LEGENDA DEWA PEDANG S2

LEGENDA DEWA PEDANG S2
V5 # CH 283 KARMA ( TAMAT )


__ADS_3

Heilong akhirnya teringat kembali dengan ucapan dari bola cahaya yang ia temui sebelum ia dibangkitkan kembali di Alam Gaib.


Saat itu, bola cahaya mengatakan jika kekuatan dari daun emas pohon asal kehidupan akan bangkit jika ia berhasil menyatukan kembali benang aura roh yang tersebar di dalam semua reinkarnasi Dewa Li Xuan.


Dan, reinkarnasi dari Dewa Li Xuan saat ini hanyalah dirinya dan Long Bai saja. Tidak ada yang lain. Namun, kenapa sampai saat ini ia belum juga merasakan kekuatan dari daun emas itu?


Tanpa adanya kekuatan daun emas pohon asal kehidupan, maka mustahil baginya untuk membangkitkan kekuatan yang dimiliki oleh elemen kehampaan yang merupakan kunci untuk memahami tentang hukum waktu yang sebenarnya.


“Kau pasti bingung, kenapa kekuatan daun emas dari pohon asal kehidupan belum juga bangkit sampai saat ini.” Li Xuan lalu mengangkat jari telunjuk kanannya dan sebuah cahaya berwarna emas bersinar dengan indah di ujung jarinya.


“Aku bukanlah hanya sebuah pecahan jiwa saja. Tapi, aku juga bisa dikatakan sebagai bagian dari reinkarnasi diriku sendiri. Aku mewakili masa lalu sedangkan kau dan Long Bai mewakili masa kini. Jika kedua hal itu digabungkan maka kita bisa memahami tentang masa depan dan mencapai kesempurnaan tentang pemahaman hukum waktu,” lanjut Li Xuan lalu menempelkan jari telunjuknya di kening Heilong.


“Aku serahkan keselamatan seluruh alam semesta ini pada dirimu. Tugasku akan berakhir sampai di sini.”


Tubuh Li Xuan seketika berubah menjadi sebuah benang aura roh berwarna emas dan masuk ke dalam tubuh Heilong.


Entah kenapa Heilong merasakan kesedihan yang begitu mendalam ketika Li Xuan membuat keputusan untuk mengorbankan diri dan bergabung dengan dirinya. Ia dapat merasakan dendam dan amarah yang dimiliki Li Xuan pada Bangsa Iblis.


Ketiga benang aura roh emas yang ada di dalam tubuh Heilong mulai menyatu dan membentuk sebuah daun berwarna emas di tengah-tengah jiwanya. Daun itu seolah-olah adalah sebuah jantung yang menopang kelangsungan hidupnya.


“Akhirnya aku dapat membangkitkan kembali daun emas pohon asal kehidupan yang ada di tubuhku.”


Heilong merasakan sensasi yang begitu nyaman saat daun emas itu mulai memancarkan kekuatannya. Tubuhnya seolah-olah dipenuhi dengan Qi yang sangat murni bahkan melebihi kemurnian Qi kosmik yang merupakan sumber kekuatan dari seorang dewa.


Sebuah bola berwarna abu-abu tiba-tiba muncul di hadapannya dan berubah menjadi sebuah roda yang melayang-layang di udara dan dikelilingi oleh ribuan tulisan kuno dalam bahasa sansekerta.


Roda itu adalah wujud yang sempurna dari elemen kehampaan setelah mendapatkan kekuatan dari daun emas asal kehidupan.


“Roda Sang Waktu.” Heilong membaca beberapa kalimat yang terukir di permukaan roda itu.


Meskipun semua huruf yang terukir di sana menggunakan bahasa sansekerta, tapi ia bisa membaca mudah hanya dengan sekali lihat saja padahal selama hidupnya ia sama sekali belum pernah mempelajari tentang huruf sansekerta. Mungkin, ini adalah salah satu keistimewaan yang diberikan oleh daun emas pohon asal kehidupan.


Heilong lalu membaca kalimat lain yang mengelilingi roda sang waktu untuk memahami rahasia yang tersimpan di balik kekuatan waktu.


**


Selama Heilong berada di alam bawah sadar, aliran waktu yang ada di dunia luar termasuk ketiga dunia yang ada di seluruh alam semesta seolah-olah membeku untuk sementara.


Bahkan pohon asal kegelapan pun juga ikut terpengaruh dan berhenti menyerap kekuatan Heilong. Padahal di dalam dantian Heilong hanya tersisa satu elemen saja yaitu elemen kehampaan.


**


Satu demi satu kalimat dalam bahasa sansekerta itu mulai disusun Heilong menjadi sebuah paragraf yang utuh agar lebih mudah untuk ia pahami.


...Waktu adalah sebuah roda yang terus berputar sejalan dengan hukum karma....


...Di balik rahasia sang waktu, ada sebab dan akibat yang harus dilalui oleh untuk memperoleh sebuah kebenaran yang sejati....


Pikiran Heilong mulai tenggelam dalam semua kalimat-kalimat itu.


Hukum waktu yang begitu kuat terus berkumpul di sekeliling Heilong ketika ia mempelajari semua huruf sansekerta itu.


Ia melihat kembali kisah masa lalu tentang kehidupannya sendiri, kehidupan Li Xuan dan kehidupan Long Bai.


Dari semua adegan itu ia akhirnya bisa memahami tingkatan tertinggi dari hukum waktu yaitu karma.


**


“Aku akhirnya berhasil.” Heilong akhirnya kembali membuka matanya dan berhasil keluar dari alam bawah sadar.


Aliran waktu yang ada di tempat ini juga telah berputar kembali dengan normal.


Namun, apa yang ada di hadapannya saat ini adalah pemandangan yang begitu mengerikan.


Domain dewa pedang yang ia buat telah benar-benar hancur dan seluruh wilayah Benua Tengah juga ikut menghilang. Sementara itu wilayah keempat Benua yang lain juga telah menyusut dengan sangat drastis dan hanya menyisakan wilayah sekitar ratusan kilometer saja.


Heilong menatap Dark Etheroz dengan amarah yang membara di dua matanya. Ia berseru dengan nada yang dipenuhi dengan niat membunuh. “Apa yang telah kau lakukan dengan Planet Dreamland?”


Dark Etheroz tersenyum sinis. “Untuk apa aku memberi jawaban pada orang yang sebentar lagi akan mati. Lebih baik kau khawatirkan keselamatanmu sendiri. Sebab, jika sampai satu-satunya elemen yang tersisa di dalam tubuhmu itu sampai ikut menghilang maka kau akan benar-benar mati dengan cara yang sangat menyedihkan.”

__ADS_1


“Dasar Iblis, Terkutuk. Mati!!”


Hukum waktu yang ada di dalam tubuh Heilong langsung meledak tak terkendali dan menghempaskan semua akar pohon asal kegelapan yang membelenggu dirinya.


Dark Etheroz membuka kedua matanya lebar-lebar seakan-akan mau lepas dari tempatnya dan tanpa sadar berjalan mundur menjauhi Heilong. “Bagaimana mungkin kamu masih memiliki kekuatan yang sebesar itu hanya dengan satu elemen yang tersisa di dalam tubuh?”


Heilong mengabaikan Dark Etheroz karena ia harus berurusan dulu dengan pohon asal kegelapan karena energi kegelapan yang memancar dari pohon ini semakin mengikis energi alam yang ada di sekitar Planet Dreamland.


...“Hukum Karma — Kehampaan Tanpa Batas.”...


Heilong menunjuk ke arah pohon asal kegelapan dan aliran waktu yang ada disekitar pohon itu berada langsung berputar mundur.


Seketika, ukuran pohon asal kegelapan yang tadinya hampir menyentuh langit langsung menyusut dengan sangat cepat dan kembali ke bentuk sebuah tunas yang hanya setinggi setengah meter.


Heilong semakin memperkuat hukum waktu yang ada di ujung jarinya dan memaksa pohon asal kegelapan yang telah menjadi tunas kembali menjadi sebuah benih.


Setelah itu, ia menyimpan benih pohon asal kegelapan di dalam Dunia Jiwa miliknya. Sebab, tidak ada tempat yang lebih aman untuk menyimpan pohon yang sangat istimewa ini selain di dalam tubuhnya sendiri.


“Dasar manusia sial! Berani sekali kau mengambil benda milikku. Aku akan merobek tubuhmu dan mengambil kembali benih pohon asal kegelapan.”


Dark Etheroz menggunakan kekuatan hukum ruang dan langsung berpindah tempat di belakang Heilong. Ia langsung mengayunkan pedang pusaka miliknya menyerang ke arah Heilong.


...“Hukum Waktu — Pembekuan Aliran Waktu.”...


Heilong hanya berteriak tanpa berbalik ke belakang dan aliran waktu yang ada sekitarnya langsung terhenti.


Dark Etheroz yang akan melepaskan serangan pun tiba-tiba membeku di udara dalam posisi ujung pedang yang hampir mengenai kepala Heilong. Namun, kesadaran Dark Etheroz tidak ikut membeku.


'Apa yang sebenarnya terjadi dengan manusia ini. Kenapa dia tiba-tiba menjadi semakin kuat?' Rasa takut yang begitu besar tiba-tiba menyelimuti pikiran Dark Etheroz. Namun, ia tak memiliki tempat untuk kabur ataupun bersembunyi. Sebab, beberapa menit yang lalu ia telah menyerang sebagian besar Benua yang tersisa dengan kekuatan penuh dan hanya menyisakan sebagian wilayah yang dijaga oleh para Divine Beast.


“Saat ini kau bukan lagi lawan yang pantas untukku. Jadi berhentilah berpikir untuk berbuat jahat dan terimalah kematianmu.”


Heilong lalu berbalik dan melakukan beberapa gerakan segel yang cukup rumit dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya menggenggam pedang penjaga surga.


Beberapa menit kemudian, Heilong langsung melemparkan sebuah formasi sihir ke arah Dark Etheroz.


...“Hukum Karma — Pemusnah Kehidupan.”...


Hanya dalam waktu sepuluh nafas saja, tubuh Dark Etheroz yang tadinya tampak begitu muda dan gagah perkasa langsung berubah menjadi seorang kakek berambut putih dengan tubuh yang kurus kering.


Semua Qi kosmik dan elemen kultivasi yang ada dimiliki oleh Dark Etheroz juga tiba-tiba lenyap ditekan oleh aliran waktu.


Semua serangan itu terus berlanjut dan Dark Etheroz pun tak bisa melarikan diri karena tekanan dari kekuatan hukum waktu itu seolah-olah telah membuat dirinya terpisah dari dunia saat ini.


Tubuh Dark Etheroz akhirnya berubah menjadi abu setelah diserang oleh kekuatan hukum waktu selama dua puluh menit.


“Akhirnya dunia tengah ini berhasil terbebas dari teror Bangsa Iblis.”


Dengan kematian Dark Etheroz maka semua Iblis yang ada di Dunia Tengah berhasil dilenyapkan untuk saat ini. Namun, selama di hati para manusia masih memiliki berbagai macam sifat jahat maka tidak menutup kemungkinan kalau Bangsa Iblis akan kembali lagi di masa depan.


Kekuatan hukum waktu masih memancar dengan kuat dari tubuh Heilong seolah-olah memintanya untuk melakukan sesuatu padahal semua musuhnya telah berhasil ia bunuh.


Beberapa huruf sansekerta kembali muncul mengelilingi Heilong dan memberikan petunjuk. “Aku mengerti!”


Heilong lalu menyimpan pedang penjaga surga dan mengeluarkan sayap kaisar phoenix.


Ia lalu terbang melesat ke langit dan berhenti setelah berhasil melewati atmosfir Planet Dreamland.


Setelah itu, ia mulai melakukan gerakan segel tangan dan membuat sebuah formasi sihir berukuran raksasa. Formasi sihir yang ia buat kali ini bahkan lebih besar dari ukuran Planet Dreamland.


“Wahai para Divine Beast, jika kalian bisa mendengarkan suaraku. Maka pinjamkan sedikit kekuatan yang kalian miliki untuk membantuku memperbaiki Planet Dreamland.”


Dalam sekejap, kekuatan dari masing-masing elemen yang dimiliki oleh para Divine Beast mulai mendatang menuju ke arah arah Heilong. Selain berasal dari Planet Dreamland, kekuatan itu juga berasal dari Benua Atlantis dan Planet Bumi.


“Terimakasih banyak.” seru Heilong dengan tulus karena ia satu ini belum bisa bergerak karena kedua tangannya masih harus menahan formasi berukuran raksasa ini.


Semua kekuatan elemen yang dikirimkan oleh para Divine Beast itu mulai masuk ke dalam formasi besar dan menyatu dengan sempurna hingga merupakan formasi sihir itu menjadi berwarna pelangi.


...“Hukum Karma — Kelahiran Alam.”...

__ADS_1


Heilong lalu melemparkan formasi sihir itu ke arah Planet Dreamland.


Kekuatan hukum waktu yang begitu kuat dan dipadukan dengan kekuatan berbagai macam elemen dari masing-masing Divine Beast dengan cepat memperbaiki keadaan Planet Dreamland dan mengembalikan Planet itu dalam kondisi terbaiknya seolah-olah tak prnah terjadi sebuah pertempuran besar di sana.


Daratan yang tadinya telah menyempit telah kembali ke ukurannya semula. Bahkan elemen tanah dan air yang telah menghilang dari Planet ini juga telah muncul kembali.


Pepohonan yang tadinya hanya terdapat di Benua Timur dan Barat saja, sekarang bisa dijumpai di semua Benua dengan jenis yang beraneka ragam.


Seluruh penduduk yang tinggal di Dunia Tengah merayakan kemenangan dari Bangsa Iblis dengan penuh kegembiraan.


**


Dua Tahun kemudian.


Setelah pertempuran besar dengan Bangsa Iblis berakhir. Heilong langsung mengadakan sebuah pernikahan besar dan menikahi lima wanita sekaligus. Mereka berlima adalah Xue Xian Hou, Xin Ye, Feng Tzuyu, Mao Shizi dan juga Bianca.


Ya! Mao Shizi telah kembali ke Dunia Tengah setelah mendapat perawatan dari Kerajaan Ras Phoenix yang ada di Alam Dewa selama dua tahun. Ia juga telah berjumpa dengan ibunya. Akan tetapi, ibunya tidak diijinkan turun kembali ke Dunia Tengah oleh Raja Ras Phoenix yang merupakan ayah kandung dari ibu Mao Shizi.


Sementara Shen Yu, ia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri dua bulan setelah perang besar itu berakhir karena ia selalu dibayang-bayangi oleh perasaan bersalah karena sempat terpengaruh oleh Bangsa Iblis dan menyerang penduduk di Benua Timur.


Dan untuk Lin Meylin, keberadaannya tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi setelah perang besar itu selesai. Terakhir, ia terlihat di sekitar Goa Surga Dunia yang ada di salah satu wilayah di Benua Tengah. Namun, ketika Heilong mendatangi Goa itu, Goa itu sudah benar-benar bersih tak meninggalkan benda apapun di sana.


Xue Xian Hou, Xin Ye dan Mao Shizi masing-masing tinggal di Planet Dreamland, Benua Atlantis dan Alam Gaib. Mereka bertiga menjadi penguasa dari kerajaan terkuat di masing-masing Planet. Jadi hari-hari bertiga dipenuhi dengan berbagai macam urusan Kerajaan sehingga waktu kebersamaan mereka bersama Heilong menjadi terbatas.


Jadi yang paling banyak memiliki waktu bersama Heilong tentu saja Feng Tzuyu dan Bianca. Heilong mengajak mereka berdua tinggal di Bumi dan membaur dengan kehidupan manusia biasa untuk menikmati masa-masa damai ini.


“Suamiku, apakah kau tidak bisa menunggu beberapa bulan lagi sampai anak kita lahir?” ucap Bianca dengan mata berkaca-kaca sambil mengelus perutnya yang semakin membesar.


Heilong hanya bisa memeluk Bianca untuk menenangkannya sejenak. “Sebenarnya aku juga ingin menunda kepergianku ke Alam Dewa. Namun, hukum dunia di Bumi yang telah kembali pulih mulai melakukan perlawanan terhadap keberadaan. Aku bisa saja melawan kekuatan hukum dunia ini, tapi ada kemungkinan jika hukum dunia ini akan kembali rusak.”


Heilong sama sekali tak bisa berbuat apa-apa karena ia harus mendahulukan kehidupan seluruh penduduk Bumi daripada keinginan pribadinya. Jika, hukum dunia yang ada di Bumi kembali rusak, maka para kultivator dan iblis dengan kekuatan yang mengerikan dapat dengan mudah menyerang Bumi.


Beberapa sosok terlihat mulai bermunculan di tempat ini dan mengelilingi Heilong.


Sosok-sosok itu adalah Xue Xian Hou, Xin Ye, Feng Tzuyu dan Mao Shizi. Mereka berempat sengaja menyempatkan diri datang ke tempat ini untuk menemui Heilong. Sebab, mereka semua akan berpisah dalam waktu yang sangat lama sampai masing-masing dari mereka memiliki kualifikasi untuk naik ke Alam Dewa.


Mereka berlima menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan santai sambil menunggu seseorang dari Alam Dewa datang menjemput Heilong.


Heilong pun juga sesekali memeluk mereka untuk melepaskan rasa rindu.


**


Satu jam telah berlalu.


Sebuah komet tiba-tiba muncul membelah langit lalu mendarat tepat di depan Heilong.


“Lama kita tidak bertemu. Tampaknya kehidupanmu di Dunia Tengah ini menjadi semakin baik sejak aku pergi meninggalkanmu.”


Seseorang yang datang dari Alam Dewa untuk menjemput Heilong ternyata adalah Li Ziqi.


“Bagaimana mungkin aku tidak bahagia jika selalu ditemani oleh istri-istriku yang sangat cantik.” Heilong sengaja memeluk mereka berlima di hadapan Li Ziqi ketika menjawab pertanyaan.


“Humph!!” Li Ziqi mendengus kesal. “Kedatangan ke tempat ini bukan untuk melihat kemesraanmu dengan para istri-istrimu. Tapi aku datang ke tempat ini untuk menjemputmu naik ke Alam Dewa sekaligus memberitahumu jika kau telah diangkat sebagai Dewa Pelindung.”


“Dewa Pelindung?” Heilong merasa ada sesuatu yang salah dan segera melakukan protes. “Bukankah Dewa Tertinggi telah berjanji padaku untuk menjadikanku seorang Dewa Perang ketika aku naik ke Alam Dewa.”


“Kau terlalu lama naik ke Alam Dewa. Jadi Dewa Tertinggi telah memberikan jawaban itu pada orang lain kerana jabatan Dewa Perang sudah terlalu lama kosong. Jika kau masih ingin menjadi seorang dewa perang maka kau harus bertarung dengan leluhurmu sendiri, Xiao Long.” Li Ziqi akhirnya memiliki kesempatan untuk membalas Heilong karena ia tahu jika Heilong tidak akan mungkin melawan leluhurnya sendiri.


“Segera susul aku jika kau telah mengucapkan perpisahan pada semua istrimu.” Li Ziqi terbang ke langit dan menunggu Heilong di luar atmosfir bumi kerena ia merasa tidak nyaman dengan hukum dunia di planet ini.


Heilong segera memberikan beberapa pesan singkat pada semua istrinya dan meminta menata semua berkultivasi dengan keras agar mereka semua bisa kembali berkumpul di Alam Dewa.


Setelah saling berpelukan, Heilong mulai terbang ke langit. Tapi, pandangan matanya masih terus menghadap ke Bumi.


“Cepatlah naik ke Alam Dewa dan jangan pernah bertengkar satu sama lain.”


...\=\=\=\=\= T A M A T \=\=\=\=\=...


********

__ADS_1


Terimakasih banyak bagi para pembaca yang telah setia membaca karyaku ini. Dukungan kalian semua sangat berarti bagiku sehingga aku bisa menulis sampai sejauh ini.


Season ke - 3 Novel Legenda Dewa Pedang akan mulai aku tulis tahun depan.


__ADS_2