LEGENDA DEWA PEDANG S2

LEGENDA DEWA PEDANG S2
V4 # CH 48 KEKUATAN MAO SHIZI


__ADS_3

“Dari mana kau mendapatkan pedang pusaka itu? Bukankah pedang pusaka yang ada di tanganmu itu adalah Pedang Penguasa Laut.”


Rasa penasaran yang ada di benak Raja Banteng Api membuatnya tak kuasa bertanya pada Heilong dan menghentikan serangannya. Padahal tinggal sedikit lagi Raja Banteng Api akan berhasil menghancurkan Perisai Es milik Heilong.


Heilong lalu mengangkat pedangnya pusakanya ke depan dan menunjukan pedang itu pada Raja Banteng Api sambil melontarkan sebuah pertanyaan.


“Benar. Pedang pusaka milikku ini adalah Pedang Penguasa Laut. Apakah kau pernah melihat pedang milikku ini sebelumnya? Dari perubahan sikapmu ketika melihat pedang milikku ini, sangat mustahil jika kau tidak pernah melihat pedang ini sebelumnya.”


Aura energi api yang berkobar dari tubuh Raja Banteng Api mulai meredup dan akhirnya padam setelah mendengar ucapan Heilong. Terlihat sekali bahwa saat ini Raja Banteng Api sudah kehilangan semangat bertarungnya. Bahkan niat membunuh yang ada di matanya sama sekali telah menghilang.


Pandangan Raja Banteng Api saat ini hanya tertuju pada Pedang Penguasa Laut.


Heilong sempat bingung ketika melihat keanehan yang terjadi pada Raja Banteng Api. Namun, dia tidak berkata apapun dan tetap waspada karena dia merasa bahwa semua ini hanyalah sebuah trik yang dilakukan Raja Banteng Api untuk memecah konsentrasinya.


**


Di sisi lain, semua prajurit Kerajaan Banteng Api yang sejak tadi menyaksikan pertarungan antara Heilong melawan Raja Banteng Api, segera mengangkat senjatanya masing-masing dan bergerak untuk menyerang Heilong setelah melihat keanehan yang terjadi pada Raja mereka saat melihat pedang pusaka yang ada di tangan Heilong.


Para prajurit itu menuduh bahwa Heilong telah berbuat curang karena telah menggunakan sebuah teknik rahasia untuk merusak mental Raja Banteng Api.


Mao Shizi segera berlari dan menghadang para Prajurit Kerajaan Banteng Api sambil memancarkan aura energi tanah yang sangat kuat dari tubuhnya. Tekanan aura Mao Shizi ini mampu mendorong prajurit yang ada di garis depan untuk mundur sejauh lima meter.


“Siapapun yang berani mengganggu pertarungan mereka berdua, akan langsung aku bunuh,” ucap Mao Shizi dingin.

__ADS_1


Jenderal perang Kerajaan Banteng Api segera maju menghampiri Mao Shizi saat melihat beberapa prajuritnya mundur akibat tekanan aura yang dipancarkan oleh Mao Shizi.


Jendral itu sama sekali tidak percaya dengan apa yang telah dia lihat. Karena itu dia ingin membuktikan sendiri sekuat apa tekanan aura yang memancar dari tubuh Mao Shizi.


“Kau pikir kami akan takut hanya karena gertakan seorang wanita. Aku Jendral Gong So akan melewatimu dan menolong Raja kami. Aku ingin melihat apa yang bisa dilakukan oleh gadis cantik sepertimu untuk menghadangku.”


Dengan penuh percaya diri, Jenderal Gong So melangkah maju ke depan menuju ke tempat Raja Banteng Api berdiri. Dia benar-benar tak memandang Mao Shizi sedikit pun walaupun dia bisa merasakan tekanan yang begitu kuat memancar dari tubuh Mao Shizi karena dia sangat yakin bahwa kemampuan fisik yang dia miliki lebih besar berkali-kali lipat dari kekuatan serangan yang akan dilakukan oleh Mao Shizi.


Tanpa banyak bicara, Mao Shizi segera mengulurkan telapak tangan kanannya yang sudah diselimuti dengan aura energi tanah dan sebuah aura berwarna merah menyala ke arah Jenderal Gong So saat Jenderal itu tepat berada di samping Mao Shizi dan sedikit lagi akan berhasil melewatinya.


Aura berwarna merah menyala itu adalah aura energi api yang sangat khas. Sebab aura energi api seperti itu hanya dimiliki oleh para penduduk dari Kerajaan Banteng Api.


Para Prajurit Banteng Api termasuk Jenderal Gong So menjadi terkejut karena mereka semua tahu bahwa seluruh penduduk Kerajaan Singa Bulu Emas seharusnya hanya menguasai elemen tanah saja. Namun, wanita yang berada di hadapan mereka saat ini memiliki elemen tanah dan elemen api secara bersamaan di dalam tubuhnya.


“Tombak Tanah Api,” lanjut Mao Shizi.


Ratusan tombak berwarna merah yang terbuat dari tanah langsung muncul dari dalam tanah yang berada di bawah kaki Jenderal Gong So dan segera menghujami tubuh sang Jenderal tanpa ampun, lalu membakar tubuh itu sampai berubah menjadi abu.


Sama sekali tidak ada sedikit pun darah yang menetes di permukaan tanah ketika Mao Shizi membunuh Jenderal Gong So. Jenderal Gong So bahkan tidak sempat merintih kesakitan karena cepatnya serangan yang dilakukan Mao Shizi.


Para Prajurit Kerajaan Banteng Api yang menyaksikan kematian Jenderal yang sangat mereka segani hanya dengan sekali serangan saja, segera bergerak mundur untuk menjauhi Mao Shizi.


Mao Shizi lalu membuat sebuah garis memanjang di depannya dan berkata. “Siapapun di antara kalian yang ingin menyusul Jenderal Gong So pergi ke alam baka, Silahkan melewati garis ini. Aku akan mengantar kalian secara gratis dan tanpa rasa sakit.”

__ADS_1


Beban yang ada di hati Mao Shizi terasa sedikit menjadi lebih ringan setelah melihat wajah ketakutan para Prajurit Kerajaan Banteng Api yang selama beberapa tahun ini selalu menyiksa rakyat Kerajaan Singa Bulu Emas tanpa rasa belas kasihan sedikit pun.


Namun, Mao Shizi tidak berniat untuk membantai para prajurit itu jika para prajurit itu tidak berusaha menyerangnya terlebih dahulu karena dia menyadari bahwa para prajurit itu hanya menjalankan perintah yang diberikan oleh Raja Banteng Api seperti sebuah bidak catur.


Tidak ada satupun di antara para prajurit itu yang berani mendekati Mao Shizi. Tapi mereka juga tidak berani pergi meninggalkan tempat itu. Para Prajurit Kerajaan Banteng Api seperti telah terjebak di sebuah tebing dimana kedua sisinya adalah jurang tak berujung. Jadi kemanapun mereka bergerak, mereka pasti mati. Tidak ada pilihan selain berdiam diri di tempat mereka saat ini.


Mao Shizi lalu berbalik membelakangi para prajurit itu setelah memastikan bahwa para prajurit itu tidak akan pernah berani untuk menyerangnya. Dia kemudian mengulurkan kedua tangannya ke depan untuk membuat sebuah dinding pelindung yang melindungi tempat pertarungan antara Heilong dan Raja Banteng Api.


“Gerbang Pemisah Dimensi.”


Tanah di tempat ini langsung berguncang hebat saat Mao Shizi menggunakan jurusnya. Diikuti dengan kemunculan sebuah tembok raksasa yang memiliki sembilan lapisan dengan warna yang berbeda-beda seperti warna tanah yang ada di Alam Gaib ini.


Tembok itu terlihat sangat kokoh dan sangat sulit sekali untuk dihancurkan.


*****


Halo, terimakasih karena telah setia mengikuti novel ini dan memberikan like di setiap chapter.


Karena bulan ini adalah bulan puasa, kira-kira kapan sebaiknya saya update chapter baru.


A. Menjelang buka puasa.


B. Waktu sahur.

__ADS_1


Silahkan tulis keinginan kalian di kolom komentar. Terimakasih.


__ADS_2