LEGENDA DEWA PEDANG S2

LEGENDA DEWA PEDANG S2
V4 # CH 44 KEDATANGAN RAJA


__ADS_3

Heilong dan rombongan para koki Istana itu akhirnya sampai di sebuah pintu gerbang yang sangat besar dan indah setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit.


Pintu Gerbang itu terbuat dari emas dengan hiasan baru permata berwarna merah di bagian tengah pintu. Dan tinggi pintu itu mencapai tujuh meter.


Namun, ada yang unik dari pintu gerbang itu yaitu adanya dua buah lubang kunci yang saling terhubung. Yang satu ada di ketinggian satu meter, sedangkan yang satunya ada di ketinggian tiga meter. Karena saling terhubung, pintu gerbang itu bisa dibuka dari salah satu lubang kunci itu.


Rombongan para koki Istana itu lalu berhenti di depan pintu gerbang dan menunggu Heilong untuk membukakan pintu karena hanya dia yang memegang kunci untuk membuka pintu gerbang ini.


Namun, wajah Mao Shizi terlihat tidak senang ketika melihat pintu gerbang itu. Dia mengepalkan kedua tangannya sambil melihat pintu gerbang itu dengan niat membunuh yang sangat tajam. Amarah yang ada di dalam dirinya tiba-tiba bergejolak bagaikan badai gurun pasir yang bisa menimbun apapun.


Heilong bisa merasakan keanehan yang terjadi pada diri Mao Shizi karena Mao Shizi terlihat sedang berusaha untuk menahan amarah yang meledak-ledak di dalam tubuhnya. Tapi, dia sama sekali tidak mengetahui apa yang bisa membuat Mao Shizi menjadi semarah ini. Padahal Mao Shizi adalah seorang Putri yang sangat terkenal dengan ketenangannya dalam kondisi apapun. Dia lalu memberanikan diri untuk bertanya dengan nada sedikit berbisik.


“Apa yang terjadi denganmu? Apakah ada suatu benda di pintu gerbang itu yang telah mengusik ketenanganmu? Tidak biasanya kau tiba marah hingga seperti ini.”


Para koki Istana yang lain hanya melirik Mao Shizi dan tidak berkata apapun. Sebab, mereka semua sudah tahu apa yang menyebabkan Mao Shizi menjadi marah karena hal ini sudah sering terjadi di tempat ini. Setiap rakyat Kerajaan Singa Buku Emas pasti akan marah ketika sampai di depan pintu gerbang ruang makan Raja Banteng Api.


Mao Shizi langsung mengulurkan tangan kanannya dan menunjuk ke arah atas pintu gerbang itu. Dia sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya memberikan sebuah isyarat.


Heilong akhirnya melihat ke arah yang ditunjuk oleh Mao Shizi. Dan dia menjadi sangat terkejut bercampur marah ketika melihat ada sebelas buah kepala Siluman Singa Bulu Emas yang berjejer dengan rapi di atas pintu gerbang itu.


Andai saja saat ini dirinya tidak sedang melakukan penyamaran, dia pasti akan merobohkan pintu gerbang itu dan menurunkan kesebelasan kepala ekor siluman itu untuk meredakan amarah yang ada di hati Mao Shizi.


“Tenang saja, aku pasti akan membantumu membalas dendam rakyat Kerajaan Singa Bulu Emas yang telah diperlakukan secara tidak adil,” ucap Heilong lirih sambil melirik Mao Shizi.

__ADS_1


Saat ini yang bisa dilakukan Heilong hanyalah berusaha untuk meredam amarah Mao Shizi agar penyamaran mereka berdua tidak terbongkar.


“Tenang saja, aku masih bisa mengendalikan diri,” jawab Mao Shizi. Dia lalu memejamkan matanya sebentar untuk kembali menenangkan dirinya.


Setelah melihat emosi Mao Shizi sudah mereda, Heilong segera maju mendekati pintu gerbang itu dan membukanya dengan menggunakan sebuah kunci yang berhasil dia rebut dari tangan kepala koki yang asli.


Heilong menjadi takjub setelah melihat bagian dalam ruang makan ini. Ruang makan ini hampir mirip dengan sebuah istana kecil meskipun fungsinya hanya digunakan untuk makan saja.


Berbagai hiasan yang terbuat dari bulu singa berjejer tapi di bagian dinding sebelah kanan dan kiri ruangan ini. Hal ini malah membuat amarah yang ada di tubuh Mao Shizi menjadi semakin meluap dan semakin menyiksa dirinya karena Mao Shizi harus berusaha keras untuk meredam amarahnya.


Para koki Istana segera masuk ke ruang makan Raja dan menata semua makanan yang mereka bawa di atas sebuah meja makan yang terbuat dari batu giok berwarna merah.


Setelah selesai menata semua makanan, para koki Istana itupun akhirnya pergi meninggalkan ruangan.


Mao Shizi akhirnya memiliki sedikit kesempatan untuk melampiaskan amarahnya. Dia menghancurkan patung Raja Banteng Api yang ada di sudut ruangan ini dengan menggunakan kekuatan elemen tanah miliknya.


Heilong lalu membersihkan sisa-sisa dari patung yang telah dihancurkan oleh Mao Shizi agar tidak menimbulkan kecurigaan. Mereka berdua berdiri di samping meja makan dan menunggu kedatangan Raja Singa Bulu Emas.


“Hei, kira-kira berapa lama lagi kita harus menunggu? Aku sudah tidak sabar ingin mengajar wajah Banteng yang sangat jahat itu.”


Heilong yang sudah tidak sabar ingin segera menghajar Raja Banteng Api, akhirnya bertanya pada Mao Shizi. Dan Mao Shizi hanya menjawab dengan dingin.


“Diamlah! Jangan banyak bicara seperti kita kenal akrab. Kau harus ingat bahwa saat ini kau sedang menyamar sebagai kepala koki Kerajaan Banteng Api, sedangkan aku sedang menyamar sebagai pengantar upeti dari Kerajaan Singa Bulu Emas. Kita berdua tidak pernah bertemu sebelumnya, jadi jangan sok akrab. Tindakanmu itu bisa membuat penyamaran kita terbongkar.”

__ADS_1


Heilong hanya tersenyum ketika mendengar teguran dari Mao Shizi karena Mao Shizi terlihat semakin cantik ketika sedang marah. Heilong lalu kembali menggoda Mao Shizi.


“Itu hanya alasanmu saja agar aku menjauh sehingga kau bisa bebas. Hehe … Aku harap kau tidak lupa dengan janji yang telah kau ucapkan ketika aku bertarung dengan Ayahmu kemarin.”


Mao Shizi tidak menanggapi ucapan Heilong. Tapi, dia hanya melirik tajam ke arah Heilong seperti seekor singa yang sedang marah.


“Duum … Duum …”


Tiba-tiba ada suara langkah kaki yang sedang berjalan mendekati ruang makan raja. Namun, suara langkah kaki ini terdengar tidak biasa. Sebab, selain suaranya yang sangat keras, suara ini juga mampu membuat seluruh ruangan ini bergetar.


“Apakah di sini ada raksasa?!” celetuk Heilong.


“Para prajurit Kerajaan ini semuanya memiliki tubuh yang tinggi besar seperti raksasa. Jadi mana mungkin mereka memiliki Raja yang bertubuh kecil seperti seekor semut sepertimu,” balas Mao Shizi mengejek karena dia masih kesal dengan Heilong.


“Meskipun aku seperti semut dan kau selalu mengejekku. Tapi, aku telah berhasil menundukkan hatimu. Jangan kau pungkiri lagi perasaanmu, aku tahu bahwa kau diam-diam sering melirikku,” balas Heilong.


Mao Shizi langsung menatap Heilong dengan dingin. “Diam!! Hentikan omong kosongmu itu. Aku hanya melakukan ini semua demi kedamaian rakyat Kerajaan Singa Bulu Emas.”


Sesosok siluman berukuran raksasa dengan tinggi sekitar enam meter akhirnya muncul di depan pintu ruang makan raja. Di belakangnya berbaris dengan rapi para prajurit Kerajaan Banteng Api.


*****


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Like, Komen atau apapun. Petualangan Li Wen ada di N0V€LM€

__ADS_1


Terimakasih 🙏.


__ADS_2