Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 51 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌹Selamat Membaca🌹


Hari-hari terus berganti, banyak hal yang terjadi dan banyak hal yang Cia selidiki. Seperti hari ini contohnya, Arfi memberi kabar jika ia pulang lambat karena ada pertemuan dengan rekan kerja, sementara ia melihat sang suami berada di rumah sakit dan menuju ke sebuah ruangan.


Cia sendiri datang ke rumah sakit ini untuk menjenguk sang Kakak yang kembali masuk rumah sakit karena asma akutnya kembali kambuh. Untuk datang ke menjenguk Sisi, Cia merasa tidak perlu pamit dulu dengan sang suami, sebab ia merasa semua prihal Sisi, Arfi tidak akan pernah marah.


Alhasil, hari ini, Cia mendapati kebohongan sang suami, ia berinisiatif menelepon Arfi dan mempertanyaakan prihal keberadaan.


"Kak Arfi dimana?"


"Saya masih di jalan. Ada apa Cia?" Arfi sedikit mengkerutkan dahi. Kala Cia tiba-tiba menghubunginya, sebab istrinya itu tak pernah sebawel ini apa lagi benar-benar memastikan keberadaanya.


"Nggak, aku cuma mau pesen sesuatu. Nanti tolong belikan aku buah Mangga yang kulitnya masih full hijau!" pinta Cia spontan supaya Arfi tak curiga.


Benar saja, setelah usai pembicaraanya melalui sambungan telepon. Cia tetap mengikuti langkah sang suami, Arfi benar-benar menuju ke ruangan dimana Sisi di rawat.


Jantung Cia berdegup hebat, pikiranya melayang kemana-manan, seolah akan ada kabar buruk yang ia dengar.


"Cia- ngapain kamu disini?"


"Nggak," Cia terkejut saat Angga menyapanya.


"Kamu nggak masuk?"


"Su-sudah." gugupnya


"Kalau sudah kenapa buahnya belum di tarok?" Angga melirik parsel buah yang Cia bawa.


"Hehe, lupa." Cia tertawa terpaksa. "Titip ya!" tambahnya lagi seraya menyerahkah parsel buah yang ia bawa. Setelah itu Cia pun bergegas melangkah pergi.


Angga di buat bingung atas sikap Cia baru saja, karena dari cara bicaranya saja, seolah tengah terjadi sesuatu pada wanita yang masih di sukainya itu. Tapi apa? Angga sendiri belum tahu.


Ck...


Setelah Cia berlalu, Angga langsung masuk ke ruangan dimana Sisi di rawat. Ia pun terkejut saat mendapati ada Arfi di sebelah Sisi, bahkan pria itu tampak mengetarkan genggaman di tangan sang mantan istri.


Sadar Angga datang, Arfi spontan melepas dan Sisi tersenyum tipis. Karena sejujurnya sejak tadi ia sudah meminta Arfi untuk pulang dan Sisi juga tak menyukai sikap Arfi yang berlebihan menurutnya. Karena Sisi tidak mau mengkhianati sang Adik meskipun dalam hati kecilnya ia memang masih menaruh rasa. Hal yang membuat Sisi secinta itu kepada Arfi karena mantan suaminya itu cinta pertama. Klise memang tapi begitulah kenyataanya.


"Ini ada parsel buah!" Angga meletakan di atas meja.


Sisi memasamkan wajah sebab Angga sangat berlebihan sampai membawakanya dua parsel buah. "Banyak banget, mending kamu bawa pulang satu, buat Ata dan Aldi!" seru Sisi seketika.


"Iya, kamu kalau belum gajian katanya nggak punya uang. Terus kenapa kamu hambur-hamburin buat beli buah sebanyak ini?" kini Arfi yang berbicara.

__ADS_1


"Tapi ini bukan dari saya semua." Angga berkata tegas. "Yang ini dari Cia dan yang ini baru deh aku yang beli," ujarnya santai.


"HAAAH!!" Sisi dan Arfi sama terkejutnya kala Angga menyebutkan nama Cia.


"Sekarang mana Cianya?" Arfi penasaran


"Pulang." jawab Angga santuy.


"Tapi Cia nggak ada masuk jenguk Sisi."


"Nahh lo, ada apa dengan Cia?" Angga menebak jika Cia melihat kemesraan antara Arfi dan Sisi tadi. "Waaah, bakal ada perang dunia nih kayaknya." ucap Angga dalam hati.


"Kamu bertemu Cia dimana?" Sisi pun sama kagetnya.


"Di depan pintu ruangan ini, saya kira di sudah masuk."


"ASTAGA!" Arfi spontan berucap demi kian. Ia langsung beranjak dan pergi dan meminta Angga untuk menjaga Sisi.


.


.


.


Sementara Cia yang kini berada di jalan, tak fokus sama sekali saat mengemudi mobil. Banyak hal yang berkecamuk dalam pikiranya dan ia tak menyangka jika Arfi akan berbohong.


DAAAN... SSSSTTTT.....


Hampir saja Cia menabrak seseorang, baruntung ia bisa menghentikan mobil tepat waktu sebelum mobilnya menyentuh si pengendara motor.


"Woooy, cari mati ya! Bawa mobil sembarangan, untung gue kagak mati anjir!" omel seseorang itu dan meminta Cia turun dari mobil.


Dan betapa terkejutnya Cia, kala orang yang hampir ia tabrak adalah Ata. Adik kedua dari Angga.


"Cia- kok lu bawa mobilnya nggak hati-hati? Lu kenapa sih?'


Karena belum Ata menyelesaikan ucapanya, Cia sudah lebih dulu menangis tersedu-sedu lalu tanpa aba-aba wanita itu memeluk tubuhnya sedemi kian erat


"Lu, ke-kenapa?" mendadak Ata menjadi gugup.


"Biarin gue peluk lu bentar ya, tolong jangan di lepas!"


Ata menggangguk cepat, ia dengan ragu-ragu membelai pelan rambut Kakak tingkat di kampusnya ini. Dari tangisnya saja, Ata paham jika Cia sedang kecewa.

__ADS_1


"Gue sedih, bu nuh diri dosa nggak sih?" rancau Cia mengada-ada.


"Huus, nggak boleh gitu! Kasian anak dalam kandungan lu, kalau lu mati.'


Benar, usia kandungan Cia kini sudah hampir memasuki enam bulan. Dan semakin hari perutnya semakin membuncit.


"Lu juga bentar lagi wisuda'kan. Sayang loh, udah bertahun-tahun kuliah pas mau lulus, eh lu malah mati!"


Ata menyampaikan nasehat sedemikian jenakanya. Tapi bisa menyentuh batin dan perasan Cia, karena memang benar, jika ia mati cepat pasti banyak sekali kerugianya.


Hm!


Cia masih erat memeluk tubuh Ata. Sementara Ata sendiri mendadak gugup karena ada Arfi yang berdiri tepat di hadapanya atau berdiri di belakang Cia yang kini masih erat mendekap tubuhnya.


"Cia,"


Suara pelan itu sukses membuat Cia spontan melepaskan dekapanya. Ia spontan menoleh kebelakang dan mendapati Arfi yang memang benar-benar berdiri di hadapanya.


"Kok, Kak Arfi disini? Kenapa nggak di rumah sakit aja," ujarnya dengan air mata yang berderai kian deras dan bahu tergetar hebat.


"Ayo pulang!" ajaknya lembut, Arfi malas menjawab pertanyaan Cia baru saja.


"Pulang aja sendiri, aku mau ikut Ata aja." Cia benar-benar nyeleneh, bahkan ucapanya sukses membuat Ata terkejut.


"Jangan buat saya marah! Ayo pulang!" meski sebal Arfi masih berucap selembut tadi.


"Nggak mau! Aku juga bisa marah bukan Kakak aja," celetuk Cia membuat Arfi menghela napas jengan.


"Beneran mau ikuf Ata?" sekali lagi Arfi bertanya.


Cia pun ragu-ragu menggeleng, dengan pelan ia berjalan dan kini berdiri tepat di hadapan Arfi.


"Ata saya pulang dulu!" pamit Arfi setelah itu menggenggam erat tangan Cia dan mengajak istrinya pulang.


"Jangan pegang tanganku! Aku bisa jalan sendiri." decaknya ketus.


Arfi menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. "Setelah sampai di rumah, banyak hal yang akan saya sampaikan."


Cia tak menjawab, ia diam benar-benar diam. Bahkan saat sampai di rumah pun Cia masih memilih diam.


.


.

__ADS_1


.


B E R S A M B U N G


__ADS_2