LEGENDA DEWA PEDANG S2

LEGENDA DEWA PEDANG S2
V4 # CH 61 JAMUAN MAKAN MALAM


__ADS_3

Setelah cukup lama mengajak Heilong berjalan mengelilingi istananya, Casbah lalu membawa Heilong pergi ke sebuah ruangan yang ada di bagian kiri istana ini.


Ruangan ini bernama Pavilliun Samosa. Di ruangan inilah biasanya Sang Raja menyambut tamu-tamu penting yang datang ke Kerajaannya dan mengadakan jamuan makan malam.


Casbah tiba-tiba berhenti di depan pintu masuk ruangan itu. Heilong dan semua prajurit yang mengawal mereka berdua juga ikut berhenti. Dia lalu berbalik dan menatap Heilong yang kebetulan memang berada di belakangnya.


Heilong yang merasa heran dengan tatapan Casbah, akhirnya bertanya. “Apakah ada yang salah dengan diriku? Kenapa tatapanmu itu terkesan begitu aneh.”


“Aku hanya merasa bahwa pakaian yang kau kenakan itu terasa sangat aneh dan tidak nyaman jika digunakan di wilayah Tanah Putih yang memiliki suhu udara yang cukup tinggi. Bagaimana jika aku memberimu pakaian yang biasa digunakan oleh para penduduk di sini?” tawar Casbah.


“Aku akan menerima kebaikan dari yang mulia dengan senang hati,” ucap Heilong tersenyum senang.


“Haha … Panggil saja aku Casbah karena kau bukanlah manusia biasa. Kita memiliki derajat yang setara. Karena itu cukup panggil aku dengan namaku saja,” balas Casbah.


Para prajurit pengawal yang ada di sana sebenarnya sangat terkejut dengan ucapan Casbah tentang posisi Heilong. Namun, karena ini adalah ucapan seorang Raja yang menguasai wilayah ini, mereka semua tidak berani menanyakan hal itu dan lebih memilih diam.


Casbah lalu menyentuh pundak Heilong. Dan …


Seketika, energi cahaya yang sangat lembut dan hangat mulai menyelimuti seluruh tubuh Heilong lalu berubah menjadi pakaian yang mirip seperti pakaian yang digunakan oleh penduduk yang ada di tempat ini.


Heilong menetap pakaian yang dia kenakan saat ini. Entah kenapa pakaian ini terasa sangat nyaman dan sejuk walaupun suhu udara di tempat ini cukup tinggi.

__ADS_1


“Apakah pakaian ini mempunyai nama khusus?”


Casbah tersenyum menertawakan tingkah laku Heilong yang seperti seorang anak kecil ketika mendapatkan baju baru. “Hehe … Baju itu bernama Tsaub. Tapi Baju Tsaub di Alam Gaib ini memiliki bahan yang berbeda dengan Baju Tsaub yang biasa digunakan oleh para penduduk Timur Tengah yang ada di bagian lain dari Planet Bumi ini.”


Dugaan Heilong ternyata benar. Bangsa manusia yang ada di Tanah Putih ini ternyata benar-benar memiliki hubungan dengan Bangsa Manusia yang ada di dimensi lain dari Bumi ini.


Heilong sudah tahu bahwa Alam Gaib dan Bumi tempat dia tinggal sebelumnya ada dua dimensi yang berbeda meskipun kedua tempat ini sama-sama berada di Planet Bumi. Sebab, pengetahuan tentang Alam Gaib ini sering sekali dibahas oleh para Guru saat dia berada di bangku sekolahan.


Karena rasa penasarannya yang begitu kuat, Heilong tak tahan lagi untuk menyelidiki tentang hal ini. Dia pun lalu mengajukan berbagai pertanyaan pada Casbah.


Casbah hanya menjawab semua pertanyaan Heilong itu dengan tenang dan nada suara yang sangat berwibawa. Emosinya sama sekali tidak berubah meskipun dicerca dengan banyak sekali pertanyaan yang dilontarkan oleh Heilong dengan nada memburu karena rasa penasaran yang sudah tak terbendung lagi.


Akhirnya Heilong tahu bahwa Alam Gaib ini sebenarnya adalah tempat seleksi sebelum mereka pergi ke Benua Atlantis.


Heilong juga berhasil mengetahui masa lalu Casbah saat dia masih berada di Bumi tempat para manusia tinggal. Siapa yang mengira bahwa Casbah dulunya adalah seorang prajurit penjaga perbatasan.


Selama bertugas, Casbah selalu menyembunyikan kemampuan aslinya sampai dia bertemu dengan seekor siluman yang datang untuk menyerang kota yang dia jaga.


Dalam pertarungan yang sangat sengit itu, siluman itu berhasil membawa Casbah masuk ke Alam Gaib.


Siluman itu sengaja membawa Casbah pergi ke Alam Gaib karena kekuatan Bangsa Siluman akan menjadi berlipat ganda saat berada di tempat ini.

__ADS_1


Namun, siapa yang menyangka bahwa semua kekuatan yang selama ini selalu disembunyikan Casbah akan langsung terbuka begitu dia menginjakkan kakinya di Alam Gaib ini.


Kekuatan yang dimiliki Casbah ternyata jauh lebih besar dibandingkan dengan kekuatan siluman itu. Siluman itu akhirnya dapat dikalahkan dengan mudah oleh Casbah hanya dengan menggunakan satu pukulan saja.


Sejak saat itu, Casbah selalu melatih tubuhnya di Alam Gaib ini sehingga dia berhasil menjadi Raja dari Kerajaan Pasir Putih sekaligus penguasa yang cukup disegani di Alam Gaib ini.


Tanpa terasa, Heilong sudah mengobrol selama satu jam dengan Casbah.


Hidangan makan malam mereka akhirnya tiba. Para pelayan istana segera meletakkan semua makanan di sebuah meja bunda berukuran besar yang ada di depan Heilong dan Casbah.


Heilong memperhatikan setiap makanan yang ada di atas meja dan semua makanan itu adalah makanan khas daerah timur tengah. Ada nasi mandhi, nasi kebuli, samosa, kebal dan yang tak kalah pentingnya adalah roti tamiz.


Roti Tamiz adalah salah satu makanan favorit Heilong ketika dia berada di Bumi. Meskipun waktu itu dia hidup di Las Vegas, dia tidak pernah kesulitan untuk makan roti tamiz setiap hari karena dia bisa membuat makanan itu sendiri dan dihabiskan seorang diri.


Tanpa basa basi lagi, mereka berdua segera menyantap semua makanan di atas meja. Suasana makan mereka terasa menjadi semakin nikmat karena Casbah telah menyiapkan hiburan berupa tarian untuk menemani jamuan makan malam mereka.


Heilong yang tidak begitu tertarik dengan tari-tarian, hanya memfokuskan perhatiannya pada makanan yang ada di hadapannya. Dia mencicipi rasa dari makanan itu sambil mencari tahu bumbu dan bahan apa saja yang digunakan untuk membuat makanan itu.


“Ngomong-ngomong, tadi kau mengatakan padaku bahwa baju Tsaub ini dibuat dengan menggunakan bahan yang berbeda. Jika aku boleh tahu, bahan apakah itu?” tanya Heilong sambil memasukan potongan roti tamiz ke mulutnya.


“Kain dari baju ini dibuat dari kepompong ulat sutra es. Karena itu baju ini akan tetap terasa sejuk meskipun kau berada di cuaca yang sangat panas,” jelas Casbah.

__ADS_1


“Ulat Sutra Es?! Di mana kira-kira kita bisa menemukan ulat itu?” balas Heilong.


“Di Tanah Biru dan Tanah Ungu. Kedua tempat itu adalah tempat terdingin di Alam Gaib ini. Jadi semua makhluk hidup yang memiliki kekuatan elemen es akan lebih memilih untuk tinggal di kedua wilayah itu,” jawab Casbah.


__ADS_2