LEGENDA DEWA PEDANG S2

LEGENDA DEWA PEDANG S2
V5 # CH 174 KELUARKAN GREMLIN


__ADS_3

Heilong segera berdiri sambil memegang pipi kanan yang masih terasa kesemutan akibat tamparan dari Dewi Bulan Ungu yang terbilang cukup keras karena Dewi itu sepertinya sama sekali tak menahan kekuatannya saat menampar Heilong.


Heilong sedikit bingung kenapa Dewi Bulan Ungu tiba-tiba menamparnya tanpa alasan, padahal ini adalah kali pertamanya mereka berdua bertatap muka secara langsung dan Heilong juga sama sekali tidak merasa melakukan perbuatan yang tak pantas. Lalu apa maksud sebenarnya dari umpatan yang dilontarkan Dewi Bulan Ungu?


“Apakah kau sudah gila? Kenapa kau tiba-tiba menamparku? Bukankah aku sudah memberikan semua yang kau minta,” protes Heilong dengan tatapan dingin.


“Itu hanya sekedar pengingat,” jawab Dewi Bulan Ungu singkat lalu memalingkan wajah karena ia sebenarnya juga sangat malu menampar Heilong di depan umum tanpa alasan yang jelas.


“Pengingat?!” Heilong tampak terkejut dan mulai berpikir, namun dia sama sekali tidak mendapatkan petunjuk apapun. Menurutnya, tamparan dan umpatan yang dilakukan Dewi Bulan Ungu hanyalah sebuah ungkapan untuk melepaskan kekesalannya pada seseorang. Mungkin saja, ia memiliki wajah yang mirip dengan orang yang telah menolak cintanya.


“Tidakkah merasa cukup familiar dengan tindakan yang baru saja aku lakukan? Apakah di pikiranmu tidak ada bayang-bayang seseorang yang sering melakukan hal yang serupa? Cobalah kau ingat-ingat kembali,” ucap Dewi Bulan Ungu mencoba memberi sedikit pertunjukan dan menghilangkan kesalahpahaman. Namun, ia tetap tidak berani melihat ke arah Heilong.


Heilong tiba-tiba teringat para Li Ziqi. Saat itu, Li Ziqi pernah bercerita bahwa dia memiliki seorang adik sepupu yang bernama Yue Lian dan adiknya ini memiliki gelar Dewi Bulan Ungu. Tapi, ciri-ciri Dewi Bulan Ungu yang disebutkan oleh Li Ziqi sedikit berbeda dengan penampilan Dewi Bulan Ungu yang ada di depan matanya saat ini.


Li Ziqi pernah bercerita bahwa Yue Lian memiliki sebuah tanda lahir berbentuk bulan sabit berwarna perak di dahinya. Dan, pakaian yang ia pakai berwarna ungu dengan motif bulan yang menghiasi lengannya.

__ADS_1


Namun, dahi Dewi Bulan Ungu yang ada di hadapannya saat ini benar-benar bersih tanpa ada noda sedikitpun layaknya sebuah giok yang belum terjamah tangan-tangan jahil. Dan, motif pakai yang ia kenakan saat ini juga merupakan kebalikan dari apa yang telah dijelaskan Li Ziqi waktu itu.


Heilong lalu berniat untuk menyelidiki identitas dari wanita yang ada di depannya ini. “Aku baru ingat bahwa kita belum berkenalan. Jika tidak keberatan, bisakah kau sebutkan siapa namamu?”


“Untuk apa? Apakah kau tahu jika di Alam Dewa ada sebuah peraturan yang melarang para Dewa mengatakan identitas pada sembarang orang karena hal itu bisa disalahgunakan oleh para iblis untuk menyusup ke Alam Dewa,” jawab Dewi Bulan Ungu dingin berusaha menolak secara halus.


Heilong menggetakkan giginya karena kesal. “Jika aku tidak tahu identitasmu, lalu bagaimana aku bisa tahu siapa Kakak Sepupu yang kau maksud itu. Aku bukanlah seorang peramal yang bisa membaca pikiran orang lain.”


“Baiklah kalau begitu, akan hanya akan memberitahukan namaku yang sebenarnya padamu.” Dewi Bulan Ungu kembali menatap Heilong lalu menggunakan teknik telepati untuk memasukkan suaranya ke dunia pikiran Heilong. “Namaku Yue Lian. Ingat itu baik-baik karena aku tidak akan mengulangnya untuk kedua kali.”


“Jadi itu benar-benar kau!” Heilong langsung terkejut dan kembali menatap dahi Dewi Bulan Ungu untuk mencari tanda lahir yang disebut Li Ziqi waktu itu.


“Di mana tanda lahirmu? Jika kau memang Dewi Bulan Ungu yang disebutkan oleh Li Ziqi, kau seharusnya memiliki sebuah tanda lahir di dahimu. Dan, tanda itu tidak bisa dipalsukan oleh orang lain,” jawab Heilong cepat agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Dewi Bulan Ungu tersenyum lalu mendongak ke langit dan menatap ke arah bulan. Di bawah pantulan sinar bulan, sebuah tanda lahir berbentuk bulan sabit berwarna perak mulai muncul di tengah-tengah dahi Dewi Bulan Ungu.

__ADS_1


“Ternyata itu memang kau! Tapi kenapa pakaian yang kau kenakan memiliki motif yang berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Li Ziqi. Jika kau mengenakan pakaian yang sama, mungkin aku bisa lebih mudah mengenali identitasmu,” ucap Heilong setelah melihat tanda lahir di dahi Dewi Bulan Ungu.


“Aku bukanlah seorang Dewi yang sangat miskin dan hanya memiliki satu pakaian saja. Jadi, wajar saja jika aku memakai pakaian dengan motif yang berbeda setiap kali aku meninggalkan Alam Dewa. Mungkin pakaian yang kau maksud adalah Pakaian Kerajaan Istana Bulan Ungu. Pakaian itu tidak cocok untuk digunakan dalam medan perang, karena itu aku menggunakan pakaian ini yang memiliki kualitas bahan yang lebih kuat dan tidak mudah robek.”


Dewi Bulan Ungu lalu kembali memalingkan wajahnya dari bulan dan tanda lahir yang ada di dahinya pun secara perlahan mulai menghilang saat tidak mendapatkan sinar sang rembulan.


Semua rasa penasaran yang ada di dalam pikiran Heilong akhirnya menghilang. Ia bahkan merasa agak canggung untuk menatap wajah Dewi Bulan Ungu setelah ia mengetahui identitasnya karena bayang-bayang Li Ziqi selalu ada dalam pikirannya.


Sedangkan Casbah, Chariva dan Nisaka hanya bisa mematung di tempat dan menatap mereka berdua dengan rumit. Sebab, ada beberapa percakapan penting yang menyangkut identitas asli dari Dewi Bulan Ungu tidak dapat mereka dengar.


Mereka bertiga bahkan memiliki tebakan bahwa Dewi Bulan Ungu sebenarnya adalah salah satu mantan kekasih Heilong sebelum wanita ini naik ke Alam Dewa dan menjadi seorang Dewi. Sebab, hanya hal itu saja yang bisa menjelaskan secara logis tentang tamparan dan umpatan yang dilayangkan oleh Dewi Bulan Ungu pada Heilong beberapa saat yang lalu.


“Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia bahagia setelah kembali ke Alam Dewa?” tanya Heilong memulai kembali obrolan.


“Apakah kau tidak mendengarkan ucapanku saat aku pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini? Saat ini, keadaannya tidak cukup baik. Cepatlah naik ke Alam Dewa dan temui dia karena hanya kehadiranmu saja yang dapat mengembalikan kebahagiaannya,” jawab Dewi Bulan Ungu. Ia kemudian menggunakan kemampuan mata dewa miliknya untuk mengintip Dunia Jiwa Heilong. “Jadi Divine Beast mesum itu memang benar-benar telah kau taklukkan.”

__ADS_1


“Divine Beast mesum?! Siapa yang kau maksud? Di dalam Dunia Jiwaku memang ada seekor Beast. Tapi, itu hanyalah seekor Beast biasa, bukan Divine Beast,” bantah Heilong.


“Siapa lagi kalau bukan Gremlin. Cepat keluarkan dia dari dalam Dunia Jiwa milikmu! Ada sebuah urusan yang harus aku selesaikan dengannya,” seru Dewi Bulan Ungu memberi perintah.


__ADS_2