
🌹Selamat Membaca🌹
Sampai pagi menjelang, Cia tak juga mau berbicara. Bahkan Arfi memutuskan untuk tidak ke kantor karena takut istrinya melakukan hal yang tak terduga, pasalnya dari semalam Cia sudah berkali-kali melempar gelas kaca sampai hancur berantakan. Menurut Dokter kandungan, wanita yang sedang hamil memang lebih mudah marah dan tidak mood. Terlebih lagi Arfi sangat sadar jika ini semua salahnya.
"Kamu mau makan apa? Nanti saya belikan," untuk kesekian kalinya Arfi bertanya.
"Gue nggak butuh perhatian lu, mending pergi deh, jangan sok baik tau-taunya selingkuh."
Arfi menghela napas pelan, ia tidak menyangka jika Cia akan berkata demi kian padanya, bahkan tatapan Cia benar-benar penuh benci.
"Siapa yang selingkuh?"
"Setan kali" jawab Cia masih seketus tadi.
"Maksud kamu, saya selingkuh dengan Sisi?"
"Iya lah... masa lu selingkuh sama Ata, ya nggak mungkin."
"Astaga." Arfi mendudukan tubuhnya di samping Cia dan menatap istrinya dalam-dalam. "Sarapan dulu, nanti baru lanjut lagi marahnya!" sebisa mungkin Arfi bercanda tapi hasilnya justru membuat Cia mencibikkan wajah.
"Nggak."
Lagi-lagi Arfi hanya mampu menghela napas panjang. Sejujurnya ia tidak pernah membentak Cia, karena setiap kali ia marah, Arfi memilih diam. Ia juga tidak pernah main tangan meski pun emosinya di atas ubun-ubun. Arfi berusaha menerima Cia dengan segimana pun, meski pada akhirnya ia tetap menyakiti istrinya.
"Saya tidak selingkuh dengan Kakak-mu."
"Dia bukan Kakak gue, seorang Kakak nggak akan nusuk Adiknya dari belakang." ucap Cia ketus.
"Kamu nggak boleh, anggap Sisi seperti itu."
"Bela aja terus."
"Saya buka membela.'
"Terus apa namanya?"
Sebenarnya Arfi sudah di penuhi amarah, emosi dan marah. Tapi sebisa mungkin ia menetlarisirkan emosi agar tak gegabah, apa lagi sampai main tangan.
__ADS_1
"Coba diam dulu! Jangan jawab apa yang ingin saya sampaikan!"
"Hem," hanya itu yang keluar dari mulut Cia.
Arfi menarik napas panjang sebelum membuka semua hal yang sudah di tutupnya secara rapih sejak lama. Arfi sangat sadar, rahasia apapun itu suatu hari pasti akan terbongkar juga.
"Saya dan Sisi pernah menikah, yang artinya dia adalah mantan istri saya."
"Haaah," Cis terperanjat mendengarnya.
"Iya. Dia lah yang meminta saya menikahi kamu, karena menurutnya kamu sangat mengharapkan saya pada saat itu."
Cia masih diam dengan bola mata yang mulai berkaca-kaca.
"Sisi sangat menyayangi kamu, ia rela membagi hatinya agar kamu terbebas dari belenggu orang tuamu yang terus menerus menjodohkanmu dengan pria tua yang kaya raya."
Tetes demi tetes air mata mulai membasahi pipi.
"Saya sangat menyanyangi kamu, tapi saya tidak bisa jatuh cinta, sampai hari ini hati saya masih milik Sisi."
Benar-benar sakit, derai air mata mengucur deras tak tertahankan. Hati Cia sangat terluka.
Bahu Cia tergetar, ia menangis sampai dada berdebar, hatinya terluka dan batinnya sakit, ia mengepal jari jemari, bukti betapa hancurnya ia kini.
"Saya tidak ingin menyakiti kamu, tapi berada di posisi ini nyatanya sama-sama sakit. Maafkan saya Cia dan kini semua keputusan ada di tangan kamu. Jiks boleh saya ingin tetap menjadi suamimu dan izinkan saya belajar mencintai kamu!" harapnya. Mata Arfi juga memerah.
"Lalu, bagaimana dengan Kak Sisi?" Cia berusaha bertanya di tengah-tengah tangisnya yang tak biss reda.
Sedangkan Arfi tidak bisa menjawab. Karena ia benar-benar bingung saat ini, andai boleh egois Arfi menginginkan keduanya. Sebab ia tidak mau kehilangan Sisi atau pun Cia.
"Biarkan aku pergi!"
"Haaah? Nggak, saya tidak mengizinkan kamu pergi apa lagi kamu sedang hamil."
"Aku butuh berpikir dan menenangkan diri."
"Tapi jangan meminta cerai dari saya!"
__ADS_1
Cia terdiam, dengan air mata yang berderai ia pun melangkah pergi dari rumah. Arfi bersusah payah menghalangi tapi keputusan Cia tidak bisa di ganggu gugat. Rasa sakit karena di tinggalkan kini terulang lagi, dulu juga ia pernah meminta Sisi untuk tetap bersamanya dan kali ini ia juga memohon agar Cia tidak meninggalkanya.
Hati Cia sejujurnya sama terluka, terlebih saat ini melihat Arfi menangis. Pria yang selama ini sangat dingin dan berekspresi datar, sulit tersenyum dan tidak pernah mengeluarkan air mata. Hari ini Cia melihatnya menangis sesenggukan, ingin rasanya memeluk dan meredamkan rasa kecewanya tapi saat ini Cia jauh lebih kecewa.
Langkah sang istri kian jauh, Arfi masih terpaku dan membeku di teras rumah. Saat ini ia kehilangan arah, sakitnya sama seperti dulu saat Sisi meninggalkanya.
Arfi tak memiliki semangat untuk bernapas, ia mengaku salah karena telah membuat banyak orang kecewa. Tapi ia juga ingin di pahami dan ingin di mengerti, percayalah selama ini, Arfi sudah sangat berusaha agar Cia tidak kecewa dan Sisi terluka. Sejujurnya ia rela melakukan apapun asal mereka berdua tetap bersamanya.
.
.
.
***
Cia yang hilang arah, bingung harus kemana sebab ia tidak mungkin pulang kerumah, karena Cia yakin sekali Papa bukan merasa iba melainkan justru akan marah-marah. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke rumah Mami dan Papi saja meski pun Cia sadar jika kedua mertuanya itu ikut menyembunyikan rahasia jika Sisi adalah mantan suami Arfi.
"Cia, hey kamu kenapa?" Papi yang membuka pintu pun terkejut, karena melihat mata menantunya yang membengkak dan sembab.
Alvian langsung memanggil istrinya dan si Mami yang hadir pun sama terkejutnya melihat keadaan Cia.
"Kamu kenapa? Apa Arfi memukulmu?" tanya Mami yang langsung mengajak Cia segera duduk di sofa.
Cia pun menggeleng, ia langsung memeluk Mami dengan sangat erat. "Aku tidak apa-apa, Mi.. Kak Arfi juga tidak memukulku, hanya saja aku tengah sedikit kecewa, karena banyak orang yang membohongiku dan menyembunyikan status Kak Sisi jika dia mantan istri Kak Arfi." ucapnya pelan, ia pun tersenyum menatap kedua orang tua suaminya ini.
Mami dan Papi tak bisa berkata-kata, yang ada mereka justru merasa bersalah, karena nyatanya, kedua orang tua Arfi juga ikut menyembunyikan rahasia dari Cia.
"Maafkan kami Cia, tapi kami tidak bermaksud membuatmu kecewa," Papi berucap lembut.
"Iya," Mami menarik napas dalam-dalam. "Hm, sebenarnya sejak awal Mami juga sudah tidak setujuh mereka membohongi kamu. Tapi mereka berdua melakukan itu agar kamu tidak terluka, meski pada kenyataanya mereka hanya menunda rasa sakit yang mungkin akan semakin besar setelah terungkap." tambah Mami lagi, ia membelai pelan rambut lurus Cia.
Tidak ada yang bisa Mami dan Papi lakukan kecuali membuat Cia sedikit lebih tenang.
.
.
__ADS_1
B E R S A M B U N G