
❣Selamat Membaca❣
Perubahan yang terjadi pada setiap orang, pasti ada faktor penyebabnya. Seperti apa yang terjadi kepada Arfa, yang awalnya kasar dan suka melakukan segala hal semaunya sendiri, kini berubah menjadi sosok yang penyayang dan rela melakukan apapun setelah Nayla hamil besar dan memiki anak. Begitu pun dengan Arfi, pria pendiam dan baik hati, selalu ramah dan taat dalam setiap peraturan, baik kepada kedua orang tuanya ataupun lingkungan pekerjaan. Tapi kini berubah layaknya penjahat wanita, yang kasar dan suka memaksa, tak ada satu hari pun yang ia lewatkan kecuali membuat istrinya tersiksa, ia tidak memukul dengan ganasnya, tapi memacu tubuh sang istri seolah melampiskan kekecewaan dan kemarahan. Arfi merasa selalu di bandingkan dengan Arfa, meski kedua orang tuanya tak berniat seperti itu, hanya saja... Arfi menanggapi ucapan si mami dan si papi dengan berbeda.
"Kalian selalu membandingkanku, dengan Arfa."
"Papi dan mami tak berniat membuatmu, merasa di remehkan, sayang. Maaf! Jika selama ini, kami membuatmu sakit hati!" si papi berucap sesabar mungkin, agar Arfi tak lebih emosi lagi.
"Tak berniat tapi sengaja. Selalu mengatakan jika aku tak sebaik Arfa, yang bisa membuat Nayla bertekuk lutut, memiliki anak setelah 8 bulan menikah. Sementara aku... sebelum menikah.. aku tidak bisa mendapatkan kesucian Sisi, aku lemah, saat dia menangis aku urung melakukanya, tidak seperti Arfa yang menanam benih sebelum menikah. Bahkan setelah aku dan Sisi menikah, di 4 bulan kami menikah, wanita itu tak kunjung hamil juga!!" emosi Arfi tak bisa terbendung lagi, ia menunjuk wajah Sisi penuh benci.
"Oke.... anggaplah, semua perubahan sikapmu kesalahah mami dan papi. Tapi kamu tidak boleh menyiksa istrimu!" Alvian memenangkan dan mengingatkan, berusaha bicara dari hati kehati agar sang anak memahami.
"Haaah.... suka-sukaku! Papi dan mami juga berucap sesuka hati kalian!"
Arfi menendang meja di hadapanya, membuat si mami berlinang air mata. "Sayang, maafkan mami dan papi! Sungguh, kami tidak tahu, jika kamu akan sakit hati!"
"Terserah!" jawab Arfi meski suaranya melemah, ia tak pernah tega membentak wanita yang telah melahirkanya.
"Mi.. pi.. sebaiknya kalian pulang! Nanti mami akan semakin sedih!" seru Sisi lembut.
"Tapi sayang... kamu bagaimana?"
"Percayalah. Kak Arfi tidak akan membunuhku!"
Tanpa menjawab, Alvian langsung menarik tangan Airin, lalu mengajak sang istri keluar dari kamar apartemen. Pria paruh baya itu, hanya menatap Sisi dengan raut wajah sedih, sebab, karena ia dan istrinyalah, kini Sisi harus menerima kemarahan Arfi.
***
Kini Sisi dan Arfi hanya berdua saja. Pria tampan itu membanting apa saja yang ada di hadapanya. Tapi Sisi tak bergeming, jangankan melarang, menatap kelakuan Arfi saja tak di lakukanya.
"Apa kamu belajar untuk tidak perduli padaku?" Arfi menarik tangan sang istri dan membuat Sisi harus menatap wajahnya.
"Hem...!' hanya itu yang keluar dari bibir Sisi meski Arfi mencengkram pipinya dengan kelima jari panjang itu.
"Kamu benar-benar... kurang ajar, ya!"
"Kakak berharap apa dariku? Berharap aku akan menangis dan memohon belas kasihanmu, setelah itu kakak akan semakin menyiksaku. Tangis dan air mataku, itu obsesimu. Kakak akan puas melihat aku tak sadarkan diri setelah kelelahan karena menangis. Kamu gila Arfi___ GILA........!!" Sisi berteriak keras, membuat Arfi perlahan mundur.
Pria itu seketika merasa lemas, setelah Sisi berteriak jelas. "Benarkah aku gila? Karena aku memang bahagia melihatmu menangis dan memohon!' jujurnya.
Sisi merasakan dadanya tersentak, pipinya bak di tampar, karena mendengar pengakuan Arfi yang bahagia melihat ia menangis.
"Ta-tapi. Hatiku juga sakit jika kamu terluka, jika kamu kesakitan, aku seolah merasakanya." jujur Arfi lagi.
Sisi menghela napas berat, matanya membulat, kelima jarinya menggepal erat. Rasanya ingin sekali menghujat dan mengatakan jika Arfi pria jahat.
__ADS_1
"Kamu...!!"
Sisi yang marah karena merasa sangat lelah, sebab tubuhnya selalu di jajah. Kini emosinya juga bisa membuncah.
"Jika kamu tidak mencintaiku. Kenapa kamu menikahaiku?"
Sisi menepuk-nepuk dada Arfi, karena ia sengaja turun dari ranjang, untuk menampar wajah suaminya.
"Aku kira, kamu malaikat penolongku. Tapi nyatanya... hahahaha!!" sisi tertawa terpaksa.
"DIAAAM....!'
"Aku tidak mau diam. Lantas kamu mau apa?" Sisi menantang.
"Kuhajar kamu malam ini sampai__!"
Ucapan Arfi terhenti, kala Sisi meraih gunting yang ternyata ada di atas meja.
"Kakak bilang mau menghajarku. Sampai apa? Sampai mati' kah? Ini gunting, ambilah, dan bunuh jika kamu memang mau!!"
"Aaaaaahhhh.....!!'
Kepalanya seolah akan pecah, seruan Sisi membuat tanganya gemetar. Ia mengambil gunting itu, lalu melempar keluar jendela. Arfi berlutut dan meminta maaf. Ia berjanji tak akan menjadikan sang istri pelampiasan n^fsunya lagi.
"Janji!"
Sisi tersenyum, ia meminta suaminya berdiri, dan menidurinya baik-baik malam ini.
"Jadikan aku istrimu! Bukan wanita murahan!"
"I-iya...!'
Keduanya saling berpeluk, Arfi tak seganas biasanya, ia memperlakukan Sisi sekedarnya saja. Setelah itu tertidur dan sedikit menjauhkan posisi tidur dari sang istri.
***
Malam itu menjadi malam terakhir Arfi menyentuh Sisi, jangankan mengajak berhubungan badan, memegang tangan atau mencium kening saja, tak pernah ia lakukan. Arfi berbicara sekedarya dan selalu melempar senyum penuh arti ke arah sang istri, setiap Sisi bertanya, ia hanya menjawab beberapa patah kata. Hal itu membuat Sisi merasa hampa, Arfi dalam sekejab berubah menjadi sedingin es.
"Kak..!"
"Ya..?"
"Lusa, teman-teman SMAku dulu, mengajak pertemuan alias kumpul bersama, semacan reunian'lah."
"Lantas?'
__ADS_1
"Boleh ya, aku ikut dan berkumpul?"
"Boleh," jawabnya datar.
"Tapi datang dengan kakak. Karena mereka semua bilang, akan membawa pasangan masing-masing!"
"Aku tidak bisa."
"Kenapa, tidak bisa? Sekali ini saja!"
"Kerja."
"Malam. Masa masih kerja, sih kak?"
Arfi tak menjawab lagi pertanyaan sang istri. Matanya fokus menatap layar laptop dan jari jemarinya sibuk mengetik. Hal itu membuat Sisi spontan membuang napas panjang, sikap Arfi kini sungguh acuh kepadanya. Bahkan saat malam tidur, Sisi menggunakan baju kurang bahan pun, Arfi tetap tak mau menyentuh.
"Kamu serius?"
"Serius mbak, hampir satu bulan ini, kak Arfi tak mau menyentuhku, bicarapun sesukanya saja."
Sisi memang selalu berkeluh kesah kepada Nayla, setiap kali ada masalah. Saudara iparnya itu bisa menjadi kakak yang siap mendengarkan dan memberi masukan.
"Kamu sudah bicara baik-baik? Atau bertanya, kenapa dia mendiamkanmu?"
Nayla sediri heran dan kasihan, akan semua curhat yang Sisi sampaikan. Beberapa waktu lalu, Arfi menjadikan tubuh Sisi pelampisan n^fsunya. Tapi kini, Arfi justru bersikap seakan tak perduli.
"Aku tidak berani bertanya. Kenapa kak Arfi berubah."
"Tapi sampai kapan, kamu akan di anggap tak ada baginya?"
"Ini baru satu bulan mbak. Jika sudah dua bulan lebih, kak Arfi tetap begini, barulah aku akan bertanya."
Nayla yang menghubungi Sisi melalui sambungan telepon, hanya mempu menarik napas pelan lalu membuangnya kasar
"Salam buat kak Arfa dan baby Acha!" seru Sisi sebelum mematikan sambungan telepon. Setelah itu, ia terkejut luar biasa, karena ada Arfi di belakangnya.
"Ka-kakak...!!"
.
.
.
.
__ADS_1
TERIMA KASIH