Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 41 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌹Selamat Membaca🌹


Entah sudah kali keberapa, Sisi keluar masuk rumah sakit, hanya karena asma akut yang setia menemaninya sejak usia balita. Dan kini usianya menginjak dua puluh enam tahun, semakin hari rasa sakit itu justru kian bertambah.


"Gimana dok?"


"Ini siapanya kamu?" Dokter itu justru balik bertanya.


"Ka-kakak saya," Angga gugup menjawabnya.


"Baiklah. Sebagai Adik, seharusnya kamu paham apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan oleh Kakakmu. Dia memiliki riwayat asma parah, yang artinya tidak boleh terlalu lelah, di larang ke hujanan, jangan sampai kepanasan dan semua hal harus seteril, karena penderita asma tidak bisa terkena polosi terutama asap dan debu!" nasehat Dokter tersebut panjang lebar.


"Siap Dok, terima kasih."


"Besok pagi, Kakak sudah di izinkan pulang, dan saya berharap kamu bisa menjaga dia baik-baik!" tambahnya lagi. Setelahnya Dokter itu pun pergi dan menjauhi keberadaan Angga,


Sebenarnya Angga tahu, jika Sisi memiliki riwayat asma, tapi ia tak pernah sangka jika kondisinya seburuk ini. Setelah ia pahami, rupanya penderita asma karena keturunan tidak bisa di sembuhkan secara total. Itulah kini yang Sisi rasa, semakin hari ia semakin tidak bisa melakukan banyak hal.


~


Meski kesal, bukan bearti Angga egois untuk tak memberi tahu Arfi dan Cia prihal Sisi yang kini masuk rumah sakit.


DAN


Tiga puluh menit kemudian mereka pun tiba. Cia langsung mendekati sang Kakak, sementata Arfi berusaha menjaga diri, agar tak mendekati Sisi selama ada Cia di dalam ruangan ini.


Perlahan, Sisi pun membuka mata, ia menatap ke segala arah, lalu tersenyum miris mendapati Arfi dan Cia ada bersamanya kini.


"Kak- Kakak kenapa? Kok bisa sampai pingsan? Akhir-akhir ini Kak Sisi sering banget nggak sadarkan diri, pasti Kakak lelah atau ada yang di pikirin?" rentetan pertanyaan Cia menunjukan betapa sayangnya ia. Betapa khawatirnya Cia dan takut sang Kakak kenapa-kenapa.


"Kakak ga apa-apa Cia, btw kenapa kalian ada di sini? Kalian kan pengantin baru, harusnya ga boleh di luar dong," Sisi tetap saja, sangat bisa membuat siapapun yakin, jika ia bail-baik saja.

__ADS_1


Cia sendiri sudah terlalu sering mendapati sang Kakak yang terkadang pingsan mendadak, lalu masuk rumah sakit. Karena sudah paham bagaimana Sisi selama ini, yang akan sesak jika sedang kelelahan atau banyak pikiran.


"Cia, tolong temani Angga membali makanan. Kakakmu pasti belum makan. Biarkan saya yang menjaga dan nanti saya juga yang akan mengurus semua administrasi di rumah sakit ini."


Cia mengangguk patuh, ia memang tak pernah curiga kepada Arfi apa lagi Sisi. Tanpa berpikir negatif sedikit pun, kini ia dan Angga sudah melangkah pergi keluar. Jika Cia mempercayai Arfi tapi tidak dengan Angga, serius demi apapun, manusia yang paling ia benci saat ini adalah Arfi. Selain sudah merebut Cia, dia juga membuat Sisi patah dan akhirnya masuk rumah sakit.


.


.


"Ngapain di sini?" Sisi bersikap ketus.


"Nggak usah nyebelin deh, aku tahu kamu sakit gara-gara aku dan Cia menikah kan?"


"Diih, kepedean!"


Arfi menghela pelan. "Aku lebih mengenal kamu dari pada Cia, lagi pula aku benar-benar heran. Kamu yang maksa aku nikahin Cia, kamu juga yang patah dan akhirnya masuk rumah sakit begini."


"Aku harus apa, supaya kamu tidak patah?"


"Sayangi Cia, lindungi dia dan jaga dia!" permintaan Sisi masih sama.


"Selalu begitu dan terusss begitu. Cia sudah ku nikahi dan dia sudah menjadi istriku, otomatis aku akan menjaganya tanpa siapapun minta. Tapi biarkan aku menjaga dan melindungimu!" harap Arfi kemudian.


Sisi langsung membuang muka, ia kini tak mau menatap Arfi, mata pria itu selalu membuatnya terhipnotis, ia melihat ketulusan dan harapan besar dari sana. "Tolong lepaskan aku! Lepaskan dari semua belenggu cinta antara kita, tolong bebaskan aku! Karena aku ingin merelakanmu tanpa rasa sakit."


DEG!


Bak di hujam anak panah, tepat di bagian dada. Seperti itu rasa sakit di hati Arfi kini. Ia tidak menyangka, jika Sisi akan berkata seperti ini. "Aku udah turuti apa mau kamu dan kali ini aku tidak mau menurutinya lagi. Jangan larang aku untuk tetap cinta dan jangan pernah meminta aku untuk tidak memperhatikanmu!"


Sisi terdiam, ia mengela napas dalam-dalam, kali ini ia tidak bersuara lagi dan tidak ada sepatah kata pun yang ia ucap. Sedangkan Arfi menatap Sisi tanpa mau berpaling sebentar pun.

__ADS_1


"Hal yang paling konyol di atas bumi ini ialah, berpura-pura..! Pura-pura nggak cinta dan pura-pura nggak sakit. Hal seperti ini lebih di sebut GOBLOK dari pada Ihklas." ujar Arfi dengan rasa penuh emosi. Benar-benar emosi. "Andai aku belum berubah dan masih menjadi Arfi yang arogan seperti dulu, sudah sedari awal kita bertemu, kamu sudah ku paksa menikah denganku lagi."


"Syukurlah jika kamu sudah berubah." sahut Cia malah membuat Arfi kian emosi.


"Rasanya aku ingin menjadi Arfi yang dulu saja. Memaksamu dan membuatmu tidak bisa membantah apapun yang aku mau." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Ohhh silahkan, jika kamu mau melihatku mati bunuh diri karena tertekan!"


"Sayangnya aku aku terlalu mencintai kamu dan akhirnya jadi goblok begini." Arfi berucap jujur, namun seketika tatapanya seperti orang yang siap membunuh setelah mendengar perkataan Sisi baru saja. "Kamu mau mengancapku?"


"Nggak... aku nggak mengancam kamu. Daripada aku hidup dan menghadapi seorang Arfi yang stress seperti dulu lagi. Aku rasa mati lebih baik." ucap Sisi sejujur mungkin. Awal ia menikah dengan Arfi, ia memang di perlakukan layaknya mainan, yang hanya di butuhkan di atas ranjang saja, Arfi hanya membutuhkan tubuhnya belum jatuh cinta.


Dan saat Arfi mulai jatuh cinta, ia di buat jatuh sejatuh jatuhnya. Kala rasa sayangnya untuk Sisi semakin tulus, cinta di hatinya amat luas. Saat Arfi sadar jika ia bersalah, kala Arfi ingin merelakan sepenuhnya semua hati, perasaan dan hidupnya untuk Sisi. Wanita itu justru menggugat cerai-nya, Sisi minta berpisah dan akhirnya mereka hidup sendiri-sendiri. Saat itu Arfi yang merasa bersalah karena membuat Sisi menderita akhirnya mengabulkan permintaan Sisi untuk bercerai darinya. Meski harus menelan rasa sakit sesakitnya sebab di tinggalkan saat ia benar-benar cinta.


"Masih niat mati nggak?" pertanyaan Arfi nyeleneh.


"Kenapa?" Sisi menatap Arfi penasaran, seketika mendadak perasaanya menjadi tak enak.


"Ayo bunuh diri sana-sama! Locat dari gedung rumah sakit yang paling tinggi, pasti kita akan mati." Sisi mendadak gemetar mendengarnya, ia tak kira Arfi justru mengajaknya mati sama-sama.


"Nggak deh, kalau mau mati kamu aja! Aku mau tobat dulu, soalnya dosaku banyak banget."


Celetukan Sisi, membuat Arfi terkekeh geli dalam hati. Karena sebenernya ia juga belum niat mati, banyak hal yang masih ingin ia capai. Contohnya mendapatkan Sisi kembali.


.


.


.


B E R S A M B U N G

__ADS_1


__ADS_2