Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Gagal Bin Kesal


__ADS_3

Perhatian: Ini agak dewasa ya, tapi kagak vull_gar kok, jadi bacanya sedikit bijaksana. Oh iya.. mohon maaf lahir dan batin nih, andai karyaku tak sesaui dengan apa yang kakak-kakak semua harapkan😊❤. Authornya hanya orang biasa yang tak luput dari kesalahan, karena bukan sang pencipta yang memiliki kesempurnaan😁❤.


🕊Selamat Membaca🕊


Airin segera mendekati sang suami, lalu memberitahu Alvian, bahwa tadi sang mama menelponya di iringi tangisan.


"Lho.. kenapa?" Alvian berdecak heran.


"Mamamu mengira, kau hilang Al,"


"Haaah,"


Alvian terperanjat, ia menarik tangan Airin lalu mengajak si cantik untuk segera pulang ke rumah. Sementara Rio yang sejak tadi berada di sana, menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tersenyum simpul melihat sikap Airin dan Alvian tadi.


***


Sampailah keduanya di rumah, Airin dan Alvian membawa mobil yang berbeda, maka dari itu si cantik lebih dulu masuk kedalam rumah.


"Mama... papa...,"


Dengan cepat Airin mendekati Tania, yang masih berliang air mata, dengan Reyhan yang berada di sampingnya, berusaha menenangkan sang istri.


"Kami sudah lapor polisi, Rin... sebentar lagi mereka akan datang kesini, tapi... kata Toni, masalah ini belum bisa di proses karena belum satu kali, duapulah empat jam," jelas Tania dengan tersendat-sendat karena beriringan dengan isak tangis yang tak bisa ia berhentikan.


"Papa... sudah meminta, beberapa orang-orang kepercayaan papa juga, untuk ikut mencari Alvian," tambah Reyhan pula.


Belum sempat Airin berbicara dan ingin memberitahu, kemana Alvian tadi pergi. Kedua orang tua suaminya itu, sudah berbicara panjang lebar lebih dulu. Jadi ia memilih untuk membiarkan mereka mengatakan apapun, yang ingin Reyhan dan Tania sampaikan.


"Hmmm....., mah, pah,"


Suara itu terdengar khawatir, dengan langkah tergesa-gesa, Alvian datang dan tiba, dengan membawa semua rasa bersalahnya.


"Al.......!!!"


Kedua orang tuanya, terbelalak dan terkejut luar biasa, seketika melihat Alvian hadir di hadapan mereka, tanpa kursi roda bahkan terlihat baik-baik saja.


"Ba_bagimana? Kau bisa, berdiri?" gugup Reyhan dan Tania yang bertanya secara bersamaan.


"Tadi... aku mau memberitahu, mama dan papa, bahwa Alvian baik-baik saja. Tapi kalian sudah berbicara panjang lebar," Airin tersenyum.


"Heeih,"


Si mama dan si papa berdiri, lalu mendekati keberadaan Alvian yang berdiri tegak di samping Airin. Keduanya memastikan jika itu memanglah Alvian.


"Maaf, mah, jika aku membuat mama terkejut dan takut!" pinta Alvian.


"Ke papa, ga minta maaf, Al?" ceplos si papa dengan raut wajah masamnya.


"Iya, maaf juga pah,"


Alvian pun menceritakan, apa yang sebenarnya terjadi dan di rencanakan olehnya, hingga si mama dan si papa, mendengus lalu membuang nafas kasar.


"Jadi... kau sudah bisa berjalan?"


"Iya, dari sebelum aku menikahi Airin,"


"Ya Tuhaaan.... Alvian! Kau tau, mama dan papa sebingung itu, karena takut ada yang melukaimu," kesal Tania namun bercampur bahagia.


Nyatanya, sehatnya Alvian memang sudah Tania dan Reyhan harapkan, maka dari itu keduanya sangat bahagia mendengar kenyataan yang ada, walaupun harus di buat ketar ketir dulu, oleh anak semata wayangnya itu.


"Maaf, mah, pah! Karena Alvian melakukan hal tersebut, semua karena aku," Airin berucap tulus.


"Tak masalah, Rin... artinya, anak mama benar-benar mencintaimu, dan sembuhnya Alvian bisa jadi kado terindah dalam pernikahan kalian,"


"Iya mah,"


Airin sungguh terharu, karena ia mendapatkan balasan yang setimpal dari buah kesabaran yang selama ini Airin lakukan, mendapatkan suami yang tulus mencintai dan kejutaan yang sang suami beri.


Bahagia tak terkira, tak mampu keluarga kecil itu lukis lagi, Tania dan Reyhan begitu terharu saat melihat anaknya tak lagi lumpuh dan Airin sendiri, begitu antusiasnya, saat sang suami berdiri dengan sempurna.


"Kau.. benar-benar tampan. Aku, sedikit ngeri berdiri di sampingmu,"


"Hmmm.... apakah selama ini, aku tak tampan?"


"Ta_tampan, Al, tapi hari ini, kau lebih tampan lagi, sungguh kau sesempurna itu," ujar Airin.


"Kau juga cantik, Rin.. dan aku tahu, saat kau kuliah dulu, banyak orang yang menyukaimu,"

__ADS_1


Senyum mengembang kini menghias raut wajah keduanya, Airin dan Alvian bisa menikmati hari-hari bahagia, seperti pasangan baru lainya.


"Ajak bulan madu, Rin! Kan, dia sudah bisa gendong kamu," si papa menggoda.


"Boleh... mau bulan madu kemana?" Alvian justru bersemangat.


"Di rumah aja deh,"


"Gak seru tau, ke Malaysia mau gak?"


"Mau ngapain bulan madu di sana, gak ah,"


"Mau ketemu Upin Ipin, dan kawan-kawanya, seru nih, kalau bulan madu sama mereka,"


"Ngayalmu, itu lho, Al.. kok ada-ada aja," Airin menautkan kedua alisnya.


"Ya udah, papa kasih tiket ke Singapura gimana?" Reyhan ikut andil.


"Males.. gak mau aku ke sana, banyak singa, nanti bulan madu gagal, di gigit singa iya," Airin lagi-lagi menolak.


"Padahal seru lho.. kan sambil bulan madu, terus di sana sedang berlansung piala AFF...," tambah si papa, karena meski ia seorang jaksa, Reyhan salah satu pecinta sepak bola.


"Piala AFF, yang main Negara mana, pah?" nyatanya si tampan pun pecinta sepak bola.


"Besok, kalau gak salah, Indonesia Vs Kamboja," jawab Reyhan kemudian.


"Huuh, mantap ini, pah,"


Reyhan dan si anak kesayangan, justru seru membicarakan pertandingan sepak bola. Sementara Airin dan Tania menepuk jidatnya masing-masing.


"Mau bulan madu? Atau nonton bola, sih?" Airin berdecak kesal.


Mereka yang mendengar pun tertawa sejadi-jadinya, dengan sigap Alvian pun menarik tangan Airin lalu menggendong sang istri dan memapah si cantik masuk kedalam kamar.


***


Alvian pun membaringkan tubuh sang istri di atas ranjang, meski canggung, ia tetap merasa bahagia, karena ini pertama kalinya ia bisa menggendong tubuh sang istri tercinta.


"Al,"


"Terima kasih,"


"Untuk?"


"Segalanya. Karena kamu dan keluargamu, sudah mau menerimaku dengan sangat tulus,"


"Hmmmm....,"


Alvian tersenyum simpul, mendengar ucapan istrinya itu, sebenarnya ia ingin membuat sang istri lebih bahagia lagi, dengan mengajak Airin pergi kemanapun dia suka, namun kini segudang pekerjaan sudah berada di depan mata, Alvian harus mengerjakanya setuntas mungkin.


"Mandi dulu, yuk!" ajak si tampan.


"Mandi aja sendiri!"


"Hemmm, masa gak mau sama-sama? Kan, gak ada yang melarang,"


"Ihh geli,"


Airin menarik selimut lalu menutupi seluruh tubuhnya.


"Hayoooo, mikir apa, Rin?"


"Ga..., ihh," si cantik malu-malu, karena nyatanya ia tengah berpikir hal-hal yang di anggap dewasa.


Sedikit tertawa, Alvian segera menbaringkan tubuh di samping Airin, hal itu membuat si cantik spontan beranjak dari tempat tidur.


"Hayoo, mau kemana?"


Alvian menarik tangan Airin lalu membawa istrinya itu dalam dekapan hangat tubuhnya.


Dan...


Belum Alvian beraksi, Airin sudah mendaratkan kecupan tepat di leher si tampan terlebih dahulu, yang seketika membuat sang suami terbelalak tak percaya.


"Hemmm,"


Alvian menggigit kecil bibirnya sendiri, lagi-lagi justru ia sendiri yang di buat tak berdaya oleh sikap istrinya.

__ADS_1


"Mau di sebelah mana lagi, pak?"


"Ap_apanya yang lagi?" gugup Alvian luar biasa.


"Emuuuuchnya?"


Goda Airin lalu mengedipkan mata, yang tentu membuat Alvian gemas di buatnya.


"Uhhhh....,"


Alvian membaringkan lagi tubuh sang istri, hingga kini ia yang berada di atas tubuh istrinya, namun sikap Alvian tak membuat Airin berontak sedikitpun.


"Kuat ya, Rin?"


"Ohh tentu,"


Menggeleng, Alvian benar-benar menggeleng karena sang istri justru terkesan menatang. Ia tanpa basa-basi memberikan serangang berkali-kali, yang membuat Airin bergidik ngeri.


"Buka, Rin!"


"Apa yang di buka?" Airin bersikap sok polos.


"Heleh,"


Si tampan pun segera melancarkan aksinya, ia menanggalkan, pakaian yang di gunakan Airin satu persatu.


Happp.. Ssstt..


Sedikit lagi, burung masa depan siap masuk kedalam sangkarnya, namun tiba-tiba saja ponsel milik Alvian pun berdering.


"Ah sial!" pria muda itu berdecak kesal. Ia pun bergerak sedikit, lalu meraih ponsel yang terletak di atas meja.


"Siapa Al?" Airin pun ikut penasaran, siapa yang menghubungi suaminya.


"Pak Ridho,"


Ya... benar saja, Ridho memberitahu, bahwa saat ini Yuda sudah berada di kantor, sebab sesuai janji yang Alvian perintahkan, bahwa Yuda harus menemuinya lagi sekitar jam 4 sore.


"Oh.. ok, aku ada tugas sebentar," jawab Alvian mencari alasan.


"Baik, aku akan meminta pak Yuda untuk menunggu,"


"Tak perlu, biarkan pak Yuda pulang saja dulu!"


"Siap pak,"


Alvian menghela nafas lega, akhirnya ia bisa melanjutkan aksinya, untuk melakukan pertempuran bersama sang istri.


Tapi.... Tok.. Tok... Tok...


"Ah, siapa lagi, sih?"


Dengan kesal yang amat luar biasa si tampan pun berteriak.


"Siapa?"


"Mama,"


"Ada apa, mah?"


"Ada Toni dan rekan-rekan kepolisian di depan," Tania memberi tahu,"


"Ahhhh, sial... gagal!"


Alvian segera beranjak lalu menggunakan baju dengan terburu-buru, sementara Airin tertawa terpingkal-pingkal melihat sang suami yang sangat kesal, karena gagal untuk melakukan pertempuran denganya sore ini.


.


.


.


Lagi-lagi! Jangan lupa bahagia buat semua."TERIMA KASIH"


Dan... nanti siang jam 12, Up lagi yak, semoga masih ada yang mau nunggu😭❤


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2