LEGENDA DEWA PEDANG S2

LEGENDA DEWA PEDANG S2
V4 # CH 86 BERADU KEKUATAN


__ADS_3

Jiro segera memusatkan kekuatan elemen angin dan elemen kegelapan yang ada di dalam dantiannya ke kedua kakinya.


Dalam sekejap, kedua kaki Jiro telah diselimuti dengan aura energi kegelapan dan energi angin yang sangat kuat.


...“Teknik Serigala Pemburu Kegelapan.”...


Jiro langsung menggunakan teknik kecepatan gerakan andalannya dan berlari secepat kilat untuk menghindari serangan pedang Heilong. Tubuhnya bagaikan seringan kapas saat dia menggunakan teknik ini.


“Whoost ….”


Bayangan pedang raksasa dengan api yang berkobar dan hembusan angin panas yang sangat kuat, langsung membakar semua Siluman Serigala Bulan yang ada tadinya ada di belakang Jiro hingga menjadi abu. Dan hanya meninggalkan bagian hutan yang telah berubah menjadi jalan setapak karena hangus terbakar.


Lagi-lagi Jiro mengorbankan para siluman serigala bulan untuk saat menyelamatkan dirinya sendiri. Dia sepertinya sama sekali tidak perduli dengan nyawa para siluman serigala bulan ini.


Hampir dua ratus siluman serigala bulan mati terkena serangan tebasan teknik pedang api yang baru saja dilakukan Heilong.


Para prajurit siluman serigala bulan yang tersisa menjadi bergidik ketakutan dan langsung berpencar melarikan diri dari medan pertempuran. Mereka semua melihat Heilong bagaikan seorang Dewa Kematian yang akan mencabut nyawa mereka secepatnya jika mereka semua tetap berada di hutan ini.


Jenderal siluman serigala bulan berusaha keras untuk menahan mereka semua agar tetap di sini. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang mau mendengarkan seruan yang diucapkan oleh Jenderal siluman serigala bulan. Sebab, siluman yang paling mereka hormati dan telah mereka anggap sebagai leluhur mereka sendiri ternyata tidak dapat dipercaya dan hanya memanfaatkan mereka semua sebagai umpan untuk melindungi dirinya sendiri. Siluman yang mereka maksud tidak lain adalah Jiro.


Beberapa tahun yang lalu, Raja Serigala Bulan yang baru telah memperkenalkan Jiro kepada mereka semua sebagai leluhur mereka. Dan dia akan membantu jika para siluman serigala bulan berada dalam bahaya.


“Dasar Serigala licik !! Lagi-lagi kau kau mengorbankan bangsamu sendiri. Aku benar-benar bod*h karena mempercayaimu dan menganggapmu sebagai leluhur kami.” Jenderal siluman serigala bulan langsung menghardik Jiro dengan amarah yang meluap-luap.


“Kau memang bod*h!! Siapa yang menyuruhmu untuk mempercayaiku. Dan satu lagi, aku bukanlah leluhur kalian semua karena meskipun kita sama-sama berasal dari Bangsa Serigala, aku berasal dari Ras yang lebih tinggi dari kalian yaitu Ras Manusia Serigala Cakar Hitam. Satu-satunya keturunanku di tempat ini adalah raja kalian yang baru. Dia adalah cucuku yang aku titipkan pada Raja Siluman Serigala Bulan yang sebelumnya beberapa ratus tahun yang lalu.”


Setelah mengatakan itu semua, Jiro langsung mencengkram bahu kanan Jenderal siluman serigala bulan dan melemparkannya ke samping.

__ADS_1


“Lebih baik kau pergi dari sini. Keberadaan kalian hanya menggangguku saja.”


Jenderal siluman serigala bulan langsung meninggalkan medan perang ini mengikuti anak buahnya. Dia tidak ingin kembali lagi ke wilayah tengah yang dikuasai oleh ras serigala yang bukan berasal dari golongan mereka. Mungkin hal ini adalah alasan kenapa Raja siluman serigala bulan yang baru memiliki sifat yang benar-benar berbeda dengan Raja yang lama karena dia memang bukan keturunan dari Raja Siluman Serigala Bulan yang terdahulu.


Heilong lalu meminta Casbah dan Chariva beserta dengan seluruh pasukannya untuk meninggalkan tempat ini terlebih dahulu dan dia akan menyusul setelah berhasil membunuh Jiro.


Awalnya Chariva dan Casbah menolak permintaan Heilong karena mereka belum benar-benar yakin jika Heilong telah pulih dari serangan jiwa yang baru saja menimpa dirinya. Akan tetapi, Heilong terus mendesak agar mereka meninggalkan tempat ini supaya dia bisa menggunakan semua kekuatannya untuk menghadapi Jiro.


Mereka berdua akhirnya mau mendengar alasan Heilong dan segera meninggalkan hutan ini melalui jalan setapak yang baru saja terbentuk.


Sekarang di hutan ini benar-benar hanya ada mereka berdua. Jiro dan Heilong masing-masing menatap dengan dingin satu sama lain. Mereka berdua bagaikan dua ekor singa yang akan bertarung sampai mati untuk memperebutkan wilayah kekuasaan.


Jiro langsung melompat ke arah Heilong sambil mengayunkan kapak raksasa miliknya. Dia benar-benar melakukan serangan jarak dekat dan berniat beradu kekuatan fisik dengan Heilong.


Heilong juga tidak takut beradu kekuatan fisik dengan Jiro karena tubuhnya telah diperkuat oleh Divine Beast Genbu beberapa tahun yang lalu. Kekuatan tubuh emas yang dimiliki oleh Heilong bahkan bisa disejajarkan dengan kekuatan fisik ras naga. Jadi bagaimana mungkin dia takut beradu kekuatan fisik dengan Bangsa Serigala.


Suara benturan benda keras terdengar silih berganti saat mereka berdua saling bertukar serangan.


Hal seperti ini telah terjadi berulang-ulang selama kurang lebih satu jam sampai akhirnya Jiro berhasil menyelinap ke belakang tanpa disadari oleh Heilong dan langsung menghantarkan tinju tangan kirinya ke punggung Heilong.


“Buk …”


Heilong langsung tersungkur sepuluh langkah ke depan lalu berbalik sambil mengayunkan pedang pusaka yang ada di tangan kanan dengan kekuatan elemen es dan angin


...“Pedang Membelah Bumi.”...


...“Kapak Membelah Laut.”...

__ADS_1


Jiro juga mengayunkan kapak raksasa miliknya yang telah diselimuti dengan energi angin yang sangat menakutkan.


Kedua kekuatan besar itu saling beradu di udara dan …


“Boom …..”


Ledakan dahsyat disertai dengan gempa bumi hebat yang mengguncang seluruh bagian hutan ini langsung terjadi saat kedua kekuatan besar itu meledak secara bersamaan.


“Hehe …. Boleh juga kekuatan yang kau miliki. Kau adalah satu-satunya manusia yang mampu membuatku bertarung dengan serius. Mari kita tentukan siapa pemenang di antara kita.” Jiro menyeringai sambil mengayunkan kapaknya ke arah Heilong.


...“Tebasan Angin Pemecah Karang.”...


Heilong segera mengulurkan tangan kanannya ke depan dan merubah posisi pedang pusaka yang ada di tangannya menjadi horizontal.


Seketika, suhu udara di sekitar Heilong turun dengan sangat drastis dan tubuhnya memancarkan aura energi es yang sangat menakutkan.


...“Dinding Cermin Es.”...


Dinding es setinggi lima meter langsung muncul di depan Heilong dan memblokir arah serangan Jiro.


Jiro langsung terkejut saat melihat dinding es itu menyerap serangan tebasan kapak elemen angin miliknya. Seharusnya kekuatan elemen angin yang ada di dalam serangannya yang barusan akan mampu menghancurkan benda apapun.


Jiro kembali mengangkat kapak pusaka miliknya dan bersiap untuk melakukan serangan berikutnya.


Akan tetapi, saat dia baru saja mengangkat kapak pusaka yang ada di tangannya ke atas, secara tiba-tiba Heilong mengetuk pedang pusaka yang ada di tangannya.


Serangan tebasan kapak yang baru saja diserap oleh dinding es, langsung keluar dan menyerang balik ke arah Jiro.

__ADS_1


“Aku beri kau kesempatan untuk merasakan kekuatan dari seranganmu sendiri. Tidak perlu mengucapkan terimakasih karena kita tidak sedang berbagi kasih. Hehe...” ucap Heilong tertawa mengejek.


.


__ADS_2