
“Gulat,” jawab Raja Singa Bulu Emas.
“Gulat?!” Heilong terlihat sangat terkejut karena hal semacam ini tidak pernah ada dalam pikirannya. Sebab, selama ini dia hanya berpikir bahwa ilmu beladiri itu hanya sebatas silat ataupun ketrampilan menggunakan senjata seperti pedang dan tombak saja.
“Iya, Gulat. Kenapa kau sepertinya terlihat sangat terkejut ketika aku mengatakan Gulat? Harus kau ketahui bahwa Raja Banteng Api sangat bangga dengan kekuatan fisiknya karena itu dia selalu menantang lawannya untuk bertarung dengan tangan kosong lewat adu gulat,” jelas Raja Singa Bulu Emas.
“Aku hanya tidak tahu cara bertarung dan aturan-aturan yang ada di dalam Gulat. Selama ini yang aku pelajari adalah ilmu beladiri dengan menggunakan Pedang,” jawab Heilong.
Mao Shizi lalu berjalan mendekati Heilong dan berdiri di sampingnya. “Tenang saja, Ayahku bisa mengajarimu cara bergulat karena ayahku adalah seorang pegulat profesional di Alam Gaib ini selain Raja Banteng Api.”
“Tapi tetap saja kekuatan elemen tanahku masih kalah dengan kekuatan api milik Raja Banteng Api. Sehingga aku selalu kalah ketika bertarung dengannya sebab kekuatan fisiknya berada jauh di atasku,” ucap Raja Singa Bulu Emas sambil menggelengkan kepala.
“Aku menolak untuk belajar gulat karena waktu yang aku miliki tidak banyak. Kemampuan bertarung seperti itu tidak akan mungkin bisa dipelajari hanya dalam waktu singkat, paling tidak membutuhkan waktu sekitar dua atau tiga bulan. Karena itu aku akan tetap bertarung dengan menggunakan jurus-jurus pedang milikku untuk melawan Raja Banteng Api,” ucap Heilong.
“Bagaimana kalau kita coba berduel satu lawan satu. Hitung-hitung sebagai latihan sebelum kau bertarung dengan Raja Banteng Api. Dengan begitu kita bisa tahu apakah kemampuan berpedang milikmu bisa menandingi ketrampilan gulat milik Raja Banteng Api atau tidak,” tawar Raja Singa Bulu Emas.
“Kedengarannya itu adalah ide yang sangat bagus. Kalau begitu aku akan segera menyiapkan lapangan di belakang halaman istana kita sebagai tempat kalian berdua bertarung.”
Putri Mao Shizi segera pergi meninggalkan ruangan ini dan menuju ke lapangan belakang istana untuk menyiapkan tempat pertarungan mereka berdua.
Heilong langsung menatap tajam ke arah Raja Singa Bulu Emas setelah Putri Mao Shizi pergi dari tempat ini karena Raja Singa Bulu Emas sepertinya menyembunyikan sesuatu.
“Sepertinya anda masih menyimpan suatu rahasia karena saat anda berbicara tadi, mata anda selalu bergerak ke sana kemari seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Tidak jarang anda melirik Putri anda dengan raut wajah yang terlihat cemas. Apakah cara untuk mengalahkan Raja Banteng Api sebenarnya berhubungan dengan Putri anda?”
__ADS_1
Raja Singa Bulu Emas seperti sedang ditelan**ngi oleh Heilong karena insting dan pengamatannya mampu untuk melihat kebenaran yang sedang disembunyikan oleh Raja Singa Bulu Emas.
Raja Singa Bulu Emas akhirnya menceritakan suatu rahasia pada Heilong. Dan memang benar bahwa benda yang bisa mengalahkan Raja Banteng Api, berada di dalam tubuh Putri Mao Shizi.
“Itu adalah cara termudah untuk mengalahkan Raja Banteng Api karena jika kau mampu mendapatkan benda itu, maka tubuhmu akan memiliki kekuatan elemen tanah yang sangat dahsyat. Secara otomatis, kekuatan fisikmu juga akan meningkat dengan sangat tajam. Sekarang semua keputusan ada di tanganmu, kau bebas menentukan mau menerima tawaranku ini atau tidak?” ucap Raja Singa Bulu Emas.
“Tapi, hal itu sepertinya tidak adil bagi Putri anda karena dia akan langsung kehilangan kekuatannya jika aku mendapat benda itu. Dia bisa saja marah dan memutuskan hubungannya dengan anda jika aku melakukan hal itu,” jawab Heilong.
“Putriku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu karena dia sangat mencintai tanah airnya. Dia rela mengorbankan apapun asal tanah airnya kembali menjadi damai,” seru Raja Singa Bulu Emas.
“Maafkan aku. Tapi, aku tetap menolak tawaran anda untuk saat ini. Biarkan aku mencoba mengalahkan Raja Banteng Api dengan kemampuan memasak dan ilmu beladiri yang aku miliki seperti rencana awal kita,” ucap Heilong yang masih teguh dengan pendiriannya.
Tanpa mereka berdua sadari ternyata Putri Mao Shizi telah kembali dari lapangan dan mendengarkan obrolan mereka berdua dari balik pintu masuk sambil menyembunyikan aura keberadaan.
Raut wajah Putri Mao Shizi terlihat sedikit aneh ketika mendengarkan obrolan antara ayahnya dengan Heilong. Namun, dia tetap tidak ingin menampakkan dirinya sebelum obrolan mereka berdua selesai.
“Raja Banteng Api selalu menarik upeti secara diam-diam dari rakyatku yang tinggal di wilayah perbatasan. Jika mereka tidak mampu membayar upeti, maka orang suruhan dari Raja Banteng Api itu tidak segan-segan untuk menjarah semua benda berharga milik mereka dan membakar perkampungan itu,” jawab Raja Singa Bulu Emas.
“Lalu apakah anda hanya diam saja ketika melihat hal itu terjadi?” balas Heilong.
“Tidak. Setelah kejadian itu, aku semakin memperketat penjagaan di wilayah perbatasan agar kejadian seperti itu tidak terulang kembali. Dan Kerajaan Banteng Api langsung menyatakan perang dengan Kerajaan Singa Bulu Emas karena mereka tidak bisa lagi menarik upeti dari perkampungan yang ada di wilayah perbatasan,” jawab Raja Singa Bulu Emas.
“Sebenarnya upeti seperti apa yang mereka minta? Dari peta yang aku lihat, seharusnya Kerajaan Banteng Api tidak akan pernah kekurangan makanan karena perkebunan mereka sangat banyak,” tanya Heilong penasaran.
__ADS_1
“Pupuk. Dulu Kerajaan Banteng Api selalu membeli pupuk dari perkampungan itu. Tapi, setelah mengetahui bahwa penduduk yang tinggal di sekitar sana adalah penduduk yang lemah. Mereka tidak mau lagi membeli pupuk itu dan malah merampas pupuk-pupuk itu dengan cara paksa,” jawab Raja Singa Bulu Emas.
“Kurang Ajar Sekali mereka! Ternyata Raja Banteng Api tidak ada bedanya dengan seorang perampok,” ucap Heilong geram sambil mengepalkan kedua tangannya.
Tidak lama kemudian Putri Mao Shizi datang kembali ke ruangan kerja ayahnya. Tidak berpura-pura sepati tidak mendengar apa-apa dan langsung berdiri menghampiri Ayahnya.
“Sepertinya Ayah sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius dengan Heilong. Apakah kedatanganku mengganggu kalian berdua?” tanya Mao Shizi ketika melihat Ayahnya dan Heilong sedang mengobrol dengan raut wajah yang terlihat begitu tegang.
“Tidak sama sekali. Kami berdua hanya sedang membicarakan penyebab dari perang ini,” jawab Heilong.
“Benar sekali. Tadi ayah hanya sedang mengobrol santai dengan Heilong sambil menunggu kedatanganmu. Apakah kau sudah selesai menyiapkan lapangan itu?” sahut Raja Singa Bulu Emas.
“Sudah, Ayah. Aku juga sudah memerintahkan para prajurit untuk berjaga di sekitar lapangan dan tidak mengijinkan siapapun untuk masuk ke dalam lapangan kecuali atas ijin dari Ayah,” jawab Mao Shizi.
“Baiklah, kalau begitu mari kita segera pergi ke lapangan. Aku sudah tidak sabar ingin melihat seberapa hebat kemampuan berpedang milikmu,” ucap Raja Singa Bulu Emas menatap Heilong.
“Aku juga sudah tidak sabar, apakah jurus-jurus pedang milikku ini akan mampu menundukkan seorang pegulat profesional seperti anda,” balas Heilong.
Mereka bertiga segera meninggalkan ruang kerja Raja Singa Bulu Emas.
*****
Update kembali hari Senin.
__ADS_1
Sambil nunggu update kalian bisa kembali baca ulang sambil Like dan spam Komentar juga boleh.
Terimakasih 🙏