Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 2 IUMS : Kantor Baru


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Jam sembilan malam. Arfi baru saja tiba di rumah Mami dan Papi. Kedua orang tuanya itu menyambut kedatangan Arfi dengan sangat bahagia. Dua tahun tak bersua, tentu membuat mereka sangat merindu. Meski si anak datang sendiri, tanpa Arfa dan anak istrinya.


"Mi, Pi, selamat malam."


Tak ada kata yang Airin dan Alvian ucap, kecuali memeluk Arfi dengan sangat erat. Seakan takut anak itu pergi lagi.


"Sayang, kamu apa kabar? Semakin dewasa, kamu semakin tampan ya," si Papi mengacak-acak rambut anaknya.


"Iya dong. Anak Mami dan Papi mana ada yang gagal produksi. Pasti tampan dan rupawan," sahut Arfi bercanda.


Tiga jam lamanya. Arfi menghabiskan waktu untuk melepas rindu, bersama kedua orang tuanya. Kini ia memilih untuk mengistirahatkan tubuh di kamar.


Bruuuk!


Ia menjatuhkan tubuh lelah, seraya pelan-pelan menghirup udara. Kamar yang sudah dua tahun ia tinggalkan, masih rapih dan wangi. Mami dan si Bibi pasti membersihkanya setiap hari.


"Harum,"


Gumam Arfi lagi. Mana kala wangi bunga Lili, menyerbak keseluruh ruangan hingga terhirup oleh hidungnya perlahan.


"Bunga Lili, kesukaan Sisi,"


Arfi tak habis pikir, kenapa Mami tak mengganti aromanya. Mungkinkah Mami juga sama, belum bisa move on dari menantunya itu. Apakah Mami masih berharap Sisi kembali. Setidaknya itulah yang di pikirkan olehnya.


"Hmmm...!"


Sayup-sayup Arfi memejamkan mata. Ia perlu beristirahat cukup, karena esok ia harus memulai dan menata hari sebaik mungkin.


.


.


*** *** *** ***


Memiliki perusahaan sendiri, memanglah cita-cita dan mimpi Arfi. Kini ia mewujudkannya, setelah membeli perusahaan dari seseorang bernama Dana Setiawan. Perusahaan properti yang sangat Arfi dambakan. Ilmu dan pelajaran selama ikut Arfa di Jerman, kini akan Arfi gunakan sebaik mungkin.


"Itu siapa?" salah satu karyawan bertanya penuh semangat. Terlebih orang yang bersama bos mereka, terlihat sangat tampan nan menawan.

__ADS_1


"Selamat pagi semua. Perkenalkan ini Pak Arfi, beliau akan menggantikan posisi saya di sini. Dan besok Pak Arfi aksn mulai bekerja sama dengan kalian."


Arfi menggeleng pelan. Menurutnya Pak Dana tidak sopan, karena menyambutnya tanpa persiapan. Meski begitu ia tetap berusaha tersenyum ramah, kepada calon karyawanya.


"Mari Pak, saya tunjukan ruangan untuk anda!"


Pria tampan itu menurut saja, ia mengikuti langkah Pak Dana masuk ke dalam sebuah ruangan yang tampak sangat rapih dan nyaman. Sungguh kantor yang ia beli lebih mewah dari kantor milik sang Papi, yang telah di ambil alih Arfa sebelum pindah ke Jerman. Kini dengan bangga, Arfi memiliki perusaahan sendiri tanpa warisan dari Mami dan Papi.


"Pak Arfi saya ucapkan terima kasih, karena anda mau membeli Perusahaan saya dengan harga yang sudah di tentukan tanpa menawar sedikit pun." Pak Dana berucapa tulus.


"Sama-sama. Tapi saya berharap semua orang di kantor ini patuh pada peraturan yang akan saya buat nanti."


"Pasti, Pak..... mereka semua, dapat anda andalkan."


Hampir dua jam lebih, Arfi melihat-lihat isi kantor barunya di dampingi Pak Dana. Kini waktunya ia berpamitan pergi. Menurut Arfi, ia akan memperkenalkan diri sebagai pemilik perusahaan yang resmi, di esok hari.


Ck... Ssstt..


Arfi tak sengaja menabrak gadis ceroboh dan gegabah yang kini tersungkur tepat di hadapanya.


"Matamu ga guna ya! Kalau jalan liat-liat dulu!" Arfi mendadak emosi.


"Ehh anak kecil, harus kamu yang minta maaf!" Arfi berteriak lagi.


"Oke, saya minta maaf Om!"


"Am Om, am om... kapan saya menikah dengan tante'mu."


"Waduh galak amat sih, Om cakep."


Arfi mengerutkan dahi. Menghadapi anak labil di hadapanya kini, hanya akan membuang-buang tenaganya saja. Beruntung ada Pak Dana yang datang lalu menegur gadis muda yang kini berdiri di hadapanya.


"Papah, dia siapa sih? Udah salah, nyolot lagi!" gadis tersebut menunjuk kasar wajah Arfi.


"Enak saja. Kamu yang nggak hati-hati, kok nyalahin saya!" si tampan juga tak mau kalah.


"Pak Arfi, maafkan atas sikap tak sopan anak saya. Ini Alicia... dia yang saya minta magang di kantor ini!" Pak Dana menunduk lalu menyuruh anaknya untuk minta maaf.


"Lah.. dia siapa sih, Pah? Males banget, Cia minta maaf!" gadis itu mendengus kesal.

__ADS_1


"Cia, dia ini yang akan menggantikan posisi Papah. Beberapa jam yang lalu, beliu sudah resmi membeli kantor kita." jelas Pak Dana sontak membuat gadis bernama Cia itu menahan amarah.


"Papah apa-apaan sih? Kenapa jual perusahaan ini? Ini peninggalan Kakek dan Nenek untuk Papah teruskan."


"Cia, semua Papah lakukan demi Mamah. Karena hutang Papah sudah menumpuk untuk pengobatan Mama'mu, maka dari itu Papah menjual ia demi membayar hutang kita yang menumpuk. Lagi pula selama ini, kerjaanmu hanya menghambur-hamburkan uang saja. Mulai sekarang kamu harus bekerja dengan baik! Supaya Pak Arfi tidak memecatmu."


"Ogaaah!" tolak Cia ketus, ia pergi begitu saja dari hadapan Arfi dan sang Papah.


"Huuuh," Arfi mengelus dada, karena ia harus menyaksikan drama sebuah keluarga tepat di hadapanya.


"Maafkan anak saya, Pak Arfi!"


"Oh nggak masalah, maklum anak-anak!"


"Usianya sudah dua puluh tahun. Sebentar lagi akan lulus kuliah, Cia bukan anak-anak lagi. Jadi saya mohon Pak, didik anak saja agar tetep bekerja di sini dan jangan pecat dia!"


Arfi hanya menangguk-angguk saja, seolah mengiyakan seruan Pak Dana. Padahal dalam hati ia ngomel-ngomel sendiri. "Saya pemilik perusahan, bukan tukang mendidik anak orang." lirih Arfi penuh emosi, tapi ia tetap pura-pura tersenyum ke arah Pak Dana.


Setelah pria tua itu pergi. Arfi pun memilih untuk pergi juga. Sadar tadi ia, Pak Dana dan gadis bernama Cia itu menjadi pusat perhatian. Arfi memilih untuk segera enyah. Karena tahu, para karyawan itu, pasti tengah membicarakan apa yang terjadi tadi.


Belum benar-benar jadi pemilik sekaligus pemimpin. Arfi sudah di hadapan dengan drama perkantoran yang cukup membuat ia sakit kepala. Arfi sudah membayangkan setiap hari akan bertemu dengan gadis bernama Cia itu, pasti sangat menjengkelkan.


"Aduh... ngapain aku yang gak nyaman sih? Ini kantorku, jadi si Cia itu jangan berani-beraninya membantah perintahku nanti!" Arfi bermonolog sendiri. Ia melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam mobil.


Tapi seketika ia mendadak tercekat, karena baru saja ia melihat ada Sisi tak jauh dari tempat ia berdiri.


"Sisi... Sisi... !!"


Bak orang gila, Arfi berlari mengejar bayangan sang manta istrinya tadi. Hingga lelah berlari ia tak juga menemukan keberadaan Sisi.


"Sadar, Fi! Dia nggak mungkin di sini."


Padahal memang benar adanya. Sisi tadi sedang berjalan bersama Cia, menenangkan gadis yang di anggap Adik tersebut. Karena menangis sesenggukan bak orang hilang akal.


.


.


Hayoo, akankah Arfi dan Sisi segera berjumpa?

__ADS_1


L A N J U T......


__ADS_2