Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: D I A M


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Sepanjang perjalanan menuju pulang, Arfi dan Sisi hanya saling diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hal ini memang sangat sering mereka lakukan.


Ck...


Sesampainya di apartement, keduanya tetap tak saling bicara. Membersihkan diri lalu merebahkan tubuh. Kini Arfi dan Sisi sudah sama-sama di atas ranjang, meski begitu mereka tetap diam dan sama-sama sibuk memainkan ponsel.


"Suami beku seperti es batu. Dingin!" tulis Sisi di status WhatsApp.


Arfi yang membaca status sang istri, seketika langsung mengerutkan wajah. "Jaga jarimu!" si tampan mengomentari status sang istri.


Bodohnya, Sisi dan Arfi saling menyahut melalui pesan WhastApp, mereka berdua perang kata melalui ketikan. Padahal sedang berada diatas ranjang yang sama dan merebahkan tubuh saling berdekatan.


"Arfi egoisss_____!!" pekiknya seraya membentak-bentak melalui layar handpone.


Seketika, Arfi kembali mengerutkan wajah, ia tak membalas sikap Sisi baru saja. Si tampan langsung meletakan ponsel dan berusaha memejamkan mata. Hal itu tentu membuat Sisi berdecak kesal, tapi ia tak berani untuk protes dan akhirnya membiarkan Arfi tertidur.


Ssst..


Karena merasa kesal, Sisi beranjak dari tempat ia berbaring, lalu memilih untuk tidur di sofa. Sampai jam 12 malam, si cantik masih sibuk dengan ponsel miliknya.


"Hmm," ia bergumam lirih saat melihat status WhatsApp saudara kembar sang suami.


("Keluarga kecilku.") tulis Arfa di caption foto bahagianya bersama Nayla dan baby Acha.


"Haaah.. kesal.. kesal... kesal!" omelnya pelan seraya memukul perutnya sendiri. "Bagaimana aku akan hamil, jika saat aku tak lagi meminum obat penunda kehamilan, kak Arfi tak pernah menyentuhku." decaknya seraya menghempas pelan, ponsel miliknya di atas sofa.


HAMPA. Itulah yang Sisi rasa saat ini. Ia mengepal jari jemarinya sendiri, kala mengingat Arfi pernah meng*cup kasar bibirnya dan semalaman membuatnya tak berdaya. Tapi kini Arfi tak pernah menyentuh tubuhnya lagi.


"Aaah.. Tuhaan... ada apa denganku?" grutunya penuh benci. Malam ini ia membenci dirinya sendiri karena merindukan belaian sang suami.


Ada yang aneh menyergap tubuhnya, setiap kali terpejam Sisi akan terbayang, dimana Arfi pernah menyentuh dirinya, membelai lembut tubuhnya, dan meng*cup bibirnya penuh nafsu.


RINDU.. Iya, nyatanya ia rindu, ingin dipeluk sang suami, rindu senyum licik kala selesai membuatnya tak berdaya. Sisi yang tak bisa tertidur meraih obat yang sengaja ia simpan, lalu meminumnya agar bisa memejamkan mata.


***


Pagi menyapa, Arfi pun membuka mata. Seketia tatapanya menajam kearah sang istri yang tertidur disofa, dengan kepala menggantung kebawah dan kaki diletakan keatas kursi. Rambutnya acak-acakan, bahkan ada air mata yang masih membekas dipipinya.


Ck...


Secepat kilat Arfi beranjak, ia segera membenarkan posisi tidur sang istri. Baju pendek, rok hanya dua jengkal tangan, memperlihatkan betapa sempurnaya, wanita itu.

__ADS_1


"Aah..!"


Susah payah, Arfi menahan n^fsunya. Bibir merah merona Sisi, seolah siap untuk dikec^p. Tapi Arfi berusaha menahan diri. Ia menutup tubuh sang istri dengan selimut tebal. Karena lelahnya, si cantik tak terbangun, meski sang suami memapah tubuhnya lalu merebahkan di atas ranjang.


Jam 07.30


Sisi baru saja terbangun dari tidurnya. Sesekali ia mengerjabkan mata, lalu menoleh kekanan dan kekiri.


"Huuuf!" decaknya lirih, kala tak mendapati siapa yang ia cari.


Namun, ada senyum yang tersungging dari bibir tipisnya. Karena Sisi baru sadar, jika kini ia berada diatas tempat tidur, sebab ia masih mengingat, jika semalam merebahkan tubuh diatas sofa.


Ck...


Sisi turun dari atas ranjang, dan berjalan pelan menuju kamar mandi, ia tahu jika kini sudah hampir jam 8 pagi. Wajar saja Arfi sudah pergi.


20 menit kemudian.


Si cantik baru saja keluar dari kamar mandi, selama 20 menit berada didalam sana. Sisi hanya membasuh muka dan menggosok gigi seraya memotong kuku-kukunya yang sedikit panjang. Pagi ini ia tak berniat untuk mandi.


"Wuuus!"


Ia terbelalak dan melotot lebar, karena mendapati makanan yang cukup banyak di atas meja. Ada nasi goreng, ayam panggang, bubur jagung dan sup daging sapi. Bukan itu saja, tepat di bawah piring makan, Sisi mendapati ada uang merah 10 lembar.


"Uang tadi malam saja masih utuh. Hanya ku gunakan satu lembar," lirihnya, setelah itu memasukan uang yang Arfi beli kedalam saku celan.


Dengan lahap, si cantik menghabiskan makanan yang Arfi sediakan untuknya. Perlahan tapi pasti, wanita itu menimati satu persatu apa yang sudah tersaji.


"Heem... kenyang." decak Sisi lalu bersandar di kursi.


Semenjak Arfi bersikap acuh seolah tak perduli. Membuat Sisi juga bersikap acuh dan tak melakukan apapun. Seperti hari ini, Sisi hanya menghabiskan hari dengan menonton televisi.


***


Arfi kini memang bekerja di perusahaan si papi, ia memimpin disana selama Arfa berada di Jerman. Perlahan tapi pasti dengan uang tabungan yang ia punya, Arfi juga berusaha membangun perusahaan sendiri, meski sebenarnya si mami memiliki perusahaan, harta warisan dari keluarganya, dan meminta Arfi untuk mengembangkan, ia menolak. Entah apa alasanya.


Jam 16.30


Arfi baru saja tiba di apartemen. Ia perlahan membuka pintu dan mendapati Sisi tegah menonton televisi. Istrinya itu tak menyapa, hanya senyum tipis yang keluar dari bibirnya.


"Si, kamu ga masak?" Arfi memandangi meja makan, hanya ada piring yang berserak di atas sana.


"Gaak.. buat apa masak? Sudah lelah-lelah memasak, biasanya kakak tak mau menyentuh sedikit pun!"

__ADS_1


Si tampan menarik sudut bibir, ia memasamkan wajah seraya melepas sepatu dan dasinya. Ia coba untuk menahan amarah.


"Astaga... Sisi, kamu tidak mandi?"


Arfi menggeleng pelan, saat memperhatikan tubuh sang istri, yang masih menggunakan baju tadi pagi. Rambut yang acak-acakan serta wajah tampak kusut.


"Buat apa mandi? Lagi pula kakak tidak akan menyentuhku!" jawab Sisi lagi tanpa memandang wajah sang suami.


Jari jemari Arfi mengeras, ingin sekali menampar pipi Sisi lalu menjambak rambutnya. Tapi ia hanya mengelus dada dan berusaha bersikap dewasa. Istrinya baru berusia 18 tahun dan ia pernah memperlakukan, secara tidak baik-baik, maka Arfi menganggap apa yang di lakukan Sisi saat ini adalah sebuah pemberontakan, atas sikapnya 1 bulan yang lalu.


"Pak belikan aku makanan didepan. Tiga porsi!" seru Arfi pada pak satpam apartemen melalui sambungan telepon.


Dan 20 menit kemudian, makanan pun datang. Satu porsi ia berikan untuk pak satpam sendiri dan dua porsi untuk ia juga sang istri.


"Makanlah! Selagi hangat!'


Tapi Sisi tak bergeming, ia tetap fokus menonton televisi. Hal itu membuat Arfi kian geram.


"Sabar... sabar!" kembali Arfi mengelus dada.


Setelah ia selesai makan, si tampan membuka satu bungkus makanan yang sedari tadi tak di sentuh oleh Sisi. Arfi berinisiatif menyuap sang istri.


"Ayo makan!" Arfi mengarahkan satu sendok makan kemulut si cantik.


Tapi Sisi tetap tak bergeming. Lagi, ia mulai merasa sangat geram dan ingin sekali mengikat istrinya, lalu menyuap makan secara paksa, tapi Arfi tetap berusaha untuk sabar. Ia yakin, saat kemarin berbuat tega pada sang istri, Sisi pasti lebih kesal dari apa yang ia rasa kini.


"Makanlah!"


"Hm...!" hanya itu yang keluar dari bibir Sisi.


"Huuuh!"


Daripada ia nanti emosi, Arfi memilih untuk menjauh dari sang istri dan menatap layar laptop seperti biasa. Sementara Sisi tak kuasa menahan air mata, entahlah... kini ada rasa sedih yang memenuhi batinya.


.


.


.


.


Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2