Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 14 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Berbicara tentang Cia, semua orang mengenalnya sebagai gadis ceria. Suka melakukan banyak hal dan yang jelas, Cia di kenal sangat ramah, meski sesekali bersikap menyebalkan.


"Ngapain di sini?"


Suara itu sukses membuat Cia terkejut, ia membalik tubuh dan mendapati Angga berdiri di belakangnya.


"Nggak ngapa-ngapain, cuma buat ini doang," gadis itu menunjukan sebuah lukisan yang tidak lebih bagus dari anak SD.


"Burung. Kamu suka burung, ya?" tanya Angga lagi, ia tidak tahu jika selama ini Cia menyukai hewan bernama burung itu.


"Iya." jawab Cia singkat.


"Kenapa?"


"Kepo!"


Tak lagi bertanya, Angga hanya mendengus sebal. Ia tak lagi mau tau saat ini. Memaksa Sisi bercerita, ia rasa lebih sulit dari pada memaksa makan anak TK.


"Mau tau, nggak?" Cia malah balik bertanya.


"Terserah lu, cerita silahlah, kagak cerita ya bodo amat."


Cia tertawa pelan, tak di sangka Angga rupanya bisa marah juga. Padahal selama ini cowok itu seakan tak perduli, meski di caci maki, Angga akan tetap mendekati. Tapi kenapa sekarang berubah? Setidaknya tiba-tiba saja pertanyaan itu melintas dalam pikiran.


"Sebenarnya, sejak kelas lima Sekolah Dasar, aku bercita-cita menjadi BURUNG, terdengar aneh memang, tapi sangat ku mimpi-mimpikan,"


"Haaah?" Angga menggeleng pelan. "Kenapa?" tanyanya kemudian. "Pasti ada alasanya, kan!" kali ini suara Angga sedikit menekan.


"Iya."


"Apa?" sahut Angga lagi.


Terlihat sekali, Cia yang di hadapan Angga saat ini berbeda tak seperti biasanya. Dia tampak sedih dan murung, tak cerita apa lagi tertawa, yang ia nampakan hanya wajah sendu. "Burung itu bisa terbang, bebas dan lepas, seakan tanpa beban. Aku ingin seperti mereka, bisa pergi kemana saja,"


Kali ini Angga justru menunjukan senyuman di hadapan Cia. Dari cerita baru saja, Angga bisa menangkap sisi lain dari gadis yang ia suka. Harapan sederhana tapi bermakna. "Sejak kecil, kamu pasti banyak masalah, ya?"


Cia menatap Angga tak percaya. "Kok tau, sih?"


"Tau dong, karena Adik bungsu ku, juga ingin menjadi burung, seperti apa yang kamu harapkan."

__ADS_1


"Ah, iya kah?" Cia tertunduk malu. "Sepertinya menjadi burung sangat menyenangkan. Aku ingin lari dari tempat ini sejauh mungkin, meninggalkan banyak beban dan banyak pertanyaan."


"Kenapa kamu berpikir, jika burung hidupnya bahagia?"


"Lihatlah, setiap hari mereka selalu berkicau ria dan terlihat sangat bahagia."


"Kita sebagai manusia yang di ciptakan sangat sempurna. Kenapa iri dengan hidup burung? Karena aku sangat yakin, sampai detik ini tidak ada manusia yang mengerti, seperti apa hidup burung yang sebenarnya."


Tak mau percaya, nyatanya ini memang Angga yang berbicara. Terdengar klise tapi cukup menenangkan dan masuk akal. "Ya udah deh, besok-besok aku mau kenalan sedekat mungkin dengan bangsa burung. Kepo banget, sama hidup mereka."


"Buhahahaha, boleh-boleh. Semoga berhasil ya!" Angga tertawa sejadi-jadinya tapi sedetik kemudian ia berusaha menghentikan, karena Cia tersenyum sinis ke arahnya. "Hehehe, maaf! Bercanda," ucapnya kemudian. "Gini ya, ini aku kasih tahu hal kecil dari kehidupan burung. Mereka itu selalu hidup dalam ancaman, rumahnya kadang tidak nyaman. Masih terbang tiba-tiba di tembak mati. Terus punya rumah di pohon.... kadang pohonya di tebang. Yang lebih sedih lagi, saat mereka bertelur dan menetas, anak-anaknya masih sangat bayi belum bisa terbang. Tiba-tiba hutan tempat mereka tinggal kebakaran. Apa yang akan sang burung lakukan? Jadi hidupnya juga belum tentu aman kan?"


Diam, Cia benar-benar diam. Bahkan menatap Angga saja dia sangat malu.


"Cia, hidup ini semua tergantung kita. Syukuri apapun yang sekarang kamu miliki! Emmmh, maaf ya, aku sok bijak, semoga semua masalahmu dapat terselesaikan dengan aman!"


"Terima kasih," hanya itu jawaban Cia, karena ia tak mampu berkata-kata.


"Sini deh liat orang ganteng di hadapan kamu sekarang!" Angga coba mencairkan suasanama.


"Dih... narsis. Ganteng apanya coba?"


"Kata temen-temen di sekolahku dulu, aku ganteng banget loh."


Entah mengapa, detik ini rasanya sangat bahagia. Sifat Cia yang mendadak hangat membuat Angga tak bisa berkata-kata. Kecuali memuji kecantikan Cia di dalam hati.


"Btw, makasih ya, nasehatnya!" ujar Cia tulus.


"Sama-sama. Hari ini aku kasih kamu nasehat gratis, karena besok-besoknya lagi harus bayar perkata."


"Aaa elaaah, medit banget sih lu!" bahasa alay Cia keluar. Angga pun kembali tertawa sejadi-jadinya


Saat Angga dan Cia sedang asik mengobor untuk menghabiskan jam istirahat. Keduanya di kejutkan oleh sikap Sisi yang pergi dengan sangat buru-buru.


"Kakak kamu itu. Kenapa?"


"Nggak tau,"


"Kejar sana! Takutnya Kakakmu sedih karena nggak di terima kerja, sama Pak Arfi."


"Ehh, bisa jadi,"

__ADS_1


Dengan jurus kecepatan kilat, Cia melesat untuk mendekat. Memastikan Sisi yang tampak sedih, setelah keluar dari ruang kerja Pak Arfi.


"Kakak kenapa?" selidik Cia penasaran.


"Nggak apa-apa. Kamu kerja sana, kenapa malah ngejer aku, sih?"


"Ini jam istirahat, sengaja nunggu Kakak keluar dari ruangan Pak Arfi, mau ajak Kak Sisi makan siang bareng."


"Kakak mau pulang, kepala Kakak sedikit sakit. Kamu makan bareng Angga aja, ya!!"


Cia tercekat, tatapanya mendadak lekat. Ada yang tak aman dari raut wajah Kakaknya. Sisi tampak seperti orang yang baru saja menangis. Hal itu membuat Cia penasaran dan ingin tahu.


"Apa, Pak Arfi mengucapkan kata-kata kasar ke Kakak?"


Sisi menggeleng.


"Terus, Kak Sisi kenapa? Kok nangis?"


"Kakak nggak nangis, Ciaa... tapi sakit kepala."


Sisi berjalan menjauh dari sang Adik, sementara Cia masih mematung tak mengerti. Ini kali pertama, wanita itu bersikap ketus padanya. Dan ini kali pertama, Sisi menolak keras ajakanya. Apa yang terjadi? Cia tak mengerti.


Sementara dari kejauhan, ada Arfi yang memandangi percakapan yang terjadi antara Cia dan Sisi. Jelas sekali, mantan istrinya itu tidak baik-baik saja, setelah tadi mereka tak sengaja bertemu.


"Cia, tolong masuk ke ruangan, saya!" Arfi memanggil gadis itu dan menjadi pusat perhatian banyak karyawan.


"Calon nyonya Arfi mau lewat. Minggir!" celetuk Cia bersikap jemawa. Sontak membuat mereka semua menunjukan ekspresi ingin muntah. "Biasa aja dong, nggak seneng banget liat aku bahagia!" tambahnya lagi setelah itu berlari kecil masuk ke dalam ruang kerja Arfi.


Di dalam sana, Arfi mengatur napas baik-baik agar tampak biasa saja dan seakan tidak terjadi apa-apa.


"Ada apa, Pak?" Setelah masuk, Cia langsung bertanya, tanpa basa basi sama sekali.


"Berikan no ponsel, Kakakmu! Saya lupa memintanya tadi," pintanya dengan gaya bicara sombong.


"Oke, bentar."


Cia memang tak pernah memiliki pikiran negatif apa lagi curiga. Seperti siang ini misalnya. Tiba-tiba Arfi meminta no hp Sisi dan ia langsung memberi tanpa kepo sama sekali.


.


.

__ADS_1


.


B E R S A M B U N G


__ADS_2