Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 6 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Sudah satu minggu lebih, Arfi menjadi pemimpin di perusahaanya sendiri. Setelah di pikir-pikir ia tak mendapatkan kesulitan sedikit pun mengatur semua karyawanya. Kecuali gadis bernama Cia itu. Meski pun beberapa hari ini, dia terlihat sedikit murung.


"Sisi-


Seketika, pandangan Arfi tertuju pada sosok yang berdiri di depan pintu. Wajahnya ayu dan senyumanya tak bisa ia lupa. Bergegas pria itu berlari untuk menghampiri, tapi Arfi hanya mendapati Cia berdiri seorang diri.


"Cia?" sapanya pelan. Tapi tatapan Arfi tak menentu, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok yang ia rindui selama ini. Tapi sayang, Arfi merasa tadi ia hanya berhalusinasi saja, mungkin karena terlalu rindu.


Pada kenyataanya ia tak salah melihat, bahwa apa yang Arfi lihat tadi memang benar sang mantan istri. Sisi mengantarkan Cia bekerja sampai depan pintu kantor. Sayangnya Arfi hanya menganggap ia berhalusinasi saja.


"Pak, kok bengong?"


Pertanyaan Cia membuyarkan lamunanya. Arfi gelagapan sendiri dan spontan memandang Cia dengan kesal.


"Ihhh Bapak kenapa, sih. Aneh banget?"


"Nggak usah kepo. Cepat kerja sana!" sergah Arfi tak main-main. Setelah itu ia berlalu dari hadapan Cia serta membawa rasa bingungnya sendiri.


Alicia masih terdiam, sikap si Pak Bos sungguh mengherankan. Tapi kesalnya setiap kali Cia bertanya, Arfi justru menganggap dia kepo dan ikut campur.


"Angga, ikut keruangan saya!" Arfi memanggil satpam termuda di kantor miliknya.


"Eh Ga, kok kamu di panggil? Jangan-jangan mau di pecat karena tadi kamu datang telat," Pak Suki menakut-nakuti.


"Iih si Bapak kok tega deh. Doakan jangan di pecat dong! Kasihan nasib Adik-adik saya."


"Iya... iya. Udah sana, temui Pak Arfi!"


Dengan langkah tergesa-gesa, Angga masuk ke dalam ruang kerja Arfi. Ia tersenyum ngeri kala bosnya itu manatapnya sangat tajam. Seolah Macan yang siap mencakar-cakar mangsanya.


"Pak Arfi manggil, Saya!" gugup Angga tak bisa terhindarkan.

__ADS_1


"Iya, ada hal yang perlu saya bicarakan."


"Wah, tolong jangan pecat saya dong Pak. Tadi pagi telat karena Adik saya demam, jadi sebelum berangkat saya mengurus dia dulu. Jangan pecat saya, Pak.. tolong!"


Arfi belum mengatakan apapun, tapi Angga sudah berbicara panjang bin lebar. Sikap si satpam membuat pria tampan itu tersenyum geli.


"Nyerocos aja bacotmu. Memang siapa yang mau pecat kamu, hah?"


"Eh... saya kira Bapak marah karena saya sering telat masuk kerja. Btw kalau bukan memecat, anda mau membicarakan apa dengan saya?" Angga berpikir ia sudah sangat sopan padahal tidak sama sekali, karena ia mendudukan tubuh di kursi tanpa di persilahkan oleh Arfi.


"Satpam kantor ku kok gini amat, ya?" lirih Arfi dalam hati, pelan-pelan ia mengelus dada, setelah itu baru kembali bersuara. "Jadi gini ya Angga, baru saja saya memperhatikan nilai yang ada di ijazah kelulusan sekolah kamu. Nilainya tinggi semua loh, artinya kamu anak pintar."


"Emang." spontan Angga yang langsung menutup mulut dengan telapak tangan. Sumpah demi apa, ia malu sekali.


"Dasar aneh." grutu Arfi lagi tapi ia tetap tersenyum semanis mungkin kepada Angga.


Tujuan Arfi memanggil Angga, karena merasa satpam termuda di kantornya ini, anak yang sangat cerdas. Ia berencana akan mengkuliahkan Angga dalam waktu dekat. Sayang sekali, jika anak sepintar dia tidak bisa mengenyam pendidikan dengan baik.


"Iya. Saya orang kaya, jadi bisalah mengkuliahkan kamu."


Ah. Meski ini bos satu rada-rada sombong bin kurang waras, tapi setidaknya Angga sangat bahagia karena nanti dia akan kuliah. Tak di sangka, Arfi adalah malaikat untuknya. Bos baru tapi sudah membuat Angga terharu.


"Eeh ada syaratnya. Kamu harus bekerja sebaik-baiknya di sini!"


"Siap Bos, laksanakan. Saya janji akan menjadi karyawan teladan."


"Bagus. Dan ada satu lagi, nanti malam saya berniat menginap di rumah kamu."


"Haaaaah? Apa? Saya nggak salah denger? Pak Arfi yakin mau nginep di rumah saya? Banyak nyamuk loh, ntar kulitnya bentol-bentol, saya nggak punya uang buat ganti rugi." crocos Angga yang justru membuat Arfi tertawa terbahak-bahak.


"Mulut kamu bisa diem nggak sih? Crewet banget!"


"Hehehe... moon maap, Pak!" anak itu malah tertawa juga.

__ADS_1


"Saya mau nginep di rumah kamu. Supaya Mami dan Papi mengira saya kencan sama cewek. Mereka ngebet pengen saya menikah lagi, tapi sampai hari ini... saya belum menemukan tambatan hati. Karena perasaan saya masih di isi pull nama mantan istri saya.'"


Cerita Arfi sukses membuat Angga mengerutkan dahi. Ia merasa, nasib bosnya apes sekali. "Memang istri anda kemana, Pak? Meninggal ya?" tebakan yang salah besar.


"Eeh jaga bacot kamu ya! Dia tidak meninggal tapi meninggalkan saya!"


"Waduh, kasihan sekali, Pak." Angga keceplosan lagi. Ia langsung menepuk mulutnya sendiri berkali-kali. "Maaf Pak!" pintanya penuh penyesalan.


Tapi Arfi tak menjawab, ia hanya menghela nalas pelan dan berpikir. Kenapa manusia-manusia di dalam kantor ini, tidak ada yang waras? Gila semua. Ia justru mempersilahkan Angga keluar dari ruanganya, setelah itu Arfi memilih merenungkan diri. Apakah nasibnya memang setragis itu?


.


.


Di luar sana, Angga meceritakan pada Pak Suki jika bos Arfi akan menginap di rumahnya, malam nanti.


"Haaah? Aku nggak salah denger' kan?" sahut Cia yang mendengarkan sekilas cerita Angga pada Pak Satpam paling tua di kantor ini. "Apa kamu bilang tadi, Pak Arfi mau nginep di rumahmu?"


"I-iya Mbak Cia, saya jadi bingung. Udah nggak punya uang terus ntar Pak Arfi mau saya masakin apa pas nginep. Pusing saya!"


Cia mengemebuangkan pipi setelah mendengar kejujuran Angga baru saja. "Ini uang, beliin Pak Arfi cilok aja, di jamin kenyang. Awas sampai Pak Arfi kelaparan di rumahmu, tak pites-pites kamu jadi debu!"


"Waduh; serem amat." Angga melirik uang lima puluh ribu yang Cia beri untuknya. "Ya elah, lima puluh ribu, Pak Arfi mana kenyang. Dasar Cia pelit!" umpat Angga berkali-kali.


"Udah Ga... syukuri berapapun uang yang kamu dapatkan. Sesuai perintah Mbak Cia, nanti malam bellin Pak Arfi Cilok aja. Mayan lima puluh ribu pasti kenyang!" Pak Suki menasehati.


"Okelah kalau begitu."


Sementara Cia sibuk menghubingi Sisi, ia berniat meminta Kakak angkatnya itu, menemaninya bertamu ke rumah Angga nanti malam. Bukan apa-apa, karena sebenarnya ia ingin sekali berduaan dengan Pak Arfi di malam hari. Pasti romantis, Cia akan mengajak bosnya itu melihat Bintang nanti di malam hari.


"Uhh so sweet'nya."


Belum kejadian, Cia sudah terbayang-bayang berduaan dengan duda muda yang tampanya tiada tara itu.

__ADS_1


__ADS_2