arfi aja." jawabnya tak semangat.


"Kamu kenapa?"


"Nggak apa-apa." mood Cia mendadak rusak nyatanya ia terbayang saat Angga menggenggam tangan Sisi tadi. "Ihh, aku kenapa sih?" Cia bertanya pada dirinya sendiri.


Arfi sendiri tidak perduli, mau seperti apa sikap Cia padanya, ia benar-benar masa bodoh. Lagi pula sampai detik ini, posisi Cia di hatinya masih sepuluh persen saja.


"Jangan panggil saya 'Pak'?"


"Terus maunya di panggil apa?" kini Cia pull menatap wajah Arfi.


"Panggil saya 'Kakak' saja, karena saya merasa belum terlalu tua!"


Sumpah demi apa, Cia ingin sekali tertawa, tapi ia merasa senang, sebab Arfi benar menganggapnya seorang istri.


"Kak Arfi, imut banget tau nggak sih?" soraknya senang, ia yang tadi tidak mood kini merasa sangat bahagia. "Kenapa nggak di panggil Mas Arfi aja!" Cia mengusulkan.


"Gak lah, semua orang di luar sana banyak yang memanggilku Mas atau Pak.. jadi kalau di panggil Kakak rasanya istimewa banget." Arfi terkesan curhat.


"I-iya deh, Kak Arfi." Cia secanggung ini memanggil Arfi dengan sebutan KAK.


Begitu pun Arfi sendiri, ia bernostalgia mengingat saat dulu Sisi memanggilnya dengan sebutan itu. Saat dimana Sisi memberi tahu, jika usianya tiga tahun jauh lebih muda.


"Ka-kak Arfi kenapa?" meski gugup bin gemetar Cia tetap bertanya sebab ia melihat Arfi tampak mendadak termenung. "Kalau Kak Arfi capek, sini biar aku yang kemudikan mobilnya!"


"Iya... karena orang bengong di larang mengemudi."


"Hehhe... maaf ya! Saya sangat lelah dan jika boleh saya ingin tidur sebentar."


"Bo-boleh."


Keduanya pun bertukar posisi, dan setelahnya Arfi benar-benar tertidur di samping Cia. Ia pun tersenyum simpul terlebih saat melihat Arfi tidur dengan sangat lelap. Tampak seperti bayi, imut dan lucu menurutnya.


.


.


***


Di tempatnya, Sisi yang pulang di hantarkan oleh Angga, meminta cowok itu untuk membantunya sejenak.


"Boleh, Mbak Sisi mau saya belikan sarapan apa?"


"Bubur saja. Terima kasih ya Ga, karena merepotkan kamu."

__ADS_1


"Tak masalah, saya sangat senang menolong orang lain!" Angga tersenyum sangat manis, Sisi terkesima melihatnya. Jika di lihat-lihat Angga memang lebih tampan di bandingkan Arfi.


Angga memacu motor untuk membelikan apa yang Sisi minta. Sementara Sisi segera masuk ke dalam rumah, wanita itu berhenti sejenak memperhatikan mobil yang Cia belikan untuknya. Entahlah sudah berapa banyak, Adik angkatnya itu mencukupi kebutuhan Sisi dan memberi banyak barang, bahkan kos-kostan yang ia tempati kini, sudah Cia bayar untuk satu tahun kedepan dan setiap bulan Cia juga mengirimnya uang sebanyak dua juta setengah. Tak akan terhitung jika di pikirkan.


Ck...


"Nah ketemu," Angga berdecak senang saat menemui Mamang penjual bubur ayam.


Untungnya yang membeli tidak terlalu ramai, setidaknya ia bisa lebih cepat kembali. Namun meski begitu Angga tetap merasa si Mamang bubur lumayan lambat melayani para pembeli.


"Saya bantu ya, mang. Karena saya harus cepet-cepet balik!" tawar Angga yang di sambut antusias dari si mamang.


Si mamang mengangguk bersama dengan senyumnya yang mengembang di pipi. "Kamu, kenapa mau buru-buru? Istri kamu ngidam ya?" basa basi penjual bubur ayam.


"Saya masih singel, jangankan istri... pacar aja saya belum punya." jawabnya jujur.


"Masa sih? Kamu ganteng banget loh, masa nggak punya pacar?"


"Ahh mang, jangan kepo! Kenapa? Buruan deh saya harus cepet pulang."


"Iya, iya."


Dengan senyum mengembang si mamang menyerahkan dua porsi bubur ayam yang sudah di bungkusnya.


"Makasih ya mang!"


Belum sempat ia melangkah, Angga di kejutkan dengan ke datangan kedua Adiknya. Aldi dan Ata memanyunkan bibir dan tampak kesal, mereka berdiri tepat di hadapan Angga sembari melipat angan.kepl perut.


"Kita berdua kelaparan. Bang Angga malah enak makan bubur," celetuk Ata seketika.


"Ya elaah Dek, ini tu bukan punya Abang, tapi punyanya Mbak Sisi."


"Haaah, janda kesayanganku itu. Sisi Kakaknya si Cia kan?" kini Aldi yang bersuara.


"Bilang apa tadi? Janda? Kamu suka sama Mbak Sisi?" Angga meninggikan suaranya tanpa perduli banyak yang memperhatikan.


"IYA." jawab Aldi tegas.


"Kamu masih kecil Dek, biar jandanya buat Kakak aja!" Ata tak mau kalah.


Seketika Angga langsung menatap nanar Aldi dan Ata. Dan memaki kedua Adiknya ini. "Hm, nggak ada yang boleh jatuh cinta, apa lagi ngejer janda! Kalian harus belajar yang bener biar otaknya waras. Paham?"


"Paham, Bang!"


.


.

__ADS_1


.


B E R S A M B U N G


__ADS_2