LEGENDA DEWA PEDANG S2

LEGENDA DEWA PEDANG S2
V4 # CH 40 MELEWATI GERBANG PERBATASAN


__ADS_3

Heilong lalu membuat beberapa bola api dan meletakkannya mengelilingi penjara es itu.


Suhu udara yang tadinya sangat dingin, sekarang mulai meningkat dan kembali normal.


“Ayo segera kita tinggalkan tempat ini,” ajak Heilong.


“Tunggu! Bola api yang kau letakkan di sekeliling penjara es buatanmu itu sebenarnya untuk apa?” tanya Mao Shizi penasaran sambil menunjuk salah satu bola api.


“Bola-bola api akan mencairkan penjara es yang telah aku buat dalam waktu dua jam dan kedua benda itu akan berubah menjadi uap. Bukankah kau yang memintaku untuk tidak membunuh Siluman Komodo itu, jika dia terus berada di dalam penjara es buatanku maka dia akan mati kedinginan,” jawab Heilong.


“Waktu dua jam sepertinya lebih dari cukup. Baiklah, mari kita segera melanjutkan perjalanan.”


Heilong segera mengambil kembali gerobak yang disimpan Mao Shizi di dalam sebuah Goa lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Kerajaan Banteng Api.


**


Kerajaan Banteng Api.


Raja Hou Gongniu sedang duduk di singgasananya.


Dia memiliki tubuh berwarna merah seperti api dan sepasang tanduk berwarna emas.


Raja Hou juga memiliki fisik yang sangat besar dan gagah. Ukuran tubuhnya dua kali lebih besar dari ukuran tubuh Raja Singa Bulu Emas, mungkin hal inilah yang membuatnya bisa mengalahkan Raja Singa Bulu Emas dalam pertarungan gulat.


Di depan Raja Hou telah berbaris dengan rapi para pejabat istana.


“Perdana menteri, apakah Kerajaan Singa Bulu Emas sudah mengirim upeti bulan ini?” seru Raja Hou.


Seekor Siluman Banteng muda segera berjalan ke depan dengan perlahan lalu memberi hormat. “Lapor Raja, utusan dari Kerajaan Singa Bulu Emas belum datang kemari. Tapi, Raja dari Kerajaan Singa Bulu Emas sudah mengirimkan surat dan memberitahukan bahwa orang yang yang mengantar upeti itu sudah berangkat tadi pagi. Seharusnya mereka saat ini masih berada di sekitar wilayah perbatasan.”

__ADS_1


“Baguslah. Jika Raja Singa Bulu Emas berani tidak mengirimkan upeti, maka akan aku ratakan Kerajaan itu dengan tanah,” ucap Raja Hou menyeringai. “Perdana menteri, beritahukan pada Raja dari Kerajaan Singa Bulu Emas bahwa mulai bulan depan upeti yang harus dia bayar menjadi naik dua kali lipat karena sebentar lagi Kerajaan Banteng Api akan memasuki musim kemarau.”


“Baik yang mulia. Hamba akan segera menulis sebuah surat dan mengirimnya ke Kerajaan Singa Bulu Emas.”


Perdana Menteri itupun segera kembali ke tempatnya semula.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seorang prajurit yang berjalan dengan terburu-buru masuk ke dalam ruang pertemuan. Dia adalah Jenderal Han. Jenderal yang bertugas untuk menjaga wilayah perbatasan Kerajaan Banteng Api.


“Jenderal Han, Apakah ada masalah besar sehingga kau harus lari terburu-buru masuk ke dalam ruanga pertemuan ini? Apakah ada Siluman yang menyerang wilayah perbatasan?” tanya Raja Hou menatap tajam ke arah Jenderal yang baru datang itu.


“Tidak yang mulia. Tapi, hamba mendengar ada suara pertarungan di dalam Hutan Pencakar Langit. Sepertinya ada makhluk yang sedang bertarung dengan Raja Siluman Komodo,” jawab Jenderal Han.


“Bod*h sekali makhluk itu. Apakah dia tidak tahu bahwa racun dari Siluman Komodo itu sangat mematikan. Jika terkena racun dari Siluman Komodo, bagian tubuh yang terkena akan membusuk secara perlahan lalu akan meledak begitu racun itu berhasil mencapai jantungnya,” ucap Raja Hou.


“Jenderal Han, kau perketat penjagaan di area perbatasan karena ada kemungkinan Siluman Komodo itu bergerak kemari untuk melampiaskan amarahnya,” lanjut Raja Hou.


Jenderal Han segera meninggalkan Istana dan kembali ke wilayah perbatasan setelah mendapat perintah dari Raja Hou.


**


Setelah melewati sebuah sungai, Heilong dan Mao Shizi akhirnya sampai di gerbang perbatasan Kerajaan Banteng Api.


Mereka sedikit terkejut karena pintu gerbang itu dijaga oleh ratusan Siluman Banteng dengan senjata lengkap.


“Apakah penjaga di gerbang perbatasan Kerajaan Banteng Api memang seketat ini?” tanya Heilong berbisik.


“Tidak. Biasanya hanya ada puluhan prajurit saja yang menjaga pintu gerbang ini. Sepertinya akan ada seseorang yang menyerang Kerajaan ini karena itu mereka memperkuat penjagaan di wilayah perbatasan,” jawab Mao Shizi.


Heilong lalu mengarahkan kedelapan ekor Singa yang menarik gerobaknya untuk melaju dengan pelan memasuki pintu gerbang itu.

__ADS_1


“Berhenti!! Siapa kalian? Dan untuk keperluan apa kalian masuk ke Kerajaan Banteng Api ini.”


Tiba-tiba ada suara yang memerintahkan Heilong untuk berhenti.


Para prajurit yang mendengar suara itu, juga langsung mengarahkan senjata yang ada di tangan mereka ke arah Heilong dan bersiap untuk menyerangnya.


Heilong yang merasa terancam langsung mengeluarkan Pedang Taring Putih di tangan kanannya dan turun dari gerobak itu.


Mao Shizi segera menyusul Heilong dan menghentikannya dengan membisikkan sesuatu. “Simpan kembali pedangmu karena belum saatnya kau beraksi. Ingat rencana awal kita. Kalau sampai penyamaran kita terbongkar, maka rencana yang telah kita susun dengan rapi akan gagal. Biar aku yang mengurus masalah ini.”


Mao Shizi segera mengeluarkan medali yang diberikan Ayahnya lalu mengangkat medali itu ke atas agar semua prajurit yang mengepung mereka bisa melihat benda itu.


“Turunkan senjata kalian dan biarkan mereka lewat. Mereka berdua bukan musuh.”


Jenderal Han segera memerintahkan anak buahnya untuk memberikan jalan setelah melihat medali yang ada di tangan Mao Shizi karena medali itu adalah bukti bahwa mereka berdua adalah utusan dari Kerajaan Singa Bulu Emas untuk mengantarkan upeti yang diminta oleh Raja Hou.


“Ternyata medali itu sangat berguna,” ucap Heilong naik kembali ke atas gerobak bersama dengan Mao Shizi.


Mereka berdua langsung masuk ke wilayah Kerajaan Banteng Api. Jenderal Han juga meminta sepuluh orang prajurit untuk mengawal perjalanan mereka menuju ke dapur Istana.


“Apakah kau bisa menceritakan padaku posisi pasti tempat yang akan kita tuju?” tanya Heilong sambil mengendalikan kedelapan ekor Singa itu.


“Tempat yang akan kita tuju sebenarnya adalah gudang bahan makanan. Gudang itu terletak di belakang dapur Istana dan Kepala koki adalah penanggung jawab tempat itu. Di sekitar sana ada sekitar lima ratus prajurit yang menjaga gudang itu selama dua puluh empat jam,” jawab Mao Shizi.


“Hanya untuk bahan makanan, Raja Kerajaan Banteng Api rela menempatkan ratusan prajurit. Padahal Kerajaan ini sama sekali tidak kekurangan lahan perkebunan sayur dan buah-buahan,” ucap Heilong.


“Karena dia menganggap makanan lebih tinggi daripada sebuah emas. Dia sudah memiliki segalanya karena dia adalah seorang Raja dari Kerajaan yang sangat kaya. Tapi, dia memiliki nafsu makan yang sangat besar. Jadi tidak ada yang lebih berarti baginya di dunia ini selain makanan,” balas Mao Shizi.


Heilong hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat hamparan perkebunan sayur dan buah-buahan yang ada di sisi kanan kiri jalan.

__ADS_1


Mereka berdua akhirnya tiba di sebuah gerbang yang terbuat dari perak. Tapi, karena sekarang mereka didampingi oleh beberapa orang prajurit anak buah Jenderal Han, maka tidak ada yang menghalangi mereka untuk melewati pintu gerbang itu.



__ADS_2