LEGENDA DEWA PEDANG S2

LEGENDA DEWA PEDANG S2
V5 # CH 173 APAKAH DIA INGIN MERAMPOKKU ?


__ADS_3

“Jika cuma harus bertemu dengan anggota Klan Phoenix rasanya tidak perlu jauh-jauh pergi ke Alam Dewa karena setelah sampai di Alam Dewa, dia pasti akan kesulitan jika ingin kembali ke Alam Gaib. Sebab, di Alam Dewa ada sebuah peraturan yang melarang penghuni Alam Dewa meninggalkan tempat itu tanpa alasan yang jelas.”


Karena seringnya mendengar cerita tentang Alam Dewa dari para Divine Beast dan juga Li Ziqi, Heilong jadi mengerti tentang segala sesuatu yang ada di tempat itu walaupun ia belum pernah pergi Alam Dewa.


“Lalu apakah kau punya rencana lain untuk menyembuhkan gadis ini? Perlu kau ketahui bahwa hanya anggota Klan Phoenix saja yang bisa menyembuhkan gadis ini karena Klan Phoenix memiliki teknik khusus untuk melepaskan jiwa yang terjebak dalam telur reinkarnasi phoenix,” balas Dewi Bulan Ungu tetap ramah walaupun sebenarnya ia tidak begitu senang dengan ucapan Heilong barusan.


“Aku akan membawa Mao Shizi pergi ke Planet Dreamland. Di sana ada Divine Beast Suzaku yang merupakan Dewa bagi para phoenix,” jawab Heilong.


Dewi Bulan Ungu tersenyum seolah-olah menertawakan ucapan Heilong. “Sepertinya kau tidak tahu apa yang telah terjadi di Planet Dreamland. Planet itu sekarang berada di ambang kehancuran karena serangan para iblis yang dipimpin oleh Dark Etheroz. Para Divine Beast yang menjaga Planet itu, saat ini sedang sibuk untuk melindungi penduduk yang ada di sekitar wilayah mereka. Jadi, Divine Beast Suzaku rasanya tidak akan punya waktu untuk mengobati gadis ini.”


Heilong mengerutkan kening dan raut wajahnya terlihat sangat khawatir. “Bisakah kau ceritakan padaku seperti apa keadaan Planet Dreamland saat ini?”


Dewi Bulan Ungu lalu menceritakan segala sesuatu yang telah terjadi di Planet Dreamland dalam beberapa bulan terakhir ini pada Heilong. Termasuk tentang wilayah Benua Tengah yang saat ini telah dikuasai sepenuhnya oleh para Iblis setelah runtuhnya Kerajaan Sky Empire dan Benteng Ardent yang menjaga wilayah itu.


Sedangkan ke-empat Benua yang lain berhasil selamat karena di tempat itu ada kuil para Divine Beast. Jadi, pertahanan di ke-empat Benua yang lain lebih kuat daripada pertahanan yang ada Benua Tengah karena ada campur tangan kekuatan para Divine Beast yang masih tinggal di sana.


Namun, kekuatan para Divine Beast sangatlah terbatas karena mereka semua bukanlah tubuh asli melainkan hanya sebuah klon yang terbuat dari pecahan roh yang ditinggalkan oleh para Divine Beast. Jadi jangkauan wilayah yang dapat mereka pertahanan juga sangat terbatas.


Heilong mengepalkan tangan kanannya. Ia sangat marah setelah mendengar cerita dari Dewi Bulan Ungu tentang invasi besar-besaran yang dilakukan oleh Dark Etheroz. “Kalau begitu silahkan kau bawa saja Mao Shizi pergi ke Alam Dewa. Tapi, kau sepertinya harus minta ijin dulu pada Raja Singa Bulu Emas.”

__ADS_1


“Kau tidak perlu khawatir. Divine Beast Zaha akan mengurus tentang hal itu karena aku telah memberitahu hal ini padanya. Sebab, semua anggota Kerajaan Besar yang ada di Alam Gaib ini sebenarnya berada di bawah pengawasan Divine Beast Zaha dan Divine Beast Aurora,” jawab Dewi Bulan Ungu.


Dewi Bulan Ungu lalu mengeluarkan sebuah gulungan surat berwarna emas dari dalam cincin penyimpanan miliknya lalu gulungan surat itu ia berikan pada Heilong. “Gulungan surat ini adalah perintah dari Dewa Tertinggi yang ditujukan padamu. Bacalah!”


Heilong segera menerima gulungan surat itu dan membacanya. Raut wajahnya seketika berubah saat membaca isi dari gulungan surat itu. “Apakah Dewa Tertinggi berniat untuk merampokku? Dalam keadaan seperti ini, ia malah meminta kembali salah satu Beast dan senjata pusaka yang aku miliki.”


“Kau jangan salah paham dulu sebenarnya masa hukuman Galene telah habis sejak beberapa tahun yang lalu. Jika ia tidak segera kembali ke Alam Dewa dan menyatu dengan tubuh aslinya, maka rohnya akan benar-benar hancur dalam waktu dekat dan keberadaannya akan musnah dari Dunia ini,” jelas Dewi Bulan Ungu agar Heilong bisa mengerti.


“Baiklah kalau begitu. Aku akan memberikan Galene padamu agar kau bisa membawanya kembali ke Alam Dewa.”


Heilong segera mengeluarkan Galene dari dalam Dunia Jiwa miliknya dan memberikannya kepada Dewi Bulan Ungu setelah mengucapkan beberapa kata perpisahan.


“Lalu bagaimana dengan benda yang satu lagi? Apakah kau benar-benar tidak ingin menyerahkan senjata pusaka itu padaku?” tanya Dewi Bulan Ungu sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Heilong seakan-akan sedang meminta sesuatu.


“Bilang para Dewa Tertinggi agar jangan keterlaluan. Pedang Pusaka Naga Eternal adalah pedang pusaka yang aku dapatkan secara pribadi dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia. Lagipula, pedang pusaka ini juga tidak berasal dari Alam Dewa. Jadi untuk apa aku harus memberikan pedang ini padanya? Dah, pedang pusaka ini juga belum pernah sekalipun aku gunakan,” ucap Heilong menolak dengan dingin.


“Mengenai pedang Pusaka Naga Eternal, sebenarnya perintah ini bukan keinginan pribadi dari Dewa Tertinggi. Tapi, ada seseorang yang memohon pada Dewa Tertinggi agar pedang pusaka itu dibawa ke Alam Dewa,” jawab Dewi Bulan Ungu dengan suara lirih seakan-akan ia enggan untuk mengucapkan hal ini.


“Siapa? Jika kau tidak mengatakannya padaku, maka aku tidak akan mau memberikan pedang pusaka milikku padamu,” ucap Heilong sambil menyilangkan kedua tangannya ke depan.

__ADS_1


“Ibu dari Dao Xue Lian. Apakah kau ingin menghalangi seorang Ibu yang ingin bertemu dengan anaknya sendiri?” jawab Dewi Bulan Ungu melalui telepati yang langsung di arahkan ke dalam pikiran Heilong karena hal ini adalah rahasia langit yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh orang lain.


Tanpa banyak membantah, Heilong segera mengeluarkan Pedang Naga Eternal dari dalam Dunia Jiwa miliknya lalu menyerahkan pedang pusaka itu para Dewi Bulan Ungu setelah mengetahui bahwa permintaan ini berasal dari Ibu Dao Xue Lian yang selama ini tidak pernah bertemu dengan anaknya sendiri sejak Dao Xue Lian dibawa pergi oleh ayahnya ke Dunia Bawah.


“Bagus! Ternyata kau adalah orang yang mudah diajak kerjasama.” Dewi Bulan Ungu sangat senang karena semua tugasnya akhirnya selesai.


Ia pun segera menghampiri Mao Shizi dan bersiap untuk membawanya pergi dari sini menuju ke Alam Dewa. Akan tetapi, Heilong tiba-tiba berdiri di depannya dan menghalangi jalannya.


Dewi Bulan Ungu mengangkat alisnya karena tak mengerti dengan jalan pikiran Heilong. “Kenapa kau tiba-tiba menghalangi jalanku? Bukankah kau telah setuju saat aku mengatakan ingin membawanya pergi ke Alam Dewa.


“Apakah kau lupa? Kau belum mengatakan padaku siapa kakak sepupumu itu,” jawab Heilong menatap tajam mata Dewi Bulan Ungu.


“Oh, aku hampir saja melupakan hal itu.” Dewi Bulan Ungu tiba-tiba mengeringai dan …


Plak ....


“Dasar lelaki hidung belang!”


Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi kanan Heilong diikuti dengan sebuah kata umpatan.

__ADS_1


Heilong langsung tersungkur sejauh beberapa meter dan berhenti di tepian tebing yang sangat curam.


__ADS_2