
Bayangan pedang energi angin dan energi es yang terbentuk dari jurus pedang membelah bumi langsung mengarah lurus dengan sangat cepat bagaikan hembusan angin dan bertabrakan dengan kekuatan dari Cakar Besi Mengguncang Langit.
Kedua kekuatan besar itu saling beradu di udara dan terus berputar-putar menghantam satu sama lain tak ada yang mau mengalah hingga menyebabkan sebuah pusaran angin tornado yang cukup besar.
Jiro menyipitkan matanya berusaha mencari celah pada jurus pedang membelah bumi. Saat ini ketajaman penglihatannya juga telah meningkat secara drastis.
Setelah beberapa saat berkonsentrasi dalam pengamatannya, Jiro akhirnya melihat ada bagian yang tidak sempurna pada permukaan bagian atas bayangan pedang yang tercipta dari jurus pedang membelah bumi. Bagian yang tidak sempurna itu menjadikan bagian itu menjadi rapuh karena aliran energi di tempat itu bergerak tak beraturan.
Jiro kemudian melemparkan Jurus Cakar Besi Mengguncang Langit sekali lagi ke permukaan bagian atas bayangan pedang itu.
“Boom …. ”
Bayangan pedang jurus pedang membelah bumi akhirnya hancur berkeping-keping setelah dihantam jurus cakar besi mengguncang langit dari arah atas.
Heilong mengerutkan keningnya dengan raut wajah yang nampak tak percaya. “Bagaimana mungkin jurus pedang andalanku bisa dihancurkan semudah itu? Jangan-jangan dia telah mengetahui kelemahan dari jurus pedang membelah bumi sebelum menantangku berduel.”
“Jurus Pedang Membelah Bumi tidak akan memiliki kelemahan jika kau menggunakan jurus itu dengan benar. Apakah kau yakin tidak ada bagian yang terlewat saat kau mempelajari jurus pedang ini?”
Li Zen mencoba mencari tahu kenapa gerakan Heilong saat menggunakan jurus pedang membelah bumi terlihat sedikit berbeda dengan saat Li Xuan menggunakan jurus ini di masa lalu.
Heilong mencoba mengingat-ingat kembali saat dia mempelajari jurus pedang membelah bumi. Akan tetapi, sebelum dia mampu mengingatnya kembali, Jiro sudah datang mendekat dengan serangan berikutnya yang telah dipersiapkan di tangan kanannya.
...“Bola Kegelapan Penghancur Nirwana.”...
Heilong segera menggunakan jurus perisai es untuk menahan serangan itu. Karena kurangnya waktu, perisai es yang dibuat Heilong cukup kuat untuk menahan serangan ini.
“Boom …”
Perisai es yang dibuat Heilong langsung hancur berkeping-keping dalam sekali hantaman.
__ADS_1
Bola energi kegelapan yang dilemparkan Jiro akhirnya menghantam dada Heilong dan membuatnya terpental cukup jauh.
Heilong memuntahkan seteguk darah di mulutnya karena ledakan yang cukup kuat saat bola energi kegelapan membentur dadanya.
Untung saja Heilong telah menggunakan Jubah Perang Naga Eternal yang dapat menyerap kekuatan energi kegelapan sehingga organ tubuh bagian dalamnya tidak ada yang mengalami luka parah.
Heilong mencoba berdiri sambil memegangi dadanya yang masih terasa sedikit kesemutan. Dia merasa terancam dengan serangan bola energi kegelapan yang baru saja dilemparkan Jiro. Jika dia tidak menggunakan Jubah Perang Naga Eternal, sudah pasti nyawanya akan melayang. Dia sangat marah, tanpa sadar niat membunuh telah memancar dari matanya.
“Aku punya sesuatu untukmu. Dan aku sangat yakin jika benda ini akan sangat membantu meningkatkan kecepatanmu dalam menghindari serangan.”
Li Zen mengeluarkan selembar keras dan langsung memasukkannya ke dalam Dunia Pikiran Heilong.
Jiro bisa merasakan jika Heilong sedang mencoba untuk mempelajari sesuatu. Dia sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Heilong untuk beristirahat dan berpikir.
Serangan demi serangan terus di lemparkan ke arah Heilong.
Heilong harus segera mencari cara agar dia bisa bersembunyi untuk sementara waktu. Dia harus mencari keanehan pada jurus pedang membelah bumi yang menurut perkataan Li Zen ada suatu gerakan yang kurang saat dia menggunakan jurus itu. Selain itu, dia juga harus membaca secarik kertas yang baru saja diberikan Li Zen.
Heilong akhirnya teringat dengan sebuah jurus menghilang yang dia dapatkan di dalam Game The Power Of Java.
Heilong mulai membaca sebuah mantra dan kabut tebal langsung muncul di sekitarnya. Kabut itu menutupi area tempat Heilong berdiri dan menghilangkan dirinya dari pandangan Jiro.
“Kabut?! Breng**k!! Ternyata dia berniat untuk melarikan diri. Aku sudah memperlihatkan kekuatanku sampai sejauh ini. Tidak akan aku biarkan dia keluar dari hutan ini hidup-hidup.”
Jiro langsung berlari masuk ke dalam kabut misterius itu untuk mencari keberadaan Heilong. Dia berkonsentrasi penuh memaksimalkan semua fungsi panca indranya untuk merasakan kehadiran Heilong.
Namun, keberadaan Heilong bagaikan hilang di telan bumi. Sama sekali tidak ada jejak kehidupan di dalam kabut misterius ini.
“Haaahh ………”
__ADS_1
Jiro yang sangat marah karena tidak berhasil menemukan Heilong langsung berteriak dengan sekuat tenaga.
Teriakan ini mengandung tekanan energi angin yang sangat kuat dan langsung mengusir semua kabut yang ada di tempat ini sampai hilang tak berbekas.
“Dia pasti masih berada di sekitar sini. Aku harus segera menemukannya.”
Jiro lalu memutuskan untuk berlari mengelilingi hutan. Mungkin saja dia bisa menemukan jejak Heilong di sekitar hutan.
**
Tanpa diketahui oleh Jiro, Heilong ternyata masih berdiri di tempatnya.
Jurus yang baru saja dia gunakan bernama Aji Mundri. Jurus ini diberikan secara langsung oleh Mahapatih Gajah Mada setelah Heilong berhasil memenangkan pertarungan di babak ke dua dalam Game The Power Of Jawa.
Jurus Aji Mundri yang digunakan oleh Heilong memiliki keistimewaan tambahan karena telah disempurnakan oleh Li Ziqi dengan kekuatan Hukum Ruang.
Sekarang Jurus Aji Mundri ini memiliki kemampuan untuk mengirim penggunaan ke dalam suatu dimensi yang berbeda di tempat itu. Jadi meskipun Heilong masih berada di sana, orang yang ada di tempat itu tidak akan bisa melihat ataupun merasakan kehadiran Heilong karena mereka berada di dua dimensi yang terpisah meskipun berada di dalam satu wilayah.
Heilong segera masuk ke dalam dunia pikirannya dan mulai membaca secarik kertas yang diberikan Li Zen.
Ketika Heilong memegang secarik kertas itu, secara tiba-tiba kitab Supersonic Dance melayang di samping Heilong sambil memancarkan aura cahaya milik para dewa.
Secarik kertas yang ada di tangan Heilong tiba-tiba juga mengeluarkan cahaya yang saja.
Heilong akhirnya mengerti bahwa secarik kertas itu adalah halaman yang hilang dalam kitab Supersonic Dance. Tepatnya halaman pada bab kelima yang membahas tentang cara menggabungkan antara hukum energi angin dan hukum energi petir.
Jika dia dapat menguasai teknik penggabungan antara hukum energi angin dan hukum energi petir, maka kecepatan gerakannya bisa menyaingi kecepatan teknik teleportasi milik Casbah.
Li Zen sebelumnya pernah menceritakan tentang kehebatan teknik penggabungan kedua hukum ini.
__ADS_1
Heilong mulai membaca judul yang ada di bagian atas secarik kertas itu “Tarian Menembus Langit.”