Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Di Rumah Sakit (Genting)


__ADS_3

🕊Selamat Membaca🕊


Dari belakang, tampak darah Alvian bercucuran. Airin terkena serangan panik, ia pun menutup luka di tubuh sang suami menggunakan jacket yang sejak tadi ia gunakan.


"Jangan pergi, Al!" bisik Airin pelan di telinga suaminya. "Aku belum siap, kehilanganmu," tambahnya lagi, seraya mendekap erat tubuh Alvian yang sudah tak berdaya, Airin merasakan tubuhnya gemetaran.


Sementara pihak kepolisian, segera menangkap orang yang telah meneror sekaligus melukai Alvian tadi, Si peneror pun segera di amankan oleh pihak berwajib.


"Kita harus segera ke rumah sakit!" ucap Reyhan penuh ke khawatiran, ia segera memapah tubuh Alvian dengan di bantu satpam rumah mereka.


Seperti orang linglung, Airin mengusap air mata yang membanjiri wajah cantiknya, dalam dekapan sang mama mertua, ia seolah meluapkan isak tangis yang tak bisa ia tahan


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, mereka semua diam tanpa kata, hanya Do'a dan tangis yang mengiringi perjalanan mereka.


"Ya Tuhan... aku mohon! Selamatkanlah Alvian!" pinta Airin lirih, ia terus berdoa agar suaminya selalu dalam lindungan sang pemilik nyawa. "Baru, beberapa hari ini, aku sungguh bahagia, karena kau sudah bisa berjalan, setelah sekian lama duduk di kursi roda, kini.. kenapa aku harus menyaksikan, kau terluka lagi, Al,' tangis Airin.


Kesedihan dan ketakutan, bukan hanya menyergap persaan Airin saja, tapi kedua orang tua Alvian pun, merasakan hal yang sama.


***


Setibanya di rumah sakit, Alvian segera mendapatkan penanganan, ia masuk ke ruang Unit Gawat Darurat, untuk memastikan keadaan Alvian saat ini.


1 jam kemudian, seorang dokter paruh baya, dengan pakaian serba putih menghampiri keberadaan keluarga Alvian.


"Saya ingin berbicara, dengan keluarga pasien," ucap si dokter yang sebagian rambutnya sudah memutih tersebut.


"Kami kedua orang tuanya, dan ini istri Alvian.. kalau boleh tahu, bagaimana keadaan anakku, Dok?" tanya si papa yang sudah tak sabar untuk mengetahui keadaan anaknya.


"Alvian harus segera melakukan oprasi kecil, sebab ia kehilangan banyak darah yang mengalir melalui bagian perutnya. Beruntung, kalian cepat membawa Alvian kesini, karena telat sebentar saja, akan fatal akibatnya, di karenakan kondisi luka di perut Alvian, cukup basar," jelas si dokter kemudian.


Airin dan kedua orang tua Alvian pun terkesiap, mereka tak menyangka jika kondisi Alvian separah itu.


"Dok... lakukan apapun yang terbaik, untuk menyelamatkan nyawanya!" pinta Airin sedikit kalut.


"Ya... tolong, selamatkan Alvian!" tambah kedua orang tua Alvian pula, si mama paling histeris saat menangis.


"Untuk melakukan tindakan oprasi, kami harus meminta persetujan kalian terlebih dahulu. Silahkan tanda tangan dan mengurus adimistrinya!" titah si dokter pula.

__ADS_1


Reyhan segera berdiri lalu mengurus semuanya, agar Alvian segera mendapatkan penanganan yang tepat. Setelah semua urusan selesai, Alvian di bawa masuk ke ruang oprasi. Sementara Airin, Reyhan dan Tania, mengikuti brankar yang membawa Alvian seraya terus-menerus melafalkan doa dari belakang, hingga pintu ruang oprasi pun di tutup.


Dalam keputusasaan, Airin duduk di ruang tunggu seraya sesekali menyeka air mata yang membasahi wajahnya. Ia menunggu lalu bedoa, dan seperti itulah yang Airin lakukan berkali-kali.


"Ya Tuhan.. izinkan Alvian hidup! Dia baru saja menikahiku. Apa kau tega, akan memisahkanya dariku?"


Berkali-kali Airin terus menangis, bahkan doa-doa yang sedikit aneh pun ia ucapkan.


"Bagimana dok?" Airin bersemangat setelah 2 jam berada di dalam ruang oprasi, si dokterpun akhirnya keluar juga.


"Syukurlah, oprasi berjalan lancar. Semoga esok Alvian sudah mulai sadar," jelas sang dokter dengan senyum penuh arti.


"Terima kasih, dok! Sudah memberikan yang terbaik untuk anak kami!" ucap Reyhan dan Tania tulus.


Si dokter membalasnya dengan senyuman, lalu menepuk pundak Reyhan. "Sudah, menjadi tugas seorang dokter, untuk melakukan yang terbaik," jawabnya lalu segera melangkah menjauhi keberadaan keduanya.


***


Pagi pun tiba, matahari nampak indah dan begitu cerah, namun tidak dengan kondisi Airin saat ini, karena nyatanya hingga pagi menyapa Alvian tak kunjung sadar juga.


"Rin," seseorang menepuk bahu si cantik.


"Aku mendengar kabar, bahwa Alvian hampir menjadi korban, pembunuhan,"


"Iya kak, tapi beruntung... nyawa Alvian masih bisa di selamatkan, meskipun sampai pagi ini, dia belum sadar juga,"


"Sabar, Rin! Semua pasti akan baik-baik saja, dan kakak akan selalu ada di sisimu sampai Alvian membuka mata," ucap Rio dengan serot mata yang menatap wajah Airin penuh arti.


DEG!


Tatapan itu bukan tatapan biasa, sepontan membuat Airin tak nyaman, sebagaimana yang selama ini ia rasa, biasanya Airin selalu bahagia saat berada di samping kakaknya. Tapi, entah mengapa tatapan itu seolah membuat Airin merasa sangatlah gelisah.


"Ada apa, dengan kak Rio? Kenapa, dia seolah menatapku bukan sebagai adik," lirih Airin dalam hati.


"Ohh iya, Rin.. siapa yang melakukan peneroran ini? Apa pelakukan sudah di tangkap?"


"Sudah kak... dia sudah di bawa ke kantor polisi. Dan Dini yang melakukan semua ini," jelas Airin lagi.

__ADS_1


"Haaaaah.. Dini? Seliangkuhan kekasihmu dulu?"


"Iya, Dini, wanita yang telah membuat hidupku kacau, sebelumnya. Tapi ternyata ia masih memiliki dendam pribadi, kepadaku dan juga Alvian, sebab Dini merasa, kami bahagia di atas penderitaanya."


"Lho, kok bisa?"


"Karena, dia membenci Alvian, sebab Alvianlah yang membuat Nino tertangkap, hingga Dini merasa hidupnya hancur tanpa Nino di sampingnya,"


"Astaga, bisa-bisanya dia memiliki dendam, padahal jelas-jelas dia yang mengibarkan bendera peperangan terlebih dulu, dengan cara merebut Nino darimu. Tapi setelah kau menemukan kebahagian bersama Alvian, dia justru terbakar api iri," cetus Rio tak mengerti, akan apa yang sudah memenuhi otak Dini.


"Ahhh sudahlah... yang terpenting dia sudah di amankan oleh, pihak kepolisian,"


Airin dan Rio berbicara hingga tak terasa jam sudah mendekati jam 9 pagi. Selama keduanya berbicara empat mata, Airin merasakan ada yang bebeda dari sikap kakaknya.


"Rin.... Alvian sudah di pindah ke ruang rawat inap, tolong kau temani ya! Karena, mama ada urusan sebentar." Seru Tania kepada menantunya namun tatapan tak suka, Tania tunjukan saat melihat wajah Rio, yang saat ini menggenggam erat tangan Airin.


"Ini, kakakku mah!" Airin mengenalkan.


"Oh, oke. Salam kenal," jawab Tania datar lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi kepada Rio.


Setelah itu, Airin pun masuk kedalam ruangan dimana Alvian di rawat. Sementara Rio sudah beranjak lalu segera pergi meninggalkan rumah sakit.


Airin mendudukan tubuhnya di kursi, ia meraih tangan sang suami, lalu mengecup punggung tangan Alvian dengan lembut.


"Hei bagun!" bisik si cantik pelan.


Tapi belum ada reaksi sama sekali, Alvian masih betah memejamkan matanya.


"Kau, pasti baik-baik saja," lirih Airin lagi lalu menatap sang suami penuh arti. "Tidurlah dulu, jika kau lelah, tapi bangun dan buka mata, setelah lelahmu itu sudah sirna!" tambah Airin lagi dengan semua harapan, agar Alvian segera sadar.


.


.


.


Makasih lagi, buat semua kakak-kakak baik, yang masih setia baca dua "A". Sampai jumpa di besok hari ya🤗❤.

__ADS_1


🕊Terima Kasih🕊


__ADS_2