
Setelah satu jam perjalanan, mereka berdua akhirnya memasuki Hutan Pencakar Langit yang merupakan wilayah perbatasan kedua Kerajaan ini.
“Sepertinya sebentar lagi kita akan sampai ke Wilayah Kerajaan Banteng Api. Apa tidak ada sesuatu yang harus kita persiapkan agar bisa melewati gerbang perbatasan mereka dengan mudah?”
“Tidak perlu. Medali yang diberikan Ayahku itu sudah lebih dari cukup. Sebab, medali itu sudah mewakili Raja Banteng Api sendiri. Jika ada prajurit penjaga perbatasan yang berani menghalangi kita masuk setelah melihat medali itu, dia pasti akan dihukum mari oleh Raja Singa Bulu Emas karena upeti dari kita ini seperti sebuah koin emas di matanya.”
Jawaban dari Mao Shizi membuat Heilong tenang. Itu artinya perjalanannya masuk ke Kerajaan Banteng Api tidak akan mendapatkan hambatan sehingga dia bisa segera menjalankan rencana utamanya.
Namun …
“Roar … Roar …”
Tiba-tiba tanah yang ada di depan mereka berubah. Tanah yang sebelum padat, sekarang berubah menjadi kubangan lumpur penghisap.
Hal ini menyebabkan sepuluh ekor Singa yang menarik gerobak itu berhenti secara mendadak. Tapi, dua ekor Singa yang ada di barisan paling depan jatuh dan terjebak ke dalam lumpur penghisap itu karena sebelumnya mereka berlari dengan kecepatan yang sangat tinggi sehingga membuat Singa yang ada di baris belakang menabrak Singa yang ada di baris depan, meskipun mereka semua sudah mengerem dengan sekuat tenaga.
“Apa yang yang sebenarnya terjadi! Kenapa tiba-tiba muncul lumpur penghisap di depan kita? Aku akan segera menyelamatkan kedua ekor Singa itu.”
Heilong segera turun dari gerobaknya dan berlari berlari mendekati lumpur penghisap itu karena kedua ekor Singa itu sudah hampir tenggelam. Sebab, mereka terus bergerak dan berusaha dari kubangan lumpur itu, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Tubuh dua ekor Singa itu semakin cepat tertarik masuk ke dalam lumpur.
“Tunggu …!”
Mao Shizi segera memegang bahu Heilong dan menariknya ke belakang ketika kaki Heilong hampir menyentuh kubangan lumpur itu.
Heilong yang tak mengerti dengan sikap Mao Shizi langsung bertanya dengan nada sedingin es. “Kenapa kau menghalangiku untuk menyelamatkan kedua ekor Singa itu? Apakah kau tidak lihat bahwa sebentar lagi mereka berdua akan benar-benar tenggelam? Ingat! Kedua ekor Singa itu masih bagian dari rasmu meskipun mereka belum memiliki kemampuan untuk merubah wujud mereka.”
“Mereka berdua sudah mati. Jadi tidak ada gunanya lagi kau menyelamatkan mereka. Hal ini malah akan membuatmu masuk ke dalam bahaya,” jawab Mao Shizi.
Heilong yang tidak percaya dengan ucapan Mao Shizi, langsung mengalirkan Qi murninya ke kedua matanya dan menggunakan Jurus Mata Dewa untuk melihat aliran Qi yang ada di dalam tubuh kedua ekor Singa itu.
__ADS_1
Dan aliran Qi yang ada di tubuh kedua ekor Singa itu memang benar-benar telah berhenti mengalir. Hal ini menandakan bahwa kedua ekor Singa itu telah mati. Sebab, setiap makhluk hidup yang bernyawa, pasti memiliki aliran Qi di dalam tubuh mereka.
Heilong lalu menggunakan kemampuan jurus matanya untuk melihat kubangan lumpur penghisap itu untuk mencari tahu penyebab sebenarnya dari kematian kedua ekor Singa itu. Dia akhirnya melihat ada sebuah cairan yang memancarkan aura berwarna berwarna hijau di bawah permukaan lumpur penghisap itu.
“Ternyata ada racun di bawah permukaan lumpur penghisap itu. Pantas saja kedua ekor Singa itu bisa mati, padahal mereka berdua belum tenggelam ke dalam lumpur penghisap itu,” ucap Heilong mengakhiri Jurus Mata Dewa miliknya.
“Ternyata benar dugaanku. Ini bukanlah lumpur penghisap biasa. Tapi, ini adalah lumpur yang tercipta dari sisa-sisa tubuh Burung Elang Api Langit yang mati beberapa hari yang lalu,” balas Mao Shizi.
Heilong akhirnya ingat bahwa Burung Elang Api Langit memang meledakkan dirinya di sekitar tempat ini. “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita harus merubah arah perjalanan kita dan mengambil jalur memutar?”
“Menurut pengamatanku, di dalam tubuhmu terdapat kekuatan elemen es. Apakah kau memang memiliki kekuatan itu?” balas Mao Shizi bertanya.
“Aku memang memiliki kekuatan elemen es,” jawab Heilong sambil mengulurkan telapak tangan kanannya yang telah memancar aura energi es.
“Kalau begitu ini jadi lebih mudah. Kau bisa menggunakan kekuatan dari Jurus Pedang Elemen Air milikmu untuk menutupi sebagian permukaan lumpur penghisap ini dengan air, lalu segera membekukan air itu untuk membuat sebuah jembatan es,”, jawab Mao Shizi.
“Ternyata apa yang kita pikirkan tidak jauh berbeda. Sebenarnya aku juga memiliki rencana seperti itu,” balas Heilong.
Heilong segera mengeluarkan Pedang Penguasa Laut di tangan kanannya dan memasukkan energi air yang cukup besar ke dalam pedang itu. Karena ukuran lumpur penghisap ini sangat luas, maka dibutuhkan energi air dalam jumlah yang cukup besar untuk bisa membuat ombak yang sanggup menutupi kubangan lumpur penghisap seluas sebuah danau.
Heilong lalu menggerakkan pedang pusaka itu ke depan tubuhnya dengan posisi horizontal dan kemudian melakukan gerakan berputar.
Dia segera menebaskan pedangnya itu ke depan setelah aura energi air yang menyelimuti pedang pusaka miliknya menjadi semakin kuat.
...“Teknik Sembilan Pedang Air - Tebasan Ombak Pantai Selatan.”...
Ombak yang sangat besar langsung muncul dan menutupi sepertiga permukaan lumpur penghisap itu.
Heilong kemudian memasukkan energi angin dan es dalam jumlah yang sangat besar ke telapak tangan kirinya hingga membuat telapak tangan kirinya bergetar.
__ADS_1
...“Tapak Es Pembeku Angin.”...
“Whoost …”
Hembusan hawa dingin sangat kuat langsung memancar dari telapak tangan kiri Heilong ketika Heilong menggerakkan tangan kirinya ke arah lumpur penghisap itu dan membekukan seluruh air yang ada di permukaan kubangan lumpur itu.
Sebuah jembatan es yang memiliki lapisan yang sangat tebal akhir muncul di depan Heilong. Jembatan es ini harusnya mampu untuk menahan beban hingga ratusan ton.
“Apakah seperti ini sudah cukup?”
“Seharusnya sudah cukup. Tapi, kita harus tetap waspada karena bisa saja ada makhluk yang tinggal di bawah kubangan lumpur hidup ini.”
“Kau tenang saja, selama ada aku di sini. Aku tidak akan membiarkanmu terluka.”
“Sombong! Kekuatan yang kau miliki masih jauh berada di bawahku, bagaimana kau bisa mengucapkan kata-kata manis seperti itu.”
Meskipun sudah beberapa hari bersama, namun sifat putri Mao Shizi masih saja belum berubah pada Heilong. Dia masih tetap dingin seperti sebuah patung es.
Mereka berdua akhirnya kembali naik ke gerobak itu dan melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Banteng Api dengan hanya ditarik oleh delapan ekor Singa saja.
“Roar … Roar …”
Kedelapan Singa itu berlari dengan kecepatan tinggi melewati jembatan es ini meskipun jembatan es ini terasa agak licin karena insting mereka bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang sedang mengintai mereka.
*****
Halo aku ada sebuah pertanyaan tentang kelanjutan update. Silahkan kalian pilih ya 🙏.
A. Update harian tapi cuma 1 bab.
__ADS_1
B. Update mingguan tapi langsung banyak.
Yang pasti novel ini akan tetap lanjut sampai tamat. Cuma aku terpaksa harus bagi waktu karena aku juga nulis di tempat lain.