LEGENDA DEWA PEDANG S2

LEGENDA DEWA PEDANG S2
V4 # CH 65 KOTA BIRU LAUT


__ADS_3

Setelah Heilong dan Mao Shizi berhenti berdebat, Casbah segera mengajak mereka berdua untuk melanjutkan perjalanan karena hari sudah semakin gelap.


Akan sangat berbahaya sekali jika mereka tidak menemukan tempat untuk berteduh sebelum malam tiba. Sebab, suhu udara di tempat ini akan menjadi semakin dingin saat malam hari. Selain itu, Tanah Biru ini adalah Wilayah kekuasaan dari Siluman Serigala Bulan.


Siluman Serigala Bulan ini selain terkenal memiliki fisik yang kuat dan indera penciuman yang sangat tajam, mereka juga terkenal selalu berburu di malam hari dan akan memangsa makhluk hidup apapun selain Ras mereka sendiri.


Karena jaraknya yang sangat dekat dengan Tanah Abu-abu, maka di Tanah Biru ini tetap saja ada beberapa tempat strategis yang dijadikan pemukiman para Bangsa Manusia.


Saat ini, Casbah dan Mao Shizi sudah memakai baju yang terbuat dari bulu seekor Beast untuk meredam hawa dingin yang ada di tempat ini. Hanya Heilong yang tetap memakai baju seperti biasanya karena dia sangat nyaman dengan hawa dingin yang ada di tempat ini.


Tidak dapat dipungkiri bahwa hawa dingin di sekitar tempat ini telah memperkuat energi es yang ada di dalam tubuhnya, padahal dia tidak sedang melakukan meditasi. Hal ini bisa terlihat dari aura energi es yang tiba bergejolak dari tubuh Heilong seperti sedang menari-nari.


Casbah terus memimpin perjalanan dengan jalan kaki menuju ke arah utara karena tempat yang akan mereka tuju jaraknya sudah dekat. Jadi tidak perlu buang-buang energi dengan terbang ataupun menggunakan teknik teleportasi karena itu dapat memancing perhatian para Siluman Serigala Bulan yang ada di sekitar tempat ini.


Setelah berjalan sekitar satu kilometer, mereka bertiga akhirnya melihat sebuah benteng pertahanan raksasa yang terbuat dari balok es tebal. Dan di tengah-tengah benteng itu terdapat sebuah pintu gerbang yang terbuat dari baja.


“Benteng pertahanan itu seperti buatan tangan manusia karena detailnya sangat halus dan terlihat sangat rapi. Orang yang merancang tembok itu pastilah manusia yang sangat pandai,” ucap Heilong mengagumi benteng pertahanan raksasa yang ada di depan matanya.


“Benar sekali. Benteng pertahanan itu adalah buatan Bangsa Manusia. Di dalam tembok itu ada pemukiman Bangsa Manusia yang berasal dari Tanah Abu-abu,” ucap Casbah.


“Tapi, kenapa benteng itu dibuat sangat tinggi? Tinggi dari benteng pertahanan itu hampir setara dengan tinggi sebuah gunung es,” balas Heilong mengernyitkan keningnya sambil menatap benteng raksasa itu dengan aneh.


“Itu karena benteng pertahanan itu dibuat dengan tujuan untuk menahan serangan dari Siluman Serigala Bulan karena Siluman Serigala Bulan ini memiliki kemampuan untuk melompat hingga ketinggian lima puluh meter,” sahut Mao Shizi.

__ADS_1


Heilong hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar penjelasan Mao Shizi. Namun anehnya, kenapa dia tiba-tiba teringat dengan salah satu musuhnya di Planet Dreamland yaitu Jenderal Iblis Jiro.


“Ayo kita segera masuk ke dalam karena pintu gerbang itu akan ditutup begitu malam telah tiba,” ajak Casbah yang langsung memecah lamunan Heilong.


Mereka bertiga segera berjalan menuju ke arah pintu gerbang. Tapi, tiba-tiba ada dua orang prajurit penjaga yang menghadang jalan mereka bertiga sambil mengacungkan tombak yang ada di tangannya.


“Berhenti, siapa kalian? Dan ada urusan apa kalian datang ke Kota Biru Laut ini?” seru seorang prajurit dengan nada tegas.


“Kami adalah penduduk dari Tanah Putih yang sedang melakukan perjalanan menuju ke Tanah Ungu untuk mencari benda pusaka. Kedatangan kami ke kota ini adalah untuk mencari penginapan karena kami tidak bisa melanjutkan perjalanan saat malam hari,” jawab Casbah.


Para prajurit itu tidak dapat mengenali identitas asli Casbah karena Casbah sedang melakukan penyamaran dengan kekuatan cahaya miliknya.


“Tunjukkan dulu sebuah bukti pada kami bahwa kalian adalah benar-benar dari Bangsa Manusia. Sebab, akhir-akhir ini para Siluman Serigala Bulan sering menyamar menjadi manusia dan mencoba menerobos masuk ke dalam kota untuk menculik putri dari penguasa kota,” seru prajurit itu sekali lagi yang belum mengijinkan Casbah dan rombongannya masuk ke dalam kota.


“Baiklah, lihatlah tanganku ini baik-baik.”


Kedua prajurit itu akhirnya mengijinkan mereka bertiga untuk melewati pintu gerbang dan masuk ke dalam kota setelah mendapatkan bukti bahwa mereka bertiga adalah manusia.


Di dalam kota, Casbah langsung mengajak mereka untuk mencari sebuah penginapan.


Casbah sepertinya sudah sangat hafal dengan kota ini karena sepanjang perjalanan menuju ke penginapan, dia tidak pernah bertanya pada para penduduk yang dia temui.


“Apakah kau pernah datang ke kota ini sebelumnya?” tanya Heilong sambil tetap berjalan.

__ADS_1


“Tidak,” jawab Casbah singkat tanpa menoleh ke belakang.


“Lalu kenapa kau begitu hapal dengan apa yang ada di dalam kota ini. Bahkan penginapan yang letaknya berada di sudut kota ini, kau bisa tahu tanpa bertanya pada penduduk sekitar,” lanjut Heilong bertanya karena makin penasaran.


“Aku sering menggunakan kemampuan penglihatanku untuk memata-matai seluruh wilayah Tanah Biru ini dari dalam Istanaku,” jawab Casbah.


Heilong langsung teringat saat dirinya bertarung dengan Jenderal Voldryd. Pada saat ini, Casbah dapat mengetahui pertarungan mereka berdua padahal dia sedang berada di dalam Istana miliknya.


Mereka bertiga akhirnya sampai di depan pintu penginapan yang tidak seberapa luas namun terlihat sangat mewah karena seluruh dinding dari penginapan ini terbuat dari kristal es abadi yang tidak akan pernah mencair.


Mereka segera masuk ke dalam penginapan dan memesan dua kamar. Heilong dan Casbah menginap dalam satu kamar, sedangkan Mao Shizi berada di kamar yang satunya.


Mereka bertiga langsung tidur di kamarnya masing-masing setelah menghabiskan makan yang disediakan oleh pemilik penginapan.


Entah kenapa perasaan Heilong tiba-tiba menjadi tidak tenang. Dia bisa merasakan bahwa ada orang terdekatnya yang sedang dalam bahaya. Namun dia tidak tahu siapa itu.


Heilong akhirnya keluar dari kamarnya lalu pergi ke sebuah tangga yang menuju ke atap penginapan.


Di atas atap ini dia tiba-tiba teringat kenangannya bersama Feng Tzuyu ketika berada di Kota Waerebo. Saat itu mereka berdua sedang duduk di atas atap sambil menikmati pemandangan aurora yang menari-nari di langit.


“Auuuu ….”


Tiba-tiba Heilong dikejutkan dengan suara lolongan serigala saat dia sedang asyik-asyiknya melamun. Dia segera mencari arah dari mana suara lolongan Serigala itu berasal.

__ADS_1


******


Maaf agak telat updatenya karena tadi sore ada acara😊.


__ADS_2