
ANTARA DENDAM DAN CINTA
Polisi Sang Penakluk Hati Season2
☡Selamat Membaca☡
Malam ini Arfa tidur di sofa yang berada di kamar kedua orang tuanya, ia berniat menemani mami dan papi, terlebih lagi kini ia tengah merasa sedikit gelisah.
"Fa, ada telpon untukmu,"
"Siapa, Mi?"
"Tidak ada nama penelponya,"
"Orang gila mana? Yang menghubungiku malam-malam begini," grutu Arfa lalu meraih ponsel yang berada di tangan sang mami.
Bagaimana Arfa tak heran, sebab saat ini jam menunjukan pukul 2 pagi, namun ia tak bepikir jika ada orang iseng yang sengaja menghubunginya.
"Haaah__!!"
Anak muda itu terperanjat, saat ada orang menelpon di no ponsel yang baru Arfa aktifkan siang tadi. Karena no tersebut ia gunakan hanya untuk menghubungi Tito.
"Dengan no ponsel ini, aku bisa melacak keberadaanmu, dan sebentar lagi, aku pasti akan tau, dimana kau tinggal," ucap orang itu dari sebrang panggilan telponya yang ternyata itu memanglah Tito.
"Lakukan saja, aku tidak takut!" Arfa terkesan menantang.
Sebenarnya hal yang paling Arfa takuti, bukanlah ancaman yang di lakukan Tito, tapi takut jika sang mami dan sang papi akan membenci dirinya, karena Arfa sudah berkali-kali mendapat larangan untuk membalas dendam.
"Ah sudahlah, apapun resikonya harus ku hadapi. Lagi pula aku sudah terlanjur, mundur tak mungkin tapi maju bisa jadi akan melukai." Bingungnya ia segera mematikan sambungan telpon secara sepihak.
Arfa kembali masuk ke dalam kamar, namun sampai pagi menyapa ia tak juga bisa menutup mata, pikiranya melayang kemana-mana.
"Fa, sarapan!' ajak Airin kepada anaknya.
Arfa menarik sudut bibir saat melihat ada Arfi di meja makan, duduk tepat di samping sang papi.
"Fi, kau sudah pulang?"
"Iya. Lagi pula, aku tak berniat melanjutkan kasus ini?"
"Kenapa?" Arfa penasaran.
"Tidak," jawabnya datar, Arfi menatap lekat wajah Arfa ia seolah mengetahui sesuatu tentang adiknya itu.
"Ih, kenapa sih? Kok melotot?" Arfa merespon tatapan Arfi.
"Gak... aku mau cerita? Kalau sekarang begal dan pencopet berkeliaran dimana, jadi kamu harus lebih hati-hati!"
__ADS_1
"Siap,"
"Bahkan tadi malam, kami sudah menangkap dua orang di antaranya, karena berusaha mencuri kaca sepion mobilku," jelasnya lagi yang langsung membuat Arfa terkejut.
"Haaaah, ka_kau serius menangkap mereka?" gugup Arfa.
"Iyalah, karena mereka sudah sangat meresahkan,"
Sejenak Arfa terdiam, ia tak melanjutkan aktifitas makanya, anak muda itu segera beranjak lalu melangkah pergi.
"Mau kemana, Fa?"
"Kuliah. Aku ada janji bertemu dosen jam 7 pagi," jawabnya tergesa-gesa.
Jujur saja, Arfi memang sudah memiliki pikiran buruk tentang Arfa, bahwa adiknya itu tak sepolos yang ia kira, namun berkali-kali ia curiga berkali-kali juga ia menepisnya, Arfi selalu berharap jika Arfa memang adiknya yang paling baik.
***
"Bos, gawat."
Lapor Afiz saat Arfa tiba di markas, ia bahkan tampak sangat panik dan takut.
"Bodoh___ sudah ku katakan! Jangan melakukan apapun dulu beberapa hari ini!" emosi Arfa tak bisa di pungkiri.
"Maaf bos! Kami melakukanya karena butuh makan, jika tidak mencuri kemana kami harus mencari makan?" ujar seseorang yang duduk di sudut ruangan.
"Tidak cukup bos, karena Dodi sakit dan hampir pingsan, jadi kami membawanya ke dokter. Namun biayanya cukup mahal," Afiz memberi tahu.
"Astaga_____ aku sudah bilang, jika uang kemarin kurang, kalian minta saja padaku!!" mata Arfa berkaca-kaca, ia mendekati Dodi yang tampak pucat.
"Kami, tidak ingin selalu menyusahkanmu bos. Kamu selalu mencukupi apapun kebutuhan kami," tunduk Afiz lagi.
Mereka semua tertunduk, saat melihat wajah Arfa memerah dan mata mulai berkaca-kaca, mereka tahu jika Arfa kini tengah emosi.
"Aaah_____!" decaknya kesal, tapi ia tak bisa marah karena tak mempunyai alasan untuk melakukan itu, sebab Arfa tahu sebenarnya mereka bukan orang-orang jahat namun terpaksa menjadi penjahat.
Anak-anak jalanan itu sudah kehilangan orang tua mereka, bahkan untuk makan saja susah, yang tentu saja membuat Arfa merasa iba, karena nyatanya mereka ingin mencari kerja yang halal, tapi karena mereka tak memiliki pendidikan, maka sungguh sulit mencari pekerjaan. Jadi berprofesi sebagai pencopet pun menjadi pilihan.
"Kamu harus kuliah yang sungguh-sungguh bos, biar bisa jadi orang kaya dan tak mengandalkan uang orang tuamu lagi! Jika kamu memiliki perusahaan sendiri nanti, kami pasti bisa bekerja di kantormu bos. Jadi apa saja boleh, yang penting halal. Sejujurnya kami sudah lelah menjadi pencuri," curhat Afiz mengungkapkan apa yang ia rasa sebenarnya.
Arfa terdiam, ia mengangguk pelan, alasan ia kembali bersemangat untuk kuliah, demi bisa menjadi orang sukses, karena saat ini ia mengandalkan uang pensiun sang papi, dan gaji bulan Arfi untuk hidup, sebab pemasukan keuangan keluarga Arfa tak sesetabil dulu, semenjak sang papi sakit dan opa, omanya meninggal dunia.
"Ini uang, bawalah Dodi ke rumah sakit, nanti jika kurang, aku bisa ambil uang di tabunganku!"
Arfa memberi banyak uang kepada Afiz, agar membawa anak buahnya ke rumah sakit, ia benar-benar memiliki hati yang tulus untuk membantu orang lain.
"Bos, bagaimana jika mereka menyebut namamu? Dan mengatakan jika bos Arfa juga ikut andil dari semua pencurian yang terjadi?"
__ADS_1
Afiz benar-benar khawatir, jika kedua orang temanya yang tertangkap akan menyeret nama Arfa.
"Semoga saja tidak, namun jika memang iya, akan kuhadapi dengan sedewasa mungkin," harap Arfa dengan senyum.
Dengan apa yang terjadi hari ini, Arfa berharap jika anak buahnya tak lagi akan menjadi pencuri, karena justru akan membahayakan mereka sendiri.
"Mami dan papiku memiliki tanah kosong di samping kampusku. Memang tidak luas, tapi bisa kalian gunakan untuk membuka usaha,"
"Eh... usaha apa, bos?"
"Stim kendaraan. Kalian bisa mencuci mobil dan motor orang yang mampir, nanti semua alat akan ku siapkan, tapi aku harap kalian berhenti dari pekerjaan haram ini!"
Afiz dan beberapa rekanya pun setujuh, mereka yakin, semangat dan keingian akan membuka jalan untuk mereka menjalani hidup dengan lebih baik lagi. Terlebih ada Arfa yang selalu siap membantu dan menolong mereka.
***
Setelah keluar dari markasnya, Arfa kini memacu mobilnya untuk menuju ke suatu tempat.
"Mang, teh dingin dan bakso tanpa mie, satu porsi ya!" pintanya pada si penjual. Karena kini Arfa memilih untuk makan siang di pedagan bakso yang ada di pinggir jalan.
10 menit kemudian, apa yang sudah Arfa pesan pun tersaji di hadapanya, dengan bermain posel ia menikmati suap demi suap, bakso lezat yang sungguh mengoyang lidah.
"Mas, kalau makan.... jangan sambil main handpone!"
"Kenapa, mang?"
"Nanti kenikmatanya berkurang," ujar si mamang di seratai candaan.
Arfa pun menuruti apa yang di ucapkan si penjual bakso tadi. Ia menikati suap demi suap seraya memandangi suasana di sekiar ia duduk kini.
Sssssttt... ck....
Tiba-tiba saja, ia tercengang, bahkan spontan menghentikan suap demi suapan'nya, Arfa terbelalak tak percaya melihat pemandangan yang sangat membuatnya marah.
"Arfi____ Nayla____!!"
Ya, Arfa melihat Nayla tengah makan berdua di sebuah Cafe terbuka, bersama Arfi suadara kembarnya sendiri.
.
.
.
.
TERIMA KASIH
__ADS_1