
Benua Atlantis.
Sementara itu Xin Ye yang sedang berlatih keras di bawah bimbingan Divine Beast Lambda, mengalami peningkatan yang sangat pesat. Hanya dalam beberapa bulan saja, dia sudah berhasil menembus Lapis Grand Emperor tingkat 10 yang merupakan batas kultivasi minimum para penghuni Benua Atlantis.
Tentunya peningkatan signifikan yang dialami oleh Xin Ye ini tidak lepas dari keberhasilan Divine Beast Lambda menggabungkan tubuh asli Xin Ye yang berasal dari Bumi dengan tubuh barunya yang berasal dari Planet Dreamland.
Beberapa bulan yang lalu, Divine Beast Lambda sengaja datang ke Planet Bumi dan menemui Divine Beast Aurora untuk meminta tubuh Sherly yang merupakan tubuh asli Xin Ye sebelum dia dihidupkan kembali di Planet Dreamland.
Saat ini Xin Ye sedang berada di halaman depan istana Divine Beast Lambda karena hari ini dia akan menjalani ujian dari Divine Beast Lambda agar dia diijinkan untuk pergi meninggalkan istana ini dan berkelana di Benua Atlantis untuk mengasah kemampuan ilmu beladirinya di alam bebas.
Divine Beast Lambda akhirnya muncul di depan Xin Ye dengan wujud manusianya.
Seperti biasanya, Divine Beast Lambda selalu mengenakan gaun berwarna hitam yang terlihat sangat serasi dengan kulitnya yang berwarna putih seputih mutiara.
Jika dulu di Alam Dewa hanya ada satu Dewi yang paling cantik yaitu Dewi Xi Shi sehingga sering membuat keributan di Alam Dewa karena saling memperebutkan cinta Sang Dewi. Sekarang, di Alam Dewa terdapat lima Dewi tercantik dan Divine Beast Lambda adalah salah satu dari kelima dewi itu.
Sedangkan untuk Keempat Dewi yang lain adalah Divine Beast Aurora, Dewi Bulan Ungu ( Yue Lian ), Dewi Cahaya sekaligus Dewi Perang ( Li Ziqi ), Dewi Es ( Xue De Huiyi ).
Xin Ye langsung mengucapkan salam dan memberi hormat pada Gurunya begitu dia melihat Divine Beast Lambda berdiri di hadapannya. Divine Beast Lambda pun segera menjawab salam dari Xin Ye dengan suara selembut air dan sangat menyejukkan hati.
“Jika aku boleh tahu, ujian seperti apa yang akan Guru berikan padaku sekarang?”
Tanpa basa-basi lagi, Xin Ye langsung menanyakan pada Gurunya ujian seperti apa yang akan dia lakukan kali ini. Sebab, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Xin Ye sudah mulai bosan berada di dalam istana ini meskipun istana ini saat indah dan banyak sekali hal-hal yang bisa menunjang latihannya.
Selama berada di dalam istana Divine Beast Lambda, hari hari Xin Ye selalu diisi dengan berbagai latihan yang sangat keras. Dan Divine Beast Lambda hanya sesekali saja mendampingi Xin Ye saat latihan. Sudah pasti Xin Ye merasa sangat kesepian. Jika dia berhasil keluar dari Istana ini, mungkin saja dia bisa menemukan jalan untuk kembali ke Planet Dreamland.
“Ujian kali ini adalah sebuah pertarungan. Namun, pertarungan kali ini akan sangat berbeda dengan pertarunganmu saat melakukan latihan karena lawan bertarungmu kali ini bukanlah aku ataupun Nero yang bisa menurunkan tingkat kekuatannya agar menjadi seimbang ketika bertarung melawanmu,” jawab Divine Beast Lambda.
__ADS_1
Jawaban dari Gurunya ini membuat Xin Ye menjadi semakin penasaran dengan siapa lawannya di ujiannya kali ini. Sebab, selama berada di Benua Atlantis ini, Xin Ye hanya mengenal dua orang saja yaitu Divine Beast Lambda dan Nero.
Xin Ye memperhatikan daerah sekeliling istana dengan harapan bisa menemukan siapa lawannya dalam ujian kali ini. Namun, dia sama sekali tidak menemukan jejak kehadiran siapapun di istana ini selain dirinya dan juga Gurunya. Padahal dia sudah menggunakan kemampuannya untuk mendeteksi aura kehidupan makhluk hidup, jadi sangat mustahil jika dia tidak mengetahui ada seseorang di sekitar istana ini.
Divine Beast Lambda hanya tersenyum saat melihat gelagat Xin Ye yang kebingungan sekaligus gelisah.
“Apakah kau sudah menemukan di mana keberadaan lawanmu?” tanya Divine Beast Lambda memecah konsentrasi Xin Ye.
Xin Ye segera menghentikan teknik mendeteksi aura miliknya lalu menjawab pertanyaan Gurunya dengan sedikit gugup. “Be-Belum Guru. Di mana sebenarnya Guru menyembunyikan orang yang akan menjadi lawanku dalam ujian kali ini? Kenapa Guru suka sekali membuatku penasaran?”
Divine Beast Lambda menggelengkan kepala sambil tertawa renyah. “Hehehe … Jika kau tidak bisa mendeteksi aura kehidupan milik lawanmu di sekitar istana ini, berarti lawanmu tidak berada di sekitar istana ini karena tidak ada yang bisa lolos dari penglihatan Jurus Mata Dewa kecuali lawanmu adalah seorang Dewa atau yang memiliki kemampuan setingkat dengan Dewa.”
“Lalu di mana lawanku berada?” balas Xin Ye penasaran.
“Lawanmu ada di Pegunungan Api Langit,” jawab Divine Beast Lambda.
Xin Ye sedikit terkejut ketika mendengar tentang Pegunungan Api Langit karena wilayah itu adalah wilayah terpanas di Benua Atlantis ini. Selain itu, jarak antara Pegunungan Api Langit dengan istana ini juga sangat jauh.
Dan Xin Ye juga pernah membaca di dalam sebuah buku catatan yang dia temukan di perpustakaan istana ini bahwa ada salah satu gunung di kawasan itu yang dijaga oleh seekor Naga Api yang sangat kuat. Menurut buku itu, Naga Api itu sedang menjaga sebuah benda pusaka yang tersembunyi di dalam salah satu gunung yang ada di wilayah pegunungan itu.
“Benar, Pegunungan Api Langit. Apakah kau merasa takut? Jika kau takut, maka kita bisa menunda ujian ini untuk sementara,” ucap Divine Beast Lambda yang melihat raut wajah Xin Ye tiba-tiba berubah menjadi gelisah.
“Aku tidak takut, Guru. Aku hanya merasa sangat senang karena ini adalah pertama kalinya aku bisa bertarung di luar istana ini,” jawab Xin Ye berusaha menyembunyikan kegelisahannya karena dia tahu bahwa kekuatan elemen angin miliknya tidak akan berguna di tempat itu. Jadi, mau tidak mau dia harus menggunakan kekuatan dari elemen kegelapan.
“Kalau begitu peganglah tanganku ini. Aku akan membawamu terbang ke Pegunungan Api langit,” ucap Divine Beast Lambda sambil mengulurkan tangan kanannya.
Xin Ye segera menggenggam tangan kanan Gurunya. Dan mereka berdua akhirnya terbang meninggalkan istana ini menuju ke arah barat tempat Pegunungan Api langit berada.
__ADS_1
**
Planet Bumi.
Tanah Biru, Alam Gaib.
Heilong, Mao Shizi dan Casbah akhirnya sampai di Tanah Biru yang merupakan titik awal pejalan mereka menuju ke Tanah Ungu.
Seketika, hawa dingin yang sangat menusuk ke dalam tubuh langsung menyerang tubuh mereka.
Mao Shizi yang tidak terlalu tahan dengan hawa dingin, langsung mendekapkan kedua tangannya ke tubuhnya sendiri.
“Baru di titik awal saja, hawa dinginnya serasa menusuk ke dalam tulang. Bagaimana rasanya jika kita melanjutkan perjalanan ini lebih dalam lagi sampai mencapai Tanah Ungu. Bisa-bisa aku sudah mati kedinginan sebelum mencapai ke sana,” celetuk Mao Shizi kedinginan.
“Aku bisa memelukku jika kau kedinginan. Lagipula sekarang kau adalah tunanganku. Jadi, tidak masalah jika aku hanya memelukmu,” balas Heilong menggoda.
“Jangan bermimpi!! Lebih baik aku mati kedinginan dari para dipeluk oleh seorang playboy,” jawab Mao Shizi dingin.
Seketika Heilong langsung terdorong kebelakang dan membuat sedikit menjauh dari tempat Mao Shizi berada. Sebab, Mao Shizi menggunakan kekuatan aura energi tanah miliknya untuk menyerang Heilong yang tanpa pertahanan sedikitpun.
“Haha … Kalian berdua seperti seekor kucing dan tikus yang selalu bertengkar tapi tidak bisa lepas satu sama lain. Jika aku tidak mengenal kalian berdua, aku pasti sudah mengira bahwa kalian berdua adalah pasangan suami istri,” ucap Casbah tertawa terkekeh.
Heilong dan Mao Shizi sama-sama tertunduk malu ketika mendengar ucapan Casbah.
******
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komen setelah membaca.
__ADS_1