
Pedang Penguasa Laut dan Pedang Bintang Api akhirnya keluar dari Pedang Penjaga Surga. Kedua pedang pusaka itu kemudian masuk kembali ke dalam Dunia Jiwa Heilong.
Sekarang hanya ada Pedang Penjaga Surga saja di tangan Heilong. Dia menggenggam pedang pusaka itu sambil tetap terbang di udara.
Heilong masih terkesima dengan kekuatan baru dari Pedang Penjaga Surga ini. Walau hanya sebentar saja menggunakan pedang pusaka ini, namun dia bisa merasakan tekanan kekuatan yang sangat besar ketika dia menggunakan pedang pusaka itu untuk mengeluarkan jurus-jurus pedang miliknya.
“Apakah kau sekarang sudah percaya dengan ucapanku sebelumnya?” seru Li Zen yang tiba-tiba muncul di samping Heilong dalam bentuk roh senjata yang bersinar.
“Tentu saja aku harus percaya setelah melihat bagaimana mudahnya pedang pusaka ini menghancurkan jantung Jenderal Voldryd. Kekuatan dari pedang pusaka ini telah jauh meningkat jika dibandingkan ketika pedang pusaka ini berada di Planet Dreamland,” ucap Heilong sambil mengelus bagian bilah pedang pusaka miliknya.
“Tentu saja kekuatan pedang itu akan meningkat. Sebab, Pedang Penjaga Surga sekarang adalah sebuah pedang yang utuh. Bukan lagi sebuah pedang yang tidak lengkap seperti saat aku meninggalkan pedang itu,” balas Li Zen yang menimbulkan pertanyaan di pikiran Heilong.
“Apa maksudmu?!” Heilong yang merasa penasaran dengan ucapan Li Zen, langsung berbalik ke arah Li Zen.
“Aku dan Pedang Penjaga Surga bagaikan sebuah tubuh yang utuh karena kami berdua tercipta dari satu benda yang sama yaitu salah batang yang ada di dahan pohon kehidupan,” jawab Li Zen.
Hal ini sedikit mengejutkan Heilong. Sebab, biasanya sebuah roh senjata berasal dari jiwa kultivator yang memahami hukum senjata tingkat tinggi atau roh senjata itu memang terlahir di sebuah klan khusus yang memiliki kemampuan untuk berubah tubuhnya menjadi sebuah roh senjata.
Dan jawaban Li Zen barusan menyiratkan arti bahwa dirinya tercipta dari proses saat pembuatan Pedang Penjaga Surga. Itu berarti hanya Li Zen lah satu-satunya roh senjata yang cocok dengan Pedang Penjaga Surga karena dia adalah jiwa sejati dari pedang pusaka itu.
“Pantas saja saat Guruku menjadi roh senjata dari Pedang Penjaga Surga, pedang pusaka ini tidak bisa mengeluarkan semua kemampuan dari pedang pusaka ini. Ternyata ada hal seperti ini di Alam Semesta,” ucap Heilong sambil mengingat-ingat ketika dia menggunakan pedang pusaka itu saat Li Ziqi masih menjadi roh senjata pedang pusaka itu.
“Ada banyak sekali misteri di Alam Semesta ini yang tidak kau ketahui karena sebuah misteri seharusnya tidak akan mudah terkuak begitu saja ke permukaan bagaikan sebuah karang yang akan terus berada di dasar lautan,” balas Li Zen.
Pengetahuan Heilong tentang Alam Semesta yang luas ini menjadi sedikit bertambah karena wawasan yang baru saja diberikan Li Zen. Tiba-tiba sebuah pertanyaan terbesit di pikiran Heilong.
__ADS_1
“Apakah ada orang lain yang bisa menggunakan Pedang Penjaga Surga ini?”lanjut Heilong bertanya.
“Tidak ada. Hanya kau saja yang bisa menggunakan pedang pusaka ini karena pedang pusaka ini memang tercipta hanya untukmu,” jawab Li Zen tegas.
“Apakah ada sebuah alasan khusus kenapa hanya aku saja yang bisa menggunakan pedang pusaka ini?” balas Heilong yang tak henti-hentinya bertanya karena setiap jawaban yang terucap dari Li Zen selalu menimbulkan sebuah misteri yang memancing sebuah pertanyaan baru.
Li Zen lalu menceritakan sebuah cerita pada Heilong. Dan anehnya Heilong seperti pernah mendengar cerita itu sebelumnya, sebab semua kata-kata yang terucap dari mulut Li Zen hampir mirip dengan cerita yang telah diucapkan oleh utusan Sang Pencipta ketika Heilong akan pergi ke Alam Gaib ini. Namun, ada sedikit tambahan di cerita Li Zen.
Setelah mendengar cerita Li Zen, Heilong akhirnya mengetahui bahwa batang dari pohon kehidupan yang menciptakan Pedang Penjaga Surga dan juga Li Zen adalah batang pohon di mana daun emas pohon kehidupan berada. Itu artinya mereka bertiga sudah terikat satu sama lain sejak awal penciptaan.
“Terimakasih karena telah memberiku beberapa wawasan yang sangat penting. Akhirnya aku tahu bahwa kita memang ditakdirkan untuk selalu bersama. Sekarang kembalilah ke dalam Dunia Jiwaku karena kita harus segera kembali ke Tanah Merah. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan di sana.”
Li Zen segera masuk kembali ke dalam Pedang Penjaga Surga setelah mendengar ucapan Heilong. Heilong segera menyimpan kembali pedang pusaka itu agar dia lebih leluasa untuk terbang.
Dia pun segera terbang kembali ke arah Kerajaan Banteng Api dengan kecepatan penuh karena dia khawatir dengan keadaan Mao Shizi yang dia tinggal sendirian di sana.
Sebuah Piramida aneh seukuran manusia dan terbuat dari cahaya tiba-tiba muncul dan mengurung Heilong.
Sebuah suara yang terdengar sangat berwibawa seperti suara seorang Raja juga tiba-tiba muncul dari dalam piramida itu.
“Mau pergi kemana kau anak muda? Apakah itu adalah suatu hal yang pantas dilakukan oleh orang yang baru saja membuat keributan di kediaman seseorang.”
“Siapa kau?! Memangnya apa yang telah aku lakukan? Aku sama sekali tidak merasa melakukan keributan di wilayah tertentu karena aku memang sama sekali tidak memasuki wilayah siapapun.”
Heilong yang merasa tidak melakukan kesalahan, tidak mau begitu saja menuruti kemauan suara itu. Dia berusaha keras untuk merusak piramida cahaya yang mengurungnya. Namun, semua usahanya itu ternyata sia-sia. Sebab, di dalam piramida cahaya ini seperti ada sebuah mantra khusus yang akan menghilang semua kekuatan orang yang terjebak di dalam piramida cahaya itu.
__ADS_1
“Hentikanlah semua usaha sia-siamu itu dan ikutlah dengan tenang ke tempatku. Aku berjanji bahwa aku tidak akan menyakitimu,” seru suara misterius kembali terdengar.
Heilong akhirnya berhenti melakukan perlawanan karena dia sama sekali tidak merasakan sedikitpun ancaman dari suara misterius ini. Sama sekali tidak ada niat membunuh ataupun hawa iblis di dalam suara ini.
Piramida cahaya itu segera membawa Heilong menuju ke wilayah Tanah Putih.
**
Tanah Merah.
Sementara itu, Mao Shizi yang ditinggalkan sendirian oleh Heilong di Kerajaan ini Banteng Api ini, segera memanggil prajurit mata-mata miliknya yang memang sudah sejak awal berjaga di sekitar tempat ini.
Para prajurit mata-mata itu segera mengendalikan keadaan yang kacau di tempat ini dengan cara menangkap dan memenjarakan para pengikut setia dari Raja Banteng Api.
Hanya dalam beberapa jam saja, Mao Shizi sudah mampu mengendalikan keadaan di Kerajaan Banteng Api.
Sesaat kemudian, Raja Singa Bulu Emas akhirnya sampai di tempat ini dan mengumumkan bahwa wilayah Tanah Merah sekarang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Singa Bulu Emas.
Namun, Raja Singa Bulu Emas tidak merebut tampuk kekuasaan di Kerajaan Banteng Api. Raja Singa Bulu Emas menyerahkan posisi Raja Kerajaan Banteng Api pada salah satu putra Huo Gongniu.
*****
Jangan lupa sempatkan Like dan tinggalkan Komentar di setiap chapter setelah membaca.
Dan terimakasih banyak pada reader yg kemarin telah memberikan tip. 🙏
__ADS_1