LEGENDA DEWA PEDANG S2

LEGENDA DEWA PEDANG S2
V5 # CH 189 PERTARUNGAN ANTAR PHOENIX


__ADS_3

Heilong pun langsung berusaha menarik kedua bola permata itu agar masuk ke dalam Dunia Jiwa miliknya dengan menggunakan aura miliknya.


Ia kembali menenggelamkan semua konsentrasi untuk mengendalikan aura miliknya seolah-olah sedang melakukan meditasi. Semua titik-titik meridian yang ada di tubuhnya di buka lebar-lebar agar aura yang keluar dari tubuhnya menjadi semakin besar dan kuat.


Namun …


Boom ....


Hawa panas memancar dari batu permata berwarna merah ternyata menolak hawa dingin yang memancar dari batu permata berwarna biru sehingga memicu munculnya sebuah ledakan.


Secara alami api memang akan menolak es karena es adalah bentuk lain dari air. Jika dipaksa disatukan, maka kedua jenis energi ini akan hancur dan menghilang.


Heilong tidak punya cara lain selain berhenti dan memikirkan kembali cara untuk mengatasi hal itu sebelum ia memasukkan kembali ke-dua batu permata itu ke dalam Dunia Jiwa miliknya. Sebab, jika ia memaksakan diri dan ke-dua batu pusaka itu meledak di dalam dunia jiwa miliknya, maka sesuatu yang buruk bisa saja terjadi para Dunia Jiwa miliknya jika ke-dua batu pusaka itu kembali meledak secara bersamaan.


Ledakan dari kedua batu itu bisa saja memicu ketidakstabilan energi yang akan menyebabkan kehancuran.


Setelah cukup lama berpikir, Heilong akhirnya menemukan sebuah cara untuk dapat meredam kekuatan ke-dua batu pusaka itu sebelum memasukkannya ke dalam Dunia Jiwa yaitu dengan menggunakan bantuan dari kekuatan elemen tanah karena elemen tanah adalah satu-satunya elemen yang dapat menahan kekuatan dari elemen api dan elemen air. Sedangkan elemen es memiliki sifat yang sama dengan elemen air, jadi kekuatan elemen tanah masih bisa menjangkaunya.


Menyatukan ke-dua jenis elemen yang memiliki sifat yang bertolak belakang antara yang satu dengan yang lain memanglah tidak mudah. Sebab, jika ada kesalahan sedikit saja dalam mengendalikan kekuatan elemen tanah untuk meredam ke-dua kekuatan itu, maka salah satu dari ke-dua bola permata itu akan hancur.


Dihadapkan dalam situasi yang sangat sulit seperti ini, Heilong terpaksa harus mengambil keputusan yang sangat beresiko. Ia langsung menyerap ke-dua batu pusaka itu ke dalam Dunia Jiwa miliknya setelah menyelimutinya dengan kekuatan elemen tanah tanpa menyatukan ke-dua batu pusaka itu terlebih dahulu.


Hawa dingin yang sangat kuat seketika menyerang di dalam Dunia Jiwa miliknya saat ia menghilangkan kekuatan elemen tanah yang menyelimuti ke-dua batu pusaka itu. Hawa dingin itu terus berputar-putar dengan kuat bagaikan sebuah angin tornado yang muncul bersamaan dengan terjadinya badai salju. Sangat dingin dan membawa kekuatan merusak yang sangat menakutkan.

__ADS_1


Hal yang sama juga terjadi para Batu permata berwarna merah. Hawa panas yang memancar dari batu pusaka itu langsung membakar hampir sepersepuluh area yang ada di dalam Dunia Jiwa miliknya.


Keringat dingin mulai menetes dari dahi Heilong karena ia menahan rasa sakit yang sangat luar biasa. Secara bersamaan tubuhnya diserang oleh hawa dingin yang dapat membekukan dunia dan hawa panas yang dapat meleburkan langit.


Ia pun akhirnya membuat sebuah perwujudan dirinya di dalam Dunia Jiwa miliknya untuk melihat dari dekat apa yang sebenarnya telah terjadi di tempat itu karena apa yang terjadi di dalam Dunia Jiwanya saat ini telah mempengaruhi dantian miliknya.


**


Di Dalam Dunia Jiwa.


Scree ...


Suara teriakan burung phoenix bergema di dalam Dunia Jiwa ini.


“Jangan-jangan Burung Phoenix Api dan Burung Phoenix Es ini saling bermusuhan sejak awal diciptakan karena itu mereka berdua bisa mati di tempat yang berdekatan. Mungkin penyebab kematian ke-dua burung phoenix ini adalah pertarungan antara hidup dan mati untuk menentukan siapa yang lebih kuat.”


“Kau jangan ikut campur manusia! Biarkan kami menentukan siapa yang lebih kuat di antara kami dan layak untuk memiliki gelar sebagai hewan suci.”


Sebuah suara yang sangat berwibawa dan membawa kesan yang sangat agung tiba-tiba terdengar di telinga Heilong. Ia langsung menoleh ke arah datangnya suara itu dan menemukan bahwa suara itu berasal dari Burung Phoenix Api.


“Apakah kau yang tadi berbicara denganku?” tanya Heilong menatap dingin ke-arah Burung Phoenix Api karena ucapannya itu mengandung sebuah ancaman.


“Siapa lagi kalau bukan aku! Aku juga tahu bahwa kau ingin memiliki kekuatan yang kami berdua miliki. Tapi, sebelum kau melakukan hal itu, aku ingin menyelesaikan urusanku dengan Phoenix Salju terlebih dahulu.” Burung Phoenix Api balas menatap Heilong dengan dingin dan dipenuhi dengan jejak kebencian.

__ADS_1


Heilong mengepalkan ke-dua tangannya karena dia merasa sedikit kesal saat mendengar ucapan Burung Phoenix Api yang terdengar sangat arogan dsb terkesan tidak menghargai dirinya padahal Dunia Jiwa ini adalah miliknya. Jadi, ia adalah penguasa di tempat ini dan dapat mengatur apapun yang ada di tempat ini sesuai dengan keinginannya.


Namun, seekor Hewan Suci memiliki kedudukan dan kekuatan yang setara dengan seorang Dewa jadi Heilong bisa sedikit mentolerir sifat arogan yang dimiliki oleh Burung Phoenix Api. Lagipula elemen api memang menilik sifat yang angkuh dan sombong.


Heilong tidak berniat untuk berdebat dengan Burung Phoenix Api ini karena Burung Phoenix Api ini sebentar lagi akan menjadi bagian dari Dunia Jiwa miliknya saat ia berhasil membuat memurnikan ke-dua batu permata itu.


Burung Phoenix Api melirik Burung Phoenix Es lalu berkata dengan sinis. “Apakah kau siap untuk melanjutkan pertarungan kita yang telah tertunda ribuan tahun yang lalu? Jangan-jangan kau sudah ketakutan karena sejak tadi kau hanya diam saja.”


Ke-dua burung phoenix itu akhirnya kembali memulai pertarungan yang sengit di Dalam Dunia Jiwa Heilong. Mereka berdua seakan-akan telah melupakan keberadaan Heilong dan fokus untuk membunuh satu sama lain.


Hawa panas yang sanggup melelehkan apapun keluar memancar dari tubuh Burung Phoenix Api sebelum melesat ke arah Burung Phoenix Es sambil membawa serangan terkuatnya.


Burung Phoenix Es yang tadinya sangat tenang, akhirnya terprovokasi dengan tindakan Burung Phoenix Api. Ia pun lalu merentangkan kedua sayapnya yang sangat indah bagaikan sebuah tirai es yang menutupi lagit.


Semburan hawa dingin yang sanggup membekukan dunia memancar dari tubuh Burung Phoenix Es dan menyelimuti tubuhnya membentuk sebuah pertahanan bola es berukuran raksasa.


“Sejak kapan seekor phoenix es takut dengan phoenix api! Aku hanya tidak ingin menanggapi omong kosongmu. Jika kau memang kuat, maka kau tidak akan ikut mati bersamaku waktu itu,” balas Burung Phoenix Es dingin.


Heilong berdiri di kejauhan sambil menyaksikan pertarungan kedua Burung Phoenix itu dengan tenang sambil menunggu kesempatan yang tepat untuk menaklukkan kedua ekor phoenix itu.


Ia juga menggunakan keistimewaan yang ia miliki sebagai pemilik Dunia Jiwa ini untuk membuat beberapa pembatas khusus di sekitar tempat pertarungan kedua phoenix itu agar pertarungan mereka berdua tidak menyebabkan kerusakan yang parah di Dunia Jiwa ini.


 

__ADS_1


__ADS_2